Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Situasi Darurat, Trompet Perang


__ADS_3

BETAPA MALUNYA pria itu saat keluar dengan tubuh tak berpakaian. Dia lupa jika tadi sedang berendam untuk membersihkan diri. Karena terpikirkan Xue Zi yang melarikan diri, dia lupa pada tubuhnya sendiri.


Setelah mandi dengan bersih, dia memakai pakaian baru dan pergi mencari kelinci mutasi. Sebelum itu, dia pergi ke tenda Mu Xianzhai untuk memastikan apakah kelinci itu kembali atau tidak.


"Sepupu Ipar, apakah kamu melihatnya?" Dia bertanya, sedikit panik.


"Xue Zi bersamaku sekarang. Dia datang dengan tubuh basah. Ada apa? Bukankah kamu memandikannya?" Li Chang Su sedang mengeringkan tubuh kelinci mutasi itu dengan handuk kecil. Lalu ia melirik Mu Xianzhai yang berwajah jelek.


Sejak kelinci mutasi itu kembali, Mu Xianzhai sudah bersiap untuk menendangnya. Namun Li Chang Su menendang kaki pria itu lebih dulu sebelum benar-benar mem-bully peliharaannya. Tentu saja dia sendiri juga kesal. Pria itu sungguh tidak berperasaan pada makhluk menggemaskan ini.


Oleh karena itu, karena Li Chang Su mengambil Xue Zi dan mengeringkan bulunya, Mu Xianzhai dilanda cemburu. Istrinya sendiri belum pernah mengeringkan rambutnya dengan handuk, sekarang direbut oleh kelinci sialan itu.


Benar-benar perusak suasana.


"Sepupu ipar, kamu tidak tahu. Kelinci itu melarikan diri saat aku memandikannya. Bahkan aku menjadi malu saat keluar tanpa pakaian hingga jadi tontonan para prajurit. Salahkan dia!" Mu Hongzhi tidak peduli lagi. Dia sedang kesal.


Xue Zi yang kini berada di pelukan Li Chang Su sedang menikmati perawatan lembutnya. Lalu menatap Mu Hongzhi dengan menyipitkan mata. "Kamu manusia tak tahu malu. Raja ini masih kelinci normal!" teriaknya.


"Ahhh!!" Mu Hongzhi membelalakkan mata dan menunjuk kelinci mutasi itu dengan ekspresi tidak percaya.


"Kamu .... Kamu ...." Sebelum kata-katanya berlanjut, Mu Hongzhi sudah jatuh pingsan.


"....." Ketiganya yang melihat pria itu pingsan pun tidak berdaya. Terutama Li Chang Su. Dia selalu penasaran dengan apa yang sebenarnya diderita Mu Hongzhi.


Setiap kali ada sesuatu yang di luar akal sehat, pria itu pasti akan pingsan. Dulu saat He Ze tidak sengaja bicara. Kini Xue Zi juga sama. Dan Mu Hongzhi pasti akan pingsan setelahnya. Sungguh kasihan.


Setelah mengeringkan bulu kelinci mutasi itu, Li Chang Su menatap Mu Xianzhai yang sedikit linglung. "Apakah sepupumu memiliki mental yang kecil? Kenapa dia selalu pingsan?"


Mu Xianzhai menatap istrinya dengan senyum tidak berdaya. "Tampaknya Hongzhi memiliki penyakit jantung yang lebih serius daripada Mu Peizhi."


"...." Suami, apakah kamu serius? Pikir Li Chang Su ingin sekali menepuk jidatnya.

__ADS_1


Walaupun Mu Xianzhai enggan untuk membantu sepupunya berbaring di kursi panjang yang disediakan, ia masih memiliki hati nurani. Kemudian dia menatap Xue Zi, sedikit tajam.


"Jika di masa depan kamu berbicara di depannya lagi, percaya atau tidak, kaum kelinci akan hilang!"


"....." Kelinci mutasi itu tidak menanggapinya untuk sementara waktu. Sangat marah. Pria itu tahu jika kelemahannya adalah kaumnya sendiri. Tentu saja tidak akan membiarkannya membunuh banyak kelinci untuk balas dendam.


Setelah tubuhnya dikeringkan, dia melompat ke karpet dan mengambil posisi berdiri dengan susah payah.


"Dia sangat menyebalkan. Bahkan menggosok tubuhku seperti menggosok barang! Tidak berperasaan!" Dia membela diri.


Hanya Li Chang Su langsung mencibir, "Siapa yang menyuruhmu untuk bermain lumpur!"


"Aku tidak bermain lumpur! Aku terjatuh ke kubangan lumpur!" Xue Zi kesal.


"Kalau begitu jangan berlarian seenaknya. Haruskah aku memberimu kalung kelinci?"


"...." Jangan berani. Dia tidak mau! Xue Zi merasa jika kepala kecilnya ingin meledak. Namun mencoba untuk ditahan.


