
Seorang dokter masuk ke dalam ruang inap milik Alvin. Ia memeriksa bagaimana keadaan Alvin saat ini.
"Semakin parah ya?" Tanya Alvin. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi doktet yang memeriksanya. Dokter itu adalah salah satu temannya sebagai sesama dokter.
"Alvin-san, Anda harus segera beristirahat total! Saya mohon, jangan paksakan diri Anda seperti ini lagi." Kata dokter yang menangani Alvin, sebut saja dokter Taka.
Thor, itu Taka One OK Rock ya? ... Author be like: 😆 I love you, Taka-chan!
"Ya aku akan beristirahat setelah menangkap paus." Kata Alvin.
Daisuke yang ada di ruangan itu menyadari jika Alvin dan Yudha itu memiliki banyak persamaan. Suka memakai istilah-istilah yang baginya itu ambigu. Baginya kadang membingungkan juga.
"Cih, sebagai temanmu di luar konteks dokter, aku harap masalahmu cepat usai dan kau harus menyayangi tubuhmu setelahnya!" Kata dokter Taka.
"Iya."
"Aku sudah menceritakan sebagian besar inti kondisimu pada Daisuke-san. Hasil pemeriksaan juga ada di tangannya. Kau bisa memeriksa sendiri dan menilai sendiri tentang kondisimu saat ini. Kalau aku yang bercerita, kau tidak akan percaya dan selalu menyepelekan." Kata dokter Taka.
"Kau memang teman yang baik... Aku terharu." Kata Alvin.
"Dasar... Ulurkan tanganmu, biar aku sendiri yang mengambil sample darahmu! Ada hal yang harus diperiksa lagi setelah kau menerima obat." Kata dokter Taka.
Alvin hanya pasrah ketika dokter Takan menusukkan jarum suntik ke lengannya untuk mengambil sampel darah. Rasanya seperti digigit semut merah ketika jarum suntik itu menembus kulitnya yang putih.
"Berikan aku resep penghilang rasa sakit sekarang juga, dokter Taka! Aku harus mengerjakan sesuatu!" Pinta Alvin.
"Tidak! Kau harus beristirahat, Tuan Alvin yang maha egois!" Tolak Taka.
Ini bocah benar-benar merepotkan. Sudah tahu tumbang seperti ini, tapi masih mau melakukan hal lain. Masih mau kelayapan. Jika terjadi apa-apa bagaimana nanti?
"Aku mohon..." Tatapan Alvin melembut.
Taka pun menjadi luluh. Ia mengenal baik Alvin. Meski tak tahu secara rinci, secara keseluruhan, namun ia cukup memahami dengan apa yang sedang Alvin alami. Berdiri di posisi Alvin saat ini pastilah sangat sulit.
"Untuk kali ini saja!" Kata Taka yang memilih untuk menuruti permintaan Alvin.
Alvin tersenyum. Temannya ini memang sangat pengertian. "Arigato, tomo yo."
Tomo: teman
Alvin melepas sendiri infus yang menancap di tangannya. Ia lalu memakai jas yang sudah Daisuke siapkan untuknya. Tentunya jas stelan lengkap atasan dan bawahan.
"Alvin-sama, Anda yakin akan seperti ini? Anda bisa istirahat terlebih dahulu." Kata Daisuke.
"Aku harus bergerak cepat, Daisuke. Waktunya sangat terbatas." Kata Alvin.
"Oh iya, tadi ibu Anda menelpon Anda dan menanyakan kabar Anda."
"Kau tidak bilang soal kondisiku padanya, kan?"
"Tidak, saya ingat pesan Anda."
__ADS_1
"Kerja bagus, terima kasih."
"Sama-sama, Alvin-sama."
Alvin adalah tipe anak yang tak bisa membuarkan ibunya sedih karena dirinya. Ia tak mau ibunya khawatir jika saat ini, ia sedang sakit, ia sedang tak baik-baik saja.
.
.
.
Other Side...
Yudha menghela nafas berkali-kali. Ia tahu jika ada campur tangan Alvin dalam penculikkan Melody, tapi ia juga tahu jika ada yang tidak beres mengenai pamannya, Orion dan juga neneknya.
