MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah

MELODI CINTA: Tiba-Tiba Nikah
Permintaan Aron


__ADS_3

Masih di waktu yang sama.


"Kau sedang tidak mengadakan panggung komedi kan, Yudh?" Tanya Melody.


Mendengar jika kakek Wijaya lumpuh total sepeeti itu membuat hatinya tak menentu. Tubuhnya yang lemaspun ikutan gemetar.


Secara, kakek Wijaya adalah orang yang paling berjasa dalam hidup Melody. Orang yang mengubah nasibnya dengan sangat cepat, ya, meski semuanya atas izin dari Tuhan Yang Maha Kuasa juga. Hanya saja, kakek Wijayalah yang membuatnya menikah dengan Yudha dan memiliki kesempatan bahagia dengan cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Apa aku terlihat cukup jahat untuk mengatai kakekku sendiri lumpuh total?" Yudha balik tanya.


Melody tahu, Yudha tak akan sejahat itu. "Apa ada kemungkinan sembuh? Ne Yudh, aku tak tega melihat kakek yang sangat bersemangat kerja itu menjadi seperti ini. Kenapa kakek harus mengalami hal mengerikan ini?" Melody menangis.


Yudha mengusap air mata Melody. Ngilu juga melihat istri tercintanya itu menangis meski bukan menangis karena dirinya.


"Tuhan sangat menyayangi kakek dan hanya keajaiban dari-Nya saja yang bisa membuat kakek kembali ke sedia kala." Kata Yudha.


"Kakek yang malang..."


"Hn, kau benar. Bagiku, asal kakek masih bernafas, itu sudah membuatku bersyukur. Tentu saja aku menginginkan kakek sehat dan baik-baik saja, tapi aku tahu, itu hanyalah keinginan egoisku sebagai manusia biasa."


"Aku akan berdoa kepada Tuhan untuk meminta keajaiban untuk kakek. Tuhan tak pernah meninggalkan kita, aku yakin Tuhan pasti mendengarkan doaku. Kata orang, doa orang teraniaya akan cepat dikabulkan. Apa lagi aku saat ini sedang hamil, bukankah doa orang hamil juga mudah dikabulkan?" Kata Melody.


Yudha tersenyum tipis. "Aku juga akan berdua sembari tetap berusaha menyembuhkan lakek dengan bantuan medis."


"Pengen dipeluk.." Gumam Melody.


Yudha langsung memeluk Melody dengan hati-hati. Ada infus, sedang hamil, dalam posisi duduk yang tak begitu nyaman untuk pelukkan.


"Jangan bersedih ria, Mel! Kasihan nenek, sebaiknya bersikap biasa. Nenek meski terlihat kuat, tapi dalam hati, ia pasti juga rapuh." Kata Yudha.


"Iya. Aku juga pernah melihat nenek mengusap air mata ketika menunggu kakek sendirian. Saat itu aku sadar, ah, nenek sangat mencintai kakek. Romantisme kisah cinta sampai tua. Andai aku juga bisa nanti, pasti akan menyenangkan." Melody berandai-andai.


"Hei, kenapa mengandaikan diri? Aku siap menua bersamamu." Kata Yudha.


Melody tersipu malu. Ia lalu mencubit hidung mancung Yudha. "Jika itu yang kau katakan, setidaknya hati-hati dan jangan sampai mati cepat meninggalkanku sendiri!"


"Kau mengatakannya sambil tersenyum. Itu menyeramkan."


"Lha aku pikir aku ini akan bahagia selama-lamanya bersamamu setelah kisah Cinderella ini berakhir. Aku berkenalan denganmu, menikah denganmu, jalani masalah ulat genit denganmu, dan diakhiri dengan pengakuan perasaan kita masing-masing. The End. Selesai. Nyatanya tidak, masalah ulat genit itu hanyalah sebagian kecil dari ujian kehidupan. Saat ini, di depan kita, ujian kehidupan yang nyata jauh lebih besar sedang kita hadapi. Kita dituntut untuk lebih bekerja keras lagi." Melody tahu jika ujian kehidupan jauh lebih berat ketimbang ujian cinta.


Tidak sederhana.


Tidak kompleks.


Berat juga tentunya.


"Satu hal yang aku ketahui dari dirimu, Mel.."


"Apa?"


"Kau sudah bertambah dewasa.."


"Lah, aku kan sudah ber-KTP, tentulah aku sudah dewasa."


"Matang secara pikiran. Ya walau masih suka ngomel-ngomel juga sih."

__ADS_1


"Tarik sajalah pujianmu itu! Tidak guna!" Melosy cemberut.


"Yaelah... Seperti itu saja sewot."


."Yudha ngeselin deh.. Masih mood godain rasa sabarku. Jahat.." Melody mencoba memukul Yudha yang sedang duduk di samping kanannya.


Yudha menahan tangan Melody. "Sayang, aku mencintaimu."


"Mencintai apaan? Soyang, soyong saja bisamu."


"Kalau kau cerewet seperti itu, aku hukum kau!" Kata Yudha. Ia memegang janggut Melody.


"Hukum saja kalau kau berani sama ibu hamil!" Ece Melody.


Yudha menyeringai dan dengan cepat ia mencium bibir Melody. Melody tak bisa berbuat banyak. Tangan kirinya diinfus, sementara tangan kanannya ditahan tangan Yudha.


Melody kesulitan bernafas, tapi Yudha belum juga melepaskan ciumannya. Ia sudah berontak, tapi gagal. Akhirnya ia memilih untuk menggigit bibir Yudha.


