
Mia dan Ayumi mencak-mencak pada Melody. Meluapkan rasa kesal dan khawatir yang sempat tertahan. Mereka menanyai a-z pada Melody. Bagaimana bisa Melody menghilang seperti itu. Kehilangan ponsel? Tersesat? Tidak menemukan halte, telepon umum?
"Jadi kau kehilangan ponsel setelah menyuruh kami pulang duluan?" Tanya Ayumi.
"Iya, gomen ne."
"Kau sebenarnya mencari apa sih di festival itu?" Tanya Mia.
"Besok ulang tahun Yudha, aku mencari sesuatu yang mungkin cocok dengannya. Aku tidak bisa membelikannya mobil sport harga ratusan juta yen, aku rasa jika aku bisa mendapatkan sesuatu yang unik, maka dia akan menyukainya."
Mia dan Ayumi saling berpandangan. "Ma-maaf, harusnya kami lebih memahamimu." Kata Ayumi.
"Tidak apa-apa, aku senang kalian menghawatirkanku. Arigatou." Melody tersenyum.
"Hmm, bagaimana lukamu?" Tanya Mia.
"Yudha memanggil dokter, sudah diobati. Hanya luka luar, akan segera sembuh. Sebelum dokter datang, Yudha juga sudah memijat kakiku yang terkilir, jadi sudah lebih baik juga." Ia ingat jelas bagaimana ia berteriak-teriak sangat keras saat Yudha memijat kakinya.
Rupanya Yudha kembali memihat kakinya usai mandi. Karena saking sakitnya, ia berteriak sangat keras. Membuat Yudha sangat kesal. Mulutnya bahkan sampai disumpal jaket milik Yudha karena terlalu berisik.
"Suami perhatian. Aiiissh, aku jadi iri."
"Kalau iri, kau minta saja si duren menikahimu, Ayumi. Hahaha. Sebagai sepupu, aku pasti akan merestuinya." Ucap Mia. Ayumi memerah.
Rambut cepak jigrak Nao memang mirip durian.
"Ya ampun, Mi-Mia-chan. Jangan menggodaku!"
"Jangan menikah jika kalian belum begitu yakin dan siap! Menikahlah jika sudah siap segalanya. Mental maupun usia kalian." Suara Melody terdengar serius.
Mia dan Ayumi hanya saling tatap. Melody adalah sosok yang ceria, lebih suka bercanda dan cerewet, tapi mendengar penuturannya saat ini rasanya ada sesuatu yang berbeda.
"Me-Melody?"
"Saling mencintai saja tidak cukup. Finansial dan dukungan dari orang sekitar juga penting. Menikahlah jika itu sudah kalian dapatkan. Jangan menjalani pernikahan seperti diriku." Melody menundukkan wajahnya.
"Apa maksudmu, Melody? Jidat lebar seperti dirimu menikah dengan pangeran seperti Yudha adalah impian setiap wanita, Melody. Kau itu sangat beruntung. Apa kau sedang PMS?" Kata Mia.
Rasanya Melody rada sensitif deh.
__ADS_1
"Menstruasiku masih dua minggu lagi!" Kesal Melody.
Ia ingin serius tapi Mia malah nyeplos seperti itu.
"Bebek, kakek Wijaya yang membuat diriku menjadi istri Yudha! Kita sudah pernah membahasnya, pernikahan tanpa dilandasi cinta itu sangat berat. Sekeras aku mencoba menjalaninya, sebisa mungkin aku bertahan. Nyatanya aku tidak tahu kemana hubungan ini akan berjalan. Sudah berjalan setengah tahun pernikahanku dengan Yudha, sampai saat inipun aku tidak tahu bagaimana arah pikiran Yudha akan pernikahan ini."
"..."
"..."
Mereka berdua mendengarkan dengan seksama apa yang ingin Melody utarakan. Tiba-tiba suasana menjadi serius seperti ini. Apa ini curahan hati Melody setelah sekian lama memendam?
"Meski menyebalkan, aku akui jika Yudha itu sangat baik. Dia sabar mengajariku masuk ke dalam dunianya. Sedikit demi sedikit aku mengerti dunianya. Dunia orang kaya! Namun, sebanyak apapun aku mencoba menyelami dunia Yudha, aku tetap tidak tahu dunia asli Yudha. Yudha menutup rapat-rapat dunia aslinya."
"..."
"..."
