
Usai belanja dan makan siang bersama. Mia dan Alvin menuju rumah sakit Kazehaya Internatonal. Alvin menawarkan diri untuk mengantar Mia. Hanya saja, Alvin tidak ikut mampir karena harus bertemu klien kantor.
"Senpai, arigato ne." Ucap Mia.
"Hn. Sama-sama. Sampaikan salamku untuk nenek dan ibu Mikan ya?" Kata Alvin.
"Iya, nanti aku pasti akan menyampaikannya." Mia membuka pintu mobil milik Alvin.
"Mia tunggu!" Pinta Alvin.
Mia berhenti sejenak. Ia lalu menatap Alvin. "Ada apa?" Tanya Mia.
"Ini untukmu!" Alvin memberikan sebungkus permen pada Mia.
Mia menerimanya. "Konpeito?" Tanya Mia.
"Iya. Bukan maksud apa-apa, tapi nikmati konpeito ini bersamanya ya? Mungkin ibu Mikan atau nenek jika mereka mau." Kata Alvin
"Iya nanti semua aku tawari. Terima kasih banyak, Senpai. Aku pasti akan memakannya."
"Sama-sama."
"Baiklah, aku mau masuk ke rumah sakit dulu. Senpai hati-hati saat di jalan!Jangan kebut-kebutan!"
"Iya. Bye.."
"Bye-bye.."
________________________________________
Kata konpeito berasal dari kata confeito (Portugis) yang juga diperkenalkan pertama kali di Jepang pada tahun 1546 oleh bangsa Portugis. Bahkan Oda Nobunaga pada saat itu senang sekali dengan bentuk dan rasa konpeito yang diberikan oleh salah satu misionaris Kristen kepadanya.
Meski dulunya merupakan makanan yang elit. Sejak konpeito masuk ke Nagasaki untuk pertama kalinya, permen ini langsung menyebar ke Kyoto dan Tokyo, hingga akhirnya menyebar ke seluruh daerah di Jepang.
Konpeito dibuat dengan cara memanaskan potongan kecil gula dan menambahkan gula cair sedikit demi sedikit hingga ukurannya membesar.
Pembuatan konpeito dengan cara tradisional sangat bergantung pada insting dan pengalaman. Dikatakan butuh 10 tahun untuk bisa mengaduk nampannya dengan tepat saja. (japanesestation)
________________________________________
"Sekali lagi kau menjadikanku alasan. Apa susahnya sih jika kau ingin memberikan permen konpeito ini pada Melody? Merasa tidak enak karena Melody sudah menikah? Merasa tidak enak karena takut ketahuan Yudha? Atau bagaimana? Senpai oh senpai. Sebegitu beratnya ya melupakan Melody? Cintamu pasti sudah sangat dalam padanya. Ya, aku paham kok. Aku juga tidak akan menyalahkanmu yang sedang jatuh cinta. Namun apa kau tahu, Senpai? Melody sudah menentukan pilihannya. Melody sudah memilih Yudha sebagai orang yang sangat dicintainya. Itu artinya, meski kau berusaha sekeras apapun untuk mendapatkan hati Melody, kau tetap tak akan bisa memilikinya. Saat kau menyadari itu, kurasa itu sudah sangat telat. Lukamu tak hanya menganga, tapi sudah menembus dan membuat lubang yang sangat besar. Apabila waktu itu tiba, apakah kau sudah siap, Senpai?" Batin Mia.
Mia berbalik menuju ke dalam rumah sakit usai memastikan Alvin menghilang dari jangkauan kedua matanya. Iapun berjalan cepat menuju kamar inap kakek Wijaya.
Sesampainya di kamar inap kakek Wijaya, Melody menyambutnya dengan riang. Di dalam ruangan inap itu, lengkap ada semua anggota keluarga Kazehaya, minus Yudha yang sedang ke kantor.
"Susu hamil, buah-buahan, dan cemilan. Wah, terima kasih banyak, Mia. Aku sungguh menyukainya." Kata Melody ketika membuka kresek yang Mia bawa untuknya.
"Sama-sama. Ini juga!" Mia memberika konpeito pada Melody.
"Apa ini?" Tanya Melody.
"Konpeito. Mau mencobanya? Rasanya manis seperti gula." Jawab Mia.
