
Yudha berdiri di hadapannya. Tubuh menjulang itu menghalangi pandangannya ke arah luar sana. Ia yang kalah tinggi dari Yudha hanya bisa terdiam menatap suaminya.
Pakaian musim gugur, mantel coklat panjang dengan syal hitam melingkar di leher Yudha. Kulit putih pucat yang lebih pucat dari biasanya.
Apa Yudha tidak membawa mobil?
Yudha menunjukkan wajah yang datar, sangat sulit dipahami. Lebih datar dari biasanya. Marah? Kesal? Rasannya hanya aura macam itu yang dapat Melody rasakan dari Yudha.
Yudha juga tak mengucapkan kata sedikitpun. Entah itu salam ataupun panggilan. Sebaliknya pula, Melody juga tak mempersilahkan masuk.
Mereka berdua hanya terdiam saling melempar tatapan datar. Bingung atau memang tidak tahu sama sekali untuk menghadapinya.
Tentu saja, kan?
Melody dan Yudha ingat jika kemarin pagi mereka sudah bisa saling bicara meski singkat, biasanya setelah salah satu ada yang membuka suara, maka setelahnya akan jauh lebih mudah.
Namun, belum bertemu dan berbicara kedua kalinya, Melody kembali mengetahui isu skandal Yudha dengan Yura yang baru. Yudha juga tahu beritanya kemarin, ia pasti juga paham jika saat ini akan kembali menimbulkan kecanggungan antara dirinya dengan Melody.
Yudha ingin bilang jika pertemuannya dengan Yura di cafe dekat rumah sakit itu ketidak sengajaan. Tapi mulutnya mengunci.
"Melody ada siapa? Kenapa tidak disuruh masuk?" Suara Alvin terdengar jauh.
Karena Melody tak kunjung menjawab, Alvinpun menghampiri Melody ke pintu keluar rumah.
"Melody, siapa yang da...tang?" Alvin melihat Yudha. "Yudha?"
"..." Yudha menatap Alvin, Alvin membalas menatapnya.
Melody berdiri di tengah tengah mereka. Alvin lalu tersenyum.
"Ohayou, Yudha." Sapa Alvin.
"Hn. Ohayou. Kau sudah lama di sini?" Tanya Yudha.
Ada nada tak biasa keluar dari mulutnya.
Alvin dan Melody cukup paham apa itu.
"Ya begitulah." Jawab Alvin.
Entah kenapa, Melody merasa jika udara disekitarnya menjadi langka. Ia sampai sulit bernafas.
"Oh." Bukankah kata ini sudah biasa Yudha ucapkan?
Sayangnya Alvin juga bisa memahami bagaimana karakter Yudha. Yudha sering sekali mengeluarkan kata-kata singkat seperi oh, ya, hn, hm. Alvin pintar memaknai suasaba dan mengambil langkah selanjutnya.
"Masuklah, Ibu Tsuchiya pasti akan senang karena kau datang!" Alvin menyuruh Yudha untuk masuk.
"Kau mau pergi?" Tanya Yudha. Ia melihat Alvin sudah bersiap dengan mantel dan tas di tangannya.
"Ya seperti yang kau lihat, aku ada jadwal membantu operasi satu jam lagi."
Alvin adalah asistan dokter bedah. Meski masih magang, tapi kemampuannya profesional.
"Senpai ingin membawa bekal? Aku akan membuatkannya." Tawar Melody.
__ADS_1
Yudha menaikkan alisnya. Bekal? Untuk Alvin? Melody yang akan membuatkannya?
Alvin tersenyum melihat Melody. Jadi ingat, dulu mereka sering membawa bekal dan memakannya bersama saat istirahat di atap gedung sekolah.
"Terima kasih, Melody. Tapi tidak perlu. Sarapan tadi enak sekali, membuatku sangat kenyang. Aku dulan. Daa.."
Alvin sarapan di sini? Melody yang memasaknya sendiri? Makan berdua dengan Melody? Otak Yudha tak berhenti loading.
"Ano.." Melody bergumam.
"..." Alvin berhenti melangkah.
"Arigatou sudah memberi pertolongan pada Ibuku. Aku berhutang budi padamu, Senpai." Kata Melody.
Alvin kembali tersenyum. Yudha semakin heran, kenapa Alvin yang setipe dengannya bisa terlihat sangat beda beberapa hari terakhir ini? Yudha tahu Alvin itu jauh lebih ramah daripada dirinya, tapi apakah seramah ini? Pada istrinya?
"Dont mind, Melody. Tugas seorang dokter!" Alvin kembali berjalan. Saat ia sampai di pintu, ia berhenti selangkah di depan Yudha. Ia lalu menepuk bahu kiri Yudha. "Aku duluan!" Katanya dan pergi dari rumah itu.
"Hn. Hati-hati!"
"Hati-hati di jalan, Senpai!"
Melody bahkan melambaikan tangan? Banyak hal yang membuat Yudha heran. Apa memang mereka selalu seperti ini?
.
.
.
