Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Sovereign Sekte Hitam, Zhen Juan


__ADS_3

PRIA PARUH baya yang duduk di kursi kekuasaannya mendengus. Ekspresinya tidak senang. Para pria berjubah hitam yang kini berlutut dan menunduk pun berkeringat dingin.


Jangan sampai membuat orang itu marah. Jika tidak, mereka hanya bisa mati tanpa tulang. Pada akhirnya, pria paruh baya yang diketahui sebagai sovereign itu pun mengembuskan napas dingin.


"Katakan!"


Salah satu dari mereka mengeluarkan seekor ular kecil dan menyerahkannya pada sovereign tersebut. "Ini adalah ular pembawa pesan yang kami berikan pada mereka untuk memberi tahu sesuatu jika ada kecelakaan. Meraka tidak kembali, hanya ular ini saja."


Ulat kecil itu melata ke tangan pria paruh baya berjubah hitam. Ular itu memuntahkan sepucuk surat yang cukup besar, lalu turun lagi, pergi entah ke mana. Pria paruh baya itu membuka surat dan membacanya.


Hanya setelah beberapa saat dia langsung meremas surat tersebut hingga berubah menjadi abu. Napasnya langsung tak beraturan. Asap hitam bercampur aura kegelapan langsung menguar dari tubuhnya.


Dengan geraman kecil, pria paruh baya itu menunjuk ekspresi yang luar biasa marah. Iris matanya menjadi lebih merah dan rasa sakit di wajah sebelah kanannya sangat menjadi-jadi.


Memukul punggung tangan kursi, pria paruh baya berjubah hitam itu langsung bangkit. "Mu Xianzhai!! Aku pasti akan mendapatkan kekuatan gelang naga perak itu!" geramnya.


Dia melangkah pergi meninggalkan aula, lalu memasuki ruang bawah tanah yang berada di bagian belakang istana sekte. Pria paruh baya itu menuruni puluhan tangga usang dan berdebu. Tidak ada pencahayaan di dalamnya. Sehingga salah satu penjaga langsung menemani dia menuju ke salah satu sel yang terdapat di bawah tanah.


Penjara bahwa tanah ini begitu tersembunyi hingga hanya beberapa orang kepercayaan saja yang mengetahuinya. Langkah pria paruh baya berjubah hitam itu berhenti di salah satu sel yang gelap dan agak kotor.


Dia memandangi seorang pria tua bersurai putih, janggut panjang dan pakaian lusuh. Wajahnya tidak terlalu terlihat karena agak menunduk. Kaki dan tangan dibelenggu oleh rantai. Selain itu tubuh yang kotor tak terus itu membuat pria paruh baya berjubah hitam semakin marah.


Menyentuh wajah sebelah kanannya yang telah rusak dan nyaman dipandang, dia benar-benar ingin membunuh pria tua di dalam sel.


"Sepertinya kamu masih tidak akan mengatakan apapun tentang gelang naga perak itu?" tanyanya menekan kemarahan.


Pria tua di dalam sel hanya menatapnya datar dan terkekeh lemah. "Zhen Juan ... Kamu tidak akan mendapatkan apapun. Kamu hanya ditakdirkan untuk kalah!"

__ADS_1


"Arrgghh!!!" Pria paruh baya—Zhen Juan, sebagai sovereign Sekte Hitam, dia selalu mendapatkan apapun untuk tujuannya. Luka di wajahnya ini adalah hasil pria tua di dalam sel.


Dia selalu ingat pertarungan di masa lalu. Pada akhirnya, dia menang dan menahannya di sini dengan seorang pria lainnya. Hanya untuk mendapatkan informasi gelang naga perak, ia telah menahan dan menyiksa keduanya, tapi tidak ada satu pun informasi yang didapat.


Sekarang, Mu Xianzhai membuat masalah. Membunuh orang-orangnya untuk menghentikan rencana. Dia khawatir jika pria yang telah menjadi raja perang itu semakin kuat di masa depan. Karena itu, dia harus mendapatkan wanita raja pernah lebih dulu.


"Karena cucumu ingin bermain, aku akan menemaninya bermain! Sepertinya wanita raja perang cukup manis?" Zhen Juan menyeringai dan mengepalkan kedua tangannya.


Pria tua di dalam sel itu menatapnya tajam. Lalu tatapannya kembali datar. Hanya ada senyuman yang membuat Zhen Juan jengkel.


"Istri raja perang bukan sesuatu yang bisa kamu ganggu. Kamu hanya akan dikalahkan olehnya suatu hari nanti."


Perkataan itu membuat Zhen Juan langsung memukul jeruji besi. Matanya memerah lagi seperti hendak mengeluarkan darah. "Aku tidak percaya jika tidak bisa mengalahkan wanita raja perang!"


