MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Simbah Koma 11


__ADS_3

Di Lobi rumah sakit Kazahaya International.


Melody tak sengaja bertemu dengan Alvin ketika ia membeli makanan di kantin. Ia tak ingin canggung pada Alvin, tapi suasana yang sedang terjadi membuatnya sulit menempatkan diri di depan Alvin.


"Melody?" Sapa Alvin.


"Ah, Al-Alvin-senpai.." Kata Melody terbata. Begitu sulit memang.


Namun mengapa ia harus seperti ini? Apa karena dirinya tahu jika Alvin masih sangat mencintainya? Yudha sendiri yang mengatakannya. Yudha bahksan sampai berkelahi dengan Alvin. Jadi, ia tak memiliki alasan untuk tak mempercayai Yudha, kan?


Jadi benar, segala bentuk perhatian Alvin terhadapnya selama ini karena Alvin masih sangat mencintainya?


"Kau pucat sekali. Ada apa?" Tanya Alvin.


"Tidak, hanya kaget karena tiba-tiba kau menyapa." Jawab Melody.


"Hm, sodesu ka?" Gumam Alvin.


"Hai, sodesu."


Sodesu ka: Begitu ya?


Hai, sodesu: Iya, seperti itu.


"Darimana?" Tanya Alvin.


"Kantin. Membeli cemilan." Jawab Melody.


"Aku menatap intents wanita yang sangat aku cintai ini. Dia terlihat sedang gelisah. Lihatlah bagaimana jemarinya mencoba mencengkram keresek dengan eratnya! Gemetar, tak tenang, dan khawatir. Setakut itukah dia bersua denganku? Itu menyakitiku, sangat. Aku bahkan tak memiliki niat untuk melukainya sedikitpun... Hei Mel, aku ini bukan monster. Aku hanyalah sosok laki-laki yang sangat mencintaimu. Cintaku ini tak hanya membuatku buta, tapi juga membuatku semakin gila. Aku kesulitan untuk mengendalikan diri agar tak semakin larut ke dalam pekatnya cinta yang membelenggu. Berat dan semakin berat ketika hembusan nafas ini selalu bernafas karena dirimu. Langkahku pun, langkah karena dirimu. Apa kau berpikir jika aku ini sinting? Ya. Aku memang sinting, Mel. Aku sangat sinting. Aku sakit. Namun, perasaanku padamu sama dengan Yudha. Mencintaimu dengan tulus." Batin Alvin.


Alvin masih setia menatap Melody. Mantan kekasihnya memang sudah banyak berubah. Mulai dari karakter maupun fisiknya. Melody memang tahu betul menempatkan diri sebagai seorang istri. Melody menjaga dirinya sebaik yang Melody bisa. Alvin yakin, Melody sangat menghormati keluarga Kazehaya.


Hal paling terlihat dari perubahan nyata seorang Melody saat ini adalah fisik Melody. Hamil. Ya, perubahan karena kehamilan. Apa lagi kembar. Perut Melody sudah membesar. Dalam masa ini sampai menuju kelahirannya nanti, Melody akan mengalami masa dimana ujian calon ibu dimulai. Dibilang berat dan sulit, pastilah. Namun, Alvin yakin jika Melody tak selemah itu. Melody akan terus berjuang.


"Sebentar lagi setahun kau dan Yudha menikah. Kau dan Yudha pasti sedang menunggu-nunggu anak-anak lahir. Aku bisa melihat rona bahagia menyelimutimu, Mel. Ah, hmm, hamil anak Yudha ya? Fakta ini tak pernah terlintas di dalam benakku. Aku tak pernah menyangka jika akan ada orang lain di dalam kehidupan kita. Kau menikah dengannya dengan tiba-tiba. Kau menikah dengannya dengan terpaksa. Namun, akhirnya kau mengandung anaknya. Kau bahkan bilang padaku jika kau sangat mencintainya. Saat itulah duniaku hancur berkeping-keping. Aku ingin mengakhiri cintaku padamu, Mel. Namun tak bisa. Cintaku padamu justru semakin lama semakin besar. Seperti kataku di awal, cintaku ini padamu menjadi tak terkendali. Hasrat ingin kembali memilikimu masilah ada. Belum padam, masih nyala dengan gagahnya. Aku kesulitan mengakhirinya, Mel. Mengakhiri atau tetap berlanjut dengan perasaan ini, sama-sama menyiksaku. Jika sudah begini, aku mau apa? Salah ya jika aku ini memiliki rasa padamu? Kesalahanku seperti Rahwana, jatuh cinta pada wanita yang sudah menikah." Lanjut batin Alvin.


