MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Chapter Special 1


__ADS_3

Gara-gara nonton drama Korea, jadi lupa waktu sampa kagak nulis. Tahu-tahu sudah jam 22.03 malam coba. Huhu.


Biar mikirnya tidak berat, aku post chapter spesial saja. Aku kangen sama moments Melody dan Yudha.


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x


.


.


.


Melody sedang berjalan pulang dari acara belanjanya. Ia meneteng dua kantong keresek besar di kedua tangannya. Sebenarnya ia sudah di parkiran mobil sih, tapi ia perlu perjuangan untuk masuk ke dalam kediaman Kazehaya yang super besar itu.


Kenapa kamarnya harus di bangunan yang paling jauh dari parkiran sih? Mana ponselnya terus saja berbunyi sedari tadi.


Tak tahan dengan suara ponselnya, Melody memindahkan bawaannya ke sisi tangannya. Tangan satunya ia gunakan untuk membuka ponsel dan membaca pesan masuk.


Kan benar, ini dari suaminya yang tak sabaran itu. Ini pesan yang ke sekian kalinya masuk ke dalam ponselnya terhitung sejak ia menginjakkan kakinya di supermarket.


"Suami menyebalkan!" Geramnya. "Tidak sabatan banget sih? Baru juga sampai ke rumah." Tambahnya.


Shuhei yang menemaninya belanja pun memahami kekesalah sang Nona Muda.


"Biar saya saja yang membawa semua belanjaan ini ke dapur, Melody-sama." Kata Shuhei.


"Tidak, aku akan membantumu mrmbawanya sampai ke dapur. Kau itu juga sedang membawa banyak belanjaan yang berat-berat. Sebentar saja, Yudha pasti bisa menunggu sebentar lagi." Kata Melody, ia tersenyum ramah.


"Baiklah jika itu mau Anda, namun siap-siap saja jika Yudha-sama akan marah pada Anda." Kata Shuhei.


"Sudah biasa. Dia memang suka seperti anak kecil. Merepotkan dan melelahkan untuk merawatnya."


"Melody-sama, fighting!"


.


.


.


FROM: MY HUBBY: "Datanglah ke kamarku sekarang!"


Melody membaca pesan yang baru ia buka di ponselnya.


"Apa-apaan dia? Sumpah, ini hanya pesan singkat tapi rasanya seolah dia ngomong di depanku." Wanita ini menggerutu, kemudian mengetik pesan.


MELODY: "Aku sedang belanja. Memangnya ada apa?"


Kurang dari lima menit, ada pesan masuk.


FROM: MY HUBBY: "Datanglah kesini setelah belanja sayang…" ❤


Dan pesan itu berhasil membuat Melody clingak-clinguk sekitar sebelum senyum-senyum sendiri.


Sumpah pakai ditambahi emot lope-lope lagi. Yudha manis juga.


Akhir-akhir ini, Melody jarang bertemu Yudha, suami tercintanya, karena ulah Author yang begitu kejam terhadap mereka berdua. Memisahkan kisah mereka dengan begitu tragis.


"Meminta ke kamar, memanggil sayang, ditambah emot lope-lope. Aku dalam bahaya!" Gumam Melody.


Shuhei hanya mengamati apa yang digumamkan oleh Melody. Kasihan juga jika Melody harus menghadapi suami seperti Yudha yang manjanya minta ampun.


"Melody-sama, persiapkan diri Anda, tubuh Anda. Yudha-sama pasti tidak akan melepaskan Anda saat ini." Kata Shehui.


Perkataan Shuhei terdengar horor di telinga Melody. "Shuhei-san, jangan menakut-nakutiku!"


Shuhei hanya tersenyum.


Melody ingat, setiap kali ia datang ke kamar lelaki itu, kamarnya juga sih, selalu saja, apapun alasan Yudha tiba-tiba memintanya datang ke sana, ke kamar itu, semuanya hanya akan berakhir dengan dirinya dan Yudha, mendesah hebat di atas ranjang.


