
DI LUAR itu bersalju. Sangat dingin. He Ze sebenarnya tidak suka terlalu dingin. Jadi Li Chang Su sedikit tidak senang dengan perlakuan Mu Xianzhai terhadap tupai itu.
Mu Xianzhai mendengus dan memikirkan alasan yang lebih logis, "Aku tidak suka bulunya yang rontok. Pasti dia memiliki banyak kutu."
"Mana mungkin ada kutu!" Li Chang Su mencibir, tidak percaya.
"Su'er, dia bahkan minum teh yang jelas tidak sehat untuk perutnya, biarkan saja seperti ini. Berada di luar sangat bagus untuk mencerna air teh di perutnya," dia akhirnya membuat Li Chang Su ingin memuntahkan darah mudanya.
"...."
Pria ini sungguh pandai untuk mencari alasan yang bagus dan menyangkalnya. Sementara tiga orang yang menyaksikan itu sedikit tersenyum. Pasangan suami istri yang baru sehari ini tampaknya akan lebih berwarna lagi di masa depan.
Mu Peizhi menyesap tehnya lagi setelah jantungnya merasa lebih santai, "Saudara ketiga, lain kali, tolong bawa tupai itu mengunjungi saudara pertama. Mungkin saja akan akur dengan kucing putih peliharaan saudara pertama."
"Itu tidak mungkin. He Ze memiliki banyak kutu. Lupakan saja," Mu Xianzhai tidak ingin membiarkan Li Chang Su untuk bertemu dengan pangeran pertama.
Bukan karena cemburu, tapi pangeran pertama itu memiliki aura yang bisa membuat seorang gadis ketakutan. Tidak heran bagi putra mahkota atau permaisuri untuk menyentuhnya. Keputusan kaisar bisa berubah kapan saja.
Bahkan jika pangeran pertama ingin menjadi kaisar, itu sangat mudah. Namun tidak pernah menginginkannya. Bukankah ini bagus untuk putra mahkota?
Setelah melakukan perawatan kecil untuk Mu Peizhi, gadis itu kembali ke halaman utama untuk melanjutkan tidur. Dan tiga pria di ruang kerja mulai berbicara banyak hal dengan topik penting.
Ketika keesokan harinya tiba, hujan salju sudah menyambut Negara Bingshui. Banyak orang-orang yang beraktivitas dengan pakaian tebal, pergi ke halaman belakang bukit untuk menggali beberapa tumbuhan liar yang bisa diolah.
Meski krisis ekonomi terus berlanjut, namun beberapa pangeran sudah mulai menyumbangkan sebagian dari hartanya. Setidaknya cukup untuk satu bulan terakhir musim dingin.
Li Chang Su telah menyelesaikan sarapan dan menerima sebuah surat dari Ye Shi. Dia ingin bertemu Ye Tianli lebih awal. Karena di hari-hari berikutnya, ada misi lain yang memungkinkan dia pergi cukup lama. Walaupun gadis itu enggan untuk mempertemukan keduanya, tapi mungkin Ye Tianli sudah menduga hal ini akan datang cepat atau lambat.
Setelah membersihkan diri, dia meminta Xuxu dan Xuyao untuk menyiapkan kereta dan makanan ringan. Lalu mencari Mu Xianzhai di ruang kerja. Sejak semalam, pria itu mungkin mengurus banyak hal tentang tentara di barak militernya. Dan dia telah menyiapkan banyak bahan pokok lagi untuk persediaan.
Melihat Li Chang Su datang, Mu Xianzhai meletakkan kuasnya.
__ADS_1
"Bangun sepagi ini. Apakah ada sesuatu?" Tanyanya.
"Hari ini aku akan pergi ke restoran terdekat. Ye Shi ingin bertemu Ye Tianli hari ini karena beberapa hal mendesak," kata gadis itu sedikit tidak bersemangat.
Mu Xianzhai mengerutkan kening di balik topengnya dan meminta gadis itu untuk duduk di pangkuan. Li Chang Su tidak mungkin mau. Dia bukan gadis yang manja untuk merayu suaminya yang berdarah dingin ini.
Pria itu mendengus dan menarik tangan kanannya hingga Li Chang Su hampir saja menabrak tubuh pria itu. Ia dengan cepat menggunakan tangan satunya lagi untuk bertumpu pada meja. Walaupun tidak jatuh, tapi sebagian rambut Li Chang Su yang tergerai pun menjuntai ke depan. Sehingga Mu Xianzhai bisa menghirup aroma shampo yang dipakainya.
"Mu Xianzhai, apakah yang kamu lakukan?" Gadis itu sedikit kesal dan mencoba untuk melepaskan pergelangan tangan kanannya yang dipegang.
"Kamu sangat cekatan," suara Mu Xianzhai sedikit dalam dan ada tatapan panas. Namun dengan cepat berlalu dan meraih pinggang rampingnya, membiarkan gadis itu duduk di pangkuannya.
Memeluk gadis ini, Mu Xianzhai merasa jika rasa lelahnya telah lama hilang, "Su'er ... Seberapa kuatnya kamu saat ini, bersikaplah manja di depanku."
