MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Rasa Apa Ini?


__ADS_3

Melody membuka matanya perlahan, sedikit berat dan kepalanya sangat pusing. Seperti ada batu yang menghantam kepalanya. Bahkan ketika ia bangkit dari tidurnya, sakit itu berasa nyut-nyutan hingga membuatnya memijit kepalanya.


Setelah merasa baikan, ia lalu melihat ke sekelilingnya. Kamar masih rapi, tidak ada baju atau sampah berserakan di sana sini. Tidak seperti dulu, setelah menikah dengan Yudha; ia menjadi sangat rajin. Maklum, suaminya itu adalah maniak kerapian dan kebersihan.


Ia tidak enak dengan Yudha, meski Yudha tidak menuntutnya untuk merapikan kamar juga sih.


Bukan masalah bukan jika ia setingkat lebih rajin?


Itu kebaikkan! Tapi lihatlah dirinya saat ini! Apakah semuanya nampak rapi seperti ruangan kamarnya?


Tidak juga, yang tidak rapi sekarang ini hanyalah dirinya sendiri. Maksudnya? Ya dirinya, tubuhnya, keadaan fisiknya!


Melody kembali memijit kepalanya. Mencoba mengingat kejadian yang baru terjadi. Ini bukan mimpi di pagi hari. Nyatanya ia memang sadar betul apa yang sudah terjadi dengan dirinya.


Untuk menambah keyakinannya, ia lalu membuka selimutnya sedikit, mengintip tubuh indahnya yang tanpa benang itu. Benar, kan? Sudah ia duga, yang tadi itu memang nyata. Nyata terjadi.


Yudha menyentuhnya!


.


.


.


Melody mengedarkan pandangannya ke samping ranjangnya, tidak ada. Yudha tidak ada! Entah kenapa rasa kesal mulai membanjiri isi kepalanya.


Di saat seperti ini, Yudha menghilang? Sungguh, saat ini juga ia ingin sekali berteriak. Tapi sayang, suaranya sudah serak karena permain tadi yang.. err.. itu.. ano.. tahu sendirilah, rasanya Melody enggan mengatakannya.


Biarlah kamar dan seisinya menjadi saksi ketika ia bercinta dengan Yudha.


Kurang ajar!


.


.


.


Melody mengambil handuk piyamanya yang ada di sampingnya. Memakainya dengan gusar. Ia lalu bangkit dari ranjangnya. Baru menapakkan satu langkah kaki, rasa nyeri menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia meringis merasakan perih luar biasa. Ia yakin, cara jalannya kali ini sungguh sangat aneh.


Sial! Ia mengumpat dalam hati ketika mengingat bagaimana Yudha melakukannya tadi. Begitu menggebu-gebu.


Ini sungguh keterlaluan!


Bahkan, ia lupa rasa sakit karena terpeleset tadi. Sudah sembuh mungkin? Tidak, tidak mungkin! Hanya saja, ada sakit lain yang jauh lebih sakit.


.


.

__ADS_1


.


Melody berjalan tertatih-tatih menuju meja riasnya. Di sana nampak sebuah cermin besar. Ia lalu melihat dirinya yang ada di pantulan cermin besar itu.


Satu kata tepat untuk mewakili kesimpulannya, brantakkan! Sangat berantakkan!


Rambutnya bagai singa jarang rebonding. Jangankan rebonding, disisir saja mungkin tidak pernah.


Melody paham betul, ia baru mandi, mandi keramas, belum sisiran, lalu tanpa ia duga, tanpa ia sangka, ia akan berakhir keringetan dengan Yudha.


Ia harus merapikan rambutnya!


Melody menoleh ke atas meja riasnya. Mencari sisir plastik warna pink kesukaannya. Ketika ia sedang mencari sisir kesukaannya itu, ia melihat selembar kertas di atas meja riasnya.


Selembar kertas itu ditindih pulpen. Ia mengambil selembar kertas itu. Rupanya ada tulisannya. Ada tinta hitam pesan di atas lembar putih itu.


Melody membacanya dalam hati.


.............................................................................................


“Aku ke kantor, ada meeting.” – Yudha


.............................................................................................


Wreegggg.


“Apa-apaan bocah itu, hah? Setelah melakukan itu padaku lalu menghilang begitu saja?” Melody kesal.


“Aku ke kantor, ada meeting.” Melody menirukan gaya bicara Yudha dengan nada sok baritone ala Yudha.“YUDHA BRENGSEKK! Oh Tuhan, aku tidak pernah merasa sekesal ini dalam hidupku. Yudha Bangkek! Sial! Sial! Sial! Sial!”