Ia ingat juga ketika ia minta bantuan mengerjakan tugas kampusnya pada suaminya itu, tetapi belum sampai setengah jalan, Yudha sudah menyerangnya, dan tak memberinya kesempatan untuk menolak. Pada akhirnya mereka harus begadang karena Melody ngotot tugas itu harus selesai pagi harinya juga dan terus menyalahkan lelaki yang telah membuatnya mandi malam-malam.


"Suamiku ini sungguh mesum. Aku selalu kuwalahan menanganinya. Yudha oh Yudha."


"Yudha sama hanya mesum kepada Anda." Kata Shuhei.


"Eh? Aku percaya sih sama dia. Tapi, masak? Sungguh? Apa Yudha sungguh tak pernah mesum dengan wanita lain? Ah, maksudku setidaknya ada gitu wanita yang menarik di depan matanya?" Tanya Melody penasaran.


"Tidak ada. Selain pekerjaan dan teknologi, hanya Anda yang membuatnya tertarik. Yudha-sama bahkan sampai memajang foto-foro Anda di meja kerjanya. Kadang kalau sedang senggang, ia mengusap-usap foto Anda lalu tersenyum sendiri setelahnya." Jawab Shuhei.


Pipi Melody memerah. Apa Yudha sungguh melakukan hal itu? Ia sendiri saja pernah mencium foto milik Yudha yang ia simpan di dalam galeri ponselnya. Apa lagi saat berpisah jauh dengan Yudha, seperti meeting di luar kota misalnya, ia akan mencium foto Yudha setiap kali ia merindukan Yudha. Sehabis itu ia akan video call lan dengan Yudha dan bercerita hal-hal yang menarik apapun yang terjadi selama seharian.


"Ya ampun, dia bisa manis juga." Senang Melody. Jadi gemas hanya dengan membayangkannya.

__ADS_1


Yudha mengusap fotonya lalu tersenyum?


Perlakuan sederhana tapi bagi Melody itu sangat manis. Romantis juga. Jadi ingin melihatnya.


"Yudha-sama itu memang sangat berbeda ketika Anda masuk ke dalam hidupnya. Dia menjadi jauh lebih bahagia dan bisa menikmati hidupnya. Semua berkat Anda."


"Aku justru yang merasa beruntung karena dia hadir di dalam hidupku. Aku mengerti apa yang berharga dalam hidupku."


"Terima kasih sudah mencintai Yudha-sama."


"Shuhei-san ini sangat perhatian sekali pada Yudha ya? Tapi baiklah, sama-sama, aku terima terima kasihnya darimu. Aku akan menjaga Yudha dan terus mencintainya!"


Ponselnya kembali berbunyi, dan Yudha lagi-lagi bilang untuknya segera ke kamar dan menemui Yudha.


Kesal sih. Ini juga sedang mau ke sana menemui Yudha. Kesabarannya selalu diuji oleh orang yang tak sabaran macam Yudha.


Ia mendesah panjang.


Tetapi kali ini sepertinya Melody akan menurut saja. Selesai menaruh belanjaan di dapur ia akan langsung ke kamarnya dengan Yudha itu. Ia berpisah dengan Shuhei yang membantu menata belanjaan bersama para pelayan mansion Kazehaya.


"Sial, tangga menuju kayangan ini tiap hari harus aku lalui demi melihat istana kecilku dan pangeranku yang sedang bertahta di sana." Gerutu Melody yang harus menaiki puluhan anak tangga demi bisa sampai ke atas, sampai ke kamarnya. "Yudha pasti mau minta kelon! Emot lope-lope itu membuatku merinding! Sial, merinding lagi tubuhku. Sudah lama aku tak disentuh oleh dia."


Sebab jika diingat, insiden begadang itu sudah hampir sebulan lalu. Itu artinya, mereka sudah tak melakukan 'itu' hampir sebulan lamanya. Melody kangen juga.


