
"Yang aku tahu soal Yudha selama ini dia itu menjaga bicaranya untuk menghormati orang lain. Ia berusaha agar tidak menimbulkan kesalahpahaman akan kata-kata yang keluar dari mulutnya. Meski saat denganku justru timbul banyak kesalahpahaman, tapi saat ini Yudha berani berkonfrontasi langsung dengan Alvin. Dia bahkan berani terang-ternagan 'menghina' Alvin dan ibunya. Meski semua itu adalah fakta. Namun ini sangat berlebihan. Aku pasti juga akan marah jika berada di posisi yang sama dengan Alvin. Ini seperti bukan Yudha yang aku kenal... Atau.. jangan-jangan.. ini justru sosok Yudha yang aslinya? ... Tuhan, jangan bilang Yudha memiliki trauma masa kecil yang membuatnya memiliki dua kepribadian? ... Tidak mungkin, kan? Yudha itu laki-laki yang sangat baik, laki-laki yang senang mengalah demi kebahagiaan orang lain. Tidak mungkin Yudha akan berubah sejahat ini." Batin Melody.
Melody menatapi suaminya itu. Ia sungguh khawatir dengan perubahan Yudha yang lumayan ekstrim baginya. Ia tak ingin Yudha jatuh ke dalam dasar lubang yang gelap. Ia lebih menyukai Yudha yang kaku, yang hangat, yang baik, yang melindungi dirinya. Bukan sosok Yudha yang kelihata humble tapi memiliki kata-kata kasar yang mampu membuat orang lain salah paham.
Ia tak mau jika apa yang Yudha katakan justru akan membuat Yudha diincar banyak orang. Hidup damai itu jauh lebih menyenangkan.
Namun, ia bisa apa? Kisah hidup setiap orang itu tak bisa dipukul sama rata, termasuk Yudha. Kisah Yudha berbeda dan berat dijalani untuk kebanyakkan orang.
"Apa karena rentetan ujian yang diterima sehingga Yudha tak tahan dan menjadi seperti ini? Apakah ini self diffences dari sosok seorang Yudha yang ingin melingi diri? ... Aku harus belajar lebih dalam lagi untuk memahami Yudha. Aku tak boleh menilainya seenak jidatku. Yudha sudah berkali-kali ingin di bunuh, belum lagi kakek, Aron-san, dan bahkan aku beserta anak-anak di dalam kandunganku. Hal itu pasti memiliki tekanan tersendiri untuk batin dan pikiran Yudha. Yudha pasti tergoncang akan hal ini mengingat usianya yang masih muda. Yudha harus menanggungnya sejak dulu, sejak kecil. Parahnya lagi, Yudha berjuang sendiri. Aku tahu ada Shuhei-san yang selalu bersamanya, tapi isi hati Yudha hanya dia sendiri yang tahu. Apa yang dirasakan oleh Yudha, apa yang dialami oleh Yudha, tidak ada yang tahu bagaimana Yudha menilai semua itu." Lanjut batin Melody.
Melody menggenggam tangan Yudha lagi untuk yang kesekian kalinya. Ketika ia melakukannya sangat sering, rasanya tangan itu semakin sulit diraih. Meski sudah ada di genggaman tangan, tapi rasanya semakin memudar, semakin menjauh, dan semakin sulit ia raih lagi.
Apa Yudha sungguh akan meninggalkannya suatu hari nanti?
"Aku sadar.. aku sadar Yudh, selama ini ternyata kau.. kesepihan... Ya, kau kesepihan hingga membuat hidupmu terasa kosong. Kau tak dirawat ayahmu, kakek mendidikmu untuk bisnis, kau jadi kehilangan dirimu sendiri... Yudha, andai saja aku bisa mengubah waktu. Andai saja aku dan kakekku tak berpisah saat itu, aku pasti akan bertemu denganmu sejak kecil.. Aku akan menemanimu... Namun, Tuhan sepertinya punya rencana lain dengan menghadirkanku di dalam hidupmu saat ini. Tuhan ingin aku menyelamatkanmi. Tuhan ingin aku meneluarkanmu dari kesepian yang melandamu." Batin Melody ranya miris, perih sekali jika ini menyangkut Yudha.
Tak bisakah kehidupan yang normal dan penuh canda tawa itu kembali lagi seperti dulu? Kenapa harus ada kisah seperti ini? Kenapa dirinya dan Yudha yang harus mengalaminya?
