MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Tujuan Yudha 2


__ADS_3

Menghancurkan Emperor Group!


Itu adalah tujuan yang ingin Yudha capai. Rupanya ia tidak main-main ketika mengatakan hal ini pada sang nenek. Ia sungguh memiliki niat untuk menghancurkan Emperor Group.


Hal ini membuat kaget seisi ruangan khusus para Komisaris itu.


Bagi mereka, ide seperti ini itu tidak pernah terlintas dalam benak mereka jika suatu saat nanti akan mendengar Emperor Group akan dihancurkan.


"Yudha-sama, yang benar saja!"


"Tolong tarik kata-kata Anda!"


"Kami ini para leluhur yang menjadi saksi berkembangnya Emperor Group!"


"Kami melindungi mati-matian agar Emperor Group tetap berjaya meski memiliki banyak saingan!"


Yudha menyeringai. Ia memang gagal melihat ekspresi masing-masing para pemegang lencana Komisaris itu. Sejujurnya ia cukup penasaran. Baginya saat ini, sama sekali tidak ada orang yang bisa dipercaya.


"Aku akan mendirikan tatanan baru di tubuh Emperor Group!" Kata Yudha.


"Anda dilarang memanfaatkan status Anda sebagai koordinat dari semua Komisaris yang Ada! Itu menyalahi aturan para leluhur!"


"Aturan tetap aturan. Tugas kita sebagai penerus adalah menjalankannya dengan sebaik-baiknya!"


"Hmm, begitu kah? Aku kira akan banyak yang kehilangan ladang makanannya jika aku menghancurkan Emperor Group." Kata Yudha.


Itu juga benar.


Skakmatt yang mengena dari Yudha. Faktanya, gaji dari seorang Komisaris Emperor Group itu sangat tinggi. Menyentuh angka ratusan juta bahkan mendekati milyaran.


Duduk manis dan terima gaji nyata. Jabatan yang diimpikan banyak orang, bukan?


"Yudha-sama, saya akan mengikuti Anda jika yang Anda maksud dengan menghancurkan lalu membuat tatanan baru Emperor Group itu cara terbaik untuk masa depan Emperor Group." Pemegang Lencana Spade memilih berpihak pada Yudha.


"Dari semua pemegang lencana, yang mengikutiku hanya pemegang lencana Spade. Shiip, aku akan menandainya. Aku harus mencari tahu siapa dia... Meski ini menyalahi aturan para leluhur, tapi aku akan melakukan apapun untuk menumbangkan siapa pun yang bernai mengancam keluargaku. Ya, kini aku takut kematian, aku takut kehilangan orang-orang yang aku cintai. Untuk itu, aku akan menangkap semua mereka yang berkhianat di Emperor Group!" Batin Yudha.


"Yudha-sama, tolong dipertimbangkan lagi!" Pinta Pemegang Lencana Diamond.


"Tuan Diamond benar, Yudha-sama. Emperor Group saat ini sedang baik-baik saja. Bisnis yang dijalani masih lancar. Kita masih mendapatkan keuntungan yang besar juga. Kenapa Anda malah ingin membuat tatanan yang baru?" Tanya Pemegang Lencana Club.


"Apa yang dikatakan oleh Tuan Club benar, saya sependap dengannya." Kata Pemegang Lencana Hearts.


"Tak masalah jika Emperor Group keluar jalur asal menguntungkan, begitu? Ini bahkan sudah bertentangan dengan amanat kakekku dimana ia membangun untuk membuat orang bahagia. Maaf saja, sebagai cucunya aku tak akan membiarkan Emperor Group diisi oleh orang-orang berkepentingan lain yang melukai jati diri Emperor Group!"


"Lalu, apa rencana Anda, Yudha-sama?" Tanya Pemegang Lencana Spade.

__ADS_1


"Aku akan memburu para penghianat itu sampai ke liang lahat!" Jawab Yudha mantap.


Aura Yudha saat ini sangat berat. Ini memiliki tingkat tekanan yang sama seperti kakek Wijaya. Apakah ini sosok dari THE REAL KING OF EMPEROR GROUP?


Tunggu, tapi posisi Yudha saat ini adalah As. Apa As bisa menjadi raja? Bukankah raja saat ini itu adalah Alvin? Sosok pemegang posisi Joker.


Keempat komisaris itu tidak bisa membantah apa yang Yudha katakan. Sekali lagi, tekanan berisi ancaman dan warning itu membuat mereka tak bisa melawan. Kharisma Yudha sangat mendominasi ruangan.


.


.


.


FLASH BACK ON


Aron mengambil sesuatu dari bawah ranjangnya. Ia lalu menunjukkan sesuatu itu pada Yudha.


"Apa ini, Paman? Sebuah kotak?" Tanya Yudha.


"Ini adalah sebuah kotak yang saya dan Tuan Besar lindungi hingga harus mempertaruhkan nyawa kami. Di dalam kotak ini berisi stemple untuk membuka akun yang ada di bank Swiss. Tuan Besar bilang, stemple ini akan mengakhiri semua yang ada dan mengembalikan Emperor Group pada pemilik aslinya." Jelas Aron.


Kenapa banyak hal yang membuatnya sangat kaget akhir-akhir ini? Di situ Yudha merasa jika sebenarnya banyak hal yang tak ia ketahui. Banyak rahasia yang tak ia ketahui. Hanya dinalar saja terasa membingungkan. Ia harus mengonfirmasi kebenarannya satu persatu.


"Ya. Semua ada hubungannya dengan stemple untuk membuka akun bank di Swiss ini."


"Lalu, jika mereka mengincar stemple ini, kenapa aku tidak tahu ada kisah seperti ini di Emperor Group?"