Sosoknya langsung menghilang setelah muak melihatnya lagi. Suara langkah kaki itu menjauh dan akhirnya tidak terdengar lagi. Pria tua yang terkurung di sel hanya menundukkan kepala dan menghela napas panjang.


Di seberang sel itu, ada sel lain yang ditempati oleh seorang pria berpakaian bangsawan. Sayangnya pakaian itu juga telah kotor dan compang-camping. Suara rantai terdengar setiap kali pria itu bergerak.


"Ayah ..." panggilnya.


Pria tua itu mengangkat kepala dan menatapnya. "Jangan khawatir, Zhai'er akan baik-baik saja."


"Apakah menurutmu, Zhi'er akan ikut bersamanya?" Pria berpakaian bangsawan compang-camping itu memiliki ekspresi khawatir.


"Anakmu selalu membuntutinya. Tidak mungkin jika tidak ikut bahkan jika istrimu memukul pantatnya hingga merah!"


"...." Pria berpakaian bangsawan compang-camping itu memikirkan ini dan mungkin saja benar. Istrinya—dalam kesan yang dimiliki, tentu saja merupakan wanita keras dan tidak lembut.

__ADS_1


Pria tua itu mendesah, tidak bisa melakukan apapun. Rantai yang membelenggu keduanya memiliki suara sihir. Saat mereka mencoba untuk melepaskan diri, sihir akan menyakiti tubuh.


Lalu keduanya tidak lagi bicara. Hanya berharap jika Mu Xianzhai dan yang lainnya aman dalam perjalanan. Pria tua itu hanya mengingat-ingat kapan terakhir kali bertemu istri raja perang. Mungkin hari yang panas di padang pasir ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Li Chang Su serta yang lainnya berhasil mencapai pantai tepat ketika hari mulai malam. Ye Shi sudah pergi lagi ke ibu kota untuk memberi tahu Ye Tianli. Setidaknya, beberapa informasi untuk mencegah orang-orang Sekte Hitam memasuki Negara Bingshui dan membuat kekacauan.


Bahkan karena pasukan Mu Xianzhai dipercayakan dulu pada Pangeran Kedua—Mu Peizhi, kaisar juga memberi dukungan. Setidaknya agar tidak ada orang-orang yang memanfaatkan ketidakhadiran Mu Xianzhai di ibu kota.


Saat ini, Li Chang Su duduk di salah satu batu karang sambil menikmati suasana dingin pantai. Permukaan air laut yang membeku kini menampilkan matahari tenggelam, sangat indah. Gadis itu memakai jubah hangat dan uap keluar dari mulutnya saat mendesah.


"Lain kali aku akan mengajakmu ke sini ketika musim berganti." Mu Xianzhai merangkulnya. Gadis ini tampaknya menyukai pantai.


"Ya. Sangat disayangkan, ini beku."


Lict dan Mu Hongzhi mencari kayu bakar lalu membuat api unggun agar. Li Chang Su juga tidak tinggal diam. Malam ini dia ingin makan cumi-cumi bakar. Setelah membersihkan cumi-cumi yang cukup besar, segera menyiapkan pemanggang.


Daging yang dilumuri bumbu, membuat aromanya menjadi lebih kaya. Lalu dioles dengan saus khusus agar rasa menjadi lebih asam manis. Memanggang cumi-cumi cukup lama. Tentu saja untuk mendapatkan tekstur dan rasa yang lebih pas. Li Chang Su sangat andal dalam melakukan ini.


Adapun Lict, itu hanya menunggu. Ini tidak berbeda jauh saat mereka selalu menjalankan misi di zaman modern. Aroma cumi-cumi bakar mulai tercium. Li Chang Su juga membuat sausnya lebih dulu untuk membuat cita rasa cumi-cumi bakar lebih enak. Dan Mu Hongzhi sudah tidak sabar untuk mengambil satu.


Tapi sebelum dia menyentuh gagang salah satu cumi-cumi panggang, punggung tangannya sudah ditampar oleh Mu Xianzhai. Wajah di balik topeng perak pria itu menggelap.


"Istriku sendiri belum memakannya, berani ambil?" tanyanya menantang.


"..." Sepupu, kamu sangat jahat! Pikir Mu Hongzhi langsung berduka.

__ADS_1


Lict tidak peduli dengan cumi-cumi. Dia akan makan jika Li Chang Su sudah mengambil suapan pertama lebih dulu. Melihat ke sekeliling yang dingin dan gelap, dia memeluk tubuhnya sendiri.


"Apakah menurut kalian, orang-orang Sekte Hitam akan mengirim banyak pembunuh untuk melenyapkan kita?" tanyanya ragu.


__ADS_2