Hal yang tak jauh berbeda dilakukan oleh Melody. Ia terdiam dan tak tahu harus membicarakan apa lagi. Semua kata tertahan. Jangankan itu, otaknya saja tidak memproduksi ide untuknya menyudahi rasa canggungnya pada Alvin.


"Alvin-senpai semakin hari semakin kurus. Yudha juga sama, tapi perubahan Alvin-senpai jauh lebih terlihat. Sangat signifikan dalam satu bulan terakhir ini. Atau bahkan dua bulanan? Aku yakin, dua bulan yang lalu Alvin-senpai tidak sekurus ini. Mata panda dan kulit memucat. Pucat karena kelalahan pastinya. Apa dia juga bekerja sangat keras meski kursi tahta Emperror Group sudah pasti ada di tangannya? Kenapa aku bertanya seperti ini? Tentu saja dia akan bekerja sangat keras, melebihi siapapun malahan. Aku sangat tahu bagaimana dia itu. Dia tak mudah menyerah dengan segala impiannya... Alvin-senpai, aku mohon padamu, menyerahlah soal perasaanmu padaku! Aku hanya akan melihat Yudha sebagai sosok yang ingin aku habiskan hidupku bersama. Jika kau menyerah dan melupakan perasaanmu kepadaku, kau tidak akan semakin sakit. Kau harus bahagia tanpa diriku, Senpai!... Sayang, tapi sayang, meski aku ingin bilang seperti itu padamu, nyatanya aku tetap sama, tetap tak bisa melakukannya. Aku jauh lebih jahat darimu yang mencintaiku, Alvin-senpai!" Batin Melody.


Cukup lama jeda waktu yang membuat suasana terdiam. Melody maupun Alvin berkutat dengan pikirannya masing-masing. Sejujurnya, banyak hal yang ingin dibicarakan. Seperti dahulu ketika semua menjadi sangat mudah. Ada saja topik yang bisa dibahas. Ada saja ide yang terlintas di kepala. Beda dengan saat ini, semua kata tertahan di tenggorokkan. Lebih dari itu, otak bahkan kesulitan memproduksi topik maupun ide pembicaraan.


Nihil.


Terasa kosong dan luas.


Semakin lama semakin luas. Semakin lama-semakin berat. Semakin lama semakin tak tahan. Semakin gelisah. Semakin hampa.


Tidak tahan.


Tidak ingin tertekan.


"A-Alvin-senpai sudah makan?" Tanya Melody yang pada akhirnya memilih untuk memecah keheningan.


"Aku sudah makan tadi." Jawab Alvin.


"Ano, apa Alvin-senpai ada jadwal oprasi tadi?"


"Tidak, aku ke sini hanya untuk mampir mengambil obat sakit kepalaku." Alvin mengangkat keresek warna putih dan menunjukkannya pada Melody.


"Kau sakit?" Tanya Melody.


Ada nada khawatir di sana. Alvin sungguh jelas merasakannya.


"Iya, hanya sedikit pusing." Jawab Alvin.


"Alvin-senpai tidak mampir dulu menjenguk kakek?"


"Hari ini aku tidak mampir, aku akan mampir esok hari sebelum rapat kantor dimulai."


"Jadi benar mengenai rapat pemegang saham dadakkan itu? Seperti kata Yudha semalam. Rapat pemegang saham istimewa." Batin Melody. "Hm, seperti itu ya?" Kata Melody.


"Kau ingin bilang jika aku ini menjadi jarang bekerja di rumah sakit? Bukankah cita-citaku menjadi seorang dokter?" Tebak Alvin.

__ADS_1


Alvin sangat tahu apa yang tengah dipikirkan Melody saat ini. Seperti bisa membaca pikiran. Ia sangat banyak memperhatikan Melody. Sudah sejak dahulu, berlangsung sangat lama. Ditambah ia sangat mencintai Melody, ia menjadi sangat memahami Melody. Ia tahu Melody melebihi Melody tahu dirinya sendiri.


"Ke-kenapa kau bisa tahu, Alvin-senpai?" Tanya Melody. Meski dari dulu ia sangat mengenal Alvin yang selalu memahaminya, tapi jika terus-terusan seperti ini, ia tetaplah merasa kaget.


Sampai kapan Alvin akan memahaminya?


Untuk saat ini, posisi itu harusnya diisi oleh Yudha, suaminya. Namun Melody juga tak ingin memungkiri jika Alvinlah yang jauh lebih memahaminya ketimbang Yudha.


"Semua tergambar jelas di matamu." Jawab Alvin. "Menjadi dokter memang cita-citaku, tapi aku juga ingin membantu kakek mengembangkan Emperor Group." Tangkadnya.


"Dengan menyingkirkan Yudha?" Tanya Melody hati-hati.


Alvin tersenyum. Ada yang lain dari cara Alvin tersenyum. Entah itu perasaannya atau apa, yang jelas Melody menangkap keanehan itu.


