Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Mu Xianzhai Memikirkan Cara


__ADS_3

MU XIANZHAI segera menghampirinya dan membiarkan Li Chang Su agar duduk di pangkuannya. Dia menyentil hidung gadis itu dengan ekspresi lucu. Setelah melepas topeng peraknya, dia terkekeh.


"Tidak mungkin. Hal itu tidak akan terjadi. Ingat, cap segel Raja ini ada pada Su'er sekarang. Jadi Su'er yang menjaganya," jawab Mu Xianzhai lembut.


Namun suasana hati gadis itu belum membaik. Hari ini sungguh tidak terduga. Dia berpikir jika cap segel itu adalah milik Mu Xianzhai pada awalnya sehingga saat ini, ia dalam suasana hati yang buruk.


"Kupikir kamu benar-benar pergi ke Rumah Harum dan melakukannya," kata Li Chang Su agak enggan.


"Bahkan jika aku ini tidak diizinkan tidur di ranjang yang sama dengan Su'er, tidak mungkin pergi ke sana untuk melampiaskannya. Pasti aku akan mendobrak masuk," bisik pria itu agak menggoda.


"Kamu hooligan!" Li Chang Su mencubit kedua pipi pria itu.


Kulit wajah Mu Xianzhai begitu halus seperti tidak pernah mengalami masalah apapun. Saat Li Chang Su memperhatikan kulitnya dengan baik, Mu Xianzhai tiba-tiba saja mencium bibirnya dengan cepat, menekan kepala belakangnya hingga ciuman semakin terasa.


Li Chang Su ingin mendorong pria itu dan melepaskan diri, namun tampaknya Mu Xianzhai begitu bersemangat hari ini sehingga tidak mau melepaskannya. Pada akhirnya ketika gadis itu hampir kehabisan napas, Mu Xianzhai baru melepaskannya.


"Su'er ... Tidur denganku malam ini, ya?" tanyanya membujuk.


"Tidak! Hukumanmu belum selesai!" Gadis itu menolak meski duduk di pangkuan Mu Xianzhai memang nyaman. Dia cemberut.


"..." Mu Xianzhai sepertinya harus memikirkan cara lain agar istrinya meminta lebih dulu.


Pada akhirnya Li Chang Su turun dari pangkuan Mu Xianzhai dan pergi untuk mempersiapkan hari pesta bunga. Dia juga harus berbicara dengan Mu Lanfen dan Mu Chuxin tentang beberapa peraturan yang harus dipatuhi di acara tersebut.


Melihat punggung istrinya yang semakin menjauh, Mu Xianzhai menyipitkan mata. Dia memanggil penjaga gelapnya untuk memberi beberapa pertanyaan. Kira-kira apa yang bisa membuat istrinya ingin tidur satu ranjang dengannya?


Sementara itu ....


Ketika Li Chang Su kembali ke Istana Raja Perang, hari sudah menjelang sore. Dia baru saja kembali dari kediaman Mu Lanfen sambil memegang buku yang berisi informasi penting yang diberitahukan oleh putri itu.

__ADS_1


Suasana di Istana Raja Perang selalu tenang. Mu Xianzhai juga tidak terlihat di ruang belajar. Pria itu ada di ruang istirahat saat Li Chang Su kembali. Tampaknya tidak ada hal-hal aneh selama gadis itu pergi. Bahkan dengan baik hati, Xuxu dan Xuyao sudah menyiapkan makan malam.


Terkadang Li Chang Su curiga jika Mu Xianzhai menyimpan sesuatu di hatinya. Ada yang aneh sore ini. Tumben sekali pria itu begitu tenang. Pasti ada sesuatu yang salah. Namun setelah memastikan jika semuanya begitu normal, Li Chang Su berpikir jika dia mungkin terlalu lelah.


"Nah, pulang terlalu sore. Lain kali jangan seperti itu. Ingat, kamu sudah menikah," kata Mu Xianzhai memperingati dengan halus.


Ia tahu istrinya pasti suka berpergian dan tak ingin dikekang. Lagi pula ini adalah janjinya sebelum mereka menikah dulu. Apapun yang dilakukan gadis itu, Mu Xianzhai tidak melarangnya selama bukan meninggalkan dia atau menemukan pria lain.


"Aku tahu. Ada sesuatu yang ingin kuberi tahu," kata gadis itu seraya duduk di sampingnya.


"Apa itu?" Mu Xianzhai merangkulnya.


"Tentang putra mahkota. Masih ingat dengan wanita bergaun merah muda bernama Li'er itu?" tanyanya agak cemberut.


Mu Xianzhai terkekeh. "Kenapa aku harus ingat?"


"Dia dan putra mahkota berada dalam satu kamar dan memadu kasih. Rongyu memergokinya dan berteriak marah-marah hingga hampir membunuhnya. Putra mahkota melerai dan berkata jika mulai sekarang, wanita itu adalah salah satu selirnya," cibir Li Chang Su.


