
Yudha 'bertengkar' dengan Melody. Bukan bertengkar akan hubungan mereka, tapi membicarakan soal Alvin. Ini sudah berlangsung beberapa kali terhitung sejak keluar dari kamar inap Alvin dan sekembalinya Yudha dari menemui Sai dan Yura. Mereka masih tetap bertengkar ketika bertemu.
"Mel, aku lelah, aku capek. Mau istirahat. Kau jangan berisik!" Yudha 'mapan' di sofa panjang yang ada di kamar inap milik Melody.
"Yudha! Kita belum selesai, hei..." Rengek Melody yang tak terima karena suaminya yang tampan itu pura-pura tidur agar dirinya menyudahi pembicaraan soal Alvin.
"Alvin sudah sadar, dia bisa bicara, apa lagi sih? Bodo lah, aku mau tidur. Selamat tidur, Sayang..
Love you." Yudha memejamkan matanya.
"MESKI SUDAH SADAR TAPI ALVIN SEKARAT!" Teriak Melody. "Usianya bahkan sudah tak lama lagi. Dokter tak bisa berbuat apa. Alvin hanya bisa mengandalkanmu." Tambahnya.
"..."
"Yudh.. apa kau tak kasihan dengan Alvin?"
"..."
"Dia melakukan segalanya untukmu, tapi kenapa kau seperti ini?"
"..."
"Alvin bahkan tak menginginkan apapun darimu dan kakek, dia melakukan apapun untukmu, demi kebaikanmu."
"..."
Merasa terus diabaikan Yudha, Melody memegang lembut lengan Yudha. Ia menangis. "Jika dia meninggal sungguhan, apa kau tidak akan menyesal setelah apa yang dia lakukan selama ini untukmu?"
Namun ya, Yudha tetap mengabaikan Melody. Tetap memejamkan matanya dan enggan menanggapi omongan Melody.
Sesungguhnya, bukan seperti itu. Otak Yudha juga dipenuhi bayang-bayang soal omongan Melody dan ingatannya tadi ketika ia berkunjung ke kamarnya Alvin.
Tadi Yudha mendengar soal Alvin sadar dari koma, surat wasiat Alvin, dan penyakit mematikan Alvin yang sudah lama menggerogoti tubuh Alvin.
.
.
.
FLASHBACK ON
"Saya Kazehaya Alvin dengan sadar dan tanpa paksaan menyerahkan semua harta saya kepada adik saya, Kazehaya Yudha, yang meliputi, saham 17,5% Emperor Group, saham 50% Kazehaya Internasional Hospital, 2 Villa di Kanto dan Shizuoka, serta restoran dan caffe di kawasan Tokyo. Wasiat ini murni dari saya dan saya tidak mengizinkan siapapun menganggu gugat keputusan saya dan tidak membiarkan siapapun menyalah gunakan surat wasiat ini."
Pengacara Alvin menyudahi membaca isi surat yang ditulis oleh Alvin tadi.
"Tuan Alvin, apa ada yang ingin Anda tambahi?" Tanya pengacara.
"Saya hanya berpesan untuk dimakamkan dekat ayah saya, Kazehaya Yoga. Sebelumnya saya sudah minta izin kepada kakek saya dan beliau sudah menyetujuinya." Jawab Alvin.
"Baiklah. Semua sudah sesuai keinginan Anda. Jika memang sudah clear, silahkan Anda bertanda tangan di bawah ini dan berikan stample khusus milik Anda."
Alvin pun menandatangani surat wasiatnya dengan perasaan lega dan bahagia. Setelah selesai, Pengacara itu keluar dari kamar Alvin. Ketika keluar dari kamar Alvin, Yudha dan Melody sedang ada di depan pintu.
Yudha dan Melody mematung karena tak sengaja mendengar apa yang diomongkan oleh Alvin dan pengacaranya. Di situ juga nampak Daisuke yang tak bisa berbuat banyak meski sebenarnya ia mata-matanya Yudha.
"Alvin-senpai, apa yang sebenarnya terjadi? Tidak bisakah kau menjelaskannya kepada kami? Maksudku, kepada Yudha terutama?" Tanya Melody yang masih duduk di kursi roda.
"Melody? Konichiwa, sudah lama tidak bertemu... Ku dengar dari Daisuke, kau sudah melahirkan? Selamat ya... syukurlah semuanya baik-baik saja. Maaf, aku tak bisa menyelamatkanmu waktu itu. Maaf juga, ibuku sangat jahat kepadamu." Kata Alvin.
"Senpai! Jangan mengalihkan pembicaraan! Tolong jawab saja apa yang sebenarnya terjadi! Kenapa bisa seperti ini? Sebenarnya apa yang kau rencanakan?"