"Kau berpikir seperti itu tentang diriku?" Tanya Alvin. Apakah seperti itu cara Melody menilainya?


Dengan menyingkirkan Yudha?


Ide yang selalu digagas untuk segera direalisasikan oleh ibunya dan fraksi oposisi penentang kakek Wijaya.


"Jika kau menyingkirkan Yudha, maka kau akan menguasai semuanya." Kata Melody.


Alvin tertawa. Melody kaget mendengarnya. Sangat berbeda. Ini bukan Alvin yang ia kenal. Sosok yang sedang berdiri di hadapannya bukanlah Alvin. Alvin tak memiliki gaya tertawa seperti ini. Apa lagi menertawakan gagasan yang sama sekali tidak ada lucu-lucunya. Alvin sungguh asing.


"Pamikiran ini sungguh darimu? Apakah Yudha ikut-ikutan mempengaruhimu?" Tanya Alvin yang masih berusaha keras menahan tawanya.


"Kenapa kau tertawa, Alvin-senpai? Apakah menurutmu ini lucu?" Melody balik tanya.


"Tentu saja ini sangat lucu. Hei Mel, menurutmu jika aku menyingkirkan Yudha, apa itu artinya aku akan menang darinya?"


Gelap.


Aura Alvin semakin gelap.


Benar-benar terasa asing dan dingin.


"Memang ada tujuan lebih tinggi dari sekedar menyingkirkan Yudha?" Tanya Melody. Sesungguhnya ia sendiri memendam rasa takut saat ini. Takut pada Alvin?


Bisa dibilang seperti itu. Bagaimana bisa sosok malaikat penjaganya ini bisa berubah begitu sangat drastis? Senyum dan tatapan hangat yang dulu selalu ada di diri Alvin, kini seolah menghilang. Tidak ada!


"Yudha cukup paham soal ini. Nah Mel, tanpa Yudha hadir di rapat pemegang saham istimewa esok haripun, Yudha sudah jelas kalah. Dia sudah tahu soal ini. Dia tak perlu repot-repot lagi untuk bekerja keras." Jawab Alvin.


Melody kembali terkejut. Segala yang keluar dari mulut Alvin benar-benar semakin asing, semakin jauh dari Alvin yang ia kenal.


"Apa menurutmu Yudha akan diam saja mengenai hal ini?" Tanya Melody.


"Jika mengacu pada karakternya, seharusnya tidak. Tapi apa dia bisa bergerak leluasa saat ini setelah ia kehilangan banyak kepercayaan dari para pemegang saham?"


"Yudha bukanlah orang yang lemah. Yudha akan memperjuangkan impiannya!"


"Apa saat ini Yudha memiliki ambisi besar untuk dirinya sendiri? Dia itu seperti sapi perah yang dengan mudahnya dimanfaatkan."


"Alvin-senpai! Tolong jaga bicaramu! Kau tidak berpikir jika ucapanmu saat ini sungguh keterlaluan?" Ada rasa kesal di dalam hati Melody. Ia tak rela jika ada yang menjelekkan Yudha di hadapannya. Apa lagi itu dari Alvin, sosok yang jelas-jelas Yudha perjuangkan mati-matian dulu. Sosok yang Yudha perjuangkan dengan mempertaruhkan hidup dan impiannya.


"Tidak ada keterlaluan jika itu fakta! Aku hanya berbicara dalam konteks kenyataan. Yudha memang seperti itu." Kata Alvin.


"Kau salah, Alvin-senpai! Yudha hanyalah orang yang sangat baik yang rela membantu orang lain bahagia!" Melody ingin melindungi harga diri suaminya itu.


"Kalau begitu dia bodoh."


"Menjadi bodoh jauh lebih baik karena untuk kebaikkan. Daripada menjadi pintar, tapi untuk kejahatan."


Alvin kembali tertawa. Ia bahkan bertepuk tangan untuk mengapresiasi Melody. "Kejahatan yang seperti apa, Mel?"


"..."


"Kau tahu, dalam sistem tatanan dunia ini, setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing. Versi sudut pandangmu, versi sudut pandangku, bahkan versi sudut pandang orang lain itu berbeda-beda. Tidak bisa kau menyama ratakannya!" Alvin mencoba menjelaskan.


"Aku memang hanya bisa melihat dari mataku, tapi aku menilai dengan hatiku. Semua hal yang aku percayai dari hatiku, aku akan mengikutinya."


"Dan kau menjatuhkan label orang jahat kepadaku saat ini. Itu sangat keren!" Kata Alvin.


Bukankah ini adalah wujud dari pujian?

__ADS_1


"Alvin-senpai, kau berubah." Kata Melody.


Sekali lagi, Alvin tertawa. "Manusia akan selalu berubah, Mel. Termasuk aku. Kaupun berubah saat ini, kenapa aku harus mendapatkan pengecualian?" Tanya Alvin.


"Tidak bisakah kau berubah menjadi sosok yang lebih baik dari ini? Apa kau sungguh membenci Yudha hingga kau tega melakukan semua ini?" Tanya balik Melody.


Alvin langsung berhenti tertawa. Ia mengubah ekspresinya seketika. Membuat Melody semakin tak memahami Alvin.


"Sekali lagi kau menilai orang hanya dari versi sudut pandangmu saja. Kau mengecewakan sekali." Kata Alvin.


"Yudha itu adikmu!"


"Memang kenapa jika dia adikku?"


"Dia sangat menyayangimu!"


"Jika dia sangat menyayangiku, kenapa dia merebut dirimu dariku?"


Melody mencolos. "ALVIN-SENPAI!"


Bentakkan Melody cukup keras hingga membuat orang yang kebetulan lewat di lobi mendengarnya.


"Kenapa dia harus menikahimu? Kenapa dia harus hadir di tengah-tengah kita?" Tanya Alvin.


"Dia datang atas kehendak Tuhan, itu di luar kuasaku maupun dirimu. Tolong berhenti menjadikan alasan itu atas perubahan sikapmu saat ini! Itu menyedihkan! Kau tahu? Itu tidak berguna! Itu sia-sia! Karena aku hanya akan melihat dan mencintai adikmu!" Kata Melody pedas.


Sakit.


Tentu saja ini sangat sakit. Melody tidak menyebut nama, Melody mengganti penyebutan itu dengan status hubungan keluarga antara dirinya dengan Yudha. Itu adalah hantaman yang sangat telak. Menghujam lurus menembus jantungnya.


Alvin memangkas jarak dengan Melody. Ia lalu menyentuh pipi Melody. Mata indah milik Melody menatap tajam dirinya.


"Meski kau hanya melihat dan mencintai adikku itu, aku masih memiliki cara untuk memilikimu." Kata Alvin dingin.


"Kau tak akan berhasil!"


"Kau begitu yakin akan kepercayaanmu?"


"Ya, aku sangat yakin akan kepercayaanku ini. Meski tak memungkinkanpun, aku yang akan membuatnya menjadi mungkin! Aku tidak akan pernah menjadi milikmu, Alvin-san!"


Alvin-san ya?


Melody mengubah penyebutan namanya rupanya. Alvin yakin jika Melody saat ini memang sudah berada di ambang batas rasa sabarnya.


"Kau rupanya memang sungguh mencintainya." Kata Alvin.


"Ya, aku sangat mencintainya!"


"Kau rela melakukan apapun untuknya?"


"Aku akan melakukan apapun untuk melindunginya!"


"Orang lemah seperti dia memang paling cocok dilindungi ya?"


"Jangan meremehkannya! Kau tak pantas berkata seperti itu!"


"Jika aku menghancurkan Yudha, membuatnya sangat kesulitan, apa kau tak ingin menolongnya? Kau harus paham, Melody! Mulai esok hari, hidup masa depan Yudha ada di tanganku. Hanya aku yang bisa mengendalikan semuanya!"


Melody menepus kasar tangan Alvin yang menyentuh pipinya. "Kau terlalu percaya diri! Itu menggelikan! Jika kau berani menyentuh seujung kukunya, aku akan menarik pedangku! Aku akan menghunuskan pedangku untuk melawanmu!" Ancam Melody.


"Hei Bung, berani-beraninya kau menyentuh pipi istriku!" Kata Yudha yang tiba-tiba datang dari arah belakang Alvin.


Yudha akan memukul Alvin, tapi Melody menghentikannya.


"Kenapa kau menghentikanku, Mel? Aku ingin membuat perhitungan pada kakak ipar tak tahu diri seperti dirinya ini!" Kesal Yudha.


"Kau tak perlu menyia-nyiakan tenagamu untuk meladeninya. Itu tidak penting sama sekali!" Kata Melody.


"Ini dia, si pengecut yang bisanya bersembunyi di ketiak istrinya. Orang seperti dirimu ingin melindungi Melody? Yang benar saja! Dasar lemah!" Sela Alvin.


Yudha terpancing emosinya. Alvin berhasil menggoda batas sabarnya. Dan sekali lagi, Melody menghentikan langkahnya.


"Silahkan kalian bermesraan ria sebelum aku merebut semuanya!" Kata Alvin melenggang pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Yudha semakin marah. Ia ingin sekali memukul Alvin jika Melody tak menghentikannya. Rasanya seperti baru saja kalah sebelum berperang.


__ADS_2