MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Identitas Tuan Penculik


__ADS_3

"Anata wa Alvin desu ne?" Tanya Melody.


"..." Sosok itu masih terdiam sama seperti sebelumnya.


"Aku familiar dengan bau parfum ini. Waktu kunjungan ke salah satu perusahaan parfum ternama di Tokyo, sewaktu kita SMA dulu, aku membuatkanmu parfum dengan aroma ini. Aku mencampur biji parfum dengan asal, tapi ternyata hasilnya sangat bagus. Aku bahkan mendapat pujian dari manager perusahaan parfum itu dan disuruh membuatkannya lagi. Namun aku tak bisa, karena aku lupa takarannya. Lupa biji parfum mana yang aku ambil." Melody mencoba menjelaskan.


Melody mengingat kisah masa lalu yang tak asing buatnya. Tentulah memang tak asing karena ia mengingatnya dengan baik dan tak akan pernah melupakannya. Kenangan ini merupakan kenangan yang manis dan berharga. Ia akan menyimpannya lebih lama dalam ingatannya.


"..."


"Manager perusahaan parfum itu menyayangkannya. Namun dia mau membeli mahal parfum buatanku. Aku tidak boleh, aneh saja, hanya sebuah parfum asal dihargai sampai jutaan. Lalu kau datang kepadaku dan meminta parfum itu sebagai hadiah ulang tahunmu. Aku pun menyetujuinya. Kau ingat?"


"..."


"Waktu itu kau bilang padaku jika kau akan mengirimkan sample parfum itu ke ahli parfum untuk membuat parfum dengan bau yang sama. Butuh sekitar hampir setengah tahun untuk benar-benar menyamakan kombinasinya. Dan sejak saat itu, kau selalu memakai parfum yang sama."


"..."


"Kau membuat hak paten untuk parfum itu. Jadi itu hanya satu-satunya di dunia ini."


"..."


Sosok yang ia duga sebagai Alvin itu ternyata masih betah dengan kediamannya meski Melody sudah menebak sebisa yang ia bisa.


Namun ia tak kehabisan akal. Ia akan membuat sosok Tuan Penculiknya itu mengaku jika jati dirinya adalah Kazehaya Alvin, kakak se-ayah Yudha dan mantan kekasihnya dulu sewaktu sekolah menengah.


Alvin harus mengakuinya! Itu adalah tujuannya saat ini.


"Tidak ada penculik sebaik dirimu. Aku makanan makanan yang enak. Disuapi. Tidak disakiti. Ditempatkan di tempat yang sangat nyaman. Itu hanya kau yang bisa. Bahkan Yudha tidak akan memperlakukanku sebaik dirimu."


"..." Memang kalu Yudha yang jadi penculik bagaimana? Si Melody ini membuat perumpamaan yang ambigu. Yudha kan suaminya Melody. Kenapa Melody malah berbicara seoerti itu?


"Kau penasaran ya kenapa Yudha akan lebih jahat darimu? Ahh, aku tahu apa yang kau pikirkan." Melody tersenyum.


"..." Merasa ngeri karena baru saja pikirannya dibaca oleh Melody. Apa ini adalah kemampuan tersembunyi Melody? Seperti memiliki kemampuan telepati saja.


"Kalau Yudha yang menculikku, aku pasti sudah diperkosa olehnya sejak hari pertama. Hahaha."


"..." Alasan macam apa itu? Diperkosa? Oleh Yudha?


Hah?


Hei, lagi, bukankah Melody itu istrinya Yudha? Kenapa lagi-lagi Melody membuat alasan yang tidak masuk akal. Ayolah, masak suami memperkosa istrinya sendiri? Dan itu Yudha loh! Yudha si bungsu Kazehaya yang sangat sopan itu! Rasanya itu tidak akan mungkin terjadi!


Lagi, diperkosa?


Lelucon apa ini?

__ADS_1


"Yudha itu kalau marah sulit dikendalikan. Dia bisa menyakiti siapa saja. Jika itu aku, dia tidak akan membiarkanku bernyaman ria. Aku pernah dipaksa berhubungan badan dengannya karena dia marah padaku, aku sudah memohon baik-baik dan menangis, tapi dia tetap saja memperkosaku. Aku hamil saja dia dengan santainya mencumbuku. Nah loh, dia tak sebaik dirimu, kan?" Melody tak bohong akan hal ini, Yudha memang pernah memperkosanya saat ia dan Yudha sedang dalam keadaan yang tidak baik. Alasan cemburu Yudha akan Alvin membuat Yudha kalap. Walau sudah meminta maaf dan baikan, tapi tetap saja jika ingat rasanya sangat menjengkelkan.


