
JIKA MU XIANZHAI memiliki tubuh istimewa yang selama ini telah membawa negara dalam kemenangan, Li Chang Su khawatir sekelompok orang mengincar Mu Xianzhai. Apalagi ini malam hari. Sepertinya ada sesuatu yang akan terjadi malam ini.
Li Chang Su juga harus bersiap untuk membantu jika masalah ini semakin membesar. Dia mungkin tidak bisa memakai seragam militernya lagi seperti dulu. Akan lebih baik seperti ini. Tidak akan ada orang yang curiga.
Saat dia begitu sibuk menyiapkan apa saja yang akan dilakukan, tiba-tiba seseorang masuk dan memeluknya dari belakang. Li Chang Su tidak terkejut dan ingin menyerang. Namun setelah mengetahuinya jika itu Mu Xianzhai, ia pun akhirnya rileks.
"Kamu mengagetkanku!" Serunya.
"Maaf. Tapi ini mendesak. Apakah Su'er akan ikut?"
"Tumben mengajakku?" Gadis itu menaikkan sebelah alisnya sambil memasukkan beberapa botol berisi cairan obat.
Mu Xianzhai mengembuskan napas panjang, berusaha untuk tenang. "Jika aku tidak mengajakmu, kamu mungkin akan menyusul tanpa sepengetahuanku."
"....." Gadis itu memang akan pergi sendiri untuk menyelinap ke tempat pertempuran terjadi. Mungkin, Mu Xianzhai tahu dia sedang bersiap untuk pergi.
"Apakah ini perang?" tanyanya.
"Ya .... Walaupun aku ingin kamu ada di sini hingga perang di luar perbatasan mereda, tapi itu tidak mungkin. Dengan semangat juangmu sebagai prajurit, pasti akan diam-diam menyelinap. Akan lebih baik membawamu sekalian agar aku bisa mengawasimu sepanjang waktu." Mu Xianzhai menjelaskan dengan baik. Dia takut terjadi apa-apa pada gadis ini jika tidak ada dalam pandangan. Alangkah lebih baik jika dia menjaganya sendiri.
Li Chang Su menundukkan kepala. "Bukanlah itu akan menghalangimu?"
"Kamu bukan penghalang." Pria itu menyentil keningnya. "Buku apa yang kamu baca saat di zaman modern hingga kepalamu dibanjiri air? Apakah itu seorang pangeran yang kejam pada wanghao-nya dan tidak peduli saat terluka? Atau hal lain yang menyangkut tokoh wanita yang dianggap menjadi penghalang oleh suaminya karena menghambat kemenangan?"
"Bagaimana kamu tahu hal-hal itu? Aku tidak pernah memberikanmu buku-buku seperti itu?!" Li Chang Su jelas terkejut. Apakah Mu Xianzhai ini semakin pintar menebak atau ada mata-mata di pihaknya.
"Bodoh! He Ze bisa keluar-masuk ruang artefak dan memberiku buku untuk dibaca. Bahkan jika kamu sedang tidur, He Ze bisa keluar sendiri."
"....." Li Chang Su merasa privasinya mulai bocor.
__ADS_1
Mu Xianzhai tidak memiliki banyak waktu saat ini. Setelah dia memakaikan jubah hangat pada Li Chang Su, dia segera membawanya pergi. Tidak ada banyak jeda istirahat lagi. Cukup mendesak.
Adapun He Ze dan kelinci mutasi yang ditinggalkannya di tenda, tidak akan merasa terancam. Keduanya sangat pintar dan bisa menjaga diri. Karena itu, Mu Xianzhai tidak bisa dianggap kejam saat ini.
Ketika keluar tenda, angin malam segera menerpa tubuh berjubah keduanya. Seekor kuda jantan hitam tiba-tiba muncul, dituntun oleh Mu Hongzhi yang duduk di atas kuda jantan berwarna cokelat. Kuda itu terlihat gagah dan terawat, mendengus khas saat merasa tidak nyaman di wajahnya.
"Sepupu, ini kudamu," kata Mu Hongzhi yang telah berganti pakaian menjadi baju zirah. Rambutnya diikat di belakang dengan rapi, memakai pelindung kepala (helm tentara). Pedang tersarung rapi di pinggangnya.
Kuda hitam itu terlihat cukup agresif saat dibawa oleh Mu Hongzhi. Bahkan hampir menendangnya. Untung saja kuda cokelat yang ditunggangi cukup cerdas. Meski bukan kuda mutasi, tapi mereka seakan-akan memiliki pemikiran tersendiri
Mu Xianzhai hanya mengangguk. Sorot matanya di balik topeng memang tidak jelas, tapi dipastikan tidak santai.
"Apakah Sepupu Ipar akan pergi juga?" tanya Mu hingga kebingungan saat Li Chang Su dibantu naik ke atas punggung kuda.
"Raja ini tidak sendiri lagi sekarang. Tidak ada salahnya membawa istri," jawab Mu Xianzhai dengan nada penguasa. Membuat anjing tunggal seperti Mu Hongzhi hanya menelan buah pahit.