"Aw, sakit, Mel!" Yudha melepaskan Melody dan memegangi bibir atasnya yang digigit Melody.


"Rasain! Salah sendiri kau seperti itu."


Yudha bangun dari duduknya. Melody menengadah untuk menatap Yudha. Yudha menghela nafas, Melody heran. Tak disangka, Yudha malah membungkukan badan dan menyesap leher Melody.


"Jika ingin melakukannya, pindah di kamar kalian saja! Membuat iri para single!" Kata Mikan yang tiba-tiba masuk tanpa disadari Melody dan Yudha.


Belum lagi, Shuhei, Ayanee, dan nenek Chiyo juga sudah kembali. Lalu, ada Aron yang duduk di kursi roda. Kursi roda itu di dorong oleh Shuhei.


Yudha menghentikan aksinya. Lalu bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Ya, bukankah ini bukanlah yang pertama kali kepergok saat sedang berduaan dengan Melody?


"Kawaii..." Lanjut Mikan.


"Kawaii janai!"


Kawaii janai: Tidak imut.


"Pasangan muda tetaplah akur ya, saling melindungi, jangan biarkan maut menghampiri kalian terlalu cepat!" Kata Nenek Chiyo.


"Ne-nenek..."


"Nenek, itu sangat menyeramkan!" Protes Yudha.


"Nenek ingin kalian bisa bersama dalam waktu yang lama. Nah, karena nenek ingin bermesraan dengan kakek kalian, maka kalian pergilah!" Kata Nenek Chiyo.


"Kami diusir, Nek?" Tanya Yudha.


"Nenek hanya ingin kalian juga istirahat. Bukankah hari ini cukup panjang? Ibu yang akan menemani nenek. Ayane akan mengantarkan Tsuchiya-san ke kamar di lantai enam belas. Yudha, kau dan Melody kan belum makan, kalian makanlah di tempat Aron-san." Kata Mikan.


Yudha menyetujuinya. "Ya sudahlah.."


"Mel, jika kau sudah makan dan infusmu sudah habis, segeralah istirahat ya?" Pinta Tsuchiya. Ia mengelus pundak sang putri dengan lembut.


Melody menyentuh tangan ibunya. "Iya ibu, aku akan segera istirahat. Tak perlu khawatir, aku baik-baik saja."


"Syukuralah.. Jangan jalan-jalan kelewat waktu lagi! Kau wanita hamil. Kondisimu sangat berbeda dari sebelum kau mengandung." Tsuchiya memberi wejangan.

__ADS_1


Melody mengangguk dan tersenyum. "Iya ibu, lain kali lebih hati-hati."


.


.


.


Time skip.


Kamar inap Aron...


Yudha baru saja usai makan sambil menyuapi Melody. Shuhei dan Aron mengobrol ringan. Aron memang sudah bisa bicara dengan baik, tapi luka di kakinya belum sembuh. Ia masih harus menggunakan kursi roda.


"Aron-san, kami sudah membawa harta karun milikmu yang kau timbun di bawah pohon akasia." Kata Melody. "Shuhei-san, tolong berikan harta karun itu pada Aron-san!" Pinta Melody.


Shuhei memberikannya pada Aron.


Aron menerimanya. Melihat peti kecil yang membahayakan dirinya dan kakek Wijaya, ia lantas memeluknya erat.


Bagi Yudha, Melody, dan Shuhei, mereka bertiga hanya menyangka jika harta karun milik Aron itu pastilah sangat berharga. Ada rasa penasaran ingin tahu apa isinya itu.


"Apakah itu foto mantanmu, Paman?" Tanya Yudha asal.


Aron tertawa pelan. "Tuan Muda kalau bercanda sangat manis."


"He? Ah, berarti memang itu benar." Kata Yudha.


"Jika sudah waktunya, akan saya beritahu isinya pada Anda, Yudha-sama. Namun, bukan saat ini. Semua berbeda dari prediksi awal." Kata Aron.


Bingung.


Tidak mengerti.


Namun paham, terutama Yudha. Ia sangat memahami bagaimana karakter Aron itu. Sosok yang sudah ia anggap seperti seorang ayah itu adalah orang yang bersumpah untuk setia pada kakenya, Kazehaya Wijaya. Aron pasti mengikuti permainan sang kakek.


"Meski aku sangat penasaran, aku tak akan memaksa untuk mengetahui apa isi harta karun milikmu itu, Paman." Kata Yudha.


"Tidak ada yang mengetahui soal harta karunku ini, kan? Selain kalian tentunya." Tanya Aron.


"Tenang saja, Aron-san. Hanya aku, Shuhei, dan Ayane-nee saja yang tahu. Tambah Yudha. Ibunya Yudha dan nenek Chiyo harusnya tidak tahu. Apalagi ibuku? Mereka tahunya kami jalan-jalan." Jawab Melody.


"Kami bisa lolos dari pandangan bodyguard rahasia Tuan Muda Yudha. Harusnya tak ada yang tahu." Kata Shuhei.


Ini yang membuat kesal. Shuhei memanglah sangat hebat dalam urusan seperti ini. Seperti yang diharapkan dari sosok yang cukup familier akan dunia bawah.


Sebenarnya apa yang dilakukan Shuhei sehingga bisa lolos dari pengawasan bodyguardnya?


Menyamar?


Bisa jadi.


"Apapun itu, saya mohon, kuncilah rapat-rapat bibir kalian tentang harta karun ini!" Pinta Aron.


"Ya, kami mengerti."

__ADS_1


__ADS_2