Tuhan sedang tidak main-main dengannya, kan?
Yudha menatap Melody. Istrinya menatapnya sendu. Masa bodoh dengan semua orang yang ada di aula pesta itu, Yudha mencium kening Melody. Ia selalu berharap jika Melody akan baik-baik saja.
"Kenapa?" Tanya Yudha.
Melody menggeleng, ia justru memeluk Yudha setelahnya. Mencoba menyembunyikan wajahnya di dada Yudha. Mencoba mencari kehangatan di sana.
Yudha membalas pelukkan dari istrinya itu. Ia memeluk erat hingga merasa jika perut hamil Melody sedikit tertekan akan tindakkannya. Ia menciumi pucuk kepala Melody.
"Jika masih kurang, kita bisa lanjutkan nanti." Goda Yudha.
Melody justru menggangguk. "Lakukan sesukamu, Yudh. Asal denganmu, aku tak akan mempermasalahkannya."
Yudha sempat cengo untuk beberapa detik. Ia tak menyangka jika Melody akan berkata seperti ini kepada dirinya. Pasalnya, Melody itu biasanya marah-marah jika diajak bermain mesum.
"Apa ini kado ulang tahun?" Tanya Yudha.
"Anggap saja seperti itu!" Kata Melody.
Yudha lalu tersenyum. Masa bodoh dengan kerumunan orang yang ada di ruangan itu. Biar semua orang tahu jika Melody adalah istri yang amat sanga ia cintai. Biar semua tahu jika apapun yang terjadi, ia dan Melody tidak akan gentar menghadapinya.
Yudha lalu melepaskan pelukkannya pada Melody. Ia membiarkan tangannya digenggam lagi oleh Melody. Ia hanya berpikir jika saat ini mungkin saja Melody sedang tidak ingin jauh-jauh darinya.
"Keponakanku tak malu menunjukkan kemesraannya di hadapan umum rupanya." Kata Orion. Ia ikutan tersenyum.
Yudha dan Melody lebih dari sekedar romantis.
__ADS_1
"Kami sudah menikah dan sah, tidak ada yang salah akan hal ini, kan?" Kata Yudha.
"Haha, kau mengambil jalur yang berbeda dari ayahmu. Aku sampai tak menyangka jika kau itu sedarah dengan Yoga-nii." Kata Orion. Ia tertawa renyah melihat bagaimana Yudha tumbuh menjadi dewasa.
Yudha mengerti apa itu cinta, Orion bersyukur akan hal itu.
Yoga-nii: kak Yoga.
"Aku tak berniat mirip dengannya. Aku lebih suka menjadi diriku sendiri tanpa bayang-bayang pendahuluku. Bukankah paman juga sama? Menggambil jalur yang berbeda dari kakek dan mencuri uang nenek lalu digunakan modal untuk membangun yakuza Fajar Keemasan?" Kata Yudha.
Orion langsung kembali tertawa. Kali ini malah jauh lebih keras dari sebelumnya. "Darimana kau tahu cerita seperti itu, Yudh? Aku memang dulu mencuri black card milik ibu dan menggunakannya untuk ambisiku menguasai Jepang!" Kata Orion tak menampik fakta itu. "Tapi sayang, Jepang harus dibagi dua antara utara dan selatan." Lanjutnya.
"Aku tak akan membiarkan kau menguasai Jepang seutuhnya!" Kata Azumane. Ia ikut menyela pembicaraan Yudha dan Orion.
Mendapatkan kekuasaan itu sangat sulit, apa lagi harus bersaing dengan orang yang sudah dikenal sejak sekolah menengah atas.
"Ini dua om-om malah seperti anak kecil? Dalam persaiangan kekuasaan dominasi Yakuza, mereka musuhan. Namun saat sedang seperti ini, mereka terlihat baik-baik saja seperti sudah makan dengan piring yang sama... Tunggu.. mereka saling mengenal, kan? Ibu Kurenai juga sama. A-apa me-mereka mengetahui cerita so-soal kecelakaan ayahnya Yudha dan Alvin?" Melody kembali harus berpikir. "Apa Yudha tahu sesuatu tentang mereka semua? ... Hei Yudh, aku ingin mendengarnya langsung darimu!" Batin Melody.
Merasa ada yang tak nyaman di tangannya, Yudha angkat bicara. "Kau berkeringat dingin, Mel! Kau istirahat saja ya?" Kata Yudha.
