MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Berita Heboh Lagi


__ADS_3

Melody berlari dengan sangat cepatnya menembus banyaknya orang yang ada di lorong kantor kepolisian Tokyo. Tak peduli banyaknya wartawan yang mencoba menghadangnya dengan cercaan pertanyaan dan sorot kamera. Suara wartawan yang berjibun itu serasa angin lalu di telinganya. Masa bodoh, ada yang jauh lebih penting dari itu. Ia harus segera menemui suaminya, Kazehaya Yudha.


Panik, kesal, marah, dan khawatir serta sedih. Ia bahkan menangis sesegukkan.


Setelah mengalami betapa sulitnya ia menembus kerumunan wartawan, nyatanya ia sama sekali tidak bisa menemui Yudha. Shuhei sudah menjelaskan kronologis kejadiannya. Yang ia tahu, saat ia sedang ada kuliah di kampus, tiba-tiba hp-nya berbunyi, Shuhei memberitahu jika Yudha dijemput paksa oleh polisi saat di kantor.


Bayangkan bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya sebagai seorang istri yang suaminya ditangkap polisi? Tentu saja syok dan kaget bukan main. Dalam hati bertanya, memang apa yang sudah suaminya itu lakukan? Bukankah suaminya itu orang baik? Ya-walau menyebalkan dan suka meledeknya, tapi Melody yakin jika Yudha itu adalah orang baik.


Mendapat tuduhan yang tidak masuk akal itu sangat keterlaluan!


Yudha mencoba membunuh Amamiya Yura?


YANG BENAR SAJA!


SEKALI LAGI YANG BENAR SAJA!


APA KALIAN SUDAH GILA?


Semenit..


Lima menit..


Sepuluh menit..


Setengah jam berlalu..


Yudha masih belum keluar dari ruang introgasi. Perasaannya menjadi kalut dan tak karuan. Apa yang terjadi pada Yudha saat ini? Apa polisi menggunakan kekerasan untuk mengintrogasi Yudha? Apa mereka akan memukul Yudha jika Yudha tidak menjawabnya? Banyak praduga yang ia bayangkan. Maklum saja, korban nonton anime yang tidak bisa memahami batas antara khayal dan kenyataan.


“Shuhei-san..”


“Nona, sabar. Tidak apa-apa..” Sudah berkali-kali Shuhei mencoba menenangkan Nona Mudanya itu.


Melody kembali ke posisi duduknya di lorong tunggu depan ruang introgasi. Ia menghentak-hentakan kakinya beberapa kali. Tuk, tak, tuk, tak. Ia menggerakkan jari telunjuknya beberapa kali juga. Geser kesana, geser kemari, mengeliat ke kanan, ke kiri. Menengok ke arah ruang introgasi.


Gusar. Ya ia gusar. Kenapa lama sekali?


Kapan usai?


Kapan selesai?


Kapan berhenti?


“Nona, percayalah pada Yudha-sama. Semua akan baik-baik saja! Tenanglah!”


“Tapi, Shuhei-san.. Yudha.. polisi..” Melody kembali menangis.

__ADS_1


Sudah satu jam, kenapa Yudha belum juga keluar dari ruangan misterius itu?


Melody kembali mencoba bersabar untuk menunggu. Hingga akhirnya sang ibu dan mertuanya datang. Nampak juga Aron, maklum saja kakek Wijaya sedang ada perjalanan bisnis ke Autralia bersama nenek Chiyo. Tidak bisa datang, dan Aron juga belum memberitahu bagaimana keadaan Yudha saat ini. Terlalu mendadak dan membuat semuanya kacau.


Suasana yang kalut itu terasa berlarut - larut. Melody di peluk oleh ibunya, kadang ibu Mikan juga gantian melakukannya. Mencoba menenangkan sang anak. Ini bukan masalah sepele. Cukup pelik jika merasa hal ini seperti tidak mungkin terjadi atau bahkan tidak pernah sekalipun terbesit di angan.


Yudha keluar dari ruangan ‘neraka’ itu dengan tampang yang sudah pasti sangat sulit di tebak. Yang jelas, Melody tahu jika Yudha terlihat sangat lelah. Belum lama pulang liburan dari Yokohama, ada meeting gila-gilaan, lembur pulang tengah malam, temu klien di luar kantor berkali-kali. Yudha itu manusia, bukan robot. Tentu saja rasa lelah itu dimilikinya, meski mungkin Yudha sendiri tak begitu merasakannya.


Yudha memang seperti itu, selalu mengabaikan kesehatannya. Membuat Melody cerewet menggila, menggerutu ringan sepanjang malam karena Yudha tiba-tiba minta pijit? Ya begitulah pasangan jaman now ini.


.


.


.


Keluar dari kantor polisi, Yudha merangkul Melody untuk melindunginya. Bodyguard keluarga Kazehaya juga melindungi anggota keluarga Kazehaya juga. Wartawan masih saja ngeyel. Lontaran pertanyaan bak jamur di musim hujan. Mencerca, memaksa, dan mendesak untuk dijawab. Wartawanpun bisa lebih menyakitkan dari pada bibir emak-emak lambe turah tukang gosip. Wajar sih, maklum saja holang terkenal dan holang kaya yang selalu dibuntuti paparazi.


