MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Serba Melody


__ADS_3

Emperor Group..


“Baiklah, sesuai dengan proposal yang sudah saya pelajari dan sudah saya pertimbangkan dengan sangat teliti, saya memutuskan jika proyek di perfektur Miyagi jatuh ke tangan Tuan Kang” Kata kakek Wijaya.


Semua yang ada di ruang rapat itu menyambutnya dengan tepuk tangan.


Mereka menganggap jika proposal Tuan Kang adalah yang terbaik. Apresiasi besar juga untuk kemampuan menilai Presdir sang CEO, founder dari Emperor Group, Kazehaya Wijaya.


Meski sudah berusia senja, tapi kehebatannya mengenai bisnis seolah tak pernah terkikis. Justru semakin matang dan hebat.


“Terima kasih banyak, Tuan-Tuan.” Tuan Kang memberi penghormatan.


“Tuan Kang, kerjakan tugasmu dengan baik!”


“Baik, Wijaya-sama.”


Meetingpun selesai. Semua peserta keluar dari ruang meeting. Meninggalkan Yudha dan sang kakek. Yudha duduk di kursi pojok kanan dekat dengan kursi utama milik sang kakek. Sang kakek mengamati cucunya itu.


“Kecewa karena proposal timmu tidak kakek terima?” Tanya kakek Wijaya.


“Tidak, proposal Tuan Tuan Kang memang lebih relevan. Dia mempertimbangkan dengan baik analisa dampak lingkungannya. Dia sudah pernah tinggal di daerah Miyagi, dia tahu betul bagaimana kondisi di sana. Proposal dari timku masih kurang banyak hal. Kami kurang observasi.”


Jawab Yudha.


Kakek Wijaya menakupkan kedua telapak tangannya di meja meeting. Ia tertegun dengan jawaban sang cucu bungsunya itu.


“Hoo, kakek kira kau akan merengek karena menganggap kakek memberi hukuman atas kelakuanmu itu. Kau datang rapat terlambat dan isu skandal memalukan yang sudah kau lakukan.”


Haruskah ia menceritakan kenapa ia datang telat? Haruskah ia bilang telat karena bermain dengan Melody dulu?


“Kakek bukan orang yang menilai dari sudut pandang seperti itu. Selama proposalku atau timku menguntungkan perusahaan, kakek pasti tidak akan ragu untuk memilihnya.”


Yudha memang sangat memahami kakeknya. Kakeknya itu pebisnis sejati. Yang menguntungkan, yang dipilih.


“Kau membuat kakek terdengar sangat jahat, Yudha.” Kata Kakek Wijaya. Ia merasa tersindir dengan omongan Yudha.


“Aku tidak mengatakannya, Kek. Tapi itu adalah fakta.”


“Benar juga, bagaimanapun, bisnis itu dimana kita ingin diuntungkan.”

__ADS_1


“Hn.”


Kakek Wijaya dan Yudha menimmati kopi yang ada di hadapan mereka. Kopi sisa meeting yang sudah dingin, tak lagi panas.


Di pojokkan ruang meeting ada satu dispenser lengkap dengan perlengkapan membuat kopi. Tapi mereka berdua enggan menggunakannya. Terlalu malas kaki melangkah ke sana. Terlalu letih tangan bergerak. Biarlah kopi dingin ini menjadi pelepas dahaga di tenggorokkan yang terasa kering.


“Sepertinya skandalmu dengan gadis itu tidak mempengaruhi promosi iklan supermall yang kau kerjakan, Yudha. Kakek sudah melihat statistik data pengunjung terakhir, ada peningkatan signifikan setiap harinya.”


Kakek Wijaya membuka topik pembicaraan baru.


“Anggap saja itu berkah karena isu skandalku, supermall di Akihabara jadi booming.”


Jawab Yudha santai.


“Jangan membuat kakek kesal dengan anggapan tak berdasarmu itu, Yudha! Kau sudah dewasa, kau tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tak selamanya hal negatif mendatangkan hal positif. Apa yang kau tanam, kau akan memetiknya sendiri. Jangan libatkan Melody jauh lebih dalam!”


Kesal Kakek Wijaya.


Yudha suka seenaknya saja. Tentu saja itu menurun sifat darinya. Tapi bedanya, ia memikirkan jangka panjang sedangkan Yudha mencoba bertaruh dan akan ambil inisiatif di tengah jalan.


Yudha menoleh ke arah kakeknya. “Aku akhir-akhir ini, aku sering berpikir. Berpikir bagaimana Kakek memperlakukan Melody."