Li Chang Su ini mengerikan. Dia tidak akan menang saat melawan betina. Dan jika seorang wanita. Sungguh, ia hanya bisa mengeluh dan kalah. Ketika Mu Hongzhi memiliki tanda-tanda akan bangun, Li Chang Su segera mengeluarkan wortel dari ruang artefak dan memberikannya pada Xue Zi.


Xue Zi berkompromi kali ini. Dia duduk di salah satu kursi sambil menikmati wortel. Memiliki ekspresi polos seekor kelinci putih biasa.


Saat Mu Hongzhi bangun, Li Chang Su sudah menyediakan air roh untuknya. Setidaknya menenangkan pikiran yang berantakan. Adapun Mu Xianzhai, dia sedang membuka buku rencana untuk menghalau gelombang binatang mutasi di masa depan.


"Sepupu Ipar .... Apakah aku bermimpi?" Pria itu sedikit linglung. Kebiasaannya untuk pingsan jarang terjadi, namun cukup besar kemungkinannya akan pingsan hanya dengan keterkejutan yang tidak masuk akal.


"Kamu tiba-tiba pingsan tanpa alasan di depan tenda. Sungguh aneh." Li Chang Su sangat pandai mengubah keadaan awal menjadi suasana yang baru.


"....." Mu Hongzhi juga merasa jika dirinya mungkin sedang tidak enak badan. Setelah minum segelas air roh, ia mengira jika itu hanya air minum biasa.


Namun setelah beberapa saat memikirkan sesuatu yang ganjal, tampaknya dia mengingat sesuatu. "Entah kenapa aku bermimpi jika Xue Zi bisa bicara."

__ADS_1


"....." Mu Xianzhai dan Li Chang Su tidak memiliki ekspresi apapun. Sangat alami. Adapun kelinci mutasi, kini dengan tenang makan wortel. Namun dalam hati, dia menggerutu lebih banyak.


Tampaknya manusia itu memang memiliki masalah dengan otaknya. Begitulah cara Xue Zi berpikir.


"Sepertinya mimpimu sangat kreatif," kata Li Chang Su seraya tersenyum kaku.


"Ya ... Mungkin." Sedangkan Mu Hongzhi sendiri masih kebingungan. Mimpi itu terlihat sangat nyata.


Belum sempat mereka beristirahat sambil membahas rencana selanjutnya, suara para prajurit dan juga trompet pun bergema. Baik Mu Xianzhai dan Mu Hongzhi tidak mengucapakan apa-apa lagi selain pergi dengan cepat.


Li Chang Su ingin menanyakan apa yang terjadi. Tapi mungkin situasi mendesak. Bahkan He Ze sendiri keluar untuk memberi tahu dirinya.


"Sepertinya itu trompet darurat skala besar." He Ze berkata dengan sedikit pemahaman.


"Aku juga pernah mendengar ini di masa lalu ...." Xue Zi sendiri menyipitkan matanya dan berkata dengan jejak kebingungan.


"Darurat apa misalnya?"


Li Chang Su tidak sabar. Dia melihat semua prajurit dan juga jenderal terkait segera berteriak mengumpulkan pasukan. Mereka memegang obor dan juga tombak. Sebagian lagi mengambilnya pedang dan busur.


He Ze menyembul dari sisi tenda dan merasakan hawa dingin menerpa tubuh berbulunya. "Aku tidak tahu. Tapi ini semacam perang."


Li Chang Su tertegun. Dia larut dalam situasi santai di barak militer ini. Hingga lupa jika perang bisa terjadi kapan saja. Tapi, musuh seperti apa yang bisa menyerang di malam hari seperti ini?


Kemudian, Xue Zi berseru. Dia ingat. Saat trompet perang ini berbunyi, mungkin beberapa tahun lalu. Itu serangan binatang mutasi yang dipimpin oleh manusia yang menjadi pengikut binatang mutasi kegelapan. Mereka bekerja sama untuk merebut negara atau benteng perbatasan.


Xue Zi tahu ini karena pada waktu itu, dia sedang mencari wortel liar untuk mengisi perut laparnya. Tanpa sengaja menyaksikan peperangan antara manusia dengan binatang mutasi kegelapan.


"Itulah alasan kenapa semua prajurit harus memiliki ilmu bela diri atau setidaknya seni bela diri yang cukup besar. Perang bisa pecah kapan saja dan korban yang jatuh juga akan lebih berkurang." Akhirnya He Ze menyimpulkan apa yang diceritakan Xue Zi.


"Apakah maksud kalian, berperang dengan binatang mutasi kegelapan dan juga orang-orang yang memiliki ilmu hitam?" Li Chang Su menebak.

__ADS_1


"Ya. Kurang lebih seperti ini. Ilmu putih dan ilmu hitam telah pecah bersamaan dengan binatang mutasi cahaya dan binatang mutasi kegelapan. Karena itu, aku pernah berkata padamu jika Mu Xianzhai memiliki tubuh dan aura yang aneh. Dia seperti tidak mempan terhadap ilmu hitam. Seperti naga perak dalam legenda Negara Bingshui."


Mendengar penjelasan He Ze, gadis itu tiba-tiba saja berwajah pucat ....


__ADS_2