MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Yudha Mencari Fakta 2


__ADS_3

Kini Yudha mulai gemetar. "Lalu, apa kakek terlibat dalam upaya pembunuhan itu?" Tanyanya penasaran.


"..." Aron harus mengatakan hal ini pada Tuan Mudanya, pada keponakan angkatnya.


"..."


"Wijaya-sama, beliau..."


"?" Yudha menatap penuh tanya dan sangat penasaran. Rasanya tak sabar hingga ingin memukul siapa saja yang lewat saat ini.


"..."


"Paman Aron, aku mohon jujurlah padaku! Ceritakan apapun yang kau ketahui padaku. Bohong juga tak masalah, setidaknya ada klu yang bisa aku konfirmasi kebenarannya!"


Sefrustasi inikah Yudha?


Anak laki-laki yang Aron 'momong' sejak dulu, sejak kecil ini bisa seperti ini. Yudha sudah mencapai titik jenuh maksimalnya. Selama ini yang ia tahu, Yudha sama sekali tidak pernah mengeluh tentang apa yang terjadi padanya. Mengalami beberapa kali percobaan pembunuhanpun tidak pernah mengeluh juga.


Pernah sampai koma 3 hari karena parahnya luka, juga tidak mengeluh atau merengek bagaimana. Ia ingat, ketika Yudha sadar, dia malah tertawa agar ibunya tidak menangis dan berhenti bersedih. Padahal waktu itu, Yudha masih SMA.


"Saya akan memberitahu Anda apapun yang saya ketahui... Wijaya-sama, ah Tuan Besar keluarga Kazehaya yang saya junjung nama baiknya ini, beliau memang orang yang meminta untuk menutup penyelidikan atas kasus meninggalnya ayah Anda, Kazehaya Yoga. Namun jika ditanya soal terlibat atau tidaknya, maka saya bisa bilang, terlibat iya, tidak ya tidak juga." Jawab Aron.


Yudha semakin bingung. Bahkan Aron bisa melihat raut wajah tak paham Yudha di depannya saat ini.


"Apa maksudnya itu, Paman? Aku sama sekali tidak mengerti!"


"Waktu kejadian itu, saya masih berusia sama seperti Anda. Ada hal-hal yang di luar jangkauan saya karena memang saya termasuk baru menjadi asisten dari Tuan Besar. Yang bisa saya katakan, Tuan Besar menjadi salah satu penyebab ayah Anda meninggal, tapi eksekusi lapangan bukan dilakukan oleh Beliau." Jelas Aron.


Yudha berasumsi.


Menurut Yudha, kakeknya itu adalah orang paling keren yang pernah ia temui di dunia ini. Yudha bahkan ingin menjadi seperti sang kakek. Tegas, berwibawa, dan tak takut pada siapapun. Hebatnya lagi, dalam permainan, kakeknya selalu menang. Ia bahkan tak pernah sekalipun menang dari sang kakek.


Alasan ini membuat Yudha memiliki keinginan untuk melampaui kakeknya, dan alasan ini juga yang ingin ia percayai jika kakeknya itu tidak mungkin membunuh anaknya sendiri-ayahnya-Kazehaya Yoga.


Dan benar kata Aron, kakeknya tidak membunuh ayahnya. Namun menjadi salah satu penyebab?


"Penyebab bagaimana, Paman?"


"Anda mengetahui kisah ayah Anda, ibu Anda, dan Kurenai-san?" Tanya Aron.


"Tidak secara rinci. Ibu mencintai ayah, ayah dan ibu Kurenai saling mencintai." Jawab Yudha.


"Jika saya bilang ayah Anda hanya mencintai ibu Anda, apa Anda akan percaya?"

__ADS_1


"I-itu tidak mungkin, paman! Cinta ayah ke ibu lebih seperti cinta kakak kepada adiknya."


Aron menggeleng. "Ayah Anda sangat mencintai ibu Anda dan ibu Anda tahu itu. Namun, ayah Anda memilih ibunya Alvin. Untuk alasannya saya kurang paham. Yang jelas hal itu membuat Tuan Besar murka... Hari di malam kecelakaan itu, Tuan Besar mengusir ayah Anda."


