MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Jarang Bertemu


__ADS_3

Yudha semakin sibuk dengan proyek kerja samanya dengan Azuma, ia bahkan sering lembur dan pulang larut malam. Pernah juga sampai tidak pulang.


Jika ia pulang, sampai di kamar Melody sudah tidur. Jika di pagi harinya, ia selalu bangun lebih awal dari pada Melody. Mereka hanya bertegur sapa saat di meja makan, itupun hanya seadanya.


Kakek Wijaya tidak suka ada suara saat makan. Jadi di ruang makan kebanyakan hanya diisi suara piring bertemu sendok dan garpu.


Semakin hari, Yudha semakin sibuk.


Melody tak mempermasalahkan hal itu, ia tahu betul bagaimana repotnya suaminya itu.


Suaminya itu sedang bekerja untuknya juga. Ia bahkan sampai merona saat Yudha bilang jika Yudha harus bekerja untuk menghidupi dirinya.


"Yudha bekerja untuk menghidupiku? Ya ampun, aku tidak pernah memikirkannya. Benar juga, tugas seorang suami memang seperti itu. Apa dia tidak terlalu memaksakan dirinya ya? Sepertinya dia menjadi lebih kurus." Kata Melody saat mengantarkan Yudha sampai di depan kantor.


"Yudha-sama memang selalu seperti itu, Nona Melody." Kata Shuhei.


"Tapi dia sampai kurus begitu, apa dia makan dengan baik saat di kantor? Apa dia istirahat dengan benar? Jagan-jangan dia terlalu banyak minum kopi? Bagaimana dengan vitamin? Suplemen kesehatan?"


Shuhei tersenyum. "Nona pasti sangat menghawatirkan Yudha-sama."


Melody memerah. Menghawatirkan Yudha? Ya, itu kan memang sudah sewajarnya, kan? Yudha kurusan, ia akan menjadi tidak tega untuk memukul Yudha saat ia menang lawan Yudha nanti.


Menang dari Yudha?


Rasanya tidak mungkin karena nyatanya ia selalu kalah. Tapi mungkin saja, kan? Mungkin saja suatu saat ia akan mendapatkan sebuah keajaiban. Yudha akan membuat batu, ia lalu mengeluarkan kertas.


"Shuhei-san, tolong perhatikan Yudha saat di kantor! Pastikan dia makan dengan baik ya.."


"Baik, Nona. Bisa kita berangkat sekarang?"


Melody mengangguk dan Shuhei menyalakan mesin mobilnya dan berangkat menuju kampus bersama Melody.


.


.


.


Di kampus, Melody menjalani kegiatan seperti biasa. Belajar, belajar, dan belajar. Rasanya ia harus segera menyingkirkan rasa malasnya setelah liburan musim panas beberapa waktu yang lalu.


Sebentar lagi Yudha akan wisuda, ia harus berusaha keras agar bisa wusuda tepat waktu. Masalah akuntansi yang menakutkan itu sudah teratasi berkat bantuan Ayane dan Yudha tentunya. Jika akuntansi yang menurutnya bagai mapel monster itu teratasi, maka semua akan berjalan lebih baik. Pada dasarnya Melody hanya takut pada akuntansi, sementara pelajaran yang lain cukup bagus. Rata-rata ataslah.


.


.


.


Usai belajar di kampus ia bertemu dengan Alvin. Seperti biasa, ia mengobrol dengan Alvin. Jujur saja, semenjak ia menikah dengan Yudha, rasa canggung pada Alvin amat terasa. Statusnya sebagai mantan kekasih dari Alvin membuatnya seperti itu. Apalagi, ia menikah dengan saudaranya Alvin sendiri. Rasa canggung itupun semakin besar.


Dan kini, yah, mungkin memang takdir dengan benang merah, Alvin justru menjadi kakak iparnya. Sungguh, ia merasa sangat bingung bagaimana ia harus menentukan sikap.


Mantan kekasih-kakak ipar.


Namun, nyatanya hanya ia saja yang merasa canggung. Alvin menyapanya seperti biasa. Melody tak menyangka jika saat ini ia bisa duduk bersama Alvin di gasebo kampus.


