
MU HONGZHI dan Ye Shi sendiri menggelengkan kepala. Ternyata, ada banyak makhluk di dunia ini yang sebenarnya belum diketahui banyak orang. Semakin tersembunyi tempat tersebut, maka semakin menjadi misterius.
Tidak dipungkiri lagi jika makhluk mengerikan yang memiliki dua mata merah dan mengeluarkan suara mengerikan, bukanlah binatang mutasi. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi dengan dunia ini? Pikir mereka.
Li Chang Su yang berada dalam pelukan Mu Xianzhai pun masih agak linglung. Ia memikirkan makhluk itu dan apa yang sebelumnya dilakukan Lict. Laki-laki itu hanya melemparkan batu kecil permukaan lava. Kemudian hal seperti ini terjadi.
Mungkin jika makhluk itu sebenarnya sudah ada sejak lama dan menempati kolam lava. Hanya saja karena tidak terusik, maka tidak mungkin. Itu hanya menampakkan diri ketika ada yang melemparkan sesuatu ke dalamnya.
"Lict, apa kamu hanya melemparkan batu?" tanya Li Chang Su.
"Tentu saja! Aku bersumpah, itu hanya batu!" Lict segera mengklarifikasi dirinya.
"Di mana Bell?" Kali ini Lict teringat dengan kucing itu.
"...." Mereka juga menyadari jika kucing itu tidak terlihat.
"Di sana." Ye Shi akhirnya menunjuk ke salah satu sudut.
Mereka mengalihkan perhatian ke arah yang ditunjuk Ye Shi. Setidaknya, seekor kucing emas keperakan menggigil di sudut ruangan dengan membelakangi mereka.
Bell sendiri adalah kucing mutasi dewa yang cukup kuat di kalangan binatang mutasi. Tapi makhluk yang terbentuk dari lava tadi jelas bukan binatang mutasi. Dia juga bisa terpanggang jika terkena lava. Jadi jangan salahkan dia untuk menjadi kucing penakut.
"...." Li Chang Su dan yang lainnya hanya bisa menghela napas.
Gadis itu meminta Lict untuk membawanya. Mereka harus meninggalkan tempat ini setelah memastikan jika pintu gerbang baja tidak bisa dibuka begitu saja.
Mau tidak mau, Lict mengambil kucing itu tanpa berkata-kata lagi. Alhasil, Bell terkejut. Kucing itu meronta dan memberi cakaran pada tangan Lict.
"Dasar kucing! Berhentilah mencakar!" Laki-laki itu langsung memegang belakang leher kucing tersebut hingga tergantung di udara.
Setelah Bell tahu jika itu bukan makhluk lain, segera berkata, "Kamu mengagetkanku!" katanya dengan telinga terkulai.
"Kamu yang terlalu takut. Ayolah! Tidak mungkin kucing mutasi tingkat dewa takut dengan hal seperti itu? Apakah kamu benar-benar tingakt dewa?" Lict menjadi curiga.
"Tentu saja!" Bell kesal saat ditanya tentang identitas.
__ADS_1
"Aku tidak percaya!" Pada akhirnya Lict mencibir dan masih mencubit belakang leher kucing itu. "Putri Xian, identitas kucing ini semakin mencurigakan."
"...." Li Chang Su tidak tahu harus berkata apa. Tapi Bell cukup penakut saat melihat makhluk itu. Mungkin kucing ini memiliki banyak hal yang ditakuti.
"Kalau begitu kita buktikan jika kucing ini benar-benar di tingkat dewa," kata Mu Hongzhi juga setuju. Dia hanya ingin bermain-main dengan kucing ini sebentar.
"Sepupu, bagaimana denganmu? Nah, kamu ... Ye Shi?" Dia menatap dua pria itu bergantian.
Tapi kedua pria itu acuh tak acuh. Ini bukan urusannya. Yang jelas keduanya tahu itu adalah kucing mutasi dewa. Tidak perlu diperiksa lagi. Namun ... Li Chang Su memiliki ide untuk mencari hiburan sejenak.
Dia meminta Lict untuk mencabut salah satu buku ekor kucing itu. Tentu saja Bell tidak mau dan meronta.
"Berani! Siapa yang berani mencabut bulu ekorku?! Itu tidak ada hubungannya dengan—ahhh!!" Bell belum sempat menyelesaikan kata-katanya dan langsung berteriak. Tiba-tiba saja rasa sakit di ekornya membuat sarafnya sadar.
Lict benar-benar mencabut bulunya. Seketika, bulu kucing itu meremang seperti duri, agak kaku, mirip landak. Pada akhirnya Mu Hongzhi tidak tahan lagi untuk tertawa lepas.
