MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Kisah di Bawah Salju 4


__ADS_3

“Kau.. cemburu?”


Tebak Yudha.


“IYA AKU CEMBURU! KARENA AKU MENCINTAIMU, MAKANYA AKU CEMBURU!”


?


"Eh?"


"Ah?"


😖😖


Melody menutup mulutnya. Bagaimana ia keceplosan mengucapkan jika ia mencintai Yudha? Bukankah itu artinya jika ia sedang menyatakan perasaannya? Pipinya memanas. Ia lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ia sangat malu.


Yudha yang juga kaget dan sekaligus tak menyangka akan mendapat pernyataan cinta dari ‘istrinya’ sendiri, ia hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan kirinya. Ia bahkan sampai memerah malu dan tersenyum.


Bagi Yudha, ini adalah pernyataan cinta pertama dalam hidupnya!


Seriusan? Yang pertama? Sedikit meragukan pasalnya Yudha itu memiliki fans basis cewek dengan jumlah jutaan dan di sekolah atau kampus juga banyak cewek yang mengidolakannya.


Namun percaya atau tidak, sebelumnya, seumur-umur Yudha sama sekali belum pernah menerima pernyataan cinta dari seorang cewek.


Lalu bagaimana dengan fans cewek Yudha jumlahnya jutaan itu? Jawabannya, mereka hanya sebatas mengidolakan, hanya sebatas mengagumi. Tak pernah ada yang serius mengungkapkan perasaan secara romantis langsung di hadapannya.


Jadi, ketika Yudha mendengar pernyataan cinta dari Melody rasanya sangat spesial, ia bahkan tidak bisa menyembunyikan wajah malunya. Semburat merah itu begitu ketara.


.


.


.


Yudha lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Melody. Melody mencoba menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya. Yudha menyingkirkan kedua tangan itu. Ia menatap wajah Melody. Sangat memerah. Melody juga merasa malu, sama seperti dirinya.


“Me..Melody, tataplah aku! Aku merasa jika kau jarang sekali menatapku dengan benar.” Pinta Yudha.


Melody perlahan memberanikan diri untuk menatap balik Yudha.


“Yu-Yudha..”


“Aku senang! Aku sangat senang, Melody!” potong Yudha dengan cepatnya. “Bisakah kau mengulanginya?” Pinta Yudha.


“Tidak..”


“Ayolah, sekali lagi!”


“Tidak!”


“Aku ingin memastikan saja jika apa yang aku dengar tadi itu tidak salah.”

__ADS_1


“Kau salah dengar, Yudha! Jadi lupakan saja dan segera tidur!”


Segitu malunya sampai harus seperti itu? Mengalihkan pembicaraan. Tapi, apa dirinya sudah salah dengar? Tidak, ia yakin Melody mengungkapkan perasaannya.


“Lupakan?” Tanya Yudha.


“Iya, lupakan saja! Tidak penting juga buatmu.”


“Maaf saja Melody, aku tak ingin melupakannya!” Yudha lalu mencium bibir Melody dengan lembut.


Melody melebarkan kedua matanya. Yudha melepaskan ciumannya.


“Ke-kenapa kau menciumku?”


Kaget Melody dengan ciuman tiba-tiba Yudha.


“Bukankah kau juga menginginkannya?” Seringai Yudha.


😡


Perempatan muncul, dengan gerakan sangat cepat, Melody menjedotkan jidatnya ke jidat Yudha.


“FORHEAD ATTACK!!”


Kata Melody lantang.


Aaakkkhh..


Sakitnya bukan main. Bagaimana bisa Melody menjedotkan jidatnya denga miliknya?


Mereka sama-sama kesakitan. Mereka memijat bekas jedotan itu.


“Bukankah sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk berciuman? Aku tak mengira kau akan melakukannya.”


Tanya Melody melembut.


“Bagaimanapun aku ini laki-laki. Aku ingin berbaikan denganmu.”


Jawab Yudha.


“Aku hargai niat baikmu. Aku juga tak ingin berlarut-larut stress karenamu.”


Melody berkata jujur.


“Melody, apa kau pernah berciuman dengan Alvin?”


“Hah? Kenapa dari sekian banyak kata untuk berbaikkan denganku, kau justru memilih pertanyaan seperti itu? Niat baikkan gak sih?” Gerutu Melody.


“Jawab saja apa susahnya? Ini penting buatku.”


“Iisshh. Tentu saja tidak! Sekalipun tidak pernah!”


“Kau sering berduaan dengannya. Waktu di dapur kemarin..”

