
DUA PELAYAN terdekatnya tak bisa berkata apapun untuk menyangkal semua itu. Sejak Rongyu dikutuk naga perak, sikap Mu Lizheng berubah. Entah itu karena banyaknya luka dan nanah di tubuh Rongyu atau memang merasa tidak enak dipandang lagi, mereka tahu lebih baik daripada siapapun.
Sekarang Rongyu sudah lebih baik dan lebih cantik dari sebelumnya. Setelah mandi darah sore tadi, tubuh Rongyu justru lebih lembut dan kenyal. Rona merah alami di pipinya juga membuat siapapun akan tergoda. Rongyu tidak percaya jika Mu Lizheng tidak akan tergoda olehnya malam ini.
"Putri, Yang Mulia hanya tergoda oleh mereka sementara dan pasti akan memanjakan Sang Putri di masa depan. Setalah Putri menjadi permaisuri, halaman belakang mudah untuk diurus," kata salah satu pelayannya lebih cerdas untuk menyenangkan hati tuannya.
"Yah, kamu benar. Tunggu sampai aku menjadi permaisuri!" Rongyu mau tidak mau hanya bisa menghibur dirinya. Waktunya masih panjang. Cepat atau lambat, kursi permaisuri itu hanya menjadi miliknya.
"Lalu, Putri, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya salah satu dari keduanya.
"Apa lagi? Tentu saja pergi dan temui dia. Aku ingin lihat, seberapa lihainya para selir itu merayu priaku!"
Rongyu akhirnya meninggalkan kamar dan pergi ke halaman Mu Lizheng berada. Suasana hatinya sangat baik malam ini. Setelah dia mandi darah, tubuhnya jauh lebih segar. Hanya saja yang membuatnya tidak nyaman, seseorang mungkin akan menebak bagaimana Mu Lanfen mati hari ini dan tidak ada darah di tubuhnya. Selain Mu Xianzhai dan juga Li Chang Su, orang lain tidak tahu.
Namun ini tidak jadi masalah. Rongyu tidak takut pada Li Chang Su. Sebelum dia mendapatkan darah Li Chang Su untuk detoksifikasi, ia akan terus menggunakan darah para gadis lain untuk membuat tubuhnya awet muda dan cantik.
Ketika Rongyu tiba di halaman Mu Lizheng, para pelayan terkejut dan tidak mencegahnya datang. Dia hanya membiarkan sang putri masuk. Lagi pula, tak ada satu pun dari mereka yang berani melawan Rongyu. Belum lagi Rongyu juga pernah berada di barak militer sebagai prajurit wanita.
Hanya saja para pelayan tidak menyangka jika Rongyu akan sangat berbeda malam ini. Sepertinya lebih cantik. Pakaiannya sedikit terbuka dan kainnya tipis. Jelas datang malam ini untuk menghabiskan waktu dengan putra mahkota.
Ketika Rongyu masuk sambil tersenyum ramah, Mu Lizheng mengetahuinya. Awalnya dia tidak mau terlalu peduli dan mengajaknya untuk minum bersama, tapi siapa tahu jika wanita itu akan begitu berbeda malam ini.
Bahkan para selir merasa kecemburuan yang tinggi. Wanita yang dibesarkan di barak militer sejak kecil, tidak mungkin seanggun sekarang. Namun faktanya Rongyu pintar bermain kepura-puraan dan memanggil putra mahkota dengan lembut.
Jadi mau tidak mau, para selir itu kalah darinya dan Mu Lizheng mengusir mereka semua untuk kembali ke halaman masing-masing.
Malam ini, Mu Lizheng ditakdirkan untuk patuh di bawah pengaruh Rongyu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Keesokan paginya.
Ibu kota kekaisaran terasa sama seperti biasanya, kecuali tentang berita kematian Mu Lanfen yang masih jadi perbincangan. Siapa yang membunuh di mata hukum kekaisaran, sungguh berani. Sayangnya, orang-orang dari pengadilan belum bisa menangkap pelakunya, tidak ada jejak sama sekali.
Pagi ini, Li Chang Su pergi ke Istana Ibu Suri dan menyapa pasangan tua itu. Lalu pergi ke istana kekaisaran. Hari upacara satu bulan kelahiran bayi di Istana Bupati sudah dekat tapi kasus ini jelas menjadi pro dan kontra. Pada akhirnya, acara hanya akan digelar biasa saja agar tidak menyinggung pihak lain. Bagaimana pun juga, Mu Lanfen masih saudari dari semua pangeran, adik mereka.
Jadi meski beda ibu dan hanya lahir dari selir, darah kaisar mengalir di tubuhnya.
Li Chang Su pergi untuk melihat mayat Mu Lanfen yang kini masih ada di ranjang batu giok es, siap untuk dikuburkan. Ada pelayan dan penjaga yang mengawasi sekitar, berharap pelaku tidak datang untuk menghancurkan bukti. Ketika Li Chang Su dan Mu Xianzhai datang, mereka membungkukkan hormat.
Li Chang Su berjalan ke ruangan dan merasa hawa dingin dari ranjang batu giok es. Mayat Mu Lanfen terbaring di atasnya, terbujur kaku. Li Chang Su mengerutkan kening dan melihat melalui kemampuan mata dewa, darah di tubuh Mu Lanfen benar-benar sedikit. Tidak heran tubuh gadis itu sangat pucat, seperti manekin.