Kepergian Alvin membuat suasana kembali terdiam. Melody mempersilahkan Yudha masuk. Ia lalu membuatkan kopi hitam untuk Yudha.
"Silahkan di-diminum." Ujar Melody.
"Hn."
Yudha meminum kopi buatan Melody. Kali ini Melody menambahkan gula sedikit. Yudha yang kedinginan membutuhkan asupan gula.
Manisnya pas, mungkin bagi orang lain lebih cenderung ke pahit. Tapi baginya itu sudah sesuai seleranya. Melody memang belajar dengan baik.
1 menit, 2 menit, 3 menit, 4, 5, 6, 7 menit..
Mereka masih saling diam. Yudha sibuk menikmati kopi panasnya. Sementara Melody duduk sambil memeluk nampannya.
10 menit, 11, 12, 13, 14,15 menit kemudian..
Melody mulai bosan. Yudha memang rajanya mengabaikan orang. Ia adalah tipe ceria, maka Yudha adalah kebalikannya. Bukan berati negatif ya, Yudha lebih cenderung ke cowok yang tidak banyak bicara dan pandai menyembunyikan ekspresi.
"Aku akan mandi, ka-aku ke-ke kamar saja a-atau mau me-melihat ibu? Ibu ada di kamarnya. Dia baru minum obat, jadi a-aku yakin i-ibu masih bangun."
Kenapa ia harus terbata-bata saat menghadapi Yudha?
Melody merutuki dirinya sendiri.
"Aku akan melihat ibu dan ke kantor setelahnya."
__ADS_1
"Oh? Ah baiklah, silahkan.."
Yudha ke sini pagi-pagi hanya karena menghawatirkan mertuanya rupanya. Bukan mencari dirinya? Ada rasa kecewa di dalam sana.
"Hn."
Melody meninggalkan Yudha dan bergegas mandi. Yudha menjenguk ibu mertunya. Ia berbincang banyak dengan Tsuchiya, ibu mertuanya.
Yudha merasa lega melihat ibu mertuanya itu membaik. Mendengar penuturan Melody tadi, rupanya Alvin yang membantu menolong ibu mertuanya itu. Ia tak perlu mencari jawaban yang lain. Tsuchiya bahkan menceritakan kepadanya apa yang terjadi pagi ini.
"AAAKHHH."
Yudha dan Tsuchiya mendengar suara terikan dari Melody. Yudha menyuruh ibu mertuanya itu untuk istirahat saja sementara ia bergegas memeriksa apa yang terjadi dengan Melody.
Yudha berjalan menuju kamar mandi dengan cepatnya.
Teriakan Melody itu sangat keras. Benar juga, saat ia sampai tak jauh dari kamar mandi, ia melihat Melody bersimpuh sambil memegang kakinya. Ia langsung berlari menghampiri Melody.
"Kau baik-baik saja?" Tanyanya.
Suaranya terdengar sangat khawatir. Ia memegang bahu Melody dan memeriksa apa yang terjadi.
"Aku terpeleset, lantainya sangat licin."
Jawab Melody kesakitan.
"Kau bisa berdiri?"
Melody mengangguk.
Yudha membantu Melody berdiri. Tapi Melody mengaduh kesakitan. Seketika itu Yudha langsung membopong Melody ala bridal style menuju kamar Melody di lantai dua.
Saat ia dibopong Yudha, Melody merasa blank pikiran. Kesulitan menangkap dan menjabarkan apa yang tengah terjadi. Rasa sakit akibat terpeleset lebih mendominasi.
Ia pasrah saja dengan perlakuan Yudha. Yudha hanya sedang membantunya. Iya, karena itu.
.
.
.
Sesampainya di kamar, Yudha lalu merebahkan Melody di ranjang. Baru sadar jika dirinya hanya memakai handuk saja, Melody lalu bergegas merapikan handuknya yang sempat lumayan terbuka itu. Beruntungnya ia memakai piyama handuk. Yudha 'mungkin' tidak melihatnya.
Yudha mengambil balsem di kotak P3K yang ada di kamar Melody.
"Perlihatkan kakimu yang terkilir!" Pinta Yudha.
Melody menunjukkannya. Memerah. Kulit Melody itu sangat putih. Benturan sedikit saja begitu ketara di permukaan kulitnya.
Yudha mengoleskan balsem itu ke kaki Melody yang terkilir. Ia lalu memijatnya perlahan.
"Aww. Sa-sakit sekali." Melody merintih kesakitan sesaat setelah Yudha menyentuh kaki terkilirnya.
Yudha terus memijatnya perlahan. Melody hanya mengaduh, merintih, dan kadang berteriak kesakitan saat Yudha memijatnya sedikit keras. Ia juga menyumpal mulutnya dengan seprei ranjangnya.
__ADS_1
Ada perasaan aneh menyelubungi keduanya. Menciptakan sensasi unik yang tak biasanya ada. Mereka begitu hanyut dalam moments ini.
Melody bahkan sampai memegang bahu Yudha mencari kenyamanan untuk sekedar melepaskan segala luka di kakinya. Luka di kakinya? Haruskah ia jujur jika itu luka dari hatinya?