Yudha mengerti jika saat ini Melody harus segera ditemukan, hanya saja ia justru menemukan fakta-fakta yang saling terikat dalam ikatan benang merah soal kisah masa lalu. Soal kisah pembunuhan ayahnya, Kazehaya Yoga.
Semuan bercampur aduk di dalam otaknya. Memadat dan menumpuk memenuhi kapasitaa otaknya. Memaksanya untuk berpikir keras dan menghabiskan banyak energi.
"Kenapa orang yang menculik Melody adalah orang-orang paman Orion? Lalu yang di Chiba adalah orang-orangnya Alvin. Jika Melody di tangan Alvin saat ini, itu masuk akal, nyatanya Alvin sama sekali tidak berulah padaku untuk sekedar menunjukkan kekhawatirannya atas penculikkan Melody. Namun jika Melody di tangan paman, kira-kira apa yang akan terjadi? Apa paman menginginkan sesuatu dariku?" Gumam Yudha.
Yudha kembali mengingat situasi yang keos malam pesta ulang tahun pernikahannya itu. Semua orang dalam aula pesta itu seperti rayap yang kehilangan rumahnya. Suara tembakkan membuat mereka belari menyelamatkan diri mereka masing-masing.
"Pengawasan sangat ketat, tapi ada yang berhianat. Lalu, snipper jarak jauh yang mengincarku itu ikut tim yang mana? Orangnya Alvin? Orangnya paman? Atau... orang lain? ... Tunggu, apa Alvin dan paman Orion memiliki ambisi untuk membunuhku?"
Yudha menggelengkan kepalanya. Ia ingin minta maaf karena baru saja memiliki pemikiran yang seperti ini. Ini sangat tidak sopan. Ia sadar akan hal itu. Sungguh keterlaluan mengingat banyak kisah manis yang terukir selama ini. Jika hanya karena satu masalah bisa membuat seseorang untuk mengakhiri nyawa lainnya, maka menurut Yudha itu tidak mungkin.
Yudha mengamati kotak pemberian dari Aron dengan seksama. Kotak yang sangat penting yang memerlukan keberanian besar untuk memilikinya. Bahkan nyawa pun harus ikhlas dipertaruhkan untuk menjaga benda berbahaya ini. Aron adalah orang yang hebat karena bisa menjaga amanah dengan sangat baik.
Pertanyaannya, bisakah ia melakukan seperti yang sudah Aron lakukan? Dapatkah ia amanah akan kotak ini? Bisakah ia menjaganya sampai akhir?
"Aku butuh seseorang yang bisa ke Swiss tanpa ada yang mencurigainya. Aku tak mungkin bisa, terlalu mencolok meski aku memakai penerbangan pribadi sekalipun. Shuhei apa lagi, orang bilang dia sudah seperti pedangku yang akan selalu ada kemanapun aku pergi. Sial... aku tak bisa berpikir jernih!"
Suara dering ponselnya berbunyi. Yudha langsung mengangkatnya.
"Ayo kita kumpul!" Kata Nao lewat telepon.
"Aku sibuk, ada yang harus aku urus jam 8 malam nanti." Kata Yudha.
"Jam 10 malam tak masalah. Aku akan mengirimu map alamatnya, datanglah jika kau ingin tahu lebih banyak lagi soal masa lalu yang mengikat keluargamu!"
"Bagaimana kau bisa tahu soal ini?" Tanya Yudha penasaran. Ia tak pernah membahas secara rinci mengenai kisah tragis masa lalunya.
"Aku memiliki mata untuk melihat, aku memiliki telinga untuk mendengar, aku memiliki kaki dan tangan untuk bergerak dan aku juga memiliki mulut untuk berbicara. Sedang otakku selalu penuh dengan pertanyaan yang membuatku haus untuk segera mengetahuinya." Jelas Nao.
Yudha tahu di balik kekonyolan Nao, Nao itu sangat cerdas terutama soal bisnis. Yudha banyak belajar juga dari Nao. Nao itu pewaris tunggal keluarga Namikaze, wajar saja jika kemampuan Nao istimewa.
