MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Menghibur Melody


__ADS_3

Normal time.


"Mikan-san, kau tahu? Kau itu adalah wanita yang hebat! Setelah apa yang sudha terjadi, kau mau menerima Alvin layaknya putramu sendiri itu adalah sesuatu yang sangat mulia. Jika itu aku, mungkin aku akan merasa kesulitan untuk menerimanya." Kata Tsuchiya.


"Kan sudah aku bilang, aku ini tidak akan menyalahkan anak yang terlahir karena kesalahan orang tuanya. Alvin itu sama sekali tidak salah karena seorang anak tidak akan bisa memilih siapa orang tuanya. Tidak akan bisa memilih ingin lahir dari rahim siapa. Lagipula, Alvin itu adalah anaknya kak Yoga, suamiku yang amat aku cintai. Aku mencintai kak Yoga, maka aku juga akan mencintai apapun yang ada padanya." Jelas Mikan.


"Kalau aku yang berada di posisi ibu mertua, hmm... Aku tak sedewasa di usia ibu mertua dulu. Tahu Yudha dekat dengan wanita lain, akan ada perjang dunia ke 3! Aku akan marah-marah sama dia dan sulit untuk baikan. Aku dan dia cukup sering bertengkar, apa lagi soal kesalahpahaman. Ini akan sangat lama untuk diselesaikan." Sela Melody.


"Kau dan Yudha menikah tanpa cinta, Mel. Beda dengan ibu dan ayah mertuamu. Kami saling kenal dan yang penting, kami juga saling cinta. Itu modal bagus untuk menguatkan pondasi rumah tangga kami. Sedangkan kau dengan Yudha, tak hanya saling cinta, mengenal saja masih samar-samar, kan?" Kata Mikan.


Melody ingat betul awal-awal ia mengenal Yudha. Di lab bahasa Inggris, menguping pembicaraan, minta ditraktir, tiba-tiba bertunangan, dan seminggu setelahnya langsung menikah.


Ini kisah boleh dibilang hebat, tidak?


Mungkin saja seperti kisah fiksi yang sangat jarang ditemui di dunia nyata.


Nikah sangat cepat tanpa modal kenal baik dan tanpa cinta. Tentulah dalam penyelesaian ketika dihadapkan banyak masalah akan berbeda. Apa lagi keduanya sama-sama anak tunggal yang bisa sangat egois dan ingin menang sendiri.


"Yudha cukup baik untuk diajak menjadi teman di awal pernikahan kami, kok Bu. Ya walau seringnya dia selalu menjailiku sih. Susahnya berkomunikasi dengannya itu karena dia suka berbicara dengan kata-kata yang berasal dari kamus jeniusnya. Bahasanya terlalu tinggi, jadi banyak yang tidak paham." Kata Melody.


Mikan tahu kesulitan yang Melody alami, bagaimanapun tiba-tiba harus menikah dengan orang asing itu pasti akan sulit beradaptasi.


"Ibu bersyukur kalian bisa sampai ke tahap ini. Bahkan sudah mau punya anak juga. Ibu sangat bahagia melihat pernikahan kalian dikuatkan oleh cinta." Kata Mikan. Ia menoleh ke arah Tsuchiya. "Iya kan, Tsuchiya-san?" Lanjut Mikan.


"Iya kau benar, Mikan-san. Sebagai orang tua, tentulah bahagia apabila melihat anak-anaknya bahagia. Melody mencintai Yudha dan Yudha mencintai Melody. Itu adalah pencapaian tertinggi dari harapan para ibu-ibu seperti kami." Kata Tsuchiya.


Melody hanya tersenyum. Para orang tuanya ini rupanya sangat memikirkan kehidupan pernikahannya dengan Yudha.


"Ada satu hal yang sungguh sangat membuat ibu penasaran dan ingin tahu semuanya. Sesuatu ini selalu menggoda ibu untuk segera mendengar kisahnya. Memenuhi semua penjuru otak ibu, bahkan sampai terbawa di dalam mimpi." Kata Tsuchiya tiba-tiba.


"Ibu penasaran soal apa?" Tanya Melody polos tanpa curiga sedikitpun.


"Soal nagaimana kau dan Yudha malam pertama!" Jawab Tsuchiya dengan sangat penasaran.


"I-Ibu.. ahhh.. yang benar saja! Masak hal seperti itu harus diceritakan sih?" Melody merah padam. Ia sangat malu. Bagaimana bisa ibunya bertanya hal intim seperti itu?


"Ah, ibu juga penasaran jadinya. Dulu pernah iseng tanya ke Yudha, tapi bocah itu hanya bilang 'Melody dan aku sudah tidur bersama dan kami melakukan ini itu.' Itu jawaban Yudha." Kata Mikan.


"Ambigu sekali. Itu anak tidak niat menjawabnya." Kata Tsuchiya.


