MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Okinawa 20: Festival Musim Panas 2


__ADS_3

"Haah, ku kira rencana suprize ultah Yudha akan gagal." Kata Nao.


"Jika nanti gagal, maka tamatlah riwayat kita semua." Kata Neil.


Sai mengamininya.


"Apa yang kalian gumamkan?" Tanya Yudha yang tiba-tiba muncul bersama Shuhei.


"Tidak."


"Aku kira kau tidak jadi datang, sepertinya istrimu sedang sewot karena kau." Kata Nao.


Sebenarnya Nao sudah tahu jika Yudha datang, Ayumi memberitahunya. Rupanya Yudha bertemu Ayumi dan Mia sebelum menemui Nao dkk.


"Aku akan berjalan-jalan sebentar. Kalian nikmati saja waktu kalian." Yudha melenggang pergi sendiri.


"Hoe, itu bocah tak seperti biasanya. Hei Shuhei, ada apa dengan Tuan Mudamu yang agung dan terberkati itu, heh? Moodnya tidak mengenakkan sekali.." Tanya Neil.


"Yudha-sama tidak mengatakan apa-apa. Sepertinya sedang ada masalah dengan Nona Melody." Jawab Shuhei.


"Yudha bisa bertengkar juga dengan Melody. Hahaha, sampai tahap seperti ini pula. Rupanya Yudha memang butuh bantuan kita untuk berbaikkan dengan Melody, nah Sai-chan.." Senyum Nao.


Ia bahkan merangkul pundak Sai.


Sai merinding.


"Hentikan panggilan konyolmu itu, Nao!" Protes Sai karena tambahan sufix –chan di belakang namanya.


Shuhei memincingkan mata. "Kalian tidak merencanakan sesuatu, kan?"


"Hebat, tangan kanan Yudha memang luar biasa. Tapi Shuhei, kau itu juga teman kami sama seperti kami menganggap Yudha. Jika kami melakukan sesuatu, tentulah itu demi kebaikkannya. Kau bisa mempercayai kami." Kata Neil.


Shuhei menghela nafas. Mencoba tetap tenang. Keselamatan Tuan muda dan istrinya Tuan Muda adalah tanggung jawabnya. Setelah ia kecolongan soal Melody kemarin, ia harus jauh lebih hati-hati mulai saat ini.


.


.


.


Saat sedang berjalan-jalan, Yudha dan Yura saling bertemu. Awalnya rada berbeda. Tapi mereka mencoba untuk bersikap biasa.


Yudha membantu Yura membeli permen kapas. Ia ingat, dulu waktu mereka kecil, mereka sering membeli permen kapas bersama.


Yura yang tidak begitu pandai berbicara dengan baik selalu kalah suara dengan anak lain yang ingin membeli permen kapas. Saat itu, ia pasti yang akan memesankan atau membelikan permen kapas untuk Yura.


"Terima kasih."


Ucapan seperti itu terdengar manis di telinga Yudha. Selalu. Bukan hal yang mudah melupakan segala hal yang sudah berlangsung begitu lamanya. Apalagi, kenangan seperti itu didapat dari orang yang disukai.


Yudha tak bisa membantah, sekuat ia berusaha menghindari Yura, tapi ia memang tak bisa mengabaikan perasaannya pada sahabat kecilnya itu.


Melihat Yura yang masih saja pucat, ia tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia pasti akan menemaninya.


Tidak apa-apa, bagaimanapun mereka bersahabat sejak kecil. Apa yang sudah terjadi tak seharusnya membuatnya begitu egois dan bertindak seperti anak kecil.


Yura tak membalas cintanya itu hak Yura, tapi mengabaikan sahabatnya itu egois.

__ADS_1


"Yudha-kun?" Panggil Yura.


"..." Yudha melihat ke arah depan.


"..." Yura mengikuti pandangan mata Yudha.


Disana ia melihat ada Melody dan Alvin yang berdiri di depan stand penjual topeng.


.


.


.


Di tempat yang sama..


"Lihatlah, apa aku cocok?" Melody memamerkan topeng unik yang ia beli.


Alvin hanya tersenyum menanggapinya. Ia lalu mengangguk.


Melody lalu memakaikan topeng panda pada Alvin. Ia lalu tertawa lepas karena topeng itu terlihat sangat cocok dengan Alvin.


Itu Po dari Kungfu Panda! Hanya saja versi diet.