"Baiklah, aku akan berusaha datang." Kata Yudha.
"Oke, aku akan menunggumu bersama yang lainnya." Kata Nao.
__ADS_1
Mereka berdua mengakhiri panggilan telepon mereka.
Yudha menatap layar ponselnya. Riwayat panggilan atas nama Nao ada di paling atas. Ia lalu tersenyum. Ia tidaklah sendiri, ada teman yang akan membantunya meski ia sama sekali tidak memintanya.
"Apa memang sebaiknya aku meminta bantuan kepada mereka?" Gumam Yudha.
.
.
.
Pukul tujuh malam, acara rapat virtual antara Alvin dengan para Komisaris Emperor Group dimulai.
"Menyuruh asisten pribadi untuk mengundir waktu meeting dengan kami itu sangat tidak sopan! Seorang CEO tak diperkenankan melakukan hal seperti ini!" Kata Pemegang Lencana Hearts.
Alvin membungkuk jauh melebihi 90 derajat. Ino tandanya ia merasa sangat bersalah.
"Maaf saja tidaklah cukup, wahai CEO Emperor Group! Saat ini, yang terpenting adalah kenapa kebijakan-kebijakan yang Anda buat akhir-akhir ini semakin tidak jelas? Bagaimana bisa Anda menolak proyek raksasa di Kyoto dan malah membeli pabrik tua tak berguna yang ada di Chiba?" Kata Pemegang Lencana Spade.
"Ada banyak mafia di sana, saya tak ingin terlibat dengan mereka yang ujung-ujungnya sangat merugikan Emperor Group di masa depan. Para ahli real estate di sana banyak bekerja sama dengan para mafia untuk membuat harga tanah menjadi naik dua sampai lima kalilipat dari harga aslinya. Harga yang sangat tidak masuk akal!" Tanggap Alvin.
"Namun Kyoto adalah tempat yang sangat strategis dimana kota penuh seni masa lalu ada di sana. Kota budaya dengan segala keindahan masa lalunya. Sampai saat ini, Emperor Group sama sekali belum bisa menembus pasar Kyoto. Tak ada satupun hotel atau mall yang berdiri di sana." Kata Pemegang Lencana Diamond.
"Orang bilang, Emperor Group itu penguasa Jepang, namun kenapa hanya Kyoto yang sejak dulu tak bisa dijamah oleh Emperor Group? Sesuatu pasti melindungi tempat itu." Kata Pemegsng Lencana Klub.
"Ada sosok besar di sana dan saya tak mau berurusan dengannya. " Kata Alvin.
Yudha tak bergeming. "Sosok besar? Guardian?" Tanyanya yang mencoba mengingat-ingat soal Kyoto.
Penculikkan Aron!
"CEO Alvin, ambil proyek yang ada di Kyoto!" Kata Koordinat Komisaris Emperor Group alias Yudha.
Alvin masih berusaha menolak, tapi pembicaraan itu semakin alot seiring bertambahnya waktu. Akhirnya, Alvin menerima perintah dari sang Koordinat Komisaris Emperor Group.
Dan klik, layar 32 inchi di depan Alvin mati, menyisakan Alvin sendirian di ruang itu."
"Komisaris Emperor Group menurutku harus dimusnahkan di masa depan. Mereka membatasi gerak-gerikku padahal aku sudah bekerja mati-matian untuk perusahaan ini." Geram Alvin.
Tok.. tok.. tok...
Daisuke masuk ke dalam ruangan itu setelah mendapatkan izin dari Alvin.
Maaf saya telah mengganggu Anda. Maafkan saya, Alvin-sama."
"Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" Tanya Alvin.
"Tuan Park dan Tuan Kang bebas." Jawab Daisuke.
Alvin melebarkan kedua bola batanya. "Impossible!
__ADS_1
Alvin sampai menggebrak mejanya dengan apa yang baru saja ia dengar. Tuan Park dan Tuan Kang bebas? Jeratan kasus korupsi puluhan milyar itu sangat berat tuntutannya. Apa ini muncul pemain baru? Siapa yang menebus mereka dari sel tahanan?