"Yudha mau jawab saja itu sudah luar biasa, soalnya biasanya diabaikan meski yang bertanya adalah aku, ibunya sendiri." Kata Mikan. Ia mengingat kejadian masa lalu soal kisah sabotase minuman di Onsen dan penginapan Okinawa. "Nah Mel, karena Yudha sudah mau menceritakan kisah malam pertamanya denganmu, sekarang giliran kau yang harus menceritakanya dengan rinci soal malam pertama itu!" Tambah Mikan.


"Ta-tapi, Bu..." Melody ragu-ragu. Iya kali malam pertama harus diceritakan?


"Jadilah menantu yang baik yang menuruti permintaan ibu mertuanya, Mel!" Kata Tsuchiya.


Ini apa lagi coba? Melody tak habis pikir kenapa ibunya malah menjadi-jadi dan ikut kepo sama seperti ibu mertuanya?


Eh, bukannya malah ibunya sendiri yang memulai ide pembicaraan seperti ini?


"Akan sangat bagus jika kau menceritakan semuanya secara gamblang dan rinci, tapi jika malu, sedikit bocorannya maka sudah bisa mengobayi rasa penasaran para janda ini." Kata Mikan.


Para janda?

__ADS_1


Oh ayolah, walau benar, tapi pemilihannya membuat Melody sulit menolak. Bukankah ia tak boleh menyakiti hati para janda?


"Baiklah-baiklah, akan aku ceritakan kepada para ibuku tercinta." Kata Melody.


Mikan dan Tsuchiya nampak sangat bahagia. Ini akan menjadi penghibur di suasana yang sedang genting ini.


"Seperti kata Yudha, aku dan dia tidur bersama dan melakukan ini itu." Kata Melody yang masih sangat malu untu berbicara vulgar.


Kalau dengan Yudha sih tak masalah, sudah biasa. Yudha tahu luar dalam akan dirinya.


"Ehhhh... Itu lagi? Melakukan ini itu bagaimana,g Mel? Berikan contohnya dong, Mel! Kalau ada contohnua, rasa penasaran kami akan berkurang." Kata Mikan.


"Jangan malu, Mel! Kita semua pernah di posisimu juga kok." Kata Tsuchiya.


Sumpah demi apa! Ini ibu-ibu kepo dan rempong sekali.


Daripada debat, akhirnya Melody pun menceritakan soal malam pertamanya dengan Yudha sesuai dengan para Queen Janda ini.


"Kata Yudha minuman kami diberi obat perangsang. Tak lama setelah itu kami kepanasan. Kami bermain game. Karena tak kuat, trus kami melakukan ini dan itu. Melepaskan semua hasrat yang tertahan akibat obat terangsang." Kata Melody.


Masih sama seperti jawaban Yudha. Maka para ibu ini memikirkan cara agar bisa tahu apa yan terjadi di Amerika.


"Sakit tidak, Mel?"


"Sakitlah, Bu. Sakit sekali, mana Yudha tidak kira-kira waktu itu.. anu.. itulah pokoknya."


"Teriak tidak, Mel?"


"Teriak pas di itu.. anu.. aarggghh.. Kalian mencoba menjebakku ya agara aku mau menceritakan semuanya?"


"Apa yang dikatakan ibumu itu benar, Mel. Jadi, apa Yudha menciummu? Mencium apa saja? Ah, harusnya diganti dengan mencumbu!" Kata Mikan.


Malah semakin tidak jelas. Hah. dasar orang tau pemaksa!


"Iya, Yudha menciumku dan juga mencumbuku dengan ganas malam itu. Lalu tangan Yudha, se-semua yang ada pada diriku, sudah dipegang." Kata Melody yang sangat malu bukan kepalang.


Dalan hati, dua ibu-ibu ingi tertawa senang. Melody itu masih terlalu polos. Yudha pasti sangat betah dengan Melody.


"Sudah dong, para ibuku tercinta! Malu jika harus dibahas lagi. Soalnya kami menghabiskan malam ini sampaj tuntas. Ya ya, badan terasa sangat remuk setelahnya. Terutama ************." Kata Melody. "Sekarang, waktunya kembali ke cerita masa lalu ibu dengan ayah mertua! Aku sudah menceritakan malam pertamaku dengan Yudha, itu sudah cukup sampai di sini saja! Pokoknya jika ditanya berapa kali kami melakukannya, maka jawabannya tidak ingat, yang jelas berkali-kali itunya." Lanjutnya.


"Haha, ibu tak menyangka jika anak ibu yang kaku itu bisa memiliki pengalaman manis di malam pertamanya. Berkali-kali ya? Ya ampun..." Kata Mikan.


Sungguh menggoda wajah Melody saat ini. Merah merona dan malu-malu. Jika ada Yudha, pasti akan lain cerita.


