Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Demam Karena Ulahnya


__ADS_3

LI CHANG SU merasa jika tangan yang diletakkan di atas kepalanya dipegang sedikit lebih erat. Ia bisa melihat jika Mu Xianzhai tertarik dengan pakaian terbuka yang dipakainya malam ini. Sebagain pria mungkin akan tergoda oleh beberapa kecantikan, termasuk saat seorang wanita berpakaian terbuka.


Malam ini, dia benar-benar tidak lepas dari telapak tangan Mu Xianzhai. Meskipun dia mengeluh kelelahan dan lain sebagainya, Mu Xianzhai seperti orang yang telah jatuh dalam fantasinya sendiri. Ia hanya bisa mengutuknya diam-diam. Dari mana datangnya kekuatan seorang pria saat berada di atas ranjang? Kenapa wanita selalu dilemahkan?


"Xian ..." Gadis itu ingin memohon pada Mu Xianzhai untuk melepaskan dirinya malam ini.


"Yah, patuh," bisik pria itu seraya mencium daun telinganya.


Hingga keduanya melewatkan makan malam ....


Keesokan harinya.


Matahari sudah mulai merangkak dari ufuk timur. Tapi suasana di kamar Mu Xianzhai masih tenang dan penuh kehangatan. Pria itu memeluk istrinya saat tidur dan tirai tempat tidur masih belum dibuka sama sekali.


Ketika pria itu bangun dan mencium Li Chang Su, rasanya ada hal yang aneh. Wajah istrinya sedikit lebih pucat daripada biasanya. Ini membuat Mu Xianzhai mengira jika gadis itu tidak enak badan.


"Su'er?" panggilnya lembut seraya menyentuh dahi Li Chang Su.


Gadis itu melenguh sedikit dan mengerutkan kening, lalu menyelimuti tubuhnya seolah-olah kedinginan. Mu Xianzhai tiba-tiba merasa segar dan memastikan jika gadis itu benar-benar tengah sakit.


"Kamu demam," ujarnya segera memanggil pelayan agar membiarkan tabib datang dan memeriksa kondisi istrinya.


"Biarkan aku tidur lebih lama. Aku sangat lelah," gumam gadis itu tanpa sadar. Ia membuka matanya sedikit dan terlihat agak merah.

__ADS_1


Mu Xianzhai semakin khawatir dan bertanya di bagian mana gadis itu merasa tidak nyaman. Li Chang Su hanya bergumam lagi jika dia sakit di mana-mana. Tentu saja, bagaimana tidak, Mu Xianzhai menekannya tanpa rasa kasihan semalam di saat dia benar-benar sangat lelah.


Mendengar hal ini, Mu Xianzhai merasa bersalah dan lebih khawatir akan memengaruhi tubuhnya masa depan.


"Berbaringlah dengan benar, ya? Biarkan tabib memeriksamu," kata Mu Xianzhai membujuknya ketika tabib telah tiba.


Dia turun dari tempat tidur dan berpakaian lengkap. Barulah membiarkan Tabib Istana datang. Seorang pria paruh baya masuk sambil memegang kotak kayu cendana yang isinya merupakan obat-obatan.


Tabih Istana itu tak sempat untuk berpamitan pada kaisar sebelumnya karena diseret oleh penjaga gelap Mu Xianzhai. Seperti halnya dulu ketika gadis itu terkena alergi rebung, Tabib Istana yang dipanggil lagi kini merasa jika keringat dingin mulai memenuhi tubuhnya. Aura Raja Perang tak dipungkiri sangat mengerikan.


Dengan ekspresi yang sedikit pucat, Tabib Istana itu akhirnya menyapa Mu Xianzhai dan bertanya apa yang harus dia lakukan. Terutama bagaimana cara memeriksa sang putri yang kini tengah demam. Mu Xianzhai mendengus saat melihat jika tabib istana paruh baya itu justru yang kelihatannya sakit. Apakah dirinya begitu mengerikan di mata Tabih Istana sendiri?


"Yang Mulia, perlukah saya memeriksa denyut nadi Sang Putri lebih dulu?" tanya Tabib Istana ragu-ragu.


Tabib Istana pun segera ingin menangis tanpa mengeluarkan air mata, buru-buru memeriksa denyut nadi di salah satu pergelangan tangan sang putri. Ia segera mengerutkan kening saat memeriksa dua kali. Lalu menatap Raja Perang yang berada di samping Li Chang Su. Tatapannya mengisyaratkan tak tahu harus berkata apa.


"Ada apa? Katakan saja," kata Mu Xianzhai mencoba untuk tenang.