"..." Satu hal yang perlu diketahui, Yudha ternyata bejat! Kesal juga, kenapa Melody yang baik hati bisa mendapatkan perlakukan seperti itu? Rasanya Yudha perlu mendapatkan pelajaran. Satu pukulan tak akan cukup.


"Ne, Kakak Ipar, sampai kapan kau akan diam? Tak bisakah kau membuka suaramu? Aku ingin sekali mendengarkan suaramu itu. Ku mohon, jangan diam seperti ini! Buka mulutmu dan katakan sesuatu meski itu hanya 'aa' saja!"


"..."


"Kau bukannya merindukanku? Kau bukannya ingin melihatku? Ingin mengobrol denganku? Aku sudah di sini, di dekatmu, kenapa kau tak mau mengbrol denganku?"


"..."


"Uhuk.. Uhuk.. argh, tenggorokanku kering. Tenggorokanku gatal. Ini pasti karena banyak mengoceh." Terlalu banyak berbicara sendiri rupanya membuat tenggorokannya tidak nyaman.


"..." Sosok itu membantu Melody duduk dan memberikan secangkir teh hangat untuk Melody.


Melody meminum teh hangat yang tak perlu ia tiup itu. Sensasi hangat tehnya membasahi tenggorokannya yang kering. Ia menjadi jauh lebih baik setelahnya.


Si Tuan Pencuri hatinya baik sama seperti Alvin dan Melody juga yakin karena identitas sang penculik pastilah memang Alvin, Kazehaya Alvin.


Ia tak akan menyerah untuk membuat si Tuan Penculik buka suara dan mengakuinya. Ia tak tahan berada di ruangan yang sangat sepi ini.


"Ini salahmu, jika kau mau menjawab kata-kataku, aku tak akan pernah berbicara sebanyak ini dalam hidupku. Tenggorokanku juga tidak akan menjadi sesakit ini."


"..."


"Alvin-se-senpai... hiks.." Melody kini mulai menangis. "Aku sangat takut sekali dalam kegelapan ini." Lanjutnya.


Melody ketakutan.


Merasa tak tega, akhirnya si penculik itu buka suara. "Me-Melody.. Jangan menangis!" Pintanya.


"Alvin-senpai!"


Ya itu adalah Alvin. Dugaan Melody sejak awal sudah benar. Ia memang tak mungkin salah mengenali Alvin. Ia mengenal Alvin sejak lama. Menjalin persahabatan dengan Alvin dan bahkan menjadi mantan kekasih Alvin. Itu lebih dari cukup untuk membuatnya paham bagaimana Alvin itu.


"Go-gomen.." Kata Alvin.


Alvin memeluk Melody yang masih terikat tangannya. Ia ingat jika Melody sangat takut akan kegelapan. Kisah tersesat saat kemah jaman SMA dan tersesat saat di jalan Okinawa adalaha trauma besar dalam hidupnya Melody.


"Yudha memperkosamu jauh lebih baik dari diriku yang membuatmu menderita di dalam kegelapan." Kata Alvin.


"Kenapa kita bisa berakhir seperti ini? Aku putus denganmu dan menikahi Yudha itu jalan Tuhan. Aku berterima kasih karena kau sangat menyayangiku. Namun aku tidak bisa membalasnya. Kau tahu diriku ini sekarang milik siapa, kan? Yudha sudah memiliki jiwa dan ragaku." Kata Melody.


Alvin terdiam lagi dalam pelukkan Melody.


Apa yang Melody katakan padanya itu benar. Melody sudah menjadi milik Yudha dan Melody sendiri juga membalas perasaan Yudha. Berbeda dengannya yang tak terbalas. Ia hanya bisa melihat dari jauh dan menikmati luka yang perlahan-lahan membunuhnya.

__ADS_1


"Meski aku sangat mencintaimu, tapi aku tak pernah memaksamu untuk menerima cintaku." Kata Alvin.


Melody perlahan menjauhkan pelukkannya.


Apa yang Alvin katakan itu benar. Melody ingat jika Alvin sama sekali tidak pernah memaksa rasa cintanya pada dirinya. Alvin tidak pernah menyuruhnya untuk membalas perasaan milik Alvin. Alvin hanya menunjukkan perasaannya saja.