"Bagaimana dengan saat ini, Mel? Kehidupan sex kalian baik-baik saja kan meski tanpa obat perangsang?" Tanya Tsuchiya.


"Iya Bu, baik-baik saja. Sangat baik kok, Bu meski kadang suka berlebihan bermainnya. Lupa kalau sedang hamil. Pernah juga sampai sedikit pendarahan dan diomeli dr. Aizawa." Cengir Melody.


Nafsu memang sulit dikendalikan, apa lagi tempat untuk menyalurkannya adalah sosok yang dicintai. Laniut terus!


"Kalian harus hati-hati saat melakukan sex dalam kehamilan tua seperti ini, Mel! Bisa membuat kontraksi." Saran Tsuchiya.


"Iya ibu, aku juga sudah bilang pada Yudha untuk pelan-pelan dan lembut, tapi itu bocah suka lepas kendali. Sekali saja tidak cukup " Kata Melody yang kini bisa lebih santai dalam bercerita soal beginian.

__ADS_1


"Astaga, anakku mesum juga ya. Sampai minta lebih terus seperti itu." Kata Mikan.


"Mereka kalau sedang bercinta, itu gila, Mikan-san. Suaranya menggema di semua ruangan rumah." Kata Tsuchiya.


"Eh? Loh kok, kau bisa tahu, Mikan-san?" Tanya Mikan penasaran.


"Nak Yudha datang ke rumah pagi-pagi usai kembali dari Kanada. Dia sekalian menjengukku yang sedang sakit. Eh, katanya mau memeriksa Melody yang terpeleset, malah yang aku dengar suara rintihan dan desahan dari Melody yang sangat keras. Sepertinya nak Yudha berlebihan waktu itu, anakku yang manja itu sampai berteriak kesakitan dan minta nak Yudha berhenti. Tapi tidak berhenti juga karena suara anakku masih terdengar sampai sekitar sejam setelahnya dalam jeda berdekatan." Jelas Tsuchiya.


Panci mana panci! Sumpah, ini ibunya vulgar sekali. Melody jadi ingin sembunyi saja. Malu sekali. Kenapa harus diceritakan dengan cara seperti itu sih?


Ya benar waktu itu memang seperti itu. Tapi akn tidak perlu diceritakan secara gamblang juga, kan? Toh kedua orang taunya itu kan sudah pernah mengalaminya juga.


"Waah, moment yang ingin sekali aku rekam! Aduh, aku yang tiap hari serumah dengan mereka, tapi tidak pernah bisa melihat atau mendengar mereka bercinta." Kata Mikan hebih sendiri. "Cih, aku iri padamu, Tsuchiya..." Tambahnya.


"Aku hanya sedang beruntung pagi itu, Mikan-san." Kata Tsuchiya.


Mikan lalu menoleh ke arah Melody. "Besok kalau kau melakukan hubungan sex dengan Yudha, kalian rekam ya dan berikan pada ibu!" Kata Mikan.


"Hah?" Melody cengo.


Direkam?


Adegan sex dengan Yudha diminta direkam oleh ibu mertuanya sendiri? Kepala Melody tiba-tiba menjadi sangat pusing. Dua ibu-ibu kalau sudah begoni menjadi sangat sulit dikendalikan. Suka berbicara dan minta-minta hal yang tidak jelas.


"Malulah, Bu. Aduuh, orang kalau pas lagi itu sama Yudha saja seringnya di dalam selimut atau lampu remang. Walau bukan kali pertama, tapi kan rasa malunya tinggi. Apa lagi kalau sampai direkam? Aku tak bisa membayangkannya! Masalahnya Yudha itu kalau sudah nafsu, maka dia akan sulit mengendalikannya. Aku tak mau video sex kami sekelas bintang p0rn!" Kata Melody.


Menggoda menantu ternyata bisa semengasyikkan ini. Ia menjadi sangat dekat dengan menantunya itu. Haruskah ia memasang kamera tersembunyi?


"Ahh, syukurlah kau dan Yudha memiliki hubungan yang sedekat itu. Sebagai orang tua, kami merasa sangat khawatir ketika kalian menikah tanpa dasar cinta. Apa lagi masih dalam masa egois-egoisnya masa remaja akhir. Menikah itu berat, dan kalian bisa sampai ke tahap ini itu sungguh luar biasa." Kata Mikan.


"Mertuamu benar, Mel. Sudah mau ada anak juga. Maaf ya karena ibu dan ibu mertuamu malah menggodamu seperti ini. Padahal kau dan kita semua sedang bersedih karena Yudha yang belum ada kabar. Kami itu hanya khawatir karena kau sedang hamil. Ibu hamil itu tidak boleh stress. Setidaknya kami berusaha menjagamu selama Yudha tak ada di sampingmu." Sambung Tsuchiya.