"Su'er ..." Mu Xianzhai hanya menunggu dengan tenang, melihat gadis itu memperhatikan mayat Mu Lanfen yang telah terbujur kaku.
"Ada luka di lehernya?" tanya gadis itu.
"Ya, itu luka sayatan," jawabnya.
Mu Xianzhai tidak menimpali, menunggu gadis itu menjelaskan lebih lanjut.
"Ritual mandi darah untuk menutupi kutukan ini tidak terlalu rumit, darah manusia dicampur dengan air yang telah diberi sedikit air mayat, lalu berendam selama waktu yang ditentukan ... Efeknya sudah bagus." Li Chang Su menghela napas. "Ayo keluar, aku sudah tahu siapa yang melakukannya. Ini benar-benar dia," imbuhnya.
Keduanya keluar dan bertemu dengan Mu Hongzhi yang tengah membantu memecahkan kasus ini. Awalnya pria itu berada di barak militer dan tidak ikut, namun terpaksa kembali setelah menerima surat dari ayahnya—Mu Hongshan karena alasan khusus. Jadi kali ini, dia membantu kasus kematian Mu Lanfen.
Dengan kecepatan kuda putih mutasi dalam berlari tanpa henti, Mu Hongzhi dan Lict hampir muntah dan mual sepanjang perjalanan pulang dan tiba kurang dari satu hari. Ini luar biasa mengejutkan. Jadi saat ini, Mu Hongzhi sedikit lemah dan pucat akibat lemparan dari kuda putih mutasi di perjalanan.
Saat melihat Mu Hongzhi, Li Chang Su memiliki penjelasan rahasia pada pria itu dan memintanya untuk berpura-pura mencari pelaku.
Saat Mu Hongzhi tahu siapa yang melakukannya, ada sedikit kejutan, lalu berubah menjadi ketenangan. Namun siapa yang sangka, pangeran kedua—Mu Peizhi juga datang dan telah menebak sejak lama. Akhirnya dikonfirmasi hari ini oleh Li Chang Su.
__ADS_1
"Lalu, Sepupu Ipar ... kapan hal ini akan diungkapkan?" tanya Mu Hongzhi.
"Tunggu ... tunggu setidaknya sampai buktinya kuat. Saat ini, wanita itu masih berguna untuk Mu Lizheng dan juga permaisuri bukan?" Li Chang Su menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudnya ..." Mu Hongzhi menyipitkan mata.
Pada akhirnya, Mu Peizhi tersenyum santai dan tahu maksud gadis itu. "Maksud Putri Xian adalah ... Rongyu digunakan sebagai batu loncatan bagi Mu Lizheng untuk mendapatkan takhta dan keluarga Jenderal Rong akan hancur pada saat itu juga. Jadi tidak terburu-buru."
"Ah ... Ternyata seperti itu," gumam Mu Hongzhi.
Akhirnya, Mu Xianzhai yang telah mengamati sejak awal pun terkekeh dan menatap Mu Peizhi melalui topeng peraknya. "Kakak Kedua memang layak menjadi kaisar masa depan."
"..."
Mu Peizhi yang sedikit berkeringat dingin di punggungnya pun tak sengaja melihat tatapan penuh makna saudara ketiganya. Kenapa rasanya ada sesuatu yang tidak benar dengan ucapannya? Pikirnya.
Pada akhirnya, mereka berempat pergi meninggalkan Istana Kekaisaran aetskah menyapa kaisar yang marah. Bukan marah sungguhan, tapi sedikit konyol. Kenapa semua anaknya begitu membangkang akhir-akhir ini, membuat tubuh tuanya kelelahan.
Ketika masih kecil, para pangeran dan seorang keponakan itu berbakti dan patuh, kini setelah dewasa, memalingkan wajahnya dengan cepat. Seberapa marahnya kaisar, di bawah tatapan pensiunan kaisar—sang ayah, dia tidak berani berteriak lagi.
Mu Peizhi membawa mereka ke Paviliun Persik, salah satu cabang restoran mewah ibu kota. Pelayan sudah terbiasa dengan kedatangan pangeran kedua dan menyambut kedatangannya dengan sangat sopan.
"Paviliun Persik ini adalah tempat favoritku, ada banyak menu yang enak di restorannya. Kalian bisa makan sepuasnya, aku yang membayar hari ini," kata Mu Peizhi, suasana hatinya sangat baik.
"Sepupu Kedua, kamu sangat baik." Mu Hongzhi terlihat antusias ketika memegang gulungan menu yang diberikan pelayan.
"Kapan aku menjadi orang pelit?"
"..." Kamu tidak pernah pelit, tapi enggan mengeluarkan uang! Mu Hongzhi tidak mau berdebat tentang ini, khawatir kata-kata membayar makanan itu akan ditarik kembali.
__ADS_1
Li Chang Su dan Mu Xianzhai bersikap seperti biasanya. "Omong-omong, bagaimana dengan tubuhmu saat ini? Apakah merasa lebih baik?" tanya gadis itu.