__ADS_1


Yudha tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini. Melody dan Alvin berciuman di dapur itu sangat mengganggunya. Membuatnya tidak tenang dan hatinya menjadi tak karuan. Ia sulit fokus dan melamun saat rapat. Sang kakek bahkan sampai memarahinya. Lebih parahnya, sang kakek mengusirnya dari rapat kerja.


“Dia membantu mengambil sisa makanan di pipiku.” Jawab Melody.


Entah kenapa Melody ingin menjawab semua pertanyaan dari Yudha dengan jujur.


Ia tidak ingin menimbulkan masalah baru atas kesalah pahaman ini. Ia ingin meluruskannya.


Yudha menjadi banyak bicara malam ini. Tepatnya ia menanyakan apapun soal hubungannya dengan Alvin. Padaha ia sudah memberitahu Yudha jika Yudha adalah yang pertama dalam hidupnya, tapi tetap saja, Yudha masih haus penjelasan.


"Ciuman pertamaku denganmu dan aku tak pernah melakukannya dengan laki-laki lain. Hubungan intim pertamaku juga bersamamu, kau tahu akan hal itu. Kau yang mengambilnya dan aku juga tidak pernah melakukannya dengan laki-laki lain. Aku tidak pernah berpikir untuk disentuh selain oleh dirimu." Terang Melody.


Melody harus menahan malu yang amat sangat ketika mengatakan hal berbau mesum seperti ini. Semua demi meluruskan masalah.


Yudha juga sama halnya dengan Melody. Semua pengalaman itu juga yang pertama. Ada kebanggan tersendiri karena dirinyalah yang mengklaim 'the first times of Melody'.


"Hn. Aku tahu itu. Semua juga yang pertama bagiku. Kuharap kau tak menyesal karena aku adalah yang pertama untukmu."


"Saat kau memberikan segala pengalaman pertama itu, posisi kita sudah sah menikah. Aku akan belajar menerima. Bukan menyesal, tapi lebih ke bersiap jika hal-hal seperti ini akan terjadi di dalam kehidupan pernikahan."


"Gomen.."


"Kenapa minta maaf, Yudh? Aku bilang, aku tidak apa-apa. Pada akhirnya, orang yang memberiku pengalaman pertama sudah memiliki hatiku. Kau menang, Yudh.." Senyum Melody.


Yudha juga ikutan tersenyum. Melody mencintainya adalah hal yang sangat indah


Pembicaraan berlanjut. Semakin malam, semakin hangat meski badai di luar sedang berlangsung. Deru angin bergemuruh. Salju putih semakin menebal.


Yudha kemudian juga bertanya bagaimana mereka bisa bertemu, jadian, dan akhirnya memutuskan untuk pisah. Sungguh, malam ini, hanya dengan menurunkan ego untuk saling terbuka, ia bisa mengenal sosok Melody jauh lebih dekat lagi.


Kenapa ia tidak sejak dulu membuka komunikasi dengan Melody?


Bahkan, Melody juga bertanya soal Yura. Yudha memberikan akses soal Yura kepada Melody. Melodypun membahas panjang lebar soal hubungan Yudha dan Yura. Masih sakit juga saat mengetahui seberapa besar perasan Yudha pada Yura.


“Aku tahu kau memiliki perasan terhadapnya, Yudha. Tapi, sekarang aku mengandung anakmu. Kau juga tak ingin bercerai denganku. Aku tak tahu harus bagaimana. Jujur saja, itu sulit buatku. Berasa aku terjebak di kisah dua cincin darimu.”


Kata Melody. Ia menundukkan wajahnya. Sesak.


Yudha menatap Melody. Ia mengelus rambut Melody. “Aku bilang aku bertanggung jawab akan hidupmu!”


“Tapi kau juga memiliki tanggung jawab akan dirinya, kan?”


“Melody..”


“Andai saja kau bisa memilih salah satunya antara Amamiya-san atau diriku beserta anakku.”


“...”


Yudha terdiam. Memilih antara Yura dengan Melody ditambah anaknya?


Pertanyaan Melody membuat lubang di hati. Otaknya beputar mencari jawaban seperti apa yang harus ia utarakan kepada Melody. Ia hanya tak ingin menyakiti Melody lagi, tapi Yura belum baik-baik saja.


"Kau diam saja. Pertanyaan ini terlalu sulit ya untukmu? Apa sih yang aku harapkan? Ciuman tadi tak memiliki arti apa-apa ya? Atau kau hanya sedang kesal karena aku menjedotkan keningku padamu? Jika jawabanmu tak memuaskanku, aku akan memilih mundur, Yudh.."

__ADS_1


__ADS_2