Ini memang sudah lama Yudha pikirkan. Perihal bagaimana sang kakek yang begitu mengutamakan Melody di atas dirinya. Bukan berarti ia iri dengan Melody, ia hanya merasa heran.


"Kenapa kakek sangat mengistimewakan Melody, sering membela Melody, dan apa-apa pasti ujung-ujungnya Melody. Apa Melody sebegitu pentingnya bagi kakek?”


Tanya Yudha. Akhirnya keluar juga unek-unek yang mengganjaldi otak jeniusnya.


Apa Melody sebegitu pentingnya sampai-sampai apa-apa demi kebaikkan Melody? Seperti itu inti dari ucapan Yudha? Seperti itu hal yang membuat Yudha penasaran dan ingin tahu jawabannya?


Cucu di hadapannya itu tidak seharusnya menanyakan hal sesensitif itu setelah menikahi Melody selama setengah tahun lebih.


Kakek Wijaya naik pitam. Bisa-bisanya cucunya berkata seperti itu. “Yudha, jaga bicaramu! Asal kau tahu, apapun itu, kakek pasti mati malam itu jika tidak ada Melody! Kau tidak mengerti apa-apa, Yudha!”


Kenapa kakeknya malah naik darah? Salahkah ia yang hanya ingin tahu? Salahkah ia melontarkan pertanyaan untuk mencari jawaban dari keingintahuanku?


“Apa yang tidak aku mengerti-i? Apa, Kek? Semuanya? Semuanya, kan? Kakek pasti akan bilang seperti itu! Aku memang tidak mengerti apa-apa tentangnya!" Yudha sedikit meninggikan nada bicaranya.


"..."

__ADS_1


"Kakek membawanya ke dalam keluarga kita, kakek memaksanya menikah denganku yang jelas-jelas orang asing dalam hidupnya! Kakek membuatnya terjebak dalam kehidupan kotor kita!” Rasanya Yudha juga tak bisa membalas kata-kata sang kakek dengan nada tenang seperti biasanya.


Kakek Wijaya pikir Yudha akan berkata lain, atau sanggahan yang membahayanan posisi Melosy sebagai Young Lady keluarga Kazehaya, nyatanya Yudha hanya mengkhawatirkan Melody saja. Semua sudah tergambar jelas di ekspresi Yudha saat ini.


“Kau menyalahkan kakek?”


Tanya Kakek Wijaya.


“...”


Yudha terdiam. Menyalahkan sang kakek? Ia ingin sekali melakukannya.


“Jika kau mengikuti peraturan game kakek, semua akan mudah, Yudha.”


Kata Kakek Wijaya akhirnya. Pertanyaan guyonan seperti itu saja membuat Yudha terdiam. Dalam hati ia tahu jika Yudha berulang kali mengutuk keputusan-keputusan egoisnya.


“Kita bermain berdua, kek! Melody tidak perlu terlibat!”


Ini juga selama ini untuk tidak melibatn Melody.


“Dia sudah terlibat sejak awalnya. Mengertilah Yudha, kau perlu paham jika dalam suatu permainan, maka hanya ada dua akhir. Menang atau kalah.”


“Dan menurut kakek, perlu mengorbankan apapun untuk membuat menang? Begitu?”


“Tentu saja!”


“Bahkan mengorbankan Melody sekalipun?”


“Menurutmu?”


“Cih.”


Memang kakeknya itu selalu ingin utung. Mengorbankan apapun it, dan itu Melody salah satunya.


“Kau harus pandai meletakkan posisi Melody itu sebagai apa. Ratu kemenganmu atau pion yang akan kau korbankan. Jangan sampai kau lengah, pion yang awalnya ingin kau korbankan itu kadang bisa memberontak dan mengendalikan permainan. Ingat Yudha, ini bukan catur porselin, tapi ini percaturan nyata. Manusia sebagai pemainnya. Hati dan pikiran bisa bergerak berbeda. Semua susah dikendalikan. Akhirnya susah ditebak. Rancangan dan strategi yang sudah dibuat belum tentu dapat terealisasikan dengan benar dan tepat. Semua akan penuh kejutan.”


Kata Kakek Wijaya penuh makna.


Yudha bangki dari kursi rapatnya. “Aku yang akan menang!” Ia meninggalkan sang kakek.

__ADS_1


“Kau akan mengerti suatu hari nanti, Yudha. Jika kau memoles Melody sedikit saja, mungkin kau bisa memanfaatkannya, kau bisa mendapatkan hasil yang tak terduga. Kakek ingin melihat sampai hari itu tiba.” Gumam kakek Wijaya.


__ADS_2