Ya, ia juga kangen sekali pada Yudha. Tidur bareng, tapi tidak ngapa-ngapain, tidak diapa-apain oleh Yudha. Oh jadinya maunya diapa-apain sama Yudha?


Hmmm.. Melody akui jika kadang dirinya juga bisa nakal senakal tangan Yudha yang tidur sambil meremmas payudaranya.


Kan jadi memerah saat mengingatnya. "Sial, sial, sial! Aku tak boleh mesum! Yang mesuk itu Yudha! Bukan aku! Bukan aku! Bukan aku! ... Tapi... sentuhan Yudha enak sekali. Membuat melayang-layang dan ingin lagi dan lagi."


Sebenarnya ada alasan mengapa ia dan Yudha jarang berhubungan suami istri, sebab belakang mereka sama-sama sibuk. Ia kuliah sedangkan Yudha cari nafkah. Mungkin Yudha juga kangen dengannya.


Oke, fix, sekarang pikirannya justru yang melayang kemana-mana dan menjadi sangat tidak jelas. Ia terlalu banyak berasumsi soal permintaan Yudha yang menyuruhnya cepat ke kamar karena rindu. Tapi karena itu Yudha yang terkenal mesum kepadanya, maka tidak salah kan ia berpikir jika Yudha akan mengajaknya olah raga di ranjang?


Hubungan intim ala suami istri. Memang apa lagi? Sex! Sudah katakan saja! Itu adalah sex! Dimana Yudha akan memasukkan itunya ke dalam anunya.


Bahasa apaan ini?


"Ya ampun! Bagaimana ini? Bagaimana kalau Yudha tiba-tiba ingin melakukan itu? Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" Melody berjalan pulang sambil memikirkan alasan Yudha mengundangnya.


Ini sudah sebulan. Bagaimana jika dirinya tak lagi mahir 'bermain' dengan Yudha? Bagaimana jika nanti ia gugup seperti saat pertama kali mereka melakukannya.


Gugup seperti saat pertama kali mereka melakukannya?


"Mengingat hal itu membuat wajahku memerah. Sial, wajah suamiku ketika menatapku sayu sangat tampan. Menghipnotisku yang jatuh hati padanya."


Apa Yudha sungguh akan menyerangnya dan minta jatah?


"Bagaimana ini? Doushiyo ka?"


Melody terus berpikir apa yang harus ia lakukan jika Yudha menyerangnya.


"Paling tidak beri aku waktu untuk menyesuaikan diri lagi!" Keluh Melody keras-keras. Beruntung jalan yang dilaluinya agak sepi. Para pelayan mansion itu tidak ada yang melakukan aktivitas di sekitar jalan menuju kamarnya dengan Yudha.


.


.


.


Kediaman Kazehaya...


Sore itu, Melody sampai di depan pintu kamar mereka. Dan untuk waktu yang lama, Melody ragu. Takut juga sih kalau tiba-tiba saja Yudha menyerangnya tanpa ampun padahal dirinya tidak memiliki persiapan apapun. Ingat, ia sudah sebulan tidak disentuh oleh Yudha! Ia pasti akan kaku sama seperti awal-awal melakukan hubungan sex dengan Yudha.


Akhirnya, ia hanya berdiri saja di depan pintu. Maka ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan.


MELODY: "Yudha aku di depan."


Dan cukup cepat Yudha malah langsung berteriak. "Apa kau tidak tahu caranya membuka pintu?"


Teriakan itu sangat keras membuat Melody kaget.


Yudha marah?


Ah, Yudha pasti sedang marah karena ia mengulur-ulur waktu untuk masuk ke dalam kamar mereka.


Melody berniat membalas ucapan Yudha, tapi Yudha kembali berteriak. "Cepatlah masuk!"


"Haiish! Kenapa Yudha sangat buru-buru sih? Apa ada sesuatu? Apa dia marah?