"Mau, aku mau mencobanya. Kebetulan sekali dr. Aizawa kemarin menyuruhku untuk memakan makanan yang manis-manis. Kata beliau aku disuruh menambah berat badan." Kata Melody.
"Kandunganmu baik-baik saja?" Tanya Mia khawatir.
"Iya, baik-baik saja. Aku hanya disuruh makan manis-manis saja. Semua baik. Tenang saja!" Senyum Melody riang.
"Jaga baik-baik calon keponakan-keponakanku, Mel! Kau harus membuat mereka melihat dunia ini!"
"Nanti kalau kau memiliki anak dan kebetulan lawan jenis dari anak-anakku, mari kita jodohkan!" Kata Melody antusias.
Mia terkekeh. "Katanya tidak suka nikah dijodohkan? Takut banyak lukanya. Lalu apa ini? Anak belum lahir saja kau sudah menentukan masa depan untuknya."
"Hehe. Iya juga sih. Tapi lucu saja jika membahas tema perjodohan. Padahal dalam realitanya, tidak semudah bibir berucap. Untung saja aku dan Yudha bisa saling jatuh cinta."
"Nyatanya memang tak semua perjodohan berakhir dengan baik."
"Kau benar.."
Melody memilih untuk memakan konpeito yang Mia bawa. Rasa manisnya menyerbu lidahnya. Membuatnya merasa jauh lebih senang.
__ADS_1
"Hoho, ada yang in love sungguhan dengan anak ibu yang kaku itu rupanya." Mikan ikut nimbrung karena ia merasa jika obrolan Melody dan Mia sangat seru.
"Ibu.." Malu Melody.
Mia dan ibu Mikan malah kerja sama untuk menggoda Melody. Melihat Melody yang merah padam itu sangat menggemaskan. Seolah ada hiburan di antara kesedihan yang melanda. Meski hati sangat sedih, pikiran ikutan kacau, tapi tidak boleh terus berlarut-larut dalam suasana yang membuat kalut seperti ini. Sedikit mengganti suasana dengan bercanda adalah pilihan yang baik.
"Mia-chan kau gadis yang baik, aku akan sangat senang jika kau bersedia menjadi menantuku." Kata Mikan.
Menantu?
Siapa?
Menjadi istri kedua Yudha?
Yang benar saja! Di Jepang tidak dilegalkan menikah dengan dua istri. Lagian Mia tidak ingin memiliki masalah yang rumit dengan Melody.
Maksudnya apa coba?
"Bi-bibi Mikan, ma-maksud Anda?" Tanya Mia hati-hati. Ia melirik Melody sekilas. Melody sama bingungngnya dengan dirinya.
"Aku akan merestui kau dengan Alvin." Jelas Mikan.
"A-Alvin-senpai?" Kaget Mia dan Melody bersamaan.
"Iya. Alvin kan juga anakku. Dia laki-laki yang baik dan sopan. Sepertinya akan sangat cocok denganmu." Kata Mikan.
Mia tertawa hambar. Ia memang menyukai Alvin dan sangat berharap bisa bersama dengan Alvin. Namun bukan begini juga, kan? Tiba-tiba saja seperti mendapatkan tembakan telak ke dada.
Ekspresi yang paling aneh malah ada pada Melody. Dimana ia malah memiliki ide cermelang akan gagasan yang ibu mertuanya katakan tadi.
"Souka! Ah, benar itu benar!" Kata Melody girang.
Souka: Begitu ya.
"Ada apa, Mel? Ada yang aneh?" Tanya Mikan.
"Hehe. Tidak kok, Bu. Aku hanya senang dengan ide ibu. Dengan begitu, aku dan Mia akan menjadi saudara ipar. Itu akan sangat menyenangkan." Jawab Melody antusias.
Mia jawdrop.
"Nenek akan menyetujuinya." Kata Nenek Chiyo yang tiba-tiba ikut nimbrung.
Mia menjadi 'bulan-bulanan' ledekkan dan godaan tentang ide dijodohkan dengan Alvin. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah diam dan tersenyum terpaksa. Ia tak bisa mengatakan perasaan yang sesungguhnya itu kepada mereka. Semua tak semudah kata berucap.
Karena sudah cukup sore, akhirnya nenek Chiyo dan ibu Mikan beranjak meninggalkan kamaf inap kakek Wijaya untuk membersihkan diri. Melody dan Mia sementara tinggal untuk gantian menunggu kakek Wijaya.