Jadi ini yang membuat kakeknya terlibat tapi tidak terlibat juga.


"Jika ayah tidak dibunuh oleh kakek, lalu siapa yang membunuh ayah? Apa ini ada hubungannya dengan semua bencana yang menimpa keluarga ini? Tak puas membunuh ayah, mereka mengincarku, kakek, bahkan Melody."


Aron memejamkan kedua matanya. "Musuh bebuyutan mendiang kakeknya Melody."


Yudha tidak tahu harus bagaiman menanggapi pernyataan dari Aron. Musuh bebuyutan kakeknya Melody? Bukankah Hadinata itu tidak hidup di jamannya saat ini? Beliau sudah lama meninggal? Kenapa bisa musuh bebuyutan kakeknya Melody mengincar keluarga Kazehaya? Bukankah yang mereka incar sudah ke alam baka?


"Sulit di nalar, Paman. Sulit! Otakku tak sampai di sana!" Kata Yudha. Ia bahkan sampai meninggikan suaranya. Betapa lucunya ini? Susah mencla-mencle panjang lebar, tapi tetap tidak masuk akal?


Prank yang gagal.


"Semua memang sulit dinalar, Yudha-sama. Namun semua memiliki benang merah. Tidak sederhana dan rumit pastinya. Ini tidak akan selesai ditulis dalam beberapa chapter. Yang jelas, musuh bebuyutkan Tuan Hadinata sudah meninggal, namun mereka memiliki penerus yang masih memiliki dendam itu." Kata Aron.


"Memang apa yang diperbuat oleh kakek Hadinata?" Tanya Yudha.


"Beliau menembak mati kepala pimpinan mereka." Jawab Aron.


Yudha kaget. Ia tak menyangka jika kakeknya Melody adalah orang yang berani, maksudnya pembunuh, ah, maksudnya berani berbuat ekstrim.


"Setelah pimpinan mereka mati, kerusakan dan kesimbangan dunia bawah menjadi kacau dimana pada akhirnya dunia bawah Jepang terpecah menjadi dua, Jepang Utara dan Jepang Selatan. Dikuasai oleh yakuza Fajar Keemasan dan yakuza Macan Selatan. Paman Anda, Orion-sama dan Uchiyama Azumane adalah penguasa barunya. Orang yang masih setia pada pemimpin dunia bawah Jepang yang dulu, masih memendam dendam dan akan terus menuntut balas atas kematian pimpinan mereka." Lanjut Aron.


"Jika saya dan Tuan Besar sudah tahu, maka kami pasti sudah memenggal kepalanya semenjak dahulu!"


"Ah benar juga. Maaf Paman, aku hanya terlalu antusias."


"Sifatmu yang seperti itu, agresif dalam bertindak, membuat Anda mudah diincar. Inovasi-inovasi yang Anda lakukan untuk memperbesar keluatan bisnis Emperor Group membuat mereka gerah. Daerah kekuasaan mereka menyempit. Belum lagi tekanan dari yakuza Fajar Keemasan dan yakuza Macan Selatan. Membuat mereka harus cari lahan baru untuk menyusun kekuatan."


Yudha langsung bangun dari duduknya.


"Yudha-sama, ada apa?" Tanya Aron.


"Jika mereka mencari lahan baru, tempat yang paling aman adalah... wilayah musuhnya!" Kata Yudha.


"Jadi menurut Anda, mereka hidup di tubuh Emperor Group?"


"Ya, mereka tinggal, tidur, dan makan dari hasil Emperor Group!"


Aron mulai sadar. Pemikiran Yudha masuk akal. Buat apa lari jauh-jauh jika sembunyi didekat macan lebih aman dan tidak ketahuan?