... Harusnya dia peka jika saat ini aku sedang sangat gugup!" Gerutu Melody.


Melody mulai penasaran. Akhirnya ia masuk juga ke kamar mereka berdua. Tak lupa kembali menutupnya dari dalam. Sangat pelan dan hati-hati. Ia tak mau mengganggu mood Yudha yang sedang menatapnya kesal.

__ADS_1


"Sudah masuk? Bagus, cepat ke ranjang, aku kangen!" Kata Yudha. Suaranya ketus. Jelas sekali nada kesalnya.


Mati sudah. Yudha pasti tak akan memberinya ampun.


Yudha duduk di singgasana tahta perkasanya. Yaelah, baca: ranjang, kasur.


Deg!


Jantung Melody melonjak. Apa itu artinya Kazehaya Yudha sudah menunggunya dan sudah siap di dalam kamar?


"Aku mau masak dulu saja, Yudh. Aku lapar, kau pasti juga lapar, kan? Kau mau makan apa? Biar aku buatkan." Melody membalas dengan telapak tangan penuh keringat. Ia mencari cara untuk kabur dari Yudha, setidaknya mengulur waktu sampai Yudha tidak sekesal ini, sampai amarahnya reda. Bisa gawat kalau diriny melayani Yudha dalam keadaan seperti ini. Bisa tidak bisa bangun nanti.


"Masak? Ada tukang masa di rumah ini. Jumlahnya lima orang. Mereka tak butuh bantuanmu untuk masak!" Kata Yudha.


"Ta-tapi kan aku ingin masak. Nanti saja ya ke ranjangnya, aku mandi dulu deh kalau tidak diiznkan masak. Boleh kan, Yudh?" Kata Melody.


Untuk beberapa detik yang singkat, Melody merasa balasan dari Yudha terlalu lama. Rasanya aneh menunggu balasan sementara jarak mereka hanya dipisahkan oleh udara.


Melody sibuk dengan pikirannya sendiri. Jujur saja ia sedang tidak fokus, hingga akhirnya ia menjadi tak sadar kalau Yudha sudah berjalan dari ranjang dan sedang menghampirinya.


"Istriku Kazehaya Melody! Apa-apaan ini? kenapa tak mau nurut?" Tanya Yudha.


Oh tidak, Yudha mau marah sepertinya. Lah, memang Yudha sudah marah sejak tadi kok. Ini hanya saja, matahnya semakin nambah. Lihat saja, ia sampai gemetaran.


"Eh?" Melody menoleh kaget. "A…aku, bukan-bukan berati tidak nurut. Lha ini kan sudah berada di sini. Baru datang, masih keringetan. Setidaknya biarkan keringatnya hilang dulu. Kan bau dan risih juga rasanya." Ia menggaruk tengkuk. Tapi Yudha meraih lengannya itu dan menariknya. Membawa Melody ke atas ranjang.


Mereka duduk bersebelahan.


"Kau terlihat aneh, Mel. Saat kau berbicara, semua yang keluar bentuknya alasan. Kau sedang mencari-cari alasan!" Kata Yudha.


Menurut Yudha saat ini tingkah Melody tidak seperti biasanya.


Melody diam. "..." Ia tahu kenapa Yudha mengatakan hal seperti itu. Apa lagi kalau ia tidak kepikiran adegan ranjang dan mantap-mantapan dengan Yudha, kan?


"Apa kau merasa aneh saat bertemu denganku? Aku ini suamimu! Kau keterlaluan ya? Tega sekali kau memasang ekspresi tak ingin jumpa denganku padahal aku ini sangat merindukanmu!" Yudha memasang tampang marah yang dibuat-buat.


"Astaga, Yudha! Kenapa bilang begitu? Tentu bukan maksudku seperti itu! Mana ada istri yang sangat mencintainya tidak ingin berjumpa dengan suaminya. Tiap hari memang bertemu, tapi tiap pisah meski hanya sebentar rasa rinduku kepadamu tetaplah ada." Melody ingin memukul Yudha karena perkataannya barusan cukup menakutkan.