__ADS_1
Melody terus mengoceh dan Yudha sendiri memilih untuk tetap diam. Bergeming dalam traveling otaknya.
Alvin menatap kedua teman sekaligus saudaranya itu. Ia malah tersenyum.
"Karena sudah ketangkap basah, ya sudah, sudah tidak bisa disembunyikan lagi... Sesuai yang kalian dengar, aku sekarat dan aku mewariskan semua yang aku miliki untuk Yudha."
"Tapi kenapa? Bukankah Senpai ini operasinya sukses? Harusnya Senpai bisa pulih, kan?" Melody yang dulu sangat dingin karena Alvin menempatkan Yudha dalam bahaya kini tak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya. Ia selalu yakin jika Alvin itu masihlah sosok seniornya yang baik hati.
"Tentu saja operasinya sukses dengan baik. Dr. Ryusei temanku sangat ahli dalam bedah." Kata Alvin.
"Lalu kenapa kau bilang ingin dimakamkan dekat ayah Yoga? Kau sekarat bagaimana?"
"Aku mengidap kanker darah stadium akhir." Senyum Alvin.
Deg.
Melody dan Yudha membeku seketika. Kanker darah? Leukimia? Alvin? Bagaimana bisa? Sejak kapan? Kenapa tidak tahu? Kenapa tidak ada yang memberitahu?
"Se-senpai..." Melody menutup mulutnya. Tak terasa air matanya mengalir. Ia pun menoleh ke atas, menatap ke arah Yudha yang menatap tajam Alvin. Ia meraih tangan Yudha. "Yudha..."
"Daisuke, tolong antarkan Melody kembali ke kamarnya!" Ucap Yudha.
"Baik, Yudha-sama." Daisuke pun membawa Melody kembali ke kamar. Meninggalkan dua saudara seayah ini.
Sepeninggal Melody dan Daisuke, suasana kamar Alvin terasa sepi. Hanya saja, Alvin tak berhenti menyembunyikan senyumannya.
"Apa kau akan selalu seperti itu? Tersenyum seperti orang idiot karena berhasil membuatku tak tahu apa-apa?" Tanya Yudha yang berusaha mengendalikan amarahnya.
"Aku harus melindungimu dari orang-orang jahat itu." Jawab Alvin.
"Tidak masuk akal!" Bentak Yudha. "Kau.. sejak kapan kau sakit?"
"Mungkin sudah lama, tapi parahnya sejak sebulan sebelum kakek kecelakaan dan koma."
"Bukankah kau menginginkan kejujuranku?"
"Daisuke sialan!"
"Jangan salahkan dia. Aku yang memintanya tidak melaporkan keadaanku kepadamu."
"Jadi kau tahu juga jika Daisuke orang suruhanku?"
"Kau pikir aku sebodoh itu?"
"Jadi kau mengiraku bodoh?"
"Aku tidak bilang. Kau yang mengakuinya."
"Kenapa kau memberikan semua hartamu untukku?"
"Biar kau menang. Kau kan sangat suka kemenangan, makanya aku akan mewujudkannya."
"Sialan! Kau justru membuatku kalah telak! ... Apa kakek dan nenek tahu soal ini?"
"Ya. Mereka tahu sejak awal."
Yudha menggertakan jemarinya. "Kalian pasti membuat kesepakatan."
Mungkin memang sudah tak ada alasan lagi untuk merahasiakan semuanya dari Yudha. Toh Alvin merasa akan segera mati. Maka dari itu, sebaiknya ia sudahi saja semua.
"Kau paling tahu sifat asli kakek bagaimana. Benar, aku dan beliau membuat kesepakatan... Kakek dan nenek tahu jika aku akan mati dalam waktu dekat. Aku pun menawarkan diri untuk melindungi keluarga kita, keluarga Kazehaya... Surat wasiat ayah, isinya menyerahkan semua kepemilikan Emperor Group kepadamu. Aku tak perlu mengambilnya di Bank Swiss pun, aku sudah tahu isinya. Aku tidak mendapatkan harta dari ayah karena ayah sudah memilihku di sisa hayatnya...." Alvin mulai bercerita.
__ADS_1
"..." Yudha mendengarkan.
"Aku tak berminat juga soal itu, aku merasa menang karena ayah bersamaku sampai akhir... Aku tahu siapa pembunuh ayah, maka dari itu, aku bekerja sama dengan kakek untuk menangkap orang itu. Memancing mereka keluar dari sarangnya dan menyingkirkan mereka dengan secepatnya tanpa melibatkanmu, tanpa membahayakanmu... Kakek tidak ingin kau terluka, dia memintaku tak boleh melibatkanmu apapun yang terjadi. Aku pun berusaha mendorongmu menjauh dari bahaya, termasuk menyingkirkanmu dari Emperor Group."