.


.


.


Kediaman Kazehaya, pukul 20.00 WIB..


Ia memberikan secangkir susu hangat pada Melody. Melody terlihat kurang sehat hari ini. Membuat Yudha khawatir padanya.


“Mana mungkin Yudha melakukan tindakan keji seperti itu! Apalagi pada Amamiya-san! Orang yang berarti dalam hidup Yudha! Paparazi bodoh, gila, kurang ajar, kurang kerjaan!” Melody terlihat sangat kesal.


Setelah gosip perselingkuhan yang bahkan belum usai itu, kini nambah hal gila lagi. Dugaan percobaan pembunuhan? Dunia pasti sudah tidak waras.


“Minum dulu susu hangatnya!” Kata Yudha.


Melody meminumnya dengan sangat cepat, sempat terbatuk karena rada panas dan terburu-buru.


“Semua masih dugaan saja. Jika penyelidikannya usai dan terbukti aku tidak bersalah, maka semua akan berlalu, Melody. Aku hanya harus wajib lapor saja saat ini.”


Yudha ingin Melody tenang.


“Dan menjadi tahanan kota! Gila aja itu polisi, kau belum terbukti bersalah, tapi sudah mengecapmu seperti seorang tersangka!”


Kesal Melody.


“Kalau kau sedang kesal, kau terlihat lucu. Kalau kau terlihat lucu, maka aku ingin tersenyum. Tidak apa-apa, semua akan membaik.” Yudha tersenyum.

__ADS_1


Yudha menyelimuti tubuh Melody. Ia lalu ikut rebahan di samping Melody. Tidak ada suara yang terlontar di antara keduanya. Masih terlalu dini untuk memejamkan mata dan pergi tidur. Badan sudah sangat lelah, mata sudah terpejam, tapi otak enggan istirahat. Masih ingin bekerja. Memutar semua kilas balik dari rentetan kisah yang sedang terjadi. 5W+1H muncul di kepala.


Mereka tiduran saling membelakangi. Sudah biasa, memang ini gaya tidur mereka.


“Belum bisa tidur. Cih, aku memang tak bisa tinggal diam begitu saja! Setelah membuat kekhawatiran Melody mereda, aku harus segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."


Yudha merasa gusar.


"Apa kau baik-baik saja Yura? Apa lukamu parah? Aku bahkan belum sempat menjengukmu. Jika kau kenapa-kenapa, aku sungguh tak bisa memaafkan diriku.”


Melody menoleh ke arah Yudha yang membelakanginya. Punggung Yudha terlihat dingin dan begitu jauh untuk diraih. Terlihat kokoh, meski nyatanya tak seperti itu.


“Mana mungkin kau melakukannya, kan?"


Melody masih menatap punggung Yudha.


"Yudha tidak memiliki motif apapun pada Amamiya-san. Aku yakin itu hanya kecelakaan biasa. Yang ada, justru Yudha ingin melindungi Amamiya-san kalau bisa. Andai aku tak muncul dalam hidupnya, Yudha pasti ingin bersama Amamiya-san."


Melody mencengkram selimutnya.


"Kenapa Amamiya-san bisa memakai mobilmu, Yudha? Kenapa pagi-pagi buta? Kenapa hari kemarin kau tidak pulang ke rumah? Bisakah aku mempercayainya jika itu adalah lembur kerja? Kenapa, kenapa kau tak bilang jika kau bersama Amamiya-san?”


Melody refleks memegang punggung Yudha. Apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan saat ini? Jika ia menyampaikan apa yang hatinya inginkan, mungkin hanya akan berakhir dengan pertengkaran. Bukankah ia ingin menenangkan Yudha dari segala masalah yang menimpa?


Kenapa begitu berat? Loh, kenapa ia justru menangis karenanya? Jemarinya mencengkram erat baju tidur Yudha. Ia gemetaran.


Yudha merasakan ada tangan yang memegang punggungnya. Ia meraih tangan itu. Gemetaran dan Hangat. Sangat hangat. Suhu badan Melody memang naik karena sedang kurang sehat. Yudha mengelus lembut tangan Melody. Ia mendengar isak tangis yang ditahan. Melody menangisinya?


Yudha lalu berbalik dan benar saja, air mata Melody sudah membanjiri pipi. Matanya begitu sembab. Yudha mengusap air mata Melody. Ia menyibakkan poni Melody. Astaga, dahi Melody sangat panas. Apa sakitnya bertambah parah?


Yudha lantas langsung memeluk Melody. Tubuh hangat Melody tersalur terasa di dalam pelukkannya.


“Besok kita ke rumah sakit.”


Kata Yudha.


“Untuk menjenguk Amamiya-san?”


Tanya Melody.


“Memeriksakan keadaanmu.”


“Kau khawatir padanya, kan? Jenguklah dia!”


“...”

__ADS_1


“Yudha?”


“Hn. Aku akan sekalian menjenguknya setelah memeriksakan dirimu.”


__ADS_2