"Yang Mulia, pertanyaan hamba mungkin sedikit lancang. Apakah Yang Mulia dan Putri baru saja melakukannya hubungan suami-istri di malam hari?" tanya Tabib Istana serasa ingin menyeka keringat di dahinya. Aura Mu Xianzhai tidak tanggung-tanggung mampu membuat dia sendiri merasa tercekik.


Suhu di ruangan tersebut menjadi lebih dingin namun Mu Xianzhai tidak menyangkalnya. Tatapan di balik topengnya agak kental. Dia mengangguk dan mengiyakan apa yang baru saja menjadi pertanyaan Tabib Istana. Demi istrinya, mungkin dia harus mengangguk pada orang lain.


Setelah mendapatkan jawaban, Tabib Istana pun menggelengkan kepala. "Tidak masalah jika Yang Mulia menginginkan hal tersebut. Tapi ... Kondisi Sang Puteri dalam keadaan lemah dan kelelahan. Ditambah perut kosong juga mempengaruhi kesehatannya hingga kini mengalami demam. Disarankan di masa depan ... Yang Mulia harus sedikit menahan diri," turut Tabib Istana sangat serius. Jika masalah ini berlanjut, Li Chang Su bisa mengalami tubuh yang mudah sakit dan kecil kemungkinannya bisa hamil di masa depan.

__ADS_1


Saat mendengar penjelasan sang tabib, Mu Xianzhai sedikit khawatir dan perasaan tidak nyaman mengguncang hatinya. Ia menyakiti Su'er nya dan egois tadi malam. Padahal Li Chang Su sudah berkata jika dirinya sangat lelah, memintanya berhenti. Tapi dia seorang pria normal, ketika istrinya memohon untuk berhenti dengan suara yang serak dan menyenangkan, hormon kecanduannya muncul.


Tanpa sadar di balik semua kesenangan tadi malam, istrinya justru sudah tidak enak badan. Hanya dengan mengingat ini saja, Mu Xianzhai merasa jika di masa depan, dia harus mendapatkan persetujuan istrinya lebih dulu. Atau setidaknya harus dalam keadaan yang baik.


Tabib Istana akhirnya meresepkan obat untuk merawat tubuh Li Chang Su. Setelah itu pamit dengan cepat, khawatir jika dirinya benar-benar akan ditahan di Istana Raja Perang. Selepas kepergiannya, He Ze muncul di sekitar Li Chang Su sambil memegang kacang rebus.


"Huh, bisakah kamu sedikit lebih lembut pada istrimu? Aku bahkan harus menutup akses komunikasi pikiran saat kalian memadu kasih. Sungguh tidak menghormati leluhur!" He Ze mulai mengomel seraya mengubas kacang rebus.


Mu Xianzhai tidak menjawab dan langsung berwajah gelap. Dia menyingkirkan makhluk berbulu putih itu agar tidak menghalangi pemandangan. Lagi pula, dia tak suka jika ada bulu rontok di sekitarnya. He Ze yang dibuang dari kamar pun hanya bisa berteriak dan menendang pintu dengan kasar. Walaupun dia tahu jika kakinya sangat kecil hingga tak menimbulkan bunyi apapun saat menendang.


"Dasar pemilik durhaka! Kamu berdosa pada leluhurmu sendiri. Tidak bisakah kamu bersikap lembut pada hewan peliharaan?!" teriaknya masih memegang kacang rebus dan menendang pintu kamar. Lalu dia memperhatikan sekitar.


"..." Beberapa pelayan yang melihatnya pun merasa tidak berdaya saat melihat tupai putih itu bisa bicara dan memaki Mu Xianzhai. Sungguh berani.


He Ze pun terbatuk canggung dan pergi meninggalkan ruangan setalah melemparkan kulit kacang pada pelayan. Dia cukup malu saat menendang pintu kamar sehingga memilih untuk menenangkan dirinya lebih dulu di suatu tempat. Atau mungkin mencuri kacang dari dapur istana. Nah, ini lebih baik. Anggap saja balas dendam.


Di dalam kamar ....


Mu Xianzhai memanggil pelayan untuk mengambil wadah kecil berisi air hangat serta kain kecil untuk mengompres dahi gadis itu. Tak lupa meminta mereka merebuskan obat anti demam. Meski hari semakin siang, Mu Xianzhai sudah kehilangan nafsu makannya. Istrinya bahkan belum bangun, bagaimana bisa dia memiliki selera makan?


Seiring berjalannya waktu, Li Chang Su mulai menunjukkan tanda-tanda akan bangun walaupun kepalanya sakit akibat demam. Ia membuka matanya perlahan dengan bibirnya yang pucat.


"Air ... Aku ... ingin air," gumamnya tidak jelas. Namun tenggorokannya kering.

__ADS_1


"Su'er ..." Mu Xianzhai merasa sedikit lega ketika melihat jika gadis itu mulai menunjukkan tanda-tanda bangun.


__ADS_2