MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Iklan


__ADS_3

Hari mulai berganti. Semua terasa masih berjalan normal. Hari terlewati dengan berbagai macam kisah yang mengisi. Bersambung, bersambung, dan bersambung. Seperti itulah kisah, selalu bersambung.


Jika sebuah cerita fiksi memiliki kata berakhir atau tamat, maka beda halnya dengan cerita nyata, tidak akan pernah tamat bahkan jika dunia ini sudah tamat sekalipun. Cerita masih akan berlanjut di dunia yang berbeda.


Begitulah Tuhan yang Maha Kuasa menakdirkannya.


"Sudah mau berangkat?" Tanya Alvin.


"Iya, aku cukup sibuk akhir-akhir ini. Maaf ya, harusnya aku nyempetin waktu untuk menyambutmu masuk ke mansion ini waktu itu. Aku malah lembur di kantor sampai ganti hari."


"Santai. Aku tahu proyekmu dengan Ayah Azuma itu harus segera ditangani mengingat pusat pembelanjaan itu sudah selesai dibangun. Kau bersemangatlah!"


"Iya terima kasih, Vin."


Alvin menyodorkan sebuah botol pada Yudha. "Apaan?" Tanya Yudha. Ia melihat botol itu dan mengocoknya perlahan. Bukan cairan tapi berisi tablet kecil-kecil jumlahnya sangat banyak.


"Vitamin. Jangan lupa kau harus meminumnya! Itu baik untuk menjaga daya tahanmu." Kata Alvin.


Yudha tersenyum. "Terima kasih, Pak dokter!"


"Haha, sama-sama."


"Ya sudah, aku berangkat dulu. Sampai nanti!"


"Hn. Hati-hati."


"Ok."


Alvin merasa senang bisa akur dengan Yudha, saudara seayahnya. Dulu ia memimpikan hal serperti ini, saat ini akhirnya terwujud. Bisa bercengkrama dan tinggal bersama dengan Yudha adalah asanya. Rasanya luar biasa, lebih dari sekedar merasa senang.


"Syukurlah, anak-anak bisa akur seperti itu. Tuhan, tolong jangan ubah kedekatan mereka. Biarkan mereka tertawa bersama dalam kedamaian seperti ini selamanya." Batin Mikan yang mengamati tingkah Yudha dan Alvin dari arah yang tak begitu jauh.


Suasana baru menghiasi kehidupan mansion Kazehaya. Semenjak kedatangan Alvin ke mansion itu, suasana terlihat jauh lebih hidup. Mikan dan nenek Chiyo begitu bahagia karena akhirnya anak lain dari Yoga kembali ke rumah Kazehaya. Harapan besar bagi kedua wanita itu. Bahkan Yudha yang tipikal laki-laki ngirit bicara itu bisa menunjukkan ekspresi yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Yudha lebih ceria. Seperti beban yang begitu besar terangkat dari bahunya.


Memang, salah satu beban besarnya itu sudah terangkat. Yudha sadar itu. Butuh proses panjang untuk mewujudkan impiannya membuat Alvin kembali ke keluarga Kazehaya.

__ADS_1


Keputusannya untuk menikahi Melody membuat sang kakek setuju mengakui Alvin sebagai bagian dari keluarga Kazehaya. Semenjak ia membuat keputusan besar itu, ia sudah tidak berfikir bagaimana perasaannya. Ia sudah mempertaruhkannya untuk impiannya itu.


Yudha memang mengorbankan perasaannya demi Alvin. Itu semua tidak sepadan dengan penderitaan yang Alvin alami, Yudha merasa jika masih banyak hal yang harus ia perjuangkan lagi. Alvin harus mendapatakan apa yang seharusnya Alvin dapatkan!


.


.


.


Pembuat promosi iklan dari pusat pembelanjaan di Akihabara sudah mulai dilakukan. Seperti yang sudah menjadi kesepakatannya, Yura adalah model iklan promosi tersebut.


Memakai jasa Yura memang hal yang menjadi keputusan terbaik. Kemampyan Yura cukup yang cukup menjanjikan. Bagaimana tidak, pamor model dari seorang Yura semakin menanjak. Tak hanya dunia modeling saja, Yura bahkan sudah mendapatkan tawaran untuk bermain film layar lebar. Ini seperti memanfaatkan pamor Yura yang sedang naik daun.


