MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Judule Opo?


__ADS_3

Di dalam mobil...


Melody menatap ke luar lewat jendela mobil. Pemandangan kota Tokyo di malam hari selalu saja nampak indah. Meski di dominasi lampu kota, tapi baginya itu memiliki kesan tersendiri.


Melody ingin menikmatinya secara langsung tanpa penghalang kaca, iapun membuka jendela mobilnya itu.


"Nona, Anda bisa sakit karena angin malam tidak baik untuk tubuh Nona!" Kata Shuhei


"Sebentar saja, Shuhei-san. Sebentar saja. Aku ingin merasakan udara malam ini." Kata Melody.


"Baiklah jika itu hanya sebentar. Jika nanti Nona sakit lagi, Tuan Muda bisa membunuh saya."


"Dia tidak akan melakukannya, Shuhei-san." Melody terkekeh ringan. Selera humor Shuhei sama sekali tidak lucu.


Nyatanya Shuhei memang tak ahli dalam hal komedi. Melody sesungguhnya cukup penasaran bagaimana cara tertawa Shuhei itu. Bisakah Shuhei ngakak wkwk seperti itu? Ah, ia juga jadi penasaran dengan cara tertawa Ayane. Yang ia ketahui, dua orang itu selalu bersikap serius dan tak mudah tertawa pada hal-hal yang menurutnya itu sangat lucu.


Meninggalkan rasa penasarannya, Melodypun 'menjumbulkan' kepalanya sedikit keluar dari jendela mobil. Ia memejamkan kedua matanya untuk menikmati udara dingin malam ini.


"Dinginnya.." Batin Melody.


Dingin.


Udara malam ini memang dingin. Lebih dingin dari sebelumnya. Mendekati musim dingin yang akan di mulai akhir Desember nanti. Ia menantikannya. Menantikan saat dimana ia akan menjadi orang pertama yang membuat jejak salju di sekitar rumah. Ini adalah yang selalu ia lakukan dengan sang ayah dulu. Meski sederhana, tapi kenangan itu tak bisa ia lupakan.


Melody tak bisa melupakan bagaimana cara ayahnya itu tersenyum. Main lempar bola salju, membuat patung salju, dan akan digendong sang ayah ketika kembali pulang ke rumah. Ia tak bisa melupakan semua moment itu. Terlalu indah, terlalu manis.


"Ayah, saat ini aku hamil loh. Ayah tahu artinya apa? Ya, ayah akan memiliki cucu. Cucu pertama ayah! Hm, aku belum tahu kelaminnya. Nanti aku akan menyempatkan diri untuk USG di jadwal kontrol kehamilan nanti... Andai saja ayah masih hidup, ayah pasti tidak akan mengizinkanku menikah muda. Candaanku waktu kecil jika aku hanya akan menikahi ayah. Haha, itu lucu sekali... Tapi ketahuilah ayah, suamiku itu bagian dari perjanjian kakek... Ayah, aku punya kakek! Jika ayah bertemu dengan beliau di sana, tolong sampaikan salamku padanya ya! Katakan padanya jika aku baik-baik saja.. Ayah, Kakek, lihatlah dari sana! Aku akan bahagia dengan caraku!"


.


.


.


Rumah Sakit..


Yudha yang panik langsung masuk ke dalam ruangan milik Yura. Yura hanya berbaring di tempat tidurnya. Ada perban di pergelangan tangan kirinya. Menurut penuturan Sai, Yura mencoba memotong urat nadinya dengan pisau.


Sai menemukan Yura tergeletak di apartemennya.


Setelah kejadian malam ulang tahun Yura, semua menjadi sangat sulit untuk Yura. Selain nama artisnya tercemar dan penuh dengan gosip miring, Yurapun menjadi depresi dan beberapa kali mendatangi psikiater.


Yudhapun seolah menjauh dari Yura setelah insiden itu. Membuat Yura sering mengalami mimpi buruk dan jarang tidur. Alhasil membuat Yura mengkomsusi pil tidur dan pil penenang.


Karena rasa takut, khawatir, cemas yang berlarut-larut, akhirnya mentalnya menjadi lemah dan memutuskan untuk bunuh diri.


Dunia entertainment itu sangat kejam. Dimana netizen itu maha benar. Salah sedikit akan jadi bahan bullyan yang kejam. Kata-kata pedas akan selalu memenuhi medsos, apalagi Yura yang selalu aktif di dunia medsos, ia sering membaca komentar-komentar netizen yang menyudutkannya, membuatnya semakin tertekan hari demi hari.

__ADS_1


“Yura?” Kata Yudha.


“Yu-dha-kun? Sai-kun?”


