
“Kau menikahiku, kau membelikan ini itu padaku. kau juga memberiku banyak uang. Aku untung banyak, kan? Apa yang aku harapkan dari pernikahan ini Yudha? Kau sudah memberiku banyak hal. Apa yang bisa aku tuntut lebih darimu? Apa aku memiliki hak itu? Pertanyaan bodohnya, aku ini siapa bagimu? Orang baru dalam hidupmu.”
“Kau adalah istriku!”
Eh?
Melody terperanjat. Memang benar, ia adalah istri Yudha. Sebenarnya apa yang ingin ia sampaikan pada Yudha sih? Ada hal yang begitu menjerat bibirnya. Membuatnya menjadi berat untuk berucap.
“Iya juga. Tapi aku bahkan belum memberikan apapun padamu. Yang aku lakukan hanya terlibat kejadian tak terduga dengan kakekmu.”
Kata Melody.
“Masalah itu, aku bahkan tidak tahu bagaimana cara membalasnya.”
Jujur saja, ini memang isi hati Yudha. Melody adalah penyelamat kakeknya. Jika tidak ada Melody malam itu, entah apa yang terjadi pada kakeknya.
“Aku tidak mengharapkan apa-apa soal itu, Yudha. Manusia memiliki jiwa kemanusian masing-masing.”
"Yang jelas, aku sangat berterima kasih padamu. Terima kasih sudah menyelamatkan kakek." Kata Yudha tulus.
"Ehm, sama-sama."
“Soal di Okinawa dan di rumahmu, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Padahal kita berjanji tidak akan melakukannya. Gomen na, Melody.”
Suara Yudha terdengar serius, bukan menggoda seperti biasanya. Bukan waktunya bercanda rupanya. Yudha serius ingin membahas banyak hal dengannya.
“Kau tahu Yudha, rasanya saaakkkkiitttttt sekali."
"Ma-maaf.."
"Yang sakit itu di sini.” Melody memegang dadanya.
"..." Yudha terlihat serius mendengarkan penuturan Melody.
“Sesak, sakit, sulit nafas. Sebelumnya aku sudah memikirkannya, kau dan keluargamu memberiku banyak hal, terutama materi. Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, apa yang bisa aku berikan untuk keluargamu. Untuk dirimu terutama. Aku pikir, aku hanya perlu siap jika kau menginginkan diriku. Menginginkan tubuhku.”
“Kau membuatku terlihat seperti orang jahat, Melody! Aku tidak sebejat itu! Jangan berpikir seolah kau menjual tubuhmu padaku, Melody! Kita menikah sah. Meski melakukan dengan cara seperti itu, tapi ketahuilah, aku tak menyesal melakukannya denganmu. Bukan karena pengaruh obat, tapi ada sisi lain yang tak menyesalinya.”
Yudha tidak menyesalinya? Seperti ada terpaan angin surga membelai hatinya.
Tapi, ada sisi lain yang memberontak.
“Apa kau sungguh tak menyesal karena menyetubuhi wanita yang tidak kau cintai? Jangan berbohong lagi, Yudha. Ini akan sangat menyakitkan untukku.” Batin Melody.
Melody ingin menepisnya. Tapi sisi yang memberontak itu selalu saja mampu memperdayai dirinya.
__ADS_1
“Itu pengalaman pertamaku, Yudha!”
“Aku juga.”
Wajah mereka berdua memerah.
Mereka tahu, sama-sama tahu jika itu adalah pengalaman pertama mereka. Awal yang kaku meski berhasil juga.
“...”
“...”
Suara jangkrik samar-samar terdengar. Ngengat mulai terbang mengitar lampu. Malam semakin mendingin.
“Aku berteman dengan Yura sejak sekolah dasar. Dia siswi pindahan di sekolahku dulu. Dia awalnya sangat pendiam. Dia yatim, sama sepertiku. Ibunya meninggal di hari ulang tahunnya.”
Yudha akhirnya membuka suara tentang Yura. Ini yang Melody inginkan. Ini yang ia tunggu-tunggu. Tapi lagi, kenapa menyakitkan juga di dadanya? Mendengar nama Yura keluar dari bibir Yudha sungguh menyesakkan.
“Dan dia sangat cantik di matamu. Dia bahkan memiliki masa lalu yang menyedihkan. Pasti sangat berat hidupnya. Yudha selalu di sampingnya rupanya. Pantas saja. Aku tak perlu meragukan bagaimana dekatnya mereka. Mereka memang sangat dekat. Setelah aku muncul di hidup Yudha, semua menjadi berbeda. Apa ini semua salahku?”
Melody menikmati marsmellow bakarnya sambil mendengarkan Yudha bercerita. Melody pikir, Yudha tidak akan membahas Yura. Rupanya dibahas juga. Meski ia ingin, tapi entahlah. Nyesek saja rasanya. Bagaimana ia harus menyikapinya? Ia bahkan tidak tahu apa-apa soal hidup Yudha dan kisahnya dengan Yura.
