
Waktu kembali berlalu dengan cepatnya. Melody tidak menyangka jika ia akan kembali bertengkar dengan suaminya, Yudha. Kali ini jauh lebih hebat dari sebelumnya.
Setelah cukup lama tak bertemu suaminya, akhirnya ia bertemu dengan Yudha di rumah sakit saat ia hendak mengambil hasil check upnya itu. Sudah seminggu lebih tidak berpasan mata dengan Yudha, tentu saja ia merasa berbeda dengan suaminya itu. Begitupuula dengan Yudha, ia menyadari jika istrinya itu memiliki gaya rambutnya berbeda. Tapi sebelum mereka membahas perubahan masing-masing, mereka berdua kembali terjebak dalam argumen yang panjang.
Ceritanya, Melody melihat Yura yang duduk di kursi roda tiba-tiba bisa beranjak bangun sendiri dari kursi rodanya. Yura bahkan bisa menggunakan tangan kirinya yang patah untuk memegang Hp.
Setahu Melody, di berita yang beredar, keadaan Yura itu jauh lebih buruk dari apa yang ia lihat dengan matanya ini.
Jadi jika berita itu salah, sungguhkah yang ia lihat saat itu?
Yura membohongi semua orang? Bahkan Yudha-pun?
Dan ketika ia berusaha mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada Yudha tentang Yura, Yudha tak mempercayainya. Saat ia mencoba membuktikannya pada Yudha dengan ‘menyeret’ Yura agar berdiri seperti yang ia lihat sebelumnya, Yura tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai dan mengaduh kesakitan. Setelah itu, sudah pasti Yudha marah besar kepadanya.
Lalu pertengkaran hebatpun terjadi.
"..." Melody menatap sinis Yudha yang membantu Yura duduk ke kursi rodhanya.
Yudha berbalik dan menatap Melodhy tajam. "Minta maaflah, Melody!"
"..."
"Minta maaflah pada Yura!"
"Kenapa aku harus minta maaf jika aku tak salah?"
"MELODY!!" Bentak Yudha.
Sudah dua kali Yudha membentaknya dengan nada amarah. Oke, itu sudah pasti kembali menyakiti hatinya. Namun, ia tetap tidak akan pernah mau minta maaf. Melody merasa jika dirinya sama sekali tidak melakukan kesalahan.
"Oh, kau tuli ya? Butuh pengulangan?" Melody menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku bilang, aku tidak mau minta maaf padanya!" Tegas Melody.
Yudha mendelik. Melody belajar darimana kata-kata seperti itu? Mengatai dirinya tuli?
Yudha berjalan mendekati Melody. Ia menarik paksa salah satu lengan Melody, dan dalam sekali gerakkan, ia berhasil mengunci Melody di tembok rumah sakit.
Tudha kembali menatap tajam Melody. Jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Hebatnya, Melody berani membalas tajam tatapan dari Yudha itu.
__ADS_1
"Minta maaflah padanya dan aku akan melupakan semua kejadian buruk hari ini!" Kata Yudha.
Melody tersenyum sinis. "Dalam mimpimu!" Ia lalu mendorong kasar dada bidang Yudha yang menghimpitnya.
Melody lebih memilih meninggalkan Yudha dan Yura.
"KAZEHAYA MELODY!" Teriak Yudha kesal karena Melody meninggalkannya padahal ia belum sekesai berbicara.
"Maaf Tuan, suara Anda mengganggu pasien lain." Kata seorang suster yang tiba-tiba datang dari lorong searah dengan lorong keluar yang diambil oleh Melody.
Yudha menunduk setengah badan dan meminta maaf atas kegaduhan yang ia buat. Ia lalu mendekati Yura yang sedari tadi terduduk diam di kursi rodanya. Ia memeriksa keadaan Yura sekali lagi.
Sebelum berbelok di lorong rumah sakit, Melody berhenti sejenak untuk melihat Yudha. Ia menangis seketika melihat mereka berpelukkan.
Yudha yang memeluk Yura atau Yura yang memeluk Yudha? Ataukah keinginan keduanya?
"Yudha terlihat begitu khawatir dengn keadaan Yura.
Dia bahkan tidak berlari mengejarku.." Batin Melody.
Sakit.
Itu sangat sakit.
Sebelumnya Yudha akan mengejar dirinya, tapi kali ini sudah tidak Yudha lakukan. Sebodoh itukah Yudha sehingga tidak bisa melihat kebenarannya?
Dengan langkah kekecewaannya, Melody keluar dari rumah sakit.