Bahkan Li Chang Su sendiri menahan diri untuk tidak tertawa. Dia hanya batuk kecil dan merasa agak bersalah. Sebenarnya ini memang tidak ada hubungannya dengan identitas Bell sebagai binatang mutasi dewa.
Mu Xianzhai meraih pinggangnya dan meremasnya sedikit. Su'er nya berani tertawa bersama orang lain? Merasa jika pria di sampingnya tidak senang, dia menepis apa yang baru saja terjadi.
"Lupakan. Ayo kembali. Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan He Ze saat ini." Li Chang Su mengakhiri istirahat dan menatap pintu batu sebentar.
Kucing itu terlalu kaget hingga lupa cara melemaskan otot di tubuhnya.
Sementara itu ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
He Ze yang kini berada di hutan pun sedang makan manisan kacang mete di salah dahan pohon. Ekspresi membosankan itu jelas terlihat di wajahnya yang tampan. Orange yang berubah menjadi kucing jingga keemasan itu hanya berada tak jauh di dekatnya.
Ini sudah cukup lama. Tapi tidak ada satupun orang-orang dari Sekte Hitam yang datang untuk memeriksa keributan kemarin. Tapi saat ini dia merasa bosan dan mengantuk, telinganya menangkap pergerakan di kejauhan.
Orange sendiri segera bangkit dan kedua telinganya bergoyang lembut. "Ada yang datang. Lebih dari satu."
"Huh! Apakah orang-orang itu baru saja datang?" He Ze begitu kesal hingga bahkan tidak mau bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Mungkin karena kamu menguarkan aura di sekitar lembah ini sehingga mereka sulit mendeteksinya. Mereka juga datang pasti untuk memeriksaku." Orange masih dalam keadaan waspada.
"Sebelum memeriksamu, mereka pasti akan ke sini lebih dulu." Kali ini He Ze tidak bisa berdiam diri dan menyimpan manisan kacang metenya.
Di kejauhan, beberapa pria berjubah hitam muncul dengan tudung besar yang menghalangi sebagian wajah. Mereka juga memiliki pedang di pinggang. Datang dengan penuh kecurigaan, mereka mulai memeriksa lembah di Hutan Putih.
Salah satu dari mereka adalah bos. Saat berpencar dan memanggil para serigala mutasi dewa yang sempat berkuasa di lembah, mereka kebingungan.
Tidak ada jejak-jejak dari makhluk itu. Seolah baru saja pergi entah ke mana. Tapi mereka menemukan beberapa jejak pertarungan di beberapa tempat. Sepertinya, telah terjadi pertarungan besar di tempat ini.
"Apa kalian menemukan satu dari mereka?" tanya sang bos.
"Tidak, Bos. Kami bahkan tidak melihat mayatnya."
"Ini aneh. Bagaimana bisa mereka pergi begitu saja?" kata yang lain juga curiga.
"Jejak pertarungan di tempat ini masih baru. Mungkin terjadi kemarin. Mustahil untuk sekelompok binatang mutasi dewa golongan cahaya untuk membunuh mereka semua." Penjelasan sang bos membuat mereka juga berpikiran sama.
Bos itu merupakan seorang paman. Setidaknya usianya paruh baya. Dan para pengikutnya jelas masih muda. Menurut perintah dari petinggi Sekte Hitam, mereka harus datang dan mengecek keadaan lembah di Hutan Putih. Serta memastikan jika makhluk ynag berada di balik pintu besi masih ada.
Mereka juga membawa cairan khusus untuk memberi makhluk itu makan setahun sekali. Hari ini sudah jatuh dalam waktu yang ditetapkan.
"Jadi Bos, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Yang lain juga bertanya.
"Kita periksa terowongan bawah tanah dulu. Lalu kembali. Masalah ini harus dilaporkan pada petinggi Sekte."
"Oh, benarkah?" Suara He Ze dari atas pohon hampir tidak mengagetkan mereka.
"Tentu saja ...— siapa di sana?" Sang bos tiba-tiba saja sadar jika uang bicara itu bukan salah satu dari mereka.
Mereka menatap ke arah sumber suara berasal. Seorang pria berpakaian serba putih dengan rambut tergerai rapi itu duduk di salah satu dahan.
He Ze dengan santainya memakan beberapa manisan kacang mete. Bukan hanya itu, dia bahkan melemparkan salah satu kacang pada pria yang tidak bertopeng.
Orang berjubahnya hitam yang wajahnya dilempar kacang pun mengaduh. Lalu melihat benda apa yang dilemparkan.
__ADS_1
"Kacang mete?" gumamnya.
"Kalian begitu lama untuk datang. Aku sudah berjamur di sini hanya untuk menunggu kalian datang. Haruskah aku mengucapkan selamat datang?"