Kenapa hati dan pikirannya menjadi sangat membingungkan? Melody tak paham itu kenapa. Jika menyangkut masalah Yura, semua menjadi rumit.
“Aku, Yura, dan Sai selalu bersama semenjak saat itu. Hanya saja Sai memutuskan untuk mengerjar karir seninya.”
“Ya, mayat hidup itu juga bagian dari kisah kami. Yura sangat mengaguminya. Terang saja, dia memang sangat hebat. Masih muda, tapi bakat seninya luar biasa. Dia pelukis jenius.”
Ada yang tidak enak untuk didengar, membahas soal Sai dan Yura membuat kalut saja suasana hatinya Yudha. Yudha sadar kok, dari dulu ia memang tidak pernah bisa mengalahkan sosok Sai yang serba sempurna itu. Dalam akademik saja ia harus mati-matian mengalahkan Sai. Ia hanya menang tipis, dan yang lain adalah seri. Kalau masalah seni, sudah pasti ia kalah telak.
Yudha menggambar gunung dengan modal dua segitiga dijejerkan.
“Hmm, jadi selama Miura-san belajar di luar negeri, Yudha yang menjaga Yura? Kau memang laki-laki yang baik ya..“ Melody tersenyum aneh.
“Aku tak sebaik itu.” Sanggah Yudha.
"Tapi Yudha baik kok.."
“Jika aku baik, harusnya aku bisa melakukan banyak hal. Nyatanya aku stuck di tempat. Aku tak bisa apa-apa. Benar, aku hanyalah patung penjaga sepertinya. Baka desu ne?”
Batin Yudha.
Baka desu ne?: Bodoh ya aku?
“Yudha memiliki banyak penyesalan. Pernikahan ini termasuk penyesalanmu ya? Gomen ne Yudha, aku tak bisa berbuat banyak soal ini. “ Batin Melody.
__ADS_1
Mereka saling terdiam. Berkutik dengan pikirannya sendiri-sendiri. Melody melirik ke arah Yudha. Tampang itu lagi. Apa Yudha begitu menyukai Yura?
“Hmm, jadi apa hobi Yudha?”
“Kenapa tiba-tiba bertanya seperti ini?”
“Jawab saja!”
“Hm, membaca?”
“Dasar maniak buku. Kau ini suka sekali ya membaca? Bahkan sampai memiliki perpust pribadi di rumah. Bukunya tebal-tebal lagi. Aku kira novel, ternyata tentang bisnis semua. Pantas saja pelajaran di kampus sudah khatam.”
“Kau menyindir atau memujiku sih?”
“Aku memujimu!”
“Memangnya ada yang salah dengan hobiku?”
“Ya tidak sih. Itu bagus buatmu, kau menjadi memiliki banyak pengetahuan dan bisa jadi guru lesku. Heheheh.”
"Bagaimana dengan hobimu?”
Yudha tanya balik.
“Hmm, aku suka bekerja. Bekerja sambilan waktu aku kuliah itu sangat menyenangkan, ya walau yang terakhir itu aku dipecat. Sering telat juga sih."
"Dasar.."
"Kalau aku bekerja, rasanya aku bisa melupakan masalahku. Aku bisa berjumpa dengan banyak orang. Kita bahkan berjumpa di cafe tempatku bekerja waktu itu. Tak terbayang akan menjadi sepanjang ini. Kita bahkan sampai menikah.”
“Kau dipecat juga gara-gara aku, kan?” Yudha ingat karena terburu-buru ke rumah sakit karena berita sang kakek, ia tak sempat meminta maaf pada Melody.
“Kau menyenggolku dan pergi begitu saja, minuman yang aku bawa mengenai pengunjung. Dia marah padaku karena baju mahalnya ketumpahan minuman. Saat itu aku tahu, perbedaan kasta memang begitu terlihat.”
Melody nostalgia dengan kejadian itu. Ia ingat betul bagaimana wanita itu menghina derajatnya sebagai orang miskin.
“Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan penghinaan seperti itu lagi!” Artikan ini sebagai janji Yudha.
Yudha selalu seperti itu. Walau ngeselin, tapi pria yang ia nikahi ini pemilik hati yang baik.
“Arigatou, Yudha. Aku tak ingin munafik, aku akui, menikah denganmu membuat kehidupanku layaknya Cinderella. Apa-apa yang biasanya bisa aku kerjakan sendiri, kini ada yang mengerjakannya.”
“Tuhan menyayangimu, Melody. “ Kata Yudha.
"Begitukah?"
__ADS_1
Yudha menatap Melody. Ia lalu tersenyum. Istrinya itu wanita yang tangguh dan mandiri. Ia tahu Melody itu berbeda. Melody itu kuat.
“Mungkin juga Tuhan sedang mengujimu, masuk di keluarga Kazehaya adalah ujian berat. Kau terlibat ke dunia dimana kau adalah orang awam di dalamnya. Akan banyak drama yang menunggu. Gomen.”