Melody butuh teman bicara untuk meringankan beban di dadanya. Ia ingin bercerita mengenai kebohongan Yura pada Alvin, tapi ia tidak enak pada kakak iparnya itu. Lagian Alvin bukan dokter yang menangani Yura. Bukan ranah Alvin untuk membahasnya. Mungkin bisa jika Alvin menggunakan jabatannya untuk berkuasa, tapi Melody enggan menarik Alvin kedalam masalahnya.
“Hoo, aku ketahuan rupanya. Jadi, Melody-san, apa kau akan memberitahukannya pada semua orang, pada Yudha-kun? Silahkan saja, aku bahkan tak bisa menjamin apa yang akan terjadi padamu, mungkin kau tidak akan baik-baik saja setelahnya. Ketahuilah Melody-san, dunia ini adalah panggung sandiwara dimana yang memiliki wajah ganda adalah yang bertahta. Kuharap kau tetap datang ke pesta ulang tahunku, karena aku memiliki kejutan besar untukmu.”
Jelas. Ingat. Nyata.
Sampai hati.
Ya.. kata-kata itu begitu tengiang di telinganya. Bagaimana kata-kata itu keluar dari bibir manis Yura yang begitu berbisa untuknya. Yura menantangnya, dan ketika ia melakukannya, Yudha tidak mempercayainya.
Semua orang akan tertipu tipuan rubah Yura. Itu sangat menyedihkan. Melody menyerapahi kebodohan Yudha yang dengan mudahnya percaya dengan keadaan Yura.
__ADS_1
Yudha tidak mempercayai perkataannya, itu memang menyakitkan. Tapi, ketika Yudha membentaknya hanya demi Yura, itu jauh lebih menyakitkan. Yudha tidak pernah marah kepadanya. Tapi tadi begitu melukai perasaannya.
Yudha bahkan tidak mengejarnya.
Fakta ini jauh lebih menyakitkan. Membuat dadanya nyeri bagai tertusuk duri.
Kamar inap Yura...
“Ponsel baru?” Tanya Yudha.
“Sudah lama...” Yura lalu meletakkan ponselnya di meja.
“Aku minta maaf atas perbuatan kurang menyenangkan Melody tadi, Yura.” Kata Yudha. Ia membantu Yura tiduran di ranjang pasien. Ia juga membenarkan selimut Yura.
“Sudah aku bilang tidak apa-apa, Yudha-kun. Kenapa kau terus saja meminta maaf? Kau bilang Melody-san baru saja melakukan perjalan jauh ke Miyagi. Dia pasti sedang lelah makanya melihat hal yang tidak-tidak. Aku memaafkannya Yudha-kun.” Yura tersenyum pada Yudha.
“Terima kasih..”
“Hm..”
Yudha menilik ke jam tangannya. Sudah pukul sebelas malam rupanya. Tak terasa hari sudah malam.
“Kau ingin pulang?” Tanya Yura. Yudha mengangguk. “Sebaiknya kau berbicara dengan Melody-san, aku tidak ingin dia merasa tidak nyaman dengan kejadian tadi. Aku minta maaf karena timbul kesalah pahaman di antara kalian berdua.”
“Hn... Oyasumi. Jika kau butuh apa-apa, kau bisa melponku kapan saja.”
“Iya, bye bye..”
Yudha meninggalkan kamar Yura. Ia lalu membuka ponselnya. Membuka app GPS dan mencari keberadaan istrinya. Sesungguhnya ia selalu melakukan hal itu, bisa dibilang ia sering mematai-matai istrinya.
Bukan apa-apa, semenjak Melody nyasar saat di Okinawa, Yudha pikir lebih mudah untuk memasang GPS di ponsel Melody agar saat Melody nyasar lagi, ia dapat dengan mudah menemukan Melody. Melody bahkan tidak tahu jika Yudha memasang GPS di ponselnya.
Seperti saat ini, ia ingin berbicara banyak pada Melody, terutama membahas hal tadi. Ia juga ingin memastikan jika besok ia bisa memenuhi undangan ulang tahun Yura bersama Melody. Ia memang harus menyelesaikan masalah ini dengan Melody. Yudha sadar jika ia sudah menikah, banyak hal yang seharusnya tidak menjadi runyam seperti ini.
"Aku harus meluruskan masalah yang tadi."
Yudha menatap layar ponselnya, ia langsung melotot dengan posisi keberadaan Melody.
Karaoke.
__ADS_1
Melody berada di tempat karaoke!!