"Aku hanya memeriksa sebentar karena penasaran. Siapa yang tahu itu akan terjadi?" Kali ini Li Chang Su merasa senang. "Ternyata teman masa kecilmu itu yang merencanakan semua ini. Tapi ... Kapan pernikahan besar mereka akan dilakukan?" tanyanya penasaran.


"Pernikahannya akan dilakukan setelah Mu Lizheng sah sebagai penerus takhta. Tapi tampaknya saudara kedua sudah mulai bertindak. Apalagi jika kondisi tubuhnya sekarang mulai membaik. Mungkin saat ini permaisuri juga sudah menemukan kandidat yang cocok untuk gelar calon permaisuri," jelas pria itu dengan nada pelan.


"Kamu tahu seperti apa permaisuri? Apakah dia begitu jahat?"


"Apa yang Su'er ketahui tentang para permaisuri dalam cerita?" Mu Xianzhai menaikkan sebelah alisnya.


"Yang jahat selalu lebih lama hidup dan permaisuri baik selama pendek umur."


Mu Xianzhai segera tertawa menyenangkan dan memeluknya. "Su'er hampir benar. Tapi satu hal yang harus Su'er tahu kenapa permaisuri yang baik tidak memiliki umur yang panjang," katanya.

__ADS_1


"Apa itu?"


"Mereka tidak memperebutkan kekuasaan dan memilih cara yang benar untuk menjadi ibu negara yang mensejahterakan rakyat. Dengan begitu, dewa juga melindungi orang-orang yang baik."


Sangat jarang bagi Mu Xianzhai untuk memberi ceramah singkat. Dia khawatir Li Chang Su akan salah paham dan mengira jika semua permaisuri itu jahat. Meski dia tahu bahwa permaisuri saat ini—ibu dari putra mahkota—Mu Lizheng serta Mu Ying, juga bukan permaisuri yang baik.


Namun ada Mu Peizhi di sisi lain yang masih memiliki ibu selir. Ayah kaisar sangat menyayangi selir-selirnya hingga tidak pernah sekalipun memiliki masalah. Namun cintanya tetap pada mendiang ibu Mu Xianzhai. Jika sekarang ibu pria itu masih hidup, mungkin Mu Xianzhai akan selalu hidup di tengah. Antara melindungi ibu atau membesarkan istri kecilnya.


Gadis itu terdiam untuk waktu yang cukup lama dan memperhatikan jika Mu Xianzhai tampak kurang tidur dengan baik. Namun pria itu hanya tersenyum dan tidak mempermasalahkannya sama sekali. Bagaimana bisa dia tidur nyenyak tanpa istrinya?


Saat makan malam tiba, Li Chang Su tidak banyak bercerita. Dia hanya berkata jika malam ini tidur lebih awal. Tapi anehnya, saat ia mencium aroma bunga mawar yang ada di vas bunga, perasaannya agak aneh.


"Dari mana bunga itu berasal?" tanyanya.


"Ye Tianli," jawab Mu Xianzhai agak acuh tak acuh. Dia menyelesaikan makan malamnya dan meminum segelas air putih hingga habis.


"Tumben kamu begitu baik padanya?" Li Chang Su menaikkan sebelah alisnya dan bertanya dengan ringan. Hantu apa yang merasuki Mu Xianzhai hari ini? Kenapa bunga dari pria yang dibencinya ada di ruang makan? Belum lagi di dalam vas yang cantik.


Mu Xianzhai diam-diam menggertakkan giginya. Dia juga tidak mau, tapi karena keinginan lain, mau tidak mau ia melakukannya. Dengan senyum tidak berbahaya, dia menjelaskan pada Li Chang Su jika bunga mawar merah itu baru dipetik dari hutan yang tak terjamah manusia sebelumnya.


Walaupun tidak tahu keistimewaannya, namun Li Chang Su mengakui jika aromanya memang sangat harum dan menyegarkan. Belum lagi saat ini sedang musim semi. Bunga-bunga akan mekar lebih banyak di masa depan.


Hanya saja, Li Chang Su merasa tubuhnya aneh. Dia lebih memilih untuk pergi lebih cepat dan beristirahat. Mungkin dia terlalu lelah dan agak pusing sehingga saat melihat Mu Xianzhai, pasti memiliki keinginan yang kuat.


Jelas tidak ada racun di ruangan itu. Bunganya juga baik-baik saja. Sehingga dia yakin jika Mu Xianzhai tidak bermain trik dengannya. Ketika tiba di kamar, dia meminta kedua pelayan pribadinya untuk beristirahat. Hanya saja ketika dia membuat dirinya tenang, tubuhnya mulai tidak jujur.


Perasaan ingin menyentuh Mu Xianzhai itu muncul ....


Pada akhirnya Li Chang Su bangun dari tempat tidur dan membuka pintu kamar. Ia menatap Xuyao yang selalu siaga. "Panggilkan Mu Xianzhai untukku. Aku ingin membicarakan sesuatu dengannya."

__ADS_1


"Putri, bukankah raja sedang dihukum? Kenapa memanggilnya sekarang?" Xuyao menaikkan sebelah alisnya, tampak bingung.


__ADS_2