Mu Hongzhi akhitanya pergi dengan membawa pasukannya yang dipimpinnya sendiri. Sedangkan Mu Xianzhai yang duduk di posisi belakang pun memegang tali kuda dengan hati-hati, lalu meminta kuda hitam itu untuk mengikuti yang lain.
Li Chang Su duduk di depan merasa luar biasa. Dia belum pernah duduk di atas kuda jantan yang besar seperti ini. Bahkan saat di zaman modern, ia sering berlatih menaiki kuda dan mengelilingi lapangan untuk latihan. Hanya saja, itu masih kuda standar.
Tapi, mungkin sekarang ia bertubuh lima belas tahun. Sehingga di matanya, kuda ini terlalu besar untuk ditunggangi sendiri.
"Kupikir kamu akan memberiku kuda sendiri," kata Li Chang Su seraya menyipitkan matanya ketika kepingan salju mengenai wajah. Seperti salju mulai turun lagi.
"Kalau begitu tidak ada gunanya aku membawamu jika harus mengambil kuda sendiri." Pria itu terkekeh.
"....." Li Chang Su tidak berdaya.
Semua prajurit mengikuti di belakang. Sedangkan para pemimpin berada di atas kuda dan memimpin mereka semua untuk menuju luar perbatasan. Adapun Mu Xianzhai, segera pergi ke sisi lain. Tidak jauh dari posisi Mu Hongzhi.
__ADS_1
Banyak obor menyala untuk menerangi sekitar. Karena perang di malam hari cukup merepotkan. Selain penerangan yang minim, mereka juga harus waspda dari serangan tersembunyi.
Ketika gerbang benteng perbatasan dibuka, suara para prajurit yang bersemangat untuk membawa kemenangannya pun bergema. Mereka memegang tombak dan juga pedang, siap untuk membunuh.
Li Chang Su tidak terbiasa dengan suasana tanpa senjata api seperti ini. Di kehidupan modern, para prajurit akan berbondong-bondong mencari tempat bersembunyi dan menembak musuh yang datang. Perang senjata api dan juga bom pun tak lepas dari korban.
Karena itu, ketika Li Chang Su sadar jika tempat ini adalah zaman kuno, sedikit tidak nyaman. Ia sangat ingin mengeluarkan senjata api, menembak para binatang mutasi hingga mati. Sayangnya, ia tidak mungkin mengeluarkannya. Hanya bisa bermain pedang.
Setelah keluar dari benteng perbatasan, Li Chang Su menggunakan mata dewanya untuk melihat ke sekitar. Kuda yang ditungganginya bersama Mu Xianzhai pun berhenti tak lama setelahnya. Tanpa diduga, sebenarnya dia berada di baris paling depan dari para jenderal lain.
"Apakah kamu memimpin perang ini?" tanyanya.
"Ya. Hanya membuat mereka bersemangat saja. Setelah itu, aku akan sibuk dengan urusanku sendiri." Mu Xianzhai memeluknya sebentar sebelum terfokuskan pada sekelompok binatang mutasi yang berjalan perlahan menuju lokasi mereka.
Mu Hongzhi ada di sampingnya, memegang lentara kecil sebagai penerangan. Sebelum akhirnya lentera itu diserahkan pada salah satu prajurit.
Trompet perang dibunyikan oleh pihak lawan. Lalu pihak Mu Xianzhai juga melakukan hal serupa. Pada akhirnya, setelah mendapatkan perintah Mu Xianzhai, mereka maju bersama-sama untuk melawan para binatang mutasi kegelapan.
"Serang ... Serang! Kemenangan akan diraih oleh negara kita. Bunuh para binatang mutasi itu!" teriak salah satu jenderal dengan lantang. Menunggang kuda hitamnya sambil mengacungkan pedang.
"Serang ....!!" Para prajurit langsung berbondong-bondong untuk menyerang, mengangkat pedang mereka dan menusuk pada binatang mutasi kegelapan yang melawan.
Kali ini, binatang mutasi itu lebih kuat daripada gelombang beberapa tahun yang lalu. Hingga membuat Mu Xianzhai sendiri mengerutkan kening di balik topengnya.
Adapun Li Chang Su, dia sangat terkejut. Perang zamab kuno yang penuh semangat juang. Pertumpahan darah dan mati sukarela di medan perang. Mengorbankan diri untuk negara. Bahkan mungkin tidak memiliki waktu untuk mengucapkan selamat tinggal pada keluarga.
Ini membuat gadis itu sedikit emosional. Ia mungkin tidak memiliki orang tua di zaman modern. Tapi setidaknya, ia tahu seperti apa keluarga.
"Mu Xianzhai, aku akan membantumu untuk menemukan si pengendali. Dan meminta He Ze serta Xue Zi untuk membantu juga. Bagaimana menurutmu?" tanyanya meminta pendapat dari Mu Xianzhai.
__ADS_1