__ADS_1


"Tunggu, di Emperor Group memang banyak fraksi oposisi Tuan Besar. Terhitung semenjak mereka tahu jika cucu keluarga Kazehaya ada dua. Tak hanya itu, dalam dunia bisnis, kelicikkan itu sudah biasa terjadi. Tuan Besar sendiri sering mendapatkan penghianatan dari para petinggi Emperor Group. Sebagai contoh, Tuan Park dan Tuan Kang, mereka terang-terangan berkonfrontasi dengan Tuan Besar. Namun Tuan Besar tidak bisa mengeluarkan mereka secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Mereka memiliki basik dukungan fraksi yang besar di Emperor Group." Kata Aron.


"Paman, tahukah paman jika meskipun mereka sudah keluar dari Emperor Group, tapi masih ada yang ingin menguasai Emperor Group? Alvin pasti mati-matian bertahan menghadapi mereka."


"Saya ingin bertanya pada Anda, Yudha-sama... Anda mempercayai Alvin-sama?"


Bagi Yudha ini pertanyaan yang sulit untuk dijawab meski dalam hati kecilnya ia sudah tahu jawabannya. Hanya saja ada kemelut di sana.


"Aku tidak mempercayainya soal perasaannya pada Melody. Tapi aku mempercayainya jika dia akan melindungi Emperor Group."


"Jadi benar ya karma itu terulang.." Gumam Aron.


"Apa maksud, Paman?"


"Jika Anda ingin lingkar karma ini berakhir, maka Anda harus memutusnya! Jangan sampai ada korban lagi di generasi ini. Pertahankan Nona Melody dan rebut kembali Emperor Group!"


"Paman, Emeperor Group di tangan Alvin saat ini adalah keputusan yang tepat!"


"Saya tahu, tapi dia memiliki masanya dan itu tidak akan lama. Saat itu tiba, Anda harus siap menguasainya!"


"Alvin tidak selemah itu!"


"Banyak hal di luar pengetahuan Anda, Yudha-sama. Namun, ketidak tahuan itu baik untuk Anda saat ini."


Apa yang dirahasiakan dari dirinya? Soal Alvin? Apa yang Alvin sembunyikan? Kenapa Aron sampai bilang itu baik untuk dirinya? Yudha semakin pusing. Rasanya ingin menjedotkan kepalanya ke tembok saat ini.


"Karena ini Paman yang bilang, maka aku akan menahan diri untuk tidak mencari tahu apa itu." Kata Yudha.


Aron tersenyum. Meski ia hanya anak angkat keluarga Kazehaya yang merangkap sebagai asisten pribadi kakek Wijaya, tapi ia cukup bangga karena bisa membuat Yudha menurut padanya.


"Saya berdosa pada Tuan Besar karena saya mengatakan hal ini pada Anda, Yudha-sama... Paman Anda, kakak angkat saya, Orion-sama, dia sangat mencintai ibu Anda." Kata Aron.


Pamannya mencintai ibunya?


Yudha melebarkan kedua matanya. Bagaimana bisa? Bagaimana ini luput dari pandangannya? Kenapa ia sama sekali tidak tahu?


"Uso desu ne, Jii-san?" Kata Yudha.


Uso desu ne, Jii-san: Bohong kan, Paman?


"Tidak, Yudha-sama. Itu benar adanya. Orion-sama sudah mencintai ibu Anda sejak dulu sebelun ibu Anda dijodohkan dengan ayah Anda. Orion-sana mencintai ibu Anda sejak kecil. Saya tahu itu karena saya dibesarkan bersama dia. Anda bisa memastikannya sendiri pada ibu Anda mengenai hal ini."


Yudha kini semakin buntu, tidak tahu harus berkomentar apa lagi.

__ADS_1


Kisah ini sangat panjang. Terlalu panjang jika di tulis. Terlalu rumit, terlalu pusing untuk dibaca. Masalah banyak dan bertele-tele. Alur sangat lambat untuk mencari inti permasalahan. Namun, kisah yang super panjang ini membuat Yudha tahu hal yang selama ini tak ia ketahui. Membuatnya tahu banyak hal. Saat itu ia meyakinkan diri jika hidupnya memiliki kisahnya tersendiri. Kisah penuh warna dari Tuhan.


"Akan aku akhiri siklus karma ini! Soal misteri pembunuhan ayah, Emperor Group, dan Melody!" Batin Yudha.


__ADS_2