"Karena ini memang tak banyak banyak diketahui orang. Hanya para Komisaris yang tahu. Namun mereka tidak tahu isi dari apapun yang tersimpan di bank Swiss."


"Komisaris ya.. hmm.. Aku yang salah satu anggota Komisaris saja tidak mengetahuinya, jadi, bisa dipastikan jika orang-orang yang duduk di kursi Komisaris itu adalah orang yang usianya jauh di atasku. Masuk akal.. masuk akal.." Kata Yudha.


"Ya, memang mereka semua di atas Anda usianya, Yudha-sama. Sebenarnya ini adalah seperti boomerang untuk Tuan Besar. Beliau yang mendirikan para Komisaris itu, namun Beliau mendapatkan penghianatan dari mereka juga."


"Jika kakek tahu dikhianati mereka, kenapa kakek tidak membubarkan mereka?"


"Seperti yang saya katakan, ini adalah boomerang. Otoritas tertinggi saat ini hanyalah pemilik sah di atas akta kepemilikkan dimana dia yang bisa memiliki kewenangan untuk membubarkan jabatan Komisaris itu."


"Bukankah nama kakek yang ada di dalam akta kepemilikkan itu?"


Aron menggeleng.


Yudha mendelik. "Ba-bagaimana bisa?"


Setahu Yudha, Emperor Group itu adalah milik kakeknya. Lalu apa ini? Kenapa Aron bilang jika Emperor Group bukan milik sang kakek? Apa yang terjadi? Apa yang sudah ia lewatkan?

__ADS_1


"Emperor Group sudah diwariskan kepada ayah Anda, Yoga-sama. Namun, karena ayah Anda sudah meninggal, maka hanya ahli warisnya yang bisa menguasainya. Mendiang Yoga-sama sudah menulis wasiat jauh sebelum beliau meninggal. Menurut Tuan Besar, kemungkinan surat wasiat ini ada di bank Swiss bersama dengan segala misteri Emperor Group."


"Aku kira kakek yang memiliki akun bank di sana. Ternyata ayah..."


"Akun bank itu dibuat nama keluarga. Orang yang pertama membuatnya adalah Tuan Besar, namun setelah Emperor Group di wariskan, ayah Anda yang menguasainya. Beliau yang memiliki otoritas penuh akan akun itu. Jadi, tidak hanya soal rahasia Emperor Group yang tersimpan di sana, tapi juga surat wasiat mendiang ayah Anda."


"Jadi intinya di dalam satu akun bank itu, ada dua orang yang menyimpan barang penting fi sana? Cih, mendokusai! Satunya lumpuh, satunya sudah di liang kubur, masih saja menyusahkan!" Gerutu Yudha.


"Yudha-sama, Anda terlalu kasar."


"Memang benar, kan? Paman memang tidak berpikir seperti itu? Lihatlah paman saat ini, berkali-kali sekarat karena mereka berdua!"


Aron tersenyum. "Memang nasib saya sudah seperti itu.."


"Lalu Paman, apa banyak orang yang mengetahui soal surat wasiat milik mendiang ayah?" Tanya Yudha.


"Tidak juga, tapi yang jelas, ibunya Alvin-sama, Nyonya Kurenai mengetahuinya. Jika dia bercerita pada orang lain, maka sudah dipastikan jika banyak dari fraksi pendukung Alvin-sama yang juga sudah tahu... Surat itu boleh dibacakan ketika usia Anda mencapai 23 tahun, itu artinya bulan Juli nanti. Itu wasiat umumnya yang diketahui oleh orang."


"Oh jadi, mereka mengincar ini sampai sebelum usiaku 23, agar mereka bisa merubah isinya? Atau setidaknya siapa yang akan menjadi pewaris sahnya?"


"Merubah isi pastilah tidak mudah, nyatanya wasiat biasanya ditulis tangan. Namun jika wasiat itu diketik, maka hanya perlu stample milik mendiang ayah Anda dan stemple it, terkubur bersama surat wasiatnya."


"Paman..."


"Ya?"


"Boleh aku mengumpat di depanmu?"


"Meski Anda saat ini sedang kesal, tapi Anda tidak boleh mengumpat apapun di depan saya!"


Yudha menghela nafas. "Paman, aku merindukan Melody."


Aron menatap Yudha. Keponakan angkatnya itu terlihat sangat lesu. Jauh dari Melody membuat Yudha tak bersemangat. Apa Yudha menangis? Itu yang Aron ingin tahu. Pasalnya, Yudha itu berhati lemah. Berhati yang haus akan kasih sayang.


"Anda pasti akan segera menemukan Nona Melody. Maafkan saya yang tidak bisa membantu Anda. Gerak gerik saya diawasi. Saya tidak bisa meninggalkan ruangan ini karena kotak itu... Maafkan saya, saya tahu ini membahayakan nyawa Anda karena Anda yang memegang kotak itu saat ini. Namun tolong, jangan beritahu siapapun soal kotak itu! Untuk saat ini, terlalu bahaya jika ke luar negeri, apa lagi orang-orang kita. Taruhannya adalah nyawa. Tolong Anda pikirkan tentang ini! Tolong jangan Anda sendiri yang keluar negeri! Saya tidak mau Anda kenapa-kenapa!" Kata Aron panjang lebar.


"Paman, kupingku panas! Terima kasih sudah menghawatirkanku! Namun, khawatirkan diri paman sendiri saja! Aku titip kakek.." Kata Yudha.


Ia bangun dari tempat duduknya.


"Anda mau kemana, Yudha-sama?" Tanya Aron khawatir.


"Menangkap paus di antara para Komisaris." Senyum Yudha.


FLASHBACK OF

__ADS_1


__ADS_2