MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Drama Kehamilan 2


__ADS_3

Siang Hari akhir Musim Gugur bulan Desember


awal..


Supermarket Mackenyuu, Tokyo, japan...


Kondisi Melody sudah jauh lebih baik. Ibu dan janin sehat. Sungguh melegakan. Mood Melody juga sedang baik dengan Yudha. Meski masih sering berdebat, tapi Yudha selalu mudah meminta maaf, Melody yang emosinya labilpun berusaha dengan cepat memaafkan Yudha.


Tidak ada hal romantis dalam kehidupan rumah tangga mereka berdua, mereka mengawali hubungan dengan berjabat tangan layaknya partner yang saling menguntungkan.


Ya, berteman.


Hubungan mereka sangat lambat. Meski lambat, namun nyatanya putra bungsu keluarga Kazehaya ini berhasil menghasilkan penerus Kazehaya yang baru dengan cepat. XD


😎


Setelah keluar dari rumah sakit, Yudha menjadi sangat baik pada Melody. Melody sangat senang. Yudha terus menahan emosinya, menuruti semua perkataan Melody, dan yang membuat Melody sangat bahagia, jika Yudha sudah tak tahan dengan tingkahnya, Yudha akan meminta maaf padanya. Baginya, kata maaf dari Yudha itu sangat berharga.


Melody sadar, hubungannya dengan Yudha itu bukan hubungan yang romantis, lagipula, ia dan Yudha sama-sama tidak ahli dalam bidang keromantisan. Banyak perbedaan di antara mereka berdua. Tidak ada yang cocok sama sekali. Sering bertengkar adu argumen. Jika sekarang ia mengandung anak Yudha, sungguh, itu terjadi di luar kendalinya.


Tapi, karena saat ini ia tengah mengandung anak Yudha, Yudha menjadi jauh lebih perhatian dengannya. Baru-baru ini, Yudha membelikannya mantel tebal karena akan memasuki musim dingin. Yudha juga membelikannya berbagai macam pakaian hamil dan sandal/ sepatu flat untuknya.


Bahkan, pulang dari kantorpun, Yudha sering mampir beli buah untuknya. Seorang Kazehaya Yudha mampir toko buah demi istrinya? Awalnya Melody mengira jika palingan Yudha menyuruh Shuhei untuk membelinya, tapi nyatanya, Shuhei bilang jika Yudha sendiri yang memilih buah-buahannya.


Selain perubahan sikap Yudha yang menjadi lebih baik dan lebih kalem pada Melody, sejujurnya Melody merasa kasihan dengan Yudha. Semenjak ia ketahuan hamil, ia memang sering mual dan tentu saja Yudha yang bantu urusin. Padahal itu sangat jorok. Yudha kadang juga ikutan muntah-muntah.


Saat ia menginginkan makan sesuatu, Yudha langsung mencarikannya meski itu tengah malam. Pernah Yudha malam-malam ujan-ujanan, padahal musim gugur sudah sangat dingin hanya demi mencari katsudon keinginan Melody. Sesampainya di rumah, Melody sudah tidur dan tidak jadi makan katsudonnya. Giliran di pagi hari, Melody sudah tidak menginginkan makan katsudon lagi. Yudha hanya bisa menghela nafas dan mengacak-acak rambut Melody.


Apapun demi Melody. Mungkin itu.


Atau demi anaknya?


Bisa jadi, nyatanya itu memang anak Yudha.


“Apa kau sudah lelah? Kau ingin naik troli?” Tanya Yudha. Yang benar saja, masak naik troli?


“Astaga, kayak anak kecil saja. Tidak apa-apa, aku belum lelah.” Jawab Melody.


Yudha hanya mengangguk. Ini sudah kesekian kalinya Yudha menanyakan keadaannya. Mungkin setiap 5 menit sekali? Sungguh, Melody sudah tak bisa menghitungnya lagi.


Yudha khawatir berlebihan.

__ADS_1


Di troli yang Shuhei dorong sudah penuh dengan sayuran hijau dan buah-buahan. Ada juga beberapa jenis daging. Yudha ingin memastikan asupan gizi Melody tercukupi, tapi menurut Melody itu sangat berlebihan. Belum lagi di rumah ada banyak sekali stok suplemen kesehatan untuk ibu hamil.


“Susu hamil?” Gumam Yudha saat melihat Melody memegang kotak susu hamil.