Jika dimaknai lebih jauh lagi, itu artinya kebahagiaannya dengan Yudha benar-benar sudah membunuh Alvin secara perlahan.


Melody sangat tahu betapa Alvin terlalu mencintainya. Alvin pasti menderita ketika ia dan Yudha bermesraan. Bahkan sering bercumbu di depan Alvin terang-terangan.


Okelah ia melilih Yudha sebagai sosok yang amat ia cintai, bukan Alvin. Namun, seharusnya ia tak boleh sejahat itu kan pada Alvin? Seharusnya ia mengharai perasaan Alvin seperti Alvin menghargai perasaannya kepada Yudha.


"Maaf, Alvin-senpai. Maaf.."


"Aku akan selalu memaafkanmu meski kau tidak pernah minta maaf padaku." Kata Alvin.


Melody meneteskan lagi air matanya. "Tolong buka ikat di mataku! Tolong buka penutup kepala ini! Aku ingin melihat dirimu saat ini! Aku sangat ketakutan karena terlalu lama dalam kegelapan."


"Aku tahu kau ketakutan dan aku minta maaf untuk itu, tapi tunggulah sebentar, aku tak bisa memperlihatkan wajahku saat ini padamu! Aku tidak suka memperlihatkan wajah mengerikanku pada orang yang aku cintai."


"SENPAI!"


Alvin tahu sudah membuat kesalahan yang amat besar pada Melody. Namun ada hal yang mendesak dari sekedar perasaannya pada Melody.


Alvin sebisa mungkin akan mengabaikan rengekan Melody. Ia bisa melakukannya selama dua hari ini, maka untuk beberapa hari ke depan harusnya tak akan ada masalah, kan?


"Dengar Mel, untuk saat ini, untuk hal yang sedang aku lakukan. Bisakah kau percaya padaku?" Tanya Alvin.


"Apa yang bisa aku percayai dari orang yang menculikku? Dari orang yang jelas-jelas kakak dari suamiku sendiri." Melody tanya balik.


"Ini demi dirimu dan keponakan-keponakanku!"


Melody terpaku.


"Aku sungguh tak bisa memahami Alvin saat ini. Dia terasa sangat asing. Apa yang dia bicarakan sebenarnya? Demi diriku dan anak-anakku? Ah, dia bahkan menyebut keponakan-keponakannya dengan lantang dan tanpa ragu. Jika iya itu dari hatimu, bolehkah aku berharap lebih? Berharap kau akan tertawa berasama kami di masa depan... Lalu, dia memintaku untuk percaya padanya? Percaya yang seperti apa? Aku harus bertanya bagaimana lagi. Namun, aku masih percaya pada Alvin yang dulu aku kenal sewaktu SMA dulu. Alvin yang baik hati." Batin Melody.


Melody berusaha bernafas dengan baik.


"Aku percaya padamu." Kata Melody akhirnya


"Kau boleh mengajukan syarat. Aku tak akan mepermasalahkannya." Jelas Alvin.


"Aku percaya padamu asal kau tak menyentuh Yudha meski hanya seujung kukunya saja! Jika Yudha sampai kenapa-kenapa, aku sendiri yang memotong lenganmu! " Kata Melody tegas.


"Kau terlalu mencintainya ya?" Gumam Alvin.


"Hn, aku sangat mecintainya."

__ADS_1


______________________________________


Aku ini tipe penulis yang banyak ngebacot soal perasaan. Aku sangat peduli pada setiap karakter yang aku hadirkan dalam ceritaku. Aku suka membuat karakter mengalami progress dalam hidupnya. Aku menulis agar bisa dipetik hikmahnya. Basiknya aku sastra, aku sangat menyukai sastra trutama syair. Itu kenapa aku sering membuat kata-kata yang sok puitis. Emang aslinya kek gitu, suka dimintai temen-temen buat dibikinin puisi, parahnya itu puisi buat nembak cewek. 😆 Yah seperti inilah alurnya dimana kisah ini menjadi begitu panjang dengan ratusan ribu kata. Aku nulis kata dari 1000an kata sampe 2500 kata per chapter 😎. Dan aku bahkan menulis di platform lain dengan 4 judul novel. Di NT ada 6 an judul. Nah loh. 😂


__ADS_2