"Sungguh, ini cocok sekali, Alvin-senpai. Hahahhaha.. perutku sampai sakit."


"Jangan menertawakanku, Melody!"


"Gomen, gomen."


Kenapa Melody bisa menunjukkan wajah sebahagia itu saat bersama Alvin? Yudha yakin, ia tidak pernah melihat sisi seperti ini dari sosok Melody. Tawa itu, senyuman itu, sama seperti saat ia melihatnya di stand tangkap ikan koi.


Sebenarnya, semenjak ia datang, ia langsung mencari Melody. Bukan hal yang sulit mencari wanita rambut indah istrinya itu. Ia dapat dengan mudah menemukan Melody. Dan saat ia menemukan Melody, ia melihat Melody tengah asyik dengan saudaranya, Alvin.


Alvin dan Melody menciptakan ruang seolah tak ingin diganggu. Sama seperti saat ini dan itu mengesalkan.


"Aw.." Melody meringis kesakitan karena pijakkan kakinya tak sempurna. Membuat kakinya yang belum sembuh sempurna terasa sakit.


Alvin terlihat khawatir. Ia memegang lengan Melody dengan sigap agar Melody tak terjatuh. "Kau baik-baik saja?"


"Hm, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit nyeri."


Yudha sebenarnya ingin mendekat saat melihat Melody menahan sakit di kakinya, tapi ia urungkan.


"Haruskah kita beristirahat?" Tanya Alvin.


"Tidak usah, aku baik-baik saja, Senpai!"


"Yakin?"


"Iya."


"..."


"Percayalah, Senpai!"


"Hah, baiklah."

__ADS_1


Melody tersenyum. Alvin mudah luluh sama seperti biasanya.


"Arigato."


Alvin tersenyum dan mengangguk.


"Sudah jam segini, ayo kita lihat kembang api." Ajak Alvin.


"Ayo!"


Mereka berdua meninggalkan stand topeng dan berjalan menjauh dari stand penjual menuju tempat nyaman untuk melihat kembang api.


.


.


.


"Yudha-kun?" panggil Yura.


"Hn?"


"Ayo kita melihat kembang api. Kepalaku sedikit pusing. Mau mencari tempat yang nyaman buat istrirahat?"


"Baiklah."


Yudha yang mengkhawatirkan keadaan Yura, menawarkan tangannya untuk Yura gandeng.


.


.


.


DUUAARRRR. DUAARRRR.


Percikkan kembang api indah menghias angkasa. Semua pengunjung festival terhipnotis akan pesonanya. Mereka semua menikamati dengan pasangan, kelompok masing-masing. Pesona indah itu seolah menyingkirkan rasa tak mengenakkan yang ada di hati.


Sunggingan senyuman tipis buktinya. Kembang api memang lebih cocok untuk suasana bahagia.


Ayumi dan Mia mencak-mencak tidak jelas karena Melody mengabaikan Yudha. Setelah acara kembang api selesai, Melody justru sibuk dengan Nao dkk. Sementara Yudha hanya diam saja.


Melody dan Yudha tidak saling bertegur sapa seperti biasanya. Mia jadi ingat saat Melody datang ke kamarnya tadi pagi untuk menumpang mandi, ia memutuskan tak ambil pusing, tapi nyatanya, ia memang harus khawatir. Tak disangka jika Melody dan Yudha akan menjadi seperti ini.


"Jika sampai gagal, kalian akan mati!" Kata Mia.


Sungguh, ia memang ikutan kesal juga.


"Kami sayang nyawa."


Mia tak menutup mata tentang apa yang terjadi. Mia melihat Melody mengusap air matanya saat melihat Yudha berjalan bersama Yura di festival tadi. Ia berdiri tak jauh dari tempat mereka. Tidak ada yang tahu jika ia melihatnya saat itu.


Saat Melody berjalan mencari tempat yang nyaman untuk menonton kembang api, Mia sempat melihat Melody berbalik badan. Saat itu, ia melihat Melody memandangi Yudha yang bergandengan tangan dengan Yura. Mereka berjalan berlawanan dengannya.


Meski Mia hanya bisa melihat dari arah belakang, tapi ia yakin akan apa yang dirasakan Melody. Ia paham betul situasinya. Melody pasti berfikir jika Yudha merasa jauh lebih bahagia bisa bersama dengan Yura dibanding bersamanya.


"Kuharap kau selalu bahagia, Melody."

__ADS_1


__ADS_2