Melody merasa sangat beruntung karena memiliki dua orang tua yang sangat pengertian kepadanya. Yang sangat menyayanginya. Tak mudah memang bertahan tanpa Yudha dalam situasi seperti ini. Namun, demi anak-anak yang ia kandung di dalam perutnya, ia akan senantiasa bertahan dan berjuang semampu yang ia bisa. Ia mengerti batas mampunya itu seberapa. Namun ia memiliki Tuhan yang akan selalu membantunya. Maka dari itu, dengan langkah yang pasti, ia akan melampaui batasnya.


Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Dengan usaha dan keyakinan doa, sesuatu itu pasti akan terwujud. Hanya percaya dengan niat yang tulus dan Tuhan akan meniupkan bantuan-Nya dari atas sana.


"Terima kasih banyak, ibu, ibu mertua. Perasaanku menjadi jauh lebih baik karena kalian menghiburku siang ini. Tadi pagi aku berpisah dengan Yudha, aku pikir aku akan sulit melalui hari-hari ke depan nanti. Namun, ada kalian yang akan menjadi pekuatku. Kalian akan memegangi punggungku dari belakang. Tentulah aku akan berjuang. Aku selalu yakin jika Yudha pasti akan kembali. Berkumpul dengan kita dan berbagi tawa dengan kita." Kata Melody.


Ia mengucapkannya sambil meneteskan air matanya. Ia bahagia karena merasa beruntung sudah memiliki Yudha di dalam hidupnya, tapi ia bersedih karena harus terpisah dengan Yudha saat ini.


Hidup memang tak selalu seperti yang dimau. Selalu ada jalan terjal, landai, dan berkerikil di depan. Namun percayalah, Tuhan memiliki cara bagaimana membuat diri ini menjadi kuat.


"Aku akan bertahan karena cinta ini sangat besar. Yudha pasti akan kembali, meski saat ini aku sama sekali belum tahu bagaimna keadaanya. Dia sedang apa atau dia bagaimana. Yudha selalu muncul di dalam otakku dan menghantui setiap tidurku. Dia memelukku dan membisikkan kata-kata manis di telingaku. Hah.. Aku memang sudah sangat bergantunh kepadanya. Aku tak bisa melakukan banyak hal tanpa dirinya di sisiku. Karena kini dia sedang tak ada di sisiku, maka aku akan belajar melalui waktu tanpanya dulu. Berat dan sulit sih. Namun demi mereka..." Melody mengusap perut hamilnya yang sudah sangat besar. "... demi mereka, aku akan belajar bersabar dan kuat. Kami akan menunggunya pulang. Namun jika dia tidak pulang-pulang, aku yang akan menjemputnya! Enak saja dia mau kabur dari tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Dia sudah membuatku hamil, ke neraka pun akan aku kejar! Hufft.." Lanjutnya.


"Kami akan membantu sebisa kami untuk mencari Yudha, Mel. Jangan khawatir. Kami sepemikiran denganmu. Kami berharap jika Yudha akan selalu baik-baik saja. Ibu mengenalinya sebagai sosok yang tak mudah menyerah. Tuhan menolongnya berkali-kali, begitupun dengan saat ini. Tuhan pasti juga akan menolongnya." Tambah Mikan.


"Ibu tidak memiliki kemampuan untuk menemukan Yudha secara langsung. Kekuasaan atau biaya atau apa, ibu sama sekali tidak memilikinya. Namun, ibu memiliki kepercayaan jika Tuhan akan selalu mendengar doa para hamba-Nya. Untuk itu, ibu tidak akan pernah lelah untuk berdoa kepada-Nya. Ibu akan berdoa untuk keselamatan Yudha dimanapun Yudha berada saat ini." Sambung Tsuchiya.


Melody tidak sendiri. Ada orang-orang hebat di dekatnya. Kenapa ia harus murung dan kecewa akan kepergian Yudha? Ia masih memiliki opsi lain, yaitu tegar dan berusaha. Ia akan mencari Yudha!


"Aku pasti akan mencarinya!"


Keteguhan hatinya akan selalu membawanya kembali pada Yudha. Ia selalu mempercayai hal ini. Ia percaya pada kekuatan cintanya pada Yudha. Yudha dan dirinya adalah takdir indah dari surga. Ia yakin dengan jalan yang sudah Tuhan takdirkan kepada dirinya.

__ADS_1


Semua memang tak mudah, tapi ia akan menatap ke depan melebihi siapapun. Ia akan melangkah lebih lama melebihi siapapun. Semua demi dirinya dan Yudha. Semua demi kisah cinta dan kehidupan bahagia dalam takaran imajinasinya.


"Yudha, membahas hal ini dengan para ibu kita membuatku sangat merindukanmu. Aku ingin sekali bertemu denganmu. I miss you so much, Yudha-kun.."


__ADS_2