
Mia datang berkunjung ke mansion Kazehaya. Ia langsung diajak Melody ngobrol di kamar. Melody mencak-mencak kesal karena semenjak pulang dari Okinawa, Mia tidak pernah sekalipun menghubunginya. Begitu juga denga Ayumi.
Ya memang ia sudah kehilangan Hp, tapi setidaknya Mia bersedia datang berkunjung untuk menemuinya itu membuatnya senang. Ia butuh penjelasan soal sabotase minuman obat sialan itu.
Ia yakin seyakin-yakinnya jika Mia terlibat dalam rencana sabotase minuman obat perangsang yang membuat semuanya berubah.
"Sudah aku bilang kan, bagaimana caraku mengirimmu pesan singkat, telpon, dan juga e-mail kalau Hp saja kau tidak punya? Tidak mungkin aku menelpon Yudha, kan? Nomornya saja tidak punya. Dan lagi, aku kan sudah meminta maaf soal minuman itu, aku dan Ayumi diberi tahu saat Nao sudah menaruh obat itu ke dalam minuman kalian dan menyajikannya untuk kalian. Rencana itu bukan bagian dari kami, Jenong yang cantik!" Jelas Mia nyerocos.
Jadi Mia mencoba ngeles untuk menyelamatkan dirinya dan Ayumi. Padahal mereka jelas-jelas terlibat dalam sabotase minuman itu.
"Sudahlah." Kesal Melody yang memilih menyerah saja. Alibi Mia terlalu sempurna.
"Apa terjadi hal yang baik, hm?" Goda Mia.
Kedatangannya kali ini selain menjelaskan megenai sabotase minuman laknat itu, ia memang hanya ingin menggoda sahabatnya yang sudah resmi jadi milik Yudha itu.
Melody memerah padam. Terjadi hal menarik itu. Ahhh, mengingatnya saja sudah bikin banyak rasa. "..."
"Apa sikap diammu itu jawabannya? Jadi bagaimana rasanya? Enak tidak? Sakit tidak?"
Kepo Mia.
"Ra-rasanya apanya? Jangan yang aneh-aneh, Bebek!"
Apaan coba si Mia itu? Haruskah ia menjelaskan jika rasanya sakit, tapi lama-lama berubah jadi tidak?
"Nah loh, mukamu memerah. Hahahha. Yudha pasti hebat banget."
"Ya-yang benar saja, hentikan Mia-bebek panggang! Berhenti menggoda!"
"Ayolah, sedikit saja. Ne?"
"..."
"Ayolah Jenong, cerita! Share ke aku! Aku kan ingin belajar dari sahabatku tercinta! Hahhahaa."
"Belajar? Cih, kau ini. Menikahlah jika kau ingin tahu bagaimana rasanya!"
"Pacar saja tidak punya, bagaimana aku harus menikah? Jiiaah, bukannya jaman sekarang banyak yang sudah kayak gitu sebelum menikah ya?"
"Kau ini, hal seperti itu tidak patut dicontoh! Lakukan jika kau sudah dewasa dan menikah!Kalau kau sampai melakukannya sebelum kau menikah, aku tidak akan mau menjadi sahabatmu lagi! Jangan aneh-aneh, Mia! Kau tahu, selain itu, rasanya juga sangat sakit! Lebih baik kau tak usah melakukannya!" Opppss. Melody keceplosan.
__ADS_1
Melody menutup mulutnya dengan cepat.
"Hoo.. hoo. hoo. Begitukah? Sesakit apa memangnya, ne Melody-chwann?" Mia menyeringai.
Sahabatnya ini memang ratu kepo. Mana Mia suka sekali menggodanya ke arah sana. Tiba-tiba suasana menjadi panas.
"AAAARRGGGHHH, baiklah aku akan menceritakannya!" Kesal Melody.
Mia tersenyum senang. Habis ini ia pasti akan menceritakannya dengan Ayumi.
"Jadi bagaimana rasanya?" Tanya Mia. Ia lalu memangku janggutnya menggunakan kedua tangannya.
Tak lupa juga ia mengambil dan memakan kripik kentang yang Melody suguhkan kepadanya.
"Jadi sakitnya itu sangat-sangat sakit, apa lagi waktu pertamanya. Benar-benar sangat sakit! Sangat perih. Aku saja sampai menangis." Melody mencoba mengingatnya.