“Kau baik-baik saja?” Tanya Sai.


“Jika aku tak begini, kalian tidak akan peduli, kan?”


“Apa yang kau bicarakan? Kita ini teman.. benar kan, Yudha?” Kata Sai.


“Hn, kita ini kan teman.” Yudha mengiyakan.


“Bukankah kau mencintaiku, ne Yudha-kun?” Yura yang tadi lemah, memaksa berbicara dengan nada tinggi.


“Kalian bicaralah, aku akan mencari makanan..” Kata Sai yang mencoba memberikan privasi untuk Yudha dan Yura.


Sai memilih ke luar dari ruang rawat milik Yura.


“Kau adalah temanku, Yura.” Kata Yudha.


“Aku tidak bodoh, Yudha-kun! Selama ini kau mencintaiku! Kau selalu perhatian padaku! Kau hanya melihatku! Aku tahu perasaanmu padaku! Jangan berbohong padaku, Yudha-kun! Ini sangat menyakitkan!”


Kata Yura emosional.


“Yura, aku sudah menikahi Melody.”


“...”


“Benar, kan? Kau sama sekali tidak mencintai wanita itu! Yudha-kun bukan orang bodoh yang akan jatuh cinta pada orang asing dalam hidupnya. Yudha-kun juga tidak akan menerima permainan keluarganya demi wanita itu.”


“Yura... Melody mengandung anakku. Aku menghamilinya. Aku akan bertanggung jawab akan dirinya dan anak di dalam perutnya.”


“Jadi, kau berniat akan terus bersamanya?” Yura meneteskan air matanya.


“Hn.”


“Jadi, rasa itu sudah hilang, Yudha-kun? Apa kau sudah berhenti mencintaiku?”


“...”


“Kau jahat! Kau kejam! Kau keterlaluan, Yudha-kun! Padahal kau sudah berjanji akan selalu menjagaku, kau menghianati janjimu padaku, Yudha-kun! AKU MEMBENCIMU!”


“Yura, kita sudah pernah membahasnya. Gomen, tak hanya Melody yang harus aku jaga saat ini, tapi anakku dengannya juga.”


“Jika kau sudah tak lagi menjagaku, AKU LEBIH BAIK MATI SAJA!”


Yura mencoba melepaskan selang infusnya, ia berontak. Ia ingin melepaskan perban di pergelangan tangannya juga.

__ADS_1


Yudha mencoba mencegah tingkah gila Yura. "Jangan seperti ini, Yura!"


“TIDAK ADA GUNANYA AKU HIDUP, KAU PASTI HANYA MENGANGGAPKU SEBAGAI ORANG YANG MEREPOTKAN.”


“YURA TENANGLAH! Tenanglah! Ok?”


Yudha memeluk Yura. Yudha memencet tombol bantuan, suster dan dokter datang. Yura mendapatkan suntikan penenang.


“Jangan tinggalkan aku, Yudha-kun!” Suara Yura parau dan melemah.


Yura meremas tangan Yudha. “Iya.”


“Jangan bohong padaku!”


“Aku tidak akan bohong padamu.”


“Jika pagi nanti aku bangun, kuharap kau masih di sini.”


“Iya.”


Yura tersenyum dan memejamkan matanya karena efek obat penenang yang diterimanya. Yudha merapikan selimut Yura. Ia lalu duduk di kursi tamu yang ada di ruangan itu.


Sai kembali dari acara cari makannya. Ia duduk di samping Yudha dan memberikan Yudha minuman isotonik. Sai merasa iba dengan Yudha, temannya ini terlihat sangat lelah.


Hubungan ini memang sangat rumit. Sai sangat tahu jika Yudha itu memiliki rasa pada Yura. Ia paham itu. Iapun juga sempat sangat kaget saat mendengar Yudha akan menikah dengan wanita selain Yura. Itu di luar dugaannya.


“Kudengar, Melody hamil..” Kata Sai.


Mereka berdua menikmati minuman yang dibeli Sai.


“Hn.” Yudha menyandarkan tubuhnya ke sofa. Ia memijat pelipisnya. Sangat pening dan lelah.


“Selamat Yudha, kau akan menjadi seorang ayah.”


“Hn. Arigato.”


Sai tahu, Yudha pasti sedang kalut. “Jika kau lelah, pulanglah! Aku akan menjaga Yura. Melody-san pasti sedang menunggumu.”


“Tidak apa-apa, aku sudah berjanji dengan Yura untuk menjaganya malam ini.”


“Begitukah?”


“Hn.”


“Jangan terlalu memaksakan diri, Yudha!”


“Aku tahu..”

__ADS_1


__ADS_2