"Orang hamil tak boleh terlalu lama berdiri atau terlalu lama duduk. Itu tak baik untuk kandungannya." Kata Alvin. Lihatlah wajah yang penuh rasa khawatir itu!
Cih, Yudha tak menyukainya mentang-mentang Alvin paham ilmu kedokteran.
"Ayane-san!" Panggil Yudha. Ayane langsung mendekat. "Bawa Melody ke kamarnya untuk istirahat!"
Melody menggeleng. Ia tak ingin pisah dari Yudha. Firasatnya bilang jika saat ini ia berpisaj dengan Yudha, maka kemungkinan akan bersama lagi akan sulit. Itu yang ia rasakan. Kenapa bisa sesedih ini? Kenapa ia ingin menangis?
Yudha meyakinkan Melody jika semua akan baik-baik saja. Seperti tak rela, akhirnya Melody pun setuju untuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
"Kalian sangat dekat. Hmm.. cinta ya?" Gumam Orion.
"Ya Paman, ini cinta. Kami saling mencintai." Kata Yudha.
"Cinta tak ada guna jika sudah tergoda harta." Kata Kurenai.
"Apa ibu Kurenai sedang menceritakan dirinya sendiri?" Tanya Yudha.
"Yudha jaga bicaramu! Sopanlah pada ibuku!" Kata Alvin.
"Aku sudah berusaha sesopan yang aku bisa, wahai kakakku! Sopan yang seperti apa lagi? Kau pikir dengan posisi kita saat ini, semua bisa sama seperti dulu? Kau memiliki pemikiran yang sama, kan? Kau tidak bodoh, Vin! Kau tahu betul itu bagaimana! Jangan sok bijak dengan menasihatiku! Aku tak jauh beda umur denganmu meski kau kakakku!" Kata Yudha.
"AAAAAAA..."
Tiba-tiba terdengar suara teriakkan salah seorang wanita. Semua orang yang ada di ruangan itu langsung kaget dan mencari sumber suara.
__ADS_1
Dor, dor... lampu mati sebagian karena tembakkan.
"Seseorang terluka!" Teriak wanita itu.
Suasana pesta berubah jadi panik. Apalagi dengan penerangan yang cukup minim itu.
"Amankan aula pesta!" Kata Orion dengan sangat kerasnya.
"Lapor Tuan Muda, Nona Ayane tertusuk."
Yudha kaget bukan main setelah mendengarkan laporan dari bawahannya lewat earphonenya. Ia gemetar dan melemas saat itu juga.
"Ba-bagaimana dengan Melody?" Tanya Yudha terbata.
"Tidak ditemukan dimana-mana."
"CCTV! Cepat cari lewat CCTV!" Yudha kalang kabut dan ingin segera menemui istrinya.
"Yudha tenangkan dirimu!"
"Situasi sedang kacau!"
"Jangan kemana-mana dulu, Yudh! Bisa saja ini pancingan untuk membuatmu keluar!"
Sai, Nao, dan Neil mencoba menenangkan Yudha.
"Bawa Ayane-san ke rumah sakit! Sekarang! Jangan sampai dia mati!"
"Shuhei, kau sebaiknya selalu bersama Yudha. Bocah itu suka bertindak di luar batas jika sedang panik seperti ini." Kata Nao.
Shuehei mengerti apa yang harus ia lakukan. Dan ya, Yudha memang suka bertindak di luar batas jika sedang panik. Lihatlah, saat ini Yudha bahkan sedang mencekik leher Alvin.
"Dimana Melody?" Tanya Yudha. "DIMANA MELODY?"
Alvin kesulitan bernafas. "..."
"Yudha hentikan!"
"Hentikan, Yudh!"
"KAU SELALU MENGINGINKANNYA! KAU BAWA KEMANA ISTRIKU, HAH?" Teriak Yudha.
"Alvin tak akan serendah itu melakukan hal yang gila seperti ini! Yudha, ibu mohon lepaskan Alvin! Kau bisa membunuhnya!" Pinta Kurenai.
Suasana sangat kacau di aula pesta itu. Beberapa kali terdengar tembakkan. Ada bentrok antara tim pengamanan yang Yudha sewa dan bantuan dari Orion. Ada penyusup di sana.
__ADS_1
Situasi belum terkendali.
Semua sibuk menyelematkan diri.