Berbicara seperti biasanya, tersenyum seperti biasanya. Apa Alvin yang berusaha menghilangkan rasa canggung itu?


Sepertinya.

__ADS_1


Alvin memang selalu bersikap baik padanya. Kadang-kadang, bahkan banyak, semua yang Alvin lakukan untuknya adalah yang terbaik untuknya. Lagi, Alvin selalu berbuat baik padanya. Selalu ada saat ia membutuhkan pertolongan. Semua kebaikan Alvin selalu membuatnya kesulitan mengartikannya. Apa itu perasaan masih cinta ataukah perasaan seorang sahabat.


Satu pastinya, Melody cukup tahu diri siapakah dirinya sekarang. Ia paham betul bagaimana statusnya saat ini. Ia adalah seorang istri. Memang tak terbesit jika ia akan memiliki hubungan romantis dengan Yudha, tapi ia tidak akan melukai keluarga Kazehaya yang sudah berjasa dalam ekonomi keluarganya. Baginya itu yang terpenting.


Memikirkan kisah romantis hanya membuatnya semakin pusing saja.


Benar, rupanya ia hanya harus bersikap biasa saja. Kisahnya dengan Alvin sudah usai dan berakhir baik-baik. Maka, saat inipun ia juga harus bersikap biasa saja layaknya teman-sahabat seperti biasa.


Alvin adalah kakak iparnya. Ia hanya harus bersikap layaknya adik ipar yang baik.


"Sudah diacc?" Tanya Melody.


Alvin mengangguk.


"Waah, selamat Alvin-senpai, akhirnya jadi wisuda september! Dokter muda kah?"


"Masih ada jenjang profesi lanjutan. Tapi setelah ini, aku akan magang di rumah sakit pemberian Yudha."


"Begitukah, enak ya.. Aku masih lama. Setahun lebih mungkin. Alvin-senpai dan Yudha sebentar lagi akan wisuda. Kampus akan kehilangan pangerannya."


"Kau merasa kesepian?"


"Ya begitulah. Yang tersisa hanya aku dan Mia bebek panggang. Senpai juga akan magang, Yudha semakin sibuk dengan urusan kantor. Ibu dan nenek berencana ke Jerman untuk menemui kakek Izuna, adik ipar kakek Wijaya setelah kalian wisuda. Rumah akan sepi. Kakek Wijaya saja jarang pulang. Dia bahkan memiliki kamar tidur di ruangan kerjanya. Haaahhh. Tidak hanya sepi, tapi juga membosankan!"


"Sepulang kuliah kau bisa ke rumah sakit untuk bermain dengan anak-anak di sana." Tawar Alvin.


Melody tertarik. "Benarkah? Apa boleh?"


"Kau istri Yudha, cucu pemilik Kazehaya Group yang menaungi rumah sakit itu, sudah pasti kau bebas berkunjung ke sana. Bermain dengan anak-anak yang sedang sakit bisa membantu menghibur mereka. Kau juga tidak akan pernah bosan nantinya."


"Terdengar menyenangkan. Aku pasti akan ke sana jika Yudha mengijinkanku."


"Hm, begitulah. Aku memang harus melakukannya."


"Harus? Disuruh Yudha?"


Melody kini bahkan sudah sangat bergantung pada Yudha. Padahala yang Alvin tahu, Melody asalah sosok wanita yang mandiri, yang suka mengerjakan apapun sendirian.


Melody menggeleng. "Aku hanya merasa harus."


"Anu itu..."


"Hm? Apa?"


"Pernikahanmu dengan Yudha baik-baik saja, kan?"


"Baik-baik saja. Seperti biasa. Kenapa?" Melody tidak ingin membahas hal ini dengan Alvin.


"Tidak apa-apa. Syukurlah kalau begitu."


Mereka berlanjut ke pembicaraan normal. Membahas berbagai macam topik pembicaraan. Hingga akhirnya Yudha datang bersama Yura. Mereka berdua menghampiri Alvin dan Melody.


Dari kejauhan Yudha kembali diterpa perasaan yang tidak bisa dijelaskan saat ia melihat kebersamaan Alvin dengan Melody. Melody bisa tertawa lepas seperti saat di festival musim panas beberapa waktu yang lalu. Rasa yang tidak bisa dijelaskan itu cukup mengganggunya.