"Kenapa kau malah menyetujui ide ibu mertuamu, Mel? Aku dan Alvin-senpai itu tidak mungkin." Tanya Mia.
"Aku mulai memikirkannya, Mia. Jika Alvin-senpai memiliki cinta baru, ia akan melupakan diriku." Jawab Melody.
"Tidakkah kau merasa sangat egois?" Tanya Mia.
"Maksudmu?"
"Cintanya padamu itu sangat besar. Bukan hal mudah baginya untuk melupakanmu. Lalu kau dengan seenaknya saja menjodohkan dia dengan diriku? Kau tak hanya egois, tapi juga kejam!" Kata Mia yang kini tersulut emosinya.
"Bu-bukan seperti itu, Mia. Kau dan dia itu sangat cocok. Aku merasa seperti itu ketika melihat kalian."
"Setidaknya pikirkan bagaimana perasaanku juga!"
Ah, seperti itu. Melody baru sadar. Ia memang tak memikirkan perasaan Mia. Ia hanya ingin Alvin cepat-cepat melupakannya. Ia ingin Alvin segera lepas dari jerat derita yang membelenggu karena tidak bisa melupakan perasaan terhadapnya.
"Ma-maafkan aku. Harusnya aku bertanya dulu padamu mengenai perasaanmu tergadapnya. Gomenasai, Mia-chan. Gomen." Melody serius minta maaf.
Apa saat ini waktunya ia harus jujur pada Melody tentang perasaannya pada Alvin? Tentang dirinya yang memendam rasa pada Alvin sejak dahulu? Tentang cinta bertepuk sebelah tangannya? Tentang rasa sakit bagaimana rasa dari cinta tak terbalas? Apakah ini memang jalan yang harus ia lalui? Mia memejamkan kedua matanya. Air mata itu bukti keberaniannya yang begitu tipis.
"Aku..."
Melody kaget dengan air mata yang menggenang di mata indah Mia. Apakah kata-katanya sangat keterlaluan? Bukankah ia sudah berusaha minta maaf? Tidak cukupkah itu? Apa itu sampai hati sehingga membuat Mia menangis?
"Mia, maafkanku. Aku tahu aku keterlaluan. Tolong jangan menangis! Maafkan aku!" Melody kembali minta maaf.
Mia menggeleng. Ia menangis bukan karena kata-kata Melody tentang ide perjodohan dengan Alvin. Ia menangis karena nasib memendam rasa pada Alvin tanpa pernah berani terucap.
__ADS_1
"Pertama kali aku bertemu dengannya di musim semi upacara penerimaan siswa baru sekolah menengah. Sudah berapa lama itu? Ah, hampir tujuh tahun ternyata."
"..." Melody memilih untuk mendengarkan cerita yang ingin Mia ungkapkan.
"Dia membantuku mengusir kakak-kakak angkatan yang menggodaku. Dia tersenyum padaku dan memberiku permen lolipop rasa strawberry. Dia bilang, aku paling cocok untuk tersenyum. Setelah itu aku selalu mencoba tersenyum ceria, terutama di hadapannya."
"..."
"Senyuman darinya mengubah hidupku. Ketika dia berlalu bersama dengan bunga sakura yang rontok terhempas oleh angin, sejak saat itu akupun menyadari jika aku jatuh cinta terhadapnya."
"..."
"Aku.."
"..."
"Mencintainya."
"..."
"Aku sangat mencintainya, Mel."
"Si-Siapa?" Tanya Melody. Mia semakin menangis.
"Aku sangat mencintai, Alvin-senpai." Tangis Mia.
Setelah sekian lama memendamnya sendirian, akhirnya ada orang yang dapat dibagi. Meski penuh air mata, tapi ada rasa lega di dalam dadanya. Ada rasa plong di dalam hatinya. Ada rasa membaik di dalam benaknya. Seperti beban yang amat sqngat berat berlalu meninggalkan jiwa dan raganya.
Melody memeluk Mia yang duduk di sebelahnya.
