MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Keadaan Yudha


__ADS_3

"Saat kamu menolong seseorang, bukan berarti kamu berhak atas dirinya. Begitu pun saat kamu menyelamatkan hidup seseorang, bukan berarti kamu memiliki hidupnya. Seseorang yang telah kamu tolong dan kamu selamatkan tetap memiliki hak penuh atas diri dan hidupnya sendiri. Kamu tak berhak mencampuri apa-apa. Karenanya, menolonglah dengan tulus dan ikhlas. Tanpa pamrih dan mengharapkan imbalan apa pun. Maka dengan sendirinya, buah kebaikan akan menghampiri dan membuat hari-hari yang kamu jalani menjadi lebih bahagia dan penuh arti."


Tsubaki Aoi paham akan hal ini. Tugasnya adalah menyelamatkan pasiennya semampu yang ia bisa tanpa mengharap imbalan, ah, faktanya ia mendapatkan uang setiap awal bulan karena pekerjaannya ini. Yang jelas bukan itu, bukan soal itu. Ini perasaannya di luar konteks pekerjaan yang ia geluti.


Ya, dirinya jatuh cinta pada Kazehaya Yudha.


Pasien tampan yang ia rawat selama ini telah berhasil menggoda hatinya yang selama ini belum pernah jatuh cinta. Ia sudah berulang kali memastikannya agar tak salah menilai, faktanya ia memang sungguh memiliki perasaan romantis pada laki-laki beristri ini.


"Aku dimana?" Tanya Yudha yang memang sudah sadar dari koma sementara. Ia masih merasakan nyeri luar biasa di kepalanya dan sekujur tubuhnya.


"Di ruang perawatan, Tuan. Kondisi Anda belum membaik, jangan bergerak terlalu banyak dan memaksakan diri! Saya baru saja menyuntikan pengurang rasa sakit, dalam beberapa waktu kemudian, nyeri hebat di kepala Anda akan berkurang." Jawab dr. Aoi.


"Ah. Kau siapa?" Tanya Yudha.


"Perkenalkan, nama saya Tsubaki Aoi. Saya dokter yang ditugaskan untuk merawat Anda." Jawab dr. Aoi.


"Tsubaki-sensei desu ka?"


"Dr. Aoi saja. Tsubaki-sensei terdengar terlalu formal."


Di Jepang, orang sufiks sensei adalah sufiks yang digunakan oleh orang-orang Jepang sebagai panggilan untuk orang yang dihormati karena posisinya. Biasanya yang mendapatkan gelar ini adalah seorang guru. Namun jika melihat pada arti kalimat dan sejarahnya, sensei belum tentu berarti guru namun dapat diartikan guru.


Seseorang tidak perlu menjadi guru untuk dipanggil sensei, karena kalimat sensei sendiri lebih bermakna penghormatan, hingga siapapun yang kita anggap memiliki keahlian dan kemampuan untuk membagikan keahliannya bisa kita panggil sensei. Di sini, Tsubaki Aoi mendapatkan imbuhan sensei meski dia seorang dokter.


"Baiklah, dr. Aoi... hm, apa aku boleh meminjam ponsel? Ada seseorang yang ingin aku hubungi." Tanya Yudha.


"Saya memiliki ponsel, Tuan. Namun maaf, kami yang bertugas merawat Anda dilarangþ meminjamkan ponsel atau alat komunikasi lain. Kami tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan dominasi orang-orang seperti mereka." Jawab dr. Aoi.


"Begitu ya..." Yudha nampak kecewa. Dalam hati ia sungguh sangat ingin menghubungi Melody saat ini.


"Ya."


Yudha mampu dengan baik mengingat semua hal yang sudah ia alami. Dirinya tak terkena drama amnesia tidak jelas karena benturan kepala yang sangat keras. Luka di kepalanga itu tidak main-main. Ia sendiri bisa merasakan sakitnya yang amat sangat. Ia bersyukur Tuhan tak mengujinya lebih berat lagi. Drama amnesia itu sangat berat dilalui. Apa lagi jika Melody tahu. Istri hamilnya itu pasti akan sangat menderita. Belum lagi dirinya sendiri, sumpah demi apa, ia tak mampu jika harus melupakan Melody.


"Maafkan saya.." Kata dr. Aoi.


"Tidak. Tidak apa-apa. Ano, bisa tinggalkan saya sendiri? Saya ingin beristirahat." Kata Yudha.

__ADS_1


"Ya, saya mengerti." dr. Aoi merapikan selimut Yudha dan memeriksa selang infus. "Saya pamit, jika ada apa-apa, Anda bisa memanggil perawat yang berjaga di depan kamar Anda." Tambahnya.


"Hn. Saya mengerti." dr. Aoi pergi meninggalkan kamar Yudha.


.


.


.