Modeling sukses dan bersiap memasukki dunia acting. Prestasi yang membanggakan untuk Yura, Yudha akui jika ia merasa bangga akan teman masa kecilnya itu. Pada akhirnya, Yura berhasil meraih impiannya.


Itu lebih baik, nyatanya itu yang Yura impikan. Yudha cukup bersyukur karena waktu itu ia tak memaksa Yura untuk menikah dengannya. Yura pasti akn terpenjara di mansion mewahnya. Yura pasti tersiksa karena impiannya harus pupus ketika Yura mencoba untuk meraihnya.


.


.


.


Ia harus menyajikan semua hal dengan baik layaknya Kazehaya yang semestinya.


.


.


.


Ketika sedang hendak melakukan syuting iklan, aktor yang menjadi lawan main Yura mengalami kecelakaan cukup parah sehingga membuat aktor tersebut mebatalkan syuting iklan promosi itu. Jadwal yang sudah tidak bisa diganggu gugat itu pada akhirnya membuat sutradara iklan meminta Yudha menggantikannya.


Awalnya sang sutradara tidak begitu mengharapkan kesediaan Yudha, bagaimanapun Yudha itu bukan aktor iklan. Sang sutradara hanya berguarau tapi masih mengharapkan kesediaan Yudha. Tapi, entah bagaimana Yudha menyetujuinya. Semua itu demi ketetapan waktu yang sudah ia buat. Ia tidak ingin membuat Azumane kecewa. Azumane menaruh harapan besar akan kerja sama ini. Jika ia sampai membuat Azumanr kecewa, mungkin saja kakeknya tidak akan memperbolehkannya ikut proyek yang selanjutnya.

__ADS_1


"Kau yakin akan melakukannya?" Tanya Shuhei. Ia merasa khawatir karena tiba-tiba saja Tuan Mudanya bersedia melakukan hal merepotkan seperti itu. Apa lagi dengan Yura.


"Iya, aku tidak bisa menunda peluncuran iklannya. Iklannya harus segera selesai agar semua sesuai jadwal." Jawab Yudha.


Adakah alasan lain di balik penuturan Yudha? Shuhei harus memastikannya sampai akhir.


"Kau pasti membayar kompensasi lumayan pada aktor itu karena tiba-tiba memutuskan penggantian secara sepihak."


"Tak masalah, toh dia kecelakaan. Aku tak ingin bisnisku terganggu."


"Huwa, jika soal bisnis kau masih saja kejam."


"Dia tidak mati, dan aku sudah memberinya kompensasi."


"Hah, sudahlah."


"Hn."


Tiba-tiba Yura datang dari arah kamar ganti khusus artis wanita lengkap dengan dandanannya.


Dress elegan dan cantik itu nampak cocok dengan tubuh ramping Yura. Make up corral yang semakin membuat Yura nampak segar dan manis. Yudha akui, apapun yang Yura kenakan seperti menyatu dengan kepribadian Yura.


"Kau tidak apa-apa kan beradu acting denganku?" Tanya Yura.


"Hn."


"Dingin."


"Hn."


"Hahaha.. Kau sekali. Sangat kau sekali, Yudh!" Yura tertawa. Sudah lama ia tak tertawa seperti ini. Yudha yang dulu masih ada. Itu menyenangkan


Usai berbincang, prosesi pengambilan videopun dimulai. Yudha dan Yura mengikuti semua arahan yang sudah disuruh oleh Sutradara. Yudha sangat tampan dan dingin, tapi ia mampu acting jg. Bahkan acting Yudha cukup natural tak harus diulang.


"Cut! Kerja bagus semua." Kata Sutradara iklan.

__ADS_1


Semua tepuk tangan karena syuting iklan sukses dilakukan.


Yura terlihat begitu senang karena ia bisa beradu peran dengan Yudha. Bukan hal yang sulit untuk ia lakukan. Mengingat ia sudah mengenal Yudha sejak lama. Yudha bahkan yang bukan seorang aktor saja bisa menampilkan acting yang memukau banyak orang. Acting Yudha sangat natural, sang sutradara bahkan ingin membuat film dengan pemain Yudha, tapi Yudha menolaknya karena ia tidak tertarik dengan dunia entertainment seperti itu. Jika bukan karena ia butuh tepat waktu pembuatan iklan promosi, ia tidak akan pernah lagi mau melakukan hal yang menurutnya itu 'merepotkan'.


__ADS_2