"Dia tidak membiarkanku tahu meski sedikit saja. Aku memang tak ada hak mengetahuinya, tapi aku hanya ingin tahu, aku hanya ingin mengerti apa yang Yudha inginkan dari dalam hatinya. Aku ingin bertanya apa dia bahagia dengan pernikahan ini, tapi entah kenapa aku takut mendengar jawaban darinya."
Melody sampai berbicara sepanjang ini hanya untuk sekedar menceritakan perihnya nikah tanpa cinta. Sudah menikah muda, dijodohkan, tanpa cinta lagi.
"Kau pernah bilang padaku jika kau akan melaluinya seperti mengikuti arah air yang mengalir. Kau berusaha menjalani pernikahanmu dengan baik. Aku juga melihat usaha itu pada diri Yudha juga. Apa kau tahu jika Yudha uring-uringan tidak jelas karena menghawatirkanmu? Dia kesal tak jelas, marah tak jelas, bahkan rela berjalan jauh hanya demi mencarimu. Dia peduli padamu, Melody! Setelah kau ditemukan, dia terlihat sangat lega! Ayolah, cobalah untuk tidak terlalu memikirkan hal negatif tentang pernikahan kalian."
Kata Mia.
"Melody-chan, a-aku memang belum pernah terjebak di dalam posisimu. Aku tidak tahu ba-bagaimana rasanya menikah karena dijodohkan dan ta-tanpa cinta. Tapi, aku melihat jika kalian adalah pasangan yang cocok. Saling melengkapi. Aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaan kalian." Ayumi menyambung pembicaraan.
Melody mendapatkan pelukkan dari kedua sahabatnya itu. Ia memejamkan matanya dan mencoba mengingat semua hal yang terjadi pada hidupnya setengah tahun belakangan.
Bertemu dengan kakek Wijaya, menikah dengan Yudha. Semua tak pernah terbayangkan jika hidupnya bisa begitu sangat berubah setelah pertemuannya dengan kakek Wijaya.
.
.
.
"Kenapa kau masuk ke dalam hidup kami? Kenapa kau yang orang asing bisa merebutnya dariku? Harusnya kau tahu jika Yudha itu memiliki perasaan kepadaku! Kenapa kau memaksa masuk dalam kehidupannya? Apa kau tidak tahu jika kehadiranmu hanya membuatnya semakin sulit? Apa kau tahu jika karena adanya kau, maka dia menjadi terluka? Jika kau mengerti, kau sadar kan jika dirimu itu sangat jahat?"
__ADS_1
Ya, kata-kata Amamiya Yura di festival musim panas tadi mulai terngiang-ngiang di kepalanya.
"Aku juga tak ingin masuk ke dalam kehidupanmu dengan Yudha, tapi Tuhan tiba-tiba membawaku masuk ke dalamnya. Bisakah kau memikirkan hal seperti ini juga? Ini sangat sulit untukku."
.
.
.
Jam 11.43 malam, Neil sudah sampai di hotel tempat Yudha dkk menginap. Kedatangan Neil langsung di sambut Nao. Yudha sibuk mengurusi Melody. Sibuk berargumen tentunya. Jadi sepertinya Yudha tidak diberitahu jika Neil sudah sampai.
Ayumi dan Mia sudah tidur, mungkin juga Yura yang tidak keluar kamar semenjak mengetahui jika Melody sudah kembali. Yura sudah berbasa-basi dengan menanyai keadaan Melody.
Shuhei? Jam segini sudah pasti jam tidur untuknya.
Kini, di kamar Nao, ada Sai, Alvin, dan juga Neil. Mereka sedang rapat penting, mendadak, dan tidak jelas. Mereka bahkan berkeringat meski AC di kamar Nao menyala.
"Kau membawanya kan, Neil?" Tanya Nao.
Neil tersenyum badai. "Tentu saja! Mereka bilang, ini ampuh! Ini langka, aku cukup sulit mendapatkannya!"
"Hei, Yudha tidak akan menyukainya!" Sela Sai.
"Di masa depan, dia akan berterima kasih pada kita." Kata Neil.
"Bukan hanya akan, tapi harus berterima kasih pada kita!" Kata Nao.
"Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti." Tanya Alvin.
Nao lalu merangkul bahu Alvin. "Hei bung, kita membicarakan hadiah untuk ulang tahun Yudha."
Dan mereka semua tersenyum setan kecuali Alvin. Walau Alvin tak begitu mengerti maksud ke tiga temannya itu sih.
Hadiah? Kado? Untuk Yudha?
Benar, beberapa menit lagi, Yudha ulang tahun.
Setidaknya Alvin sudah menyiapkan kata untuk menyelamati Yudha, saudara tirinya.
__ADS_1