MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Pantasnya


__ADS_3

Hubungan Alvin dan keluarga Kazehaya semakin membaik, meski tidak dengan kakek Wijaya. Alvin memahami posisinya sebagai seorang cucu yang sama sekali tidak diharapkan oleh sang kakek. Ia bahkan lahir dari orang tua tanpa ikatan pernikahan.


Ingin sekali ia protes kepada Tuhan dengan apa yang ia alami. Kenapa ia terlahir dalam keadaan seperti itu? Sulit mendapatkan pengakuan dari kakek kandungnya sendiri. Memang tak seharusnya menempatkan Alvin di tempat yang salah, tapi karena kisah cinta ibunya, ibu Yudha, dan ayahnya membuatnya selalu tersudutkan.


Alvin tidak bisa seenaknya saja menyalahkan ibunya yang mencintai ayahnya. Bagaimanapun ia juga sangat menyayangi ibunya. Perasaan ibunya adalah perasaan yang begitu saja mengalir, sama dengan perasaan sang ayah.


Yang Alvin sesalkan, kenapa ayahnya tidak menyelesaikan masalah sebelum meninggal? Hal itu membuat ia dan ibunya semakin berat menjalani hidup.


"Saya benar-benar sangat gembira saat mendengar Nyonya kembali dari London." Kata seorang lali-laki paruh baya bernama Tuan Park.


"Mungkinkah ini menjadi titik terang dari usaha kita selama ini?" Lanjut seorang lali-laki yang berusia tak jauh beda dengan Tuan Park, sebut saja Tuan Han.


"Apa hanya kalian saja yang berpihak kepadaku?" Tanya seorang wanita empat puluh enam tahuanan yang masih terlihat sangat cantik, Nyonya Kurenai. Ibu dari Alvin.


"Tentu saja tidak, Nyonya. Anda akan merasa tenang karena kami mampu membangun relasi cukup kuat dan tentu akan semakin kuat untuk ke depannya." Jawab Tuan Park.


"Bahkan kami mampu menguasai 5 persen dari saham keseluruhan. Memang belum terlalu besar, tapi karena dukungan Nyonya, kami yakin semua akan semakin mudah." Kata Tuan Han.


Nyonya Kurenai tersenyum penuh arti. "Saya tahu, kalian bisa diandalkan. Terima kasih karena selama ini kalian masih setia kepada saya. Saya tidak akan pernah melupakan kesetiaan kalian."


"Terima kasih, Nyonya…"


"Baiklah, sepertinya kami harus segera kembali ke kantor. Kami permisi, Nyonya."


"Terima kasih sudah meluangkan waktu mengunjungi saya." Kata Nyonya Kurenai membungkuk hormat kepada dua tamunya.


Kedua tamu Nyonya Kurenai meninggalkan kediamannya. Di depan rumah ke dua tamu itu sempat berpasan dengan Alvin. Alvin hanya tersenyum menyapa kedua tamu ibunya itu. Tentu saja sambil membungkukan tubuhnya sebagai tanda hormat.


Setelah meyakinkan diri jika kedua tamu itu pergi dari rumahnya, Alvin langsung memasuki rumahnya. Ia tersenyum melihat sang ibu sedang membereskan beberapa cangkir kopi yang ada di atas meja.


"Kaa-san, tadaima.." Kata Alvin.


Nyonya Kurenai menoleh ke arah suara yang mengagetkannya. Melihat anak semata wayangnya datang dan menyapa dirinya dengan senyuman manis membuat Nyonya Kurenai merasa senang.


"Oh, Alvin, okaeri. Kau sudah pulang, sayang? Bagaiman kunjunganmu? Ibu akan mendengarkan ceritamu."

__ADS_1


Alvin tertunduk lesu. "Masih sama seperti biasanya, Bu."


"Heem, anak ibu tidak boleh patah semangat! Ibu akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu."


"Ibu, jangan bahas hal itu lagi! Aku tidak akan menyetujuinya!"


"Ibu hanya sedang memperjuangkan hakmu, sayang. Kau berhak mendapatkan kebahagiaanmu. Ibu hanya tidak mau kau terus-terusan menderita karena ibu dan mendiang ayahmu."


Alvin menghela nafasnya. "Aku sudah cukup bahagia bisa menjadi anak ibu."


"Alvin, kau pantas mendapatkan hal lebih baik dari sekedar menjadi anak ibu."


"Bagiku ibu adalah yang terbaik untukku."


"Alvin..."


