
KEESOKAN HARINYA, salju tidak lagi turun. Tapi cuaca tetap mendung. Li Chang Su bangun lebih awal seperti biasanya. Lalu meminta Xuxu dan Xuyao untuk menyiapkan sarapan. Kali ini, dia melihat kelinci mutasi dan He Ze ada di atas kursi. Tubuh keduanya telah putih dan bersih seperti sebelumnya.
Ia menyipitkan mata dan memakai zaoshan yang agak tebal untuk mengindari angin dingin, "Katakan, bagaimana kalian bisa seperti tikus semalam? Penuh lumpur?" Tanyanya.
He Ze ingin mengeluh dan menaiki punggung kelinci mutasi ini untuk bediri lebih tinggi. Tapi kelinci itu tidak mau dan merasa direndahkan.
"Kami jatuh ke tempat yang penuh lumpur. Aku tidak tahu, tapi itu kubangan yang cukup besar. Tidak membeku," He Ze segera menjelaskan agar Li Chang Su tidak menghukumnya.
Di ruang artefak, dia sedang merebus kacang tanah. Membutuhkan waktu beberapa saat untuk matang. Jadi ia bosan dan keluar dari ruang artefak.
Pagi ini, penjaga melaporkan pohon tumbang di halaman belakang tempat Mu Xianzhai tinggal. Mereka mengira itu disebabkan oleh binatang tertentu karena gigitan di batang pohon.
Saat mengetahui hal ini, Li Chang Su menatap kelinci mutasi yang hidungnya terus berkedut. Tanpa ada rasa bersalah. Lalu He Ze mencerikan kejadian semalam dengan detail.
Ada seorang penjaga kegelapan yang pingsan karena melihatnya berbicara. Saat bangun dari pingsannya semalam, penjaga itu berkata ada tupai yang bisa bicara. Tapi tidak ada yang percaya padanya hingga bos dari penjaga gelap akhirnya menggampar kepalanya lagi hingga pingsan. Berharap setelah bangun akan lebih masuk akal.
Tupai bisa bicara?
Apakah ada di dunia ini binatang yang bisa berbicara layaknya makhluk spiritual?
Jika benar, berapa banyak orang yang akan membelinya untuk menemani malam yang sepi?
Untungnya Mu Xianzhai meminta bawahannya untuk menenangkan orang-orang. Jika tidak, mereka berpikir ada penyusup atau binatang mutasi yang menyelinap ke istana. Dia tahu betul tentang Li Chang Su yang pasti akan melindungi kelinci mutasi itu.
Ruam-ruam di tubuh Mu Xianzhai mulai membaik sejak semalam dia menggunakan sedikit ilmu tenaga dalamnya untuk melancarkan meridian. Untuk memaksimalkan hasil, dia mengoleskan lagi salep dingin yang diberikan Li Chang Su semalam. Ternyata efeknya lebih baik dari salep lain.
Dia tidak tahu jika gadis itu memiliki sesuatu yang mujarab. Bahkan dokter kekaisaran saja tidak mampu meresepkan salep seperti ini.
"Di mana sepupuku? Bukankah aku sudah memintamu untuk mengundangnya?" Tanya Mu Xianzhai pada bawahannya.
"Yang ... Yang Mulia. Ditemukan banyak binatang mutasi di sekitar kebun warga. Dan ada kubangan lumpur juga. Binatang mutasi itu mirip lintah besar yang mengerikan. Jenderal Hong pergi ke sana setelah perintah kaisar," jawab bawahannya secara menyeluruh.
Mu Xianzhai menyipitkan mata. Lagi-lagi binatang mutasi berhasil menerobos ke daerah pemukiman Negara Bingshui. Tampaknya membangun benteng perbatasan tidak berguna jika mereka menggunakan jalur bawah tanah.
Mu Xianzhai curiga jika ada terowongan bawah tanah tersembunyi yang memungkinkan mahkluk itu menyelinap.
Besok adalah hari terakhir di mana dia bersantai. Dan acara pernikahan akan dilangsungkan. Dia tidak mau di hari pernikahannya, para binatang mutasi ini mengganggu. Dan setelah menikah juga, dia harus kembali ke perbatasan Utara untuk mengeceknya.