Li Chang Su mengerucutkan bibirnya dan ingin bangkit. Namun Mu Xianzhai menahannya dengan kuat, "Biarkan aku pergi."
"Su'er juga ingat bahwa aku akan ikut untuk mempertemukan dua mantan kekasih itu. Ini masih terlalu pagi untuk pergi. Ayo, bantu aku menggiling tinta dulu," katanya.
"Apa Su'er tidak pernah melakukannya?"
Gadis itu menggertakkan giginya "Tidak ada hal seperti itu di zamanku. Jika kamu ingin menggunakan kuas, tinta sudah disiapkan tanpa harus menggulungnya lebih dulu. Kalian orang-orang kuno sungguh merepotkan," jawabnya.
Tanpa diduga, Mu Xianzhai bukannya marah, malah tertawa ringan. Karena gadis ini bukan dari zaman ini, dia sedikit tidak berdaya dengan kebiasaannya. Namun dia sangat menikah dengannya. Berharap bahwa dia memiliki istri kecil yang patuh di rumah. Tidak peduli apapun yang diinginkan, ia akan memberikannya.
Namun di sisi lain juga, dia akan membuat gadis ini patuh perlahan-lahan. Masih awal, tidak bisa memaksa.
"Kadang aku berpikir untuk melihat istriku menggiling tinta untuk suami. Itu adalah pemandangan yang indah setiap pasangan," nada bicaranya sedikit mengandung rasa sepi.
Dua puluh delapan tahun, setidaknya dia hidup menyendiri. Setelah ibu selirnya meninggal, tak ada satupun yang mampu menggerakkan perasaannya. Tentu saja selain royal terhadap kaisar. Bahkan jika ada banyak wanita di luar sana menginginkannya, dia masih percaya tentang takdir gelang naga perak.
Benar saja, kakeknya selalu memiliki sesuatu yang berbeda. Gadis ini hadir untuk menemani hari-hari sepinya. Untuk masalah tidur saja, dia telah menggunakan banyak alasan yang logis untuk satu ranjang. Li Chang Su tidak tahu jika sebenarnya Mu Xianzhai ingin memiliki seseorang untuk menemani tidurnya yang dingin. Memeluknya hingga tertidur pulas.
__ADS_1
Li Chang Su merasa jika suasana hati pria itu tidak benar. Membuat perasaannya tidak nyaman. Bukankah ini hanya menggiling tinta? Dia juga bisa melakukannya. Dia berkedip dua kali sebelum akhirnya tidak lagi menolak untuk duduk di pangkuannya.
"Kalau begitu, aku akan mencoba," katanya.
Mu Xianzhai merasa hatinya cukup baik sekarang dan memberikan wadah tinta padanya, "Tidak apa-apa, menggiling tinta di pangkuanku."
"Bukankah itu akan menghalangimu menulis?" Tanyanya.
"Aku hanya butuh tangan kanan untuk menulis hal kecil. Tidak terlalu penting. "
Li Chang Su ingin mengatakan sesuatu lagi, namun semua kata-kata ditelan kembali. Lupakan saja. Dia mulai memperhatikan wadah tinta dan memegang benda khusus untuk menggiling tinta. Ada sedikit keraguan. Tanpa diduga, Mu Xianzhai sebenarnya mengajari dia bagaimana caranya.
"Putar perlahan seperti ini," pria itu merasa jika tangan Li Chang Su sangat kecil dan dingin. Nyaman untuk digenggam. Dan dia juga bisa menghirup aroma rambut yang menenangkan.
Cara menggiling tinta ini sungguh merepotkan. Jiak seperti ini terus, bukanlah tangannya akan pegal?
"Jika tanganmu pegal, aku akan memijatnya," bisik pria itu.
"Itu kamu yang berharap!" Walaupun Li Chang Su berkata demikian, namun jiwa seorang wanita itu tetaplah tersentuh. Hingga wajahnya memerah.
Dia pun mengalihkan topik pembicaraan tentang luka di punggungnya. Hari ini sudah mulai mengering. Seperti biasa, rasa gatal selalu muncul. Setelah Li Chang Su menggiling tinta, tangannya benar-benar pegal. Mu Xianzhai benar-benar memijat tangannya dengan lembut.
Di masa depan, dia akan kembali menggiling tinta. Membuat Li Chang Su tidak sabar dan mengeluarkan sebuah kotak berisi tinta. Lebih halus dan pekat. Dia khawatir akan menyinggung pria itu, jadi menjelaskannya dengan baik. Gunakan saja ketika mendesak. Tinta ini cukup bertahan lama.
Mu Xianzhai tahu niatnya baik dan hanya mengelus puncak kepalanya. Dia hampir lupa jika gadis ini memiliki banyak hal di ruang artefak.
Tak berapa lama, Xuyao datang untuk memberi kabar yang penting.
"Putri ... Putri, ini gawat!" Kata Xuyao setelah melihat Li Chang Su membuka pintu ruang kerja.
Gadis itu sendiri melihat Xuyao dengan keheranan. Dan Mu Xianzhai merasakan sesuatu sedang terjadi.
__ADS_1
"Ada apa denganmu? Datang dengan tergesa-gesa?" Tanyanya.