"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku." Kata Alvin yang langsung menuju ke kamarnya yang ada di lantai dua.


"Suatu saat kau akan mengerti dengan semua yang ibu lakukan untukmu, sayang. Kita tidak akan seperti ini jika bukan karena kakek tua itu. Harusnya ibu, ayahmu, dan kau bisa hidup bahagia.." Batin Nyonya Kurenai sambil memandangi anak tercintanya, Alvin.


Okaeri: Selamat datang.


.


.


.


Kamar Alvin...


Ada sebuah lukisan pemandangan di tembok sebelah kiri kamar Alvin. Lukisan itu tergantung indah di sana. Beberapa tropi penghargaan lomba sains tertata rapi di almari kaca di sudut kamar itu. Nyatanya Alvin memang sering ikut lomba dan mendapatkan juara.


Ada poster pemain olahraga sepak bola EPL dari Chelsea FC, Frank Lampard, lengkap dengan tanda tangannya. Poster itu kado dari sang ibu yang waktu itu menjadi salah satu sponsor untuk acara amal yang dihadiri para pemain dari klub Chelsea.


Selain poster pemain bola, ada juga poster rider Yamaha idolanya, Valentino Rossi. Alvin memang menyukai moto GP, ia bahkan tidak pernah melewatkan pertandingan saat diadakan di Jepang. Meski harga tiketnya mahal sekalipun, ia tetap membelinya.

__ADS_1


Kamar Alvin terlihat sederhana, tapi elegan. Tak banyak perabot atau asesoris. Poster-poster itupun terpasang seperti lukisan. Tidak menceng ke sana sini layaknya cara pasang kebanyakkan orang. Alvin memang senang akan kerapian.


Hidupnya cukup terorganisir. Ia membuat draft rencana dalam setiap langkah hidupnya.


.


.


.


Alvin membuka jendela kamarnya. Ia menatap langit dari sana.


"Kuliahku berjalan dengan baik. Aku sudah bersama ibu, tidak sendiri lagi. Aku juga tidak kekurangan uang. Aku sudah cukup bersyukur dengan apa yang aku miliki saat ini. Meski cukup berat untuk melepaskannya."


Alvin membalikkan badannya. Ia berjalan menuju ranjangnya. Dilepaskannya asal ke dua sepatunya, iapun merebahkan tubuh lelahnya di ranjang.


"Kau terlihat sangat bahagia dengan Yudha. Mata indahmu mengamininya." Alvin menutup matanya dengan lengan kanan yang ia tekuk. "Aku hanya cukup ikut bahagia, kan? Yudha adalah sosok yang sangat baik. Dia pasti akan menjagamu. Dia memiliki segalanya.Tapi, lagi, kenapa harus Yudha? Adikku sendiri."


Kini, Alvin memiringkan badannya. Ia kemudian menekuk ke dua kakinya.


"Kenapa semua ini begitu berat? Apakah aku tidak boleh egois? Apakah aku tidak diizinkan mewujudkan segala keinginanku? Melody... Kakek... Yudha... Ibu... Bisakah aku memiliki semuanya? Aku menginginkan hidup yang sesuai dengan keinginanku."


Alvin langsung memukulkan tangannya keras ke ranjangnya. Ia harus sadar.


"Tidak! Aku tidak boleh egois! Aku tidak berhak memiliki semuanya! Aku sudah cukup dengan semua ini! Waku up, Alvin! Kau tidak boleh tergoda! Kau sudah mendapatkan banyak hal di dunia ini! Kau sudah lebih dari pantas menerima segala kebaikkan Tuhan."


Alvin meremas sprei cukup keras. Ia ingin menyalurkan rasa pilunya. Banyak tekanan dalam hidupnya. Banyak bisikkan setan dalam hidupnya. Memelukknya dari segala penjuru. Membuatnya frustasi dan tak berdaya. Ia tidak bisa bertindak lebih dari egonya.


Kebaikan murni dalam hatinya selalu menyelamatkannya. Menjaganya baik-baik agar tak terkalahkan dengan bisiskan jahat. Ia selalu bertahan, memasang perisai kuat agar selalu menebarkan kasih meski pedang gelap selalu menghujam jiwanya.


Namun.. Alvin sadar jika pedang gelap itu lama-lama menjadi semakin tajam dan jumlahnya semakin banyak. Memaksanya harus selalu kuat menahan perisai kasihnya.


Wajah Melody kembali menghantui pikirannya.


"Ibu.. Jika ibu memaksa seperti itu terus, aku bisa goyah."

__ADS_1


__ADS_2