Tunggu, kenapa rasanya ia rada kesal seperti ini?


"Yudha? Amamiya-san konichiwa.." Kata Melody.


"Konichiwa, Melody-san.." Kata Yura.

__ADS_1


Konichiwa: Selamat siang.


"Tumben datang bersama?" Tanya Alvin. Ia merasa sedikit heran karena Yudha datang bersama Yura. Bukankah Yudha harusnya ada di kantor?


"Ah, aku nebeng dia. Aku tidak membawa mobil." Jawab Yudha.


Yudha ke kantor diantar oleh Melody dan Shuhei tadi pagi.


"Kebetulan tadi kami bertemu di meeting kantor. Biasa, urusan pekerjaan." Lanjut Yura.


"Hm, begitu ya?"


"Ya, seperti itu."


Yudha menjatuhkan pantatnya di samping Melody. "Kuliahmu sudah usai?" Tanya Yudha.


Melody mengangguk. "Iya. Yudha sendiri? Bukannya tidak ada jadwal? Lalu bagaimana dengan meetingnya?"


"Aku baru mengumpulkan skripsiku. Meeting sudah usai dari tadi."


Singkat, padat, dan jelas. Sampai-sampai Melody tidak tahu harus berucap apa lagi. Yudha mungkin lelah.


Kenapa rasanya suasana jadi berat. Alvin tetap tersenyum ramah, tapi seperti menahan sesuatu. Yura lebih suka diam saat berada di dekatnya Melody. Yudha? Yudha sama sekali tidak bisa dihandalkan jika menyangkut urusan membuat topik pembicaraan.


Melody enggan berlama-lama terjebak di suasana seperti ini.


"Anoo, aku baru ingat jika aku memiliki urusan saat ini. Baiklah, jaa. Sampai jumpa lagi lain waktu." Melody melenggang pergi.


Tapi tangan Yudha menyautnya. "Mau kemana, kau?" Tanyanya.


"Aku.. aku ma-mau menemui Mia. Iya, aku mau menemui dia untuk mengerjakan tugas bersama." Melody merutuki dirinya yang gagap.


Kenapa ia justru bersikap mencurigakan seperti ini? Membuat semua orang yang ada di situ melayangkan tatapan aneh kepada dirinya.


"Aku akan mengantarmu. Shuhei sedang konsultasi dengan dosen." Kata Yudha.


"Eh?"


Yudha bangkit dari duduknya dengan masih tetap menggandeng tangan Melody.


"Maaf Alvin, Yura. Aku dan Melody pergi duluan." Kata Yudha.


Yura hanya mengangguk.


Sementara Alvin tersenyum ramah khas. "Sampai bertemu di rumah. Hati-hati."


Setelah berpamitan, mereka berdua lalu berjalan menjauh menuju parkiran mobil. Alvin dan Yura hanya memandang dalam kebisuan. Memandang hampa dua tautan tangan itu yang tak terlepas meski mereka sudah berjalan begitu jauhnya.


"Mereka terlihat serasi, kan?" Kata Alvin.


"..."


"Bahkan tautan tangan mereka terlihat begitu kokoh seolah tidak bisa dipisahkan."


Yura memincingkan matanya. "Apa yang sedang berusaha kau sampaikan, Alvin?"


Apa Alvin sedang menyindirnya? Apa Alvin tahu jika ia berniat merebut kembali Yudha ke sisinya?


"Aku hanya akan bahagia jika kedua adikku itu bahagia." Alvin lalu tersenyum.

__ADS_1


Yura mengenal Alvin sudah sejak lama. Tapi ia tidak dekat dengan Alvin, bahkan tidak tahu apa-apa dengan laki-laki tampan ini. Yang ia tahu, Alvin adalah kerabat Yudha. Tapi tidak pernah ia sangka jika Alvin adalah kakak Yudha seayah. Ia tidak pernah tahu akan cerita itu. Yudha tidak pernah memberitahunya tentang kebenaran Alvin. Atau mungkin memang Yudha tidak berniat memberitahukannya. Apa Melody mengetahuinya? Apa Yudha yang memberitahukannya? Jika iya, maka ia sungguh merasa sangat kesal.


__ADS_2