Ia ingin memukul Yudha. Memukulnya sampai ke luar angkasa. Ia ingin melempar Yudha sampai ke dasar samudra. Ia ingin menghembaskan Yudha sampai ke EXO planet. Ia ingin menendang Yudha sampai ke gawang Chelsea Fc. Ia ingin, ia ingin menginjak wajah Yudha yang tampan itu.


Namun..


Namun hatinya ingin ia percaya jika itu tidak mungkin.


Tidak ada kekuatan manusia yang mampu melakukan itu.


Melody mengacak-acak rambutnya, ia menoleh ke cermin besar miliknya. Semua sudah terjadi. Itu mutlak, tidak bisa terbantahkan. Ia menghela nafas panjang. Jauh lebih panjang dari biasanya. Berharap jika rasa kesalnya menguap seiring hembusan nafasnya yang keluar.


Di sana, di dalam cermin itu adalah dirinya. Kazehaya Melody. 21,6 tahun. Menikah. Cantik. Baik. Tidak perawan. Lupakan deskripsi terakhir. Itu hanyalah ungkapan kejujuran dasar hati Melody saja. Ya, itu benar adanya. Bukan narsis loh ya.


.


.


.


Melody menyisir rambutnya perlahan. Cukup gembel. Sial! Jangan sampai karena rambutnya susah disisir, ia kalap lalu memukul cermin riasnya.

__ADS_1


Melody melihat dirinya yang ada di dalam pantulan cermin. Apa benar jika dirinya itu cantik? Jika dibandingkan dengan Yura, jelas ia kalah. Kalah telak malahan.


Yura itu memiliki wajah nan ayu.


Loh, tidak tahu kenapa, jika ia membuat jangka penilaian soal kecantikkan, maka yang keluar dari otaknya adalah sosok model terkenal Amamiya Yura.


Ini tidak ada hubungannya dengan Yudha, kan? Ia ingin sekali meng-iya-kan, tapi sebenarnya, ia tahu Yura juga karena Yudha. Rumit juga jika dijelaskan.


Melody menyentuh pipinya, ahh, tiba-tiba ia teringat bagaimana tangan Yudha membelai pipinya. Menyibakkan rambutnya, lalu ia menyentuh bibirnya, di situ Yudha mendaratkan kecupan yang tak terhitung jumlahnya.


Sudah berapa kali ia berpautan bibir dengan Yudha?


Panas.


😖


Pipi Melody memerah. Malu. Ia malau sekali. Jantungnya bahkan kembali berdegup sangat kencang.


Dalam cermin, Melody melihat banyak bekas memerah di leher putihnya. Jejak petualangan Yudha tadi. Uuuh, ia ingin menyembunyikan dirinya dimanapun untuk menutupi betapa malunya ia saat ini.


Astaga, perasaan apa ini?


Dengan gerakkan lembut, Melody menyibakkan handuk piyamanya dari bahunya. Memperlihatkan setengah dada dan bahu indahnya.


Noda jejak petualangan Yudha juga terlukis di sana. Terlukis abstrak tanpa bentuk yang jelas namun jika lama terpandangi akan nampak indah. Paduan warna merah, merah muda, merah tua, kebiruan, legam juga ada.


Ia menyentuh satu dari jejak petualangan Yudha itu.


“Aw, perih.” Sakit dan perih. Itu adalah rasanya. “Yudha mengerikan..”


Melody ingat dengan jelas bagaimana cara Yudha melukiskan jejak petualangannya. Ia ingat bagaimana ia berteriak, merintih, mengaduh, meminta untuk dilepaskan, dan bahakan saat ia me..me.. mendesah penuh kenikmatan.


Lagi, pipinya semakin memanas saja.


😖


Ia memegangi dadanya. Ia paham. Yudha memiliki perasaan pada Yura, Yudha terlibat isu skandal perselingkuhan dengan Yura, ia merasa sakit karenanya. Dadanya bahkan begitu nyeri karenanya.


Namun kali ini dadanya juga nyeri, nyeri bukan sakit lebih tepatnya. Bagaimana bisa? Nyeri identik dengan luka dan kesakitan, bukan? Ya, itu betul. Tapi nyeri yang Melody saat ini rasakan adalah nyeri yang indah.


Nyeri yang indah?


Loh bagaimana itu punya maksud?


Hm, seperti sedang diserang jutaan kupu-kupu di bawah indahnya bunga Melody musim semi.


“Apa ini? Rasa apa ini? Tidak! Mungkin aku saja yang tidak tepat mengartikannya." Melody ingin menepisnya.


"Yudha setelah semua ini terjadi, apa yang sebaiknya aku lakukan?”

__ADS_1


__ADS_2