YUDHA'S POV


Sial, kepalaku masih sangat sakit. Obat pengurang rasa sakit belum berefek pada rasa sakit yang aku rasakan. Obat memang tak ada yang instan. Paling tidak butuh 15 menit untuk menerima efeknya.


Uhh..


Ini jauh lebih sakit dari kecelakaan yang aku terima dulu.


Tubuhku juga terasa masih sangat lemah.


Sudah berapa hari aku di sini? Sudah berapa hari aku tak sadarkan diri? Rasanya aku seperti sedang bermimpi yang panjang.


Apa yang terjadi padanya usai aku tinggalkan di motel waktu itu? Apa Nakamura-san berhasil menjemputnya dengan selamat dan membawanya kembali ke Tokyo?


Apa dia baik-baik saja? Bagaimana dengan kandungannya? Bagaimana dengan hari-harinya? Apa dia bisa menjalani hari dengan baik tanpaku? Apa dia menangis? Apa dia mimpi buruk?


Oh Tuhan..


Istriku itu sangat cengeng ketika pisah denganku. Tolong jaga dia! Tolong jangan biarkan dia bersedih karena diriku, karena memikirkanku.


Hanya membayangkan dia menangis saja rasanya sudah tak karuan. Wanita hamil seperti dirinya sangat mudah terpengaruh emosinya. Aku takut dia terlalu memikirkan masalah yang menimpa sehingga membuatnya stress dan mengganggu kesehatan dan janinnya.


Akkhh..


Sakit kepala sialan!


Sayang, kau harus hidup dengan baik! Aku baik-baik saja saat ini. Jangan menangis! Jangan bersedih! Aku janji, aku tak akan mati! Aku akan kembali dan membuktikan kepadamu jika aku ini bisa kembali dengan selamat. Kita bisa berkumpul lagi seperti biasanya... Aku ingin melihat dan menemanimu lahiran anak-anak kita nanti... Tolong jangan sakit! Tetap sehat dan kuat, demi anak-anak kita, dan juga demi diriku... Maaf, aku ini memang sangat egois. Aku memaksakan keinginanku padamu, pada Tuhan yang di atas sana.

__ADS_1


Dengan kondisiku yang seperti ini, mustahil bagiku untuk keluar dari tempat ini. Kakiku tidak mati rasa, tapi aku tahu, kakiku mungkin saja retak. Aku tak akan sanggup berjalan normal.


Ruangan ini aku yakini ini bukanlah ruang rawat dari sebuah rumah sakit. Desain terlalu tradisional khas Jepang masa lampau memberiku klu jika tempat ini pastilah milik orang yang menculikku. Siapa lagi jika bukan orang itu, Oyabun kota Kyoto dan ketua dari Kyoto Guardian. Matsuoka Han, Matsuoka Hanry, alias Tuan Han.


Dia menanamku di sini dengan penjagaan yang ketat. Kembali lagi, desain rumah tradisional ini meyakinkanku jika kemungkinan besar rumah ini adalah kediaman utama Tuan Han yang mana ini juga merupakan markas dari Kyoto Guardian.


Ah..


Kesempatan aku kabur dengan kemampuanku sendiri semakin sulit untuk dilakukan. Persentasenya sangat kecil. Namun jika aku tetap di sini pun, lama-lama aku juga pasti akan mati. Setelah aku tak dibutuhkan olehnya, aku pasti akan segera dimusnakan dari dunia ini.


Yakuza kejam berkedok malaikat penjaga seperti dirinya itu sangat kejam. Aku butuh bantuan dari luar.


Apa Melody meminta bantuan untuk menyelamatkanku?


Jika berbicara doal Melody, aku yakin dia akan mencari bantuan. Nao dan kawan-kawan ada di list paling atas. Beruntung saja sebelum ini aku dan mereka sudah membahas banya rencana jangka panjang akan kemungkinan penculikkanku dengan Shuhei. Aku bisa yakinkan diriku jika mereka pasti sedang bergerak mencariku.


Lalu, berbicara soal Shuhei, apa dia baik-baik saja? Aku pastikan sih tidak. Aku tak berharap banyak, tapi semoga tak lebih parah dariku.


Aku harap, dimanapun dia berada saat ini, dia masih hidup. Dia adalah tangan kananku yang sangat aku andalkan. Aku berhutang banyak padanya.


Apa saat ini sebaiknya aku hanya menunggu?


Cih, Tua Bangka itu pasti akan mengancamku atau Melody. Keinginannya sudah sangat jelas. Dia menginginkan sahamku untuk menguasai Emperor Group seutuhnya.


Ancamanan apa yang ingin dia buat?


END OF YUDHA'S POV


.


.


.


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x


_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x_x

__ADS_1


Maaf ya pendek... hari ketiga dikit-dikit demam. Merepotkan. Frescare yang warna merah ternyata panas ya dikulit. Hah.


__ADS_2