Sungguh, ia sungguh-sungguh berteriak dan menangis saat itu. Sakit dan sangat perih.
Mana Yudha bermain gila saat itu. Ia sampai hampir tak mengenal Yudha.
"Tapi aku pernah dengar, katanya setelah itu rasanya sangat enak."
"Sama saja, saat bangun di pagi harinya, badan semua rasanya sangat pegal, ngilu di sekujur tubuh. Terasa remuk. Sudah gitu, aku juga kesulitan berjalan kaki. Butuh beberapa hari agar tubuhku membaik." Melody yang polos menceritakan pengalamannya dengan gamblang.
Mia sampai ngeri. Apa memang sesakit itu?
"Yudha benar-benar memakanmu semalamannya ya? Hebat sekali dia bisa membuat Melodyku yang super ceria dan banyak energi ini sampai kecapekkan. Ckckck, obat dari Nao dkk memang mantap. Selamat! Jenong, akhirnya kau melepas 'keperawananmu' pada suamimu." Kata Mia. Ia lalu tersenyum genit.
Mia turut bahagia akan hal ini. Ini memang yang ia harapkan. Ini adalah kemajuan yang besar antara jalinan kisah Melody dan Yudha. Ini adalah awal baru ke jenjang tingkatan lebih dalam.
"Ciih. Tapi semua menjadi terasa berat untukku, Mia."
Suasana tiba-tiba menjadi melow.
Melody memandang plapon kamarnya.
Tatapan mata Yudha saat itu membuatnya merasa tidak nyaman. Ia ingat dengan jelas bagaiman tatapan Yudha saat mencoba menyatukan diri dengannya.
Tatapannya terlihat sendu. Membuat rasa mengganjal di hatinya
Meski sudah menghilangkan rasa canggung dengan Yudha, tapi rasa mengganjal itu tetap masih ada.
__ADS_1
"Kenapa lagi? Merasa jahat karena sudah merebut Yudha dari orang yang Yudha sukai?"
"..." Melody mengangguk.
"Itu terus yang kau pikirkan, Melody? Sudah aku bilang, kau itu sedang beruntung. Lagi pula Yudha menerimamu, jadi itu bukan salahmu. Dia bersikap baik padamu, dia bahkan terlihat fine-fine saja setelah kalian melakukan hubungan intim."
"..."
"Jika kau tetap begini, hubunganmu dengan Yudha tidak akan berkembang! Bagimana kalau kau hamil nanti? Kau masih akan sungkan dengan Yudha yang menghamilimu?"
"He-heii. HAMIL? YANG BENAR SAJA! BARU PERTAMA JUGA! Tidak mungkin terjadi!"
Hamil? Ayolah, Melody bahkan tidak pernah memikirkan hal sejauh ini.
Lagian ia dan Yudha baru sekali melakukannya. Itu terdengar tidak mungkin.
"Di dunia ini, apapun bisa terjadi kalau Tuhan sudah berkehendak!"
"Itu sih."
"Aku yakin, Yudha pasti menabur banyak bibit cinta di rahimmu! Usia Yudha adalah usia dimana hasrat masih menggebu-gebunya." Mia makin menjadi. Ini bocah kapan berhenti menggoda sih?
"Tidak! Please, hentikan pembicaraan seperti ini ya? Aku benar-benar tidak nyaman."
"Iya deh, maaf."
"Iya, aku maafin. Hmm, coba deh pie apel buatan ibu mertuaku! Ini enak banget loh." Tawar Melody. Ia harus mengembalikan mood Mia.
Mia mengambil pie apel itu dan memakannya dengan lahap. Enak. Pie apel itu sangat cocok di lidah. Sementara Melody memandanginya sambil meminum jus jambu biji kesukaannya.
Sembari makan, Mia ingin memastikan apa yang selalu ia ingin tanyakan kepada Melody. Ia perlu jawaban atas semua yang ada di benaknya
"Ne Melody."
"Hm?"
"Memang apa yang kau harapkan dari hubunganmu dengan Yudha setelah ini semua terjadi?"
Deg.
Melody terdiam akan pertanyaan Mia. Apa yang ia harapkan? Apa yang sungguh ia harapkan hari hubungannya dengan Yudha setelah ia dan Yudha melakukan hubungan suami-istri?
__ADS_1