"..."
"Setelah kakek kecelakaan, aku mulai goyah, aku takut jika keluarga kita terancam bahaya. Kakek adalah pondasi yang kuat, kehilangan figur kakek membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan semuanya. Namun, aku tahu, kau pasti akan memberontak dengan segala keputusanku. Akhirnya, mau tidak mau kau pun ikut terlibat dan tentulah membawa Melody ikut serta... Aku bisa mengendalikan perasaanku kepada Melody, tapi aku tak bisa membuatnya terluka karena rencanaku..."
"Makanya kau menukarku dengan Melody saat di Chiba?"
"Ya... kurasa kau pun tak mempermasalahkannya. Karena saat itu, itulah keputusan terbaik agar Tuan Han tak mengincar Melody... Aku akui semua rencana tak bisa sesuai yang aku inginkan, kau dan Melody bukanlah bidak atau pion yang bisa aku kendalikan semauku. Kalian punya otak untuk berpikir, kalian bergerak dengan kemauan kalian... Harusnya, ketika aku berhasil meyakinkan Tuan Han jika aku ini adalah anak kandungnya, aku berhasil kerja sama dengan Kyoto Contruction, membuat kerja sama dengan keuntungan sebesar-besarnya bagi Emperor Group, mengakuisi Kyoto Contruction setelah membuatnya pailit, aku akan menendang bokong Tuan Han di akhir. Lalu setelah aku menjadi penguasa Emperor Group, aku akan menyerahkan tahtaku kepadamu dan mati dengan tenang.. tapi gagal."
"..."
"Jika kakek tidak koma, harusnya aku dan kakek berjuang bersama dalam melindungi keluarga kita. Harusnya kakek pura-pura menjadi musuhku, aku sok berkuasa di depan kakek karena mendapat dukungan dari petinggi Emperor Group dan Tuan Han. Aku sok di pihak Tuan Han dan menghancurkan Tuan Han dari dalam. Tapi gagal... Kakek mendapatkan serangan kejutan karena ibuku ternyata lebih berambisi dari yang aku kira. Ibuku lebih tamak dari yang aku duga... Hanya nenek yang mengulurkan bantuan selama ini, hanya nenek yang membantuku diam-diam. Hanya nenek yang bisa mendengar keluh kesah ku. Hanya nenek yang memelukku saat leukimia ini menggerogotiku..."
"..."
"Rencanaku memang gagal total... Semua tak sekeren bayanganku waktu itu. Padahal aku berniat mati dengan kerennya... Sialan... Gagal! Gagal! Gagal!"
"..."
Alvin benci ini, tapi berulang kali ia mengucapkan kata gagal dari mulutnya.
"Rencanaku gagal total. Paman Orion dan Ayah Azumane lebih keren dari yang aku duga. Apa lagi pergerakan Melody dan teman-teman kita. Mereka di luar jangkauanku. Atau malah.. aku yakin jika mereka semua bergerak sesuai keinginanmu... Apa aku benar-benar menang? Atau aku kalah dengan konyolnya?" Alvin tertawa.
"Jangan tertawa, jahitanmu bisa kembali terbuka!"
"Aku senang, kau rupanya masih perhatian kepadaku. Arigato..."
"Aku tidak perhatian kepadamu!"
"Apa ini simpati?"
"Aku tidak bersimpati sedikit pun terhadapmu!"
"Hmm, soudesu ka?" Alvin nampak kecewa.
"..."
"..."
Mereka terdiam. Berkutat dengan pikirannya.
"..."
"Nah Yudha... jika aku mati nanti, tolong jangan halangi jasadku yang ingin dikubur di samping ayah. Tenang saja, aku tidak akan menghantuimu karena Melody tak bisa aku miliki."
"Lalukan sesukamu, i don't even care anymore! Semua sialan, semua egois... menganggap diriku sebagai pangeran yang tak punya kekuatan!" Yudha lantas meninggalkan kamar inap milik Alvin.
FLASHBACK OFF
.
.
.
NORMAL TIME...
Yudha masih sibuk dalam pikirannya sendiri. Ia membisu akan tangisan Melody, ia tetap memejamkan matanya.
__ADS_1
"Selama beberapa bulan terakhir, perubahan fisik Alvin begitu nyata. Aku harusnya menyadari ada yang tak beres dengannya. Tidak mungkin hanya karena tekanan kerja Emperor Group saja... Kau sempat membahas dengan Daisuke, Alvin mengonsumsi banyak obat-obatan. Aku kira waktu itu hanya vitamin saja, rupanya tidak sesederhana itu... Sialan, ini jauh lebih rumit dari yang aku kira... Lalu, dia sekarat.... ya?" Batin Yudha.