Yudha marah dengannya?


Dari semua hal yang buruk, jangan sampai Yudha marah dengannya.


Yudha seketika itu nyengkir. "Bercanda.."


Dengan gemas Yudha mengacak rambut Melody hingga berantakan. Membuat Melody semakin ingin mengamuk. Padahal sudah susah-payah dirinya menata rambut sebelum datang kemari. Saat Melody ingin menyingkirkan tangan Yudha, Yudha lebih dulu bergerak cepat dan mendekap tubuh Melody ke dalam pelukannya.


"Aku ingin melihat rambutmu berantakan sambil mendesah di ranjang, Me-lo-dy - Sa-sayang!" Goda Yudha.


Pipi Melody langsung merona. "Mesum!" Pekiknya.


"Ayolah Mel.. Kapan kau akan peka? Kenapa kau tak paham kalau aku sangat merindukanmu?" Yudha mengusap kening Melody dengan dagu lancipnya. "Aku sudah bilang aku menunggumu di kamar agar kau paham kalau aku ingin melakukan itu. Aku kan suamimu, kenapa kau justru mengataiku mesum? Tadi kau juga tak menuruti kata-kataku padahal aku imammu. Dan lagi, apa kau tak merindukanku, hm? Ini sudah satu bulan lho…" Cerocos Yudha.


Yudha kalau urusan ranjang ngomongnya menjadi jauh lebih panjang dari biasanya.


Melody yang diam saja, sebenarnya ingin menjawab kalau ia sudah mengerti bahkan sejak pertama kali Yudha mengiriminya pesan singkat tadi.


Belum sempat menyaut omongan Yudha, Yudha justru kembali bicara.


"Apa kau tidak mencintaiku lagi?"


Tanya Yudha.


Tidak mencintai Yudha lagi?


Pertsnyaan konyol macam apa lagi ini? Yudha sadar tidak sih dengan apa yang baru saja ia lontarkan? Itu menyakitkan! Tentu saja ia sangat mencintai Yudha. Cintanya pada Yudha itu sangat besar. Bukan hanya sekedar seluas samudra dan setinggi langit di angkasa, tapi sangat besar sampai tak berujung, sampai tak ada batasnya!


Melody segera mendongak pada wajah Yudha. "Hei Yudh.. jangan pernah bertanya itu lagi! Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Kita ini Melody-Yudha polepel! Pertanyaan itu sama sekali tidak bisa diterima. Lalu, siapa bilang aku tidak peka, aku bahkan sudah paham sejak kau mengirimiku pesan. Sekarang Yudha mau apa? Mau ngesex denganku, kan? Oke, akan aku turuti!" Cerocos Melody tanpa basa-basi. Ia tak mau dicap tidak peka lagi oleh Yudha.


Mendengar itu Yudha langsung menyeringai. Seperti wolf yang melihat seekor kelinci kuning kecil. Melody berani menantangnya rupanya. Kali ini ia akan membuat Melody terbang dan melayang sampai ke kayangan yang bertaburkan bintang-bintang.


"Persiapkan dirimu, Mel!"


.


.


.


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x


Yang pengen dilanjutin ke adegan hot, komen ya. Kalau enggak cukup segini saja. Buat tombo kangen. Tapi kalo hot, aku jadi berbuat mesum. Huhu. Mesumku jadi keluar kan. Aduh dasar. Butuh pasangan ini agar bisa mesum juha kek Melodu dan Yudha. Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. Ngakak badai.


Jomblo ngenes, moga tahun depan ketemu jodoh dan menikah! Aamiin! Jodohnya yang tampan dan kaya lagi mencintaiku apa adanya! Tuhan, tolong kirimi aku jodoh yang seperti itu ya? Tuhan baik deh, i love you pokoknya mah! He he he he he he.

__ADS_1


__ADS_2