__ADS_1
"Oke, aku tahu. Pergi dan panggil Su'er untukku. Katakan padanya, bawa tupai itu juga ...," Perintahnya.
"Ya."
Penjaga gelap itu sangat patuh dan menghilang lagi ke dalam bayang-bayang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketika penjaga gelap datang ke halaman Li Chang Su, gadis itu sedang sarapan. He Ze memakan kacang rebus di sisi meja yang lain dan tidak peduli dengan penampilannya yang rakus. Sementara kelinci mutasi terpaksa kembali ke ruang artefak untuk beristirahat.
Penjaga gelap itu melaporkan perintah Mu Xianzhai, lalu menatap He Ze yang sedang makan. Perasaan aneh menyelimuti pikiran penjaga gelap. Entah kenapa dia merasa jika tupai ini bisa mengerti ucapannya. Terakhir kali beraksi, mereka kagum dengan tupai ini. Tapi berakhir dengan hukuman sang raja.
Karena itu, seberapa beraninya dia ingin mengetahui banyak tentang tupai putih ini, tidak bisa terang-terangan. Jika Mu Xianzhai tahu lagi, hukumannya bertambah.
"Oke, aku akan segera pergi. Katakan saja aku akan menyelesaikan sarapan dan menemuinya," Li Chang Su tidak terlalu peduli dan memakan sarapannya dengan baik.
Sebagai prajurit khusus di zaman modern, dia tidak pernah melupakan sarapan. Jika harus makan pada jam ditentukan, itu makan dengan baik. Tidak boleh ada yang mengganggu.
Dan makanan yang tersaji pun juga hanya sayuran dan olahan daging, segelas susu serta beberapa buah. Setelah penjaga gelap itu pergi, Li Chang Su menghela napas.
"Mungkin ini berkaitan dengan semalam. Menurut Xuyao, dia mendapatkan informasi jika ada beberapa kubangan lumpur aneh dan dipenuhi lintah mutasi. Untung saja kalian beruntung semalam. Jika tidak, kalian mungkin sudah menjadi tubuh tanpa darah," Li Chang Su mengerutkan kening.
Akhir-akhir ini tampaknya banyak biantang mutasi yang menyelinap ke wilayah pemukiman. Terutama benteng perbatasan telah dibuat. Tapi tetap saja biantang mutasi bisa masuk.
Mungkin Mu Xianzhai juga memikirkan banyak prajurit di perbatasan. Karena hanya dari sana makhluk-makhluk itu bermunculan.
Setelah sarapan, dia membawa He Ze ke halaman di mana Mu Xianzhai menginap dan pria itu sedang sarapan juga. Setelah mengijinkannya masuk, Li Chang Su melepaskan jubah hangat di tubuhnya dan memeriksa ruam-ruam di tubuh Mu Xianzhai.
Untung saja sudah membaik dan tidak terlalu membandel. Tapi untuk memaksimalkan hasil, Mu Xianzhai tidak boleh keluar untuk menerpa angin dingin. Atau ruam akan kembali parah.
"Aku sudah meminta Mu Hongzhi untuk membantuku mengatasi ini. Su'er bisa tenang, aku tidak akan berkeliaran," Mu Xianzhai bersikap patuh di depannya. Yang membuat gadis itu tidak menduga.
"Lalu kenapa memanggil He Ze juga? Apakah terkait semalam?" Tanyanya.
"Ya," pria itu menatap He Ze dengan tatapan menyelidik, "di mana kamu jatuh ke lumpur semalam?"
"Aku? Huh ...," He Ze berkacak pinggang dan ekspresinya menjadi sedikit tidak bersahabat ketika mengingatnya.
__ADS_1
Semalam, dia dikejar kelinci mutasi hingga tanpa sadar menginjak lumpur. Lalu kelinci mutasi itu terlanjur melompat ke kubangan lumpur hingga menjadi yang paling kotor. Dia tertawa senang karena kesialannya. Tapi siapa yang tahu jika kelinci mutasi itu masih bisa bergerak dan menenggelamkannya di lumpur.
Ia juga berkata jika selama kelinci mutasi ini ada di sekitar, binatang lain tidak akan berani mendekat. Karena itu lah semalam tidak terjadi apa-apa. Atau melