MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Batu-Kertas-Gunting


__ADS_3

Asakusa Imahan merupakan salah satu restoran sukiyaki terkenal yang ada di Jepang. Restoran ini menyajikan menu daging sukiyaki berkualitas serta bumbu yang khas. Rasa legendaris dari sukiyaki Asakusa Imahan yang telah ada sejak 120 tahun lalu ini membuat Asakusa Imahan dicintai oleh banyak orang.



Saat ini, Melody, Yudha, kakek Wijaya sedang menikmati menu sukiyaki di salah satu restoran mahal di kota Taito, Perfektur Tokyo.


Kini Melody tahu kenapa Asakusa Imahan menjadi salah satu restoran terkenal meski harganya cukup mahal, rasa yang ditawarkan luar biasa lezat di lidah.


"Kenapa, Mel? Kau tak menyukai makanan di restoran ini?" Tanya Yudha karena ia menyadari jika Melody melamun cukup lama.


Melody menggelengkan kepala. "Tidak, ini sangat enak kok, Yudh. Aku sangat menyukainya." Jawab Melody.


"Lalu kenapa bengong tadi? Kau ingin menu lain? Shabu-shabu? Kau ingin mencobanya?" Tanya Yudha.


"Tidak, perutku sudah mencapai batasnya. Aku hanya sedang berpikir saja." Jawab Melody.


Yudha menaikkan sebelah alisnya. Kakek Wijaya dan Shuhei memilih diam tak ikut andil dalam pembicaraan Melody dengan Yudha.


"Tentang?" Tanya Yudha.


"Menghabiskan uang begitu banyaknya hanya untuk sekali makan itu sayang." Jawab Melody.


Kakek Wijaya dan Shuhei menahan tawa. Bafi mereka, uang yang dihabiskan saat ini itu termasuk sangat kecil nominalnya. Mungkin bagi Melody berbeda, kehidupan seperti ini memang masih asing bagi Melody.


Yudha mengelap tangannya dengan tisu. "Jika aku bisa menghasilkan sepuluh milyar dalam sebulan, menurutmu menghabiskan satu juta rupiah untuk sekali makan, boros tidak?" Tanya Yudha.


Melody menghitung perbandingannya. Rasanya memang tidak ada apa-apanya. Satu milyar sama dengan seribu juta. Jika sepuluh milyar maka akan ada sepuluh ribu juta. Untuk makan sekali ini dengan harga satu juta, maka uang masih sisa sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan juta!


"Ah, tidak ada apa-apanya.." Kata Melody.


"Begini, sebenarnya bukan masalah mahal atau tidaknya. Namun kemampuan membelinya. Pendapatan dan pengeluaran harus diperhatikan agar sesuai dengan apa yang ingin dibeli. Jika pendapatan banyak, maka pengeluaran juga bisa menyesuaikan. Jika pendapatan kecil, bijaklah dalam pengeluaran agar pasak tidak lebih besar dari tiang!" Jelas Yudha.


"Yudha aku pusing dengan penjelasanmu!" Kata Melody.


Kesel juga sudah menjelaskan panjang lebar tapu Melody tak memahaminya. "Ya sudah, tidak perlu protes lagi soal berapa banyak uang yang aku keluarkan. Oke?"


"Mending main batu-kertas-gunting, mudah dan tidak membuat pusing kepala."


"Nanti kita main itu."


Muka Melody berbinar senang. "Benarkah?"


"Hn."


"Aku pasti nanti akan mengalahkanmu!"


"Masak?"


"Hm. Tentu saja!"

__ADS_1


"Kau terlalu percaya diri, Mel. Kau bahkan belum pernah menang melawanku."


"Tapi nanti aku pasti akan mengalahkanmu!" Melody meyakinkan dirinya.


Meski ia selalu kalah saat melawan Yudha, tapi ia percaya jika keajaiban itu ada. Tidak mungkin kan Yudha akan beruntung terus-terusan.


"Aku akan menunggu saat itu tiba." Kata Yudha.


Melody lalu menoleh ke arah Shuhei. "Shuhei-san, ayo lawan aku!"


Melody menantang Shuhei bermain batu-kertas-gunting. Shuhei bersedia mengikuti permintaan Melody. Shuhei mengeluarkan kertas, Melody mengeluarkan gunting. Melody menang!


Melody lalu menunjukkan pose jari guntingnya pada Yudha yang duduk di sampingnya. "Kan, kau lihat itu? Aku bisa menang, Yudh! Aku pasti akan mengalahkanmu!"


"Kita lihat saja nanti." Kata Yudha.


Merasa tertarik dengan permainan anak-anak Melody, kakek Wijaya menawari diri untuk melawan Melody.


Yudha dan Shuhei langsung cengo tidak percaya. Orang setipe kakek Wijaya bersedia bermain game seperti ini?


Namun nyatanya itu benar adanya. Melodypun melawan kakek Wijaya. Melody mengeluarkan batu dan kakek Wijaya mengeluarkan kertas. Melody kalah!


Melody langsung merajuk pada Yudha. "Kakek it expert, mana bisa aku mengalahkannya, kan?"


Yudha tekekeh. Melody ngambek itu lucu. Ia juga sadar, kakeknya itu memang ahli dalam segala permainan. Dirinya saja belum pernah mengalahkan sang kakek meski hanya sekali dalam hidupnya.


.


.


.


Melody tidak henti-hentinya meminta Yudha bermain batu-kertas-gunting, padahal untuk kesekian kalinya ia kalah dari Yudha.


Melody terlihat kesal saat ia harus kalah dari Yudha. Melody tidak patah semangat untuk mencoba lagi. Mungkin saja ia akan menang setelah ini, tapi tetap saja, ia kalah. Memakai cara curangpun, masih saja kalah. Yudha juga kesal karena Melody terus memaksanya bermain batu-kertas-gunting, tapi tetap saja ia turuti kemauan Melody.


Kadang sesekali ia mengacak-acak rambut Melody untuk merayakan kemengannya. Tentu saja Melody kesal karena ulah Yudha rambutnya menjadi berantakan, tapi mereka tetap saja seperti itu. Tidak ada niat untuk mengakhiri permainan yang lebih cocok untuk dimainkan oleh anak kecil itu.


"Baiklah, aku akan memasang kertas setelah ini." Kata Yudha saat ia meladeni rengekan Melody yang terus saja ingin menang dari Yudha meski Yudha harus mengalah dalam permainan Batu-kertas-gunting.


Batu-kertas-gunting.


Batu-kertas-gunting.


Melody memasang batu dan Yudha tetap memasang kertas seperti yang ia katakan sebelumnya.


"HEEE KENAPA? Kenapa kau memasang kertas, Yudha?"


"Bukannya aku tadi sudah bilang jika aku akan memasang kertas? Kau ingin menang, kan? Kau bodoh ya? Menyia-nyiakan kesempatan yang aku berikan."

__ADS_1


"Habisnya aku fikir jika kau berbohong padaku. Itu hanya trik saja. Kau bilang akan memasang kertas biar aku terkecoh untuk memasang gunting, dan lalu kau akan berganti batu untuk mengalahkan guntingku, tapi nyatanya kau tak mengganti kertas pada akhirnya. Haah… baiklah sekali lagi!"


"Sudah, aku bosan, Melody."


"Sekali lagi, Yudha. Ya?" Melody terlihat sangat serius dalam harapannya.


Yudha bahkan sampai tidak tega melihatnya.


"Haah, baiklah. Aku akan memasang gunting."


Melody tersenyum mantap.


Jika Yudha memasang gunting, berarti ia harus memasang batu, kan, agar ia bisa menang?


Batu-kertas-gunting.


Batu-kertas-gunting.


Melody batu, Yudha kertas.


"Loh? NANDE?" Teriak Melody.


"Shiranai."


"Yudha, kau bilang kau akan pasang gunting?"


"Aku tak berniat kalah darimu, Is-tri-ku."


Suara Yudha yang seperti itu juga terdengar aneh di telinga Melody. Membuat merinding. Sampai-sampai bulu romannya berdiri.


Kata istri yang keluar dari mulut Yudha itu kenapa ya bagi Melody terdengar cukup seksi?


Hussshh, huuushhh, Melody harus menjauhkan hal-hal aneh itu dari otakknya!


Nande: Kenapa


Shiranai: Tidak tahu


.


.


.


Permainan batu-kertas-gunting adalah alat komunikasi baru antara Melody dengan Yudha. Meski itu hanyalah permainan yang lebih cocok dimainkan oleh anak-anak, tapi Melody maupun Yudha sangat menikmatinya. Rasa seru meski kalah membuat ketagihan bagi Melody. Sedangkan bagi Yudha yang selalu menang, ada kesenangan tersendiri karena ia bisa mendominasi istrinya. Ia bisa menghilangkan segala beban pikirannya hanya karena berhasil membuat Melody kesal.


Menggoda Melody memang mengasyikkan.


Yudha tak menyangka jika saat ia mengacak-acak rambut Melody menghadirkan kesan tersendiri di dalam hatinya. Setelah ia melakukan itu pada Melody, rasanya menyenangkan. Ia ingin melakukannya lagi dan lagi.

__ADS_1


Jika ia ingin melakukannya lagi, bukankah ia harus terus menang? Dengan cara apa lagi? Batu-kertas-gunting adalah caranya. Game sederhana ini adalah salah satu caranya.


__ADS_2