Bagi Melody yang sama sekali tak tahu tentang perasaan Mia yang sesungguhnya hanya bisa ikutan menangis dibuatnya. Ia merasa gagal menjadi sahabat. Ia tak menyadari bagaimana perasaan Mia yang selalu ada di sisinya. Ia tak mengetahui apa-apa dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Jika Mia pertama kali bertemu Alvin sewaktu upacara penerimaan siswa baru saat sekolah menengah atas, itu artinya Mialah orang yang lebih awal bertemu dengan Alvin dari pada dirinya. Ia ingat, ia bertemu Alvin waktu masa orientasi atau sehari usai upacara penerimaan siswa baru itu. Lalu, ia malah berpacaran dengan Alvin?
Dosa menyakiti Mia sudah ia lakukan sejak dulu. Mia pasti menderita sejak dulu. Mia menyembunyikab banyak emosi di balik senyum cerianya. Layaknya orang yang bodoh.
Mia mendukung hubungannya dengan Alvin. Mia mendoakan untuk kebahagiaannya dengan Alvin.
Mia memaklumi alasan ia putus dengan Alvin. Mia juga yang meminta jangan sampai ada permusuhan meski sudah tidak bersama lagi.
Mia tetap mendukung ketika ia memilih menikahi Yudha yang jelas-jelas 'idola' Mia.
Mia tetap mendukung apapun keputusan yang sudah ia buat meski keputusan itu sangat egois dan kekanak-kanakkan.
Ia memang sahabat yang kejam, jahat, tidak berguna, dan tidak peka keadaan. Ia selalu saja berlari dan mengeluh pada Mia tentang masalahnya dengan Alvin maupun Yudha. Ia tak pernah memikirkan bagaimana perasaan Mia. Tidak pernah. Tidak pernah.
"Aku tak tahu harus bagaimana, Mia? Aku ini kejam memang. Aku yang teburuk. Aku tak bisa membaca kondisi sekitarku. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku padamu, Mia? Katakan, Mia! Hanya minta maaf saja itu tidak akan cukup." Kata Melody.
Mia mengelus punggung Melody. "Kau tidak salah, Mel. Kau yang tidak peka juga bukan kesalahanmu. Aku yang memutuskan untuk memendam rasaku padanya. Itu salahku. Jika akhirnya dia jatuh cinta padamu, itu juga bukan salahmu atau salahnya. Jatuh cinta itu bukan suatu kesalahan. Yang salah hanya waktu yang tidak cocok atau kita yang sedang tidak beruntung." Jelas Mia.
Mia cukup rasional mengenai perasaan hatinya. Ia menimbang banyak hal. Ia memikirkan banyak hal. Ia memutuskan dalam segala tindakkannya. Paham ia hanyalah manusia biasa, pada akhirnya luka memang tak bisa ia hindari, duka dan lara memang harus ia terima.
"Lalu apa kau akan tetap memendam perasaanmu terhadapnya? Percayalah Mia, aku sama sekali tidak memiliki perasaan romantis terhadapnya. Aku jatuh cinta pada suamiku, Yudha." Kata Melody.
"Aku tidak berpikir untuk mengungkapkan perasaanku terhadapnya. Aku cukup bahagia saat ini hanya dengan melihatnya saja." Mia tersenyum.
Namun, Melody tahu, senyuman Mia itu bukanlah senyuman yang penuh dengan keikhlasan. Itu adalah senyuman yang menahan lara.
"Tapi kuharap suatu saat kau mengungkapkan perasaanmu terhadapnya. Aku rasa dia berhak tahu. Apapun yang akan dia tanggapi nanti, setidaknya kau tak menyesali karena sudah mengatakan jika kau sangat mencintainya."
"Kau benar, Mel. Jadi Mel, sampai saat itu tiba, maukah kau berjanji kepadaku?"
"Apa itu?"
"Jangan katakan padanya jika aku sangat mencintainya! Kau bisa kan memegang janji ini demi diriku?"
Melody menatap serius Mia. Ada harapan besar di kedua mata Mia. Ia memang tak boleh sok jadi pahlawan mak comblang Mia dan Alvin. Ini adalah moment berharga untuk Mia. Ia tak boleh terlalu mencampurinya.
"Ya, aku berjanji tidak akan memberitahu dirinya tentang perasaanmu." Kata Melody.
"Terima kasih, Jenong Tokyo Sky Tree."
"Sama-sma, Bebek panggang palung Mariana."
__ADS_1
Dan mereka memilih untuk tersenyum sebagai sahabat yang saling mendukung.