“Hm? Ah, iya.. bulan ini memasuki 4 bulan. Perutku sudah mulai membesar, aku rasa sudah waktunya ganti susu.”


“Kau menginginkan itu?”


“Iya, ini sesuai dengan usia kandunganku.”


“Baiklah, Shuhei, ambil semua yang ada di rak ini!”


Melody langsung melotot pada Yudha. “HAH? Hoe yang benar saja, Yudha! Shuhei jangan dengerin ucapan Yudha!”


“Kenapa? Uang demi dirimu dan anak kita tidak masalah buatku.” Jawab Yudha polos.


Shuhei nahan senyum. Melody menggelengkan kepala.


“Di rak ini, susu jenis ini itu ratusan! Jika kau membeli semuanya, aku tidak akan sanggup menghabiskannya! Lagian buat apa banyak-banyak? Haah, kau ini... Beli 1 atau 2 kotak saja, kalau habis nanti baru beli lagi!”


Ini seperti de javu. Melody ingat, ketika Yudha mengajaknya beli mantel sama pakaian hamil, Yudha juga hampir memborong seisi toko!


Membuat heboh orang-orang yang ada di situ.


“Jika tidak ada aku, kau pasti sangat kesulitan menangani pangeran kita.”


Shuhei hanya tersenyum. Sumpah, itu sangat benar, dimana ia ingat Yudha hampir memborong semua buah yang ada di toko buah beberapa hari yang lalu.


Ceritanya, ibu penjual buahnya pandai ngomong dengan menceritakan manfaat buah untuk ibu hamil, Yudha jadi kepancing dan ingin membeli semuanya.


Yudha juga hampir membeli banyak pempers bayi, dot, mainan bayi, dan masih banyak hal lagi. Setelah ia menjelaskan jika barang-barang itu lebih cocok dibeli saat bayi sudah lahir, Yudha haru mau menerimanya. Meski jujur, lumayan merepotkan, tapi Shuhei tahu jika saat ini Yudha sedang bahagia sampai-sampai tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya.


Dasar holang kaya!


.


.


.


Setelah selesai belanja di supermarket, mereka bertiga lanjut makan sup kacang merah hangat. Melody terus menyunggingkan senyumannya, membuat Yudha ikut senang karenanya. Hari-harinya berlalu dengan baik.

__ADS_1


“Hallo?” Kata Yudha.


“Siapa?” Tanya Melody.


“Sai...” Jawab Yudha. Melody hanya ber-oh ria. “Ada apa, Sai?” Tanya Yudha.


“Yudha, kau dimana? Yura mencoba bunuh diri, aku sedang di rumah sakit milik keluargamu.” Jawab Sai. Suaranya terdengar sangat panik.


Mata Yudha melebar. Ia tidak menyangka jika Yura akan mencoba bunuh diri. Apakah ini karena masalah yang akhir-akhir ini sedang terjadi?


“Aku akan segera kesana!” Klik. Yudha mematikan ponselnya. “Shuhei, antarkan Melody pulang! Aku akan ke rumah sakit naik taxi.” Suruh Yudha.


“Baik, Yudha-sama.”


“Ada apa?” Tanya Melody. Ia mengernyitkan jidatnya karena melihat Yudha yang panik setelah menerima telepon.


“Yura mencoba bunuh diri, aku akan melihat keadaannya.” Suara Yudha bergetar. Ia pasti sangat khawatir.


“Ini sudah jam 10 malam, Yudha! Besok saja!” Kata Melody.


Yudha memegang kedua pundak Melody. “Hanya sebentar, setelah mengetahui keadaannya, aku akan langsung pulang.”


Melody hanya terdiam. Yudha mencoba menatapnya. Melody mengalihkan pandangannya. “Amamiya-san memang selalu menjadi yang utama untukmu.” Gumam Melody.


Yudha menyentuh pipi Melody agar Melody menatapnya. “Dia temanku, dia penting itu benar adanya. Tapi kau dan anak kita adalah segalanya.”


“Benarkah?”


“Hn.”


“Aku akan menunggumu di rumah.”


“Pulang dan langsung tidur, ini sudah malam.” Suara Yudha melembut.


"Iya. Kau berhati-hatilah di jalan!"


Yudha mengecup kening Melody dan memanggil taxi. Setelah itu, ia langsung berangkat menuju rumah sakit.


Melody memandang sendu kepergian suaminya itu.


"Nona, mari kita pulang!" Kata Shuhei.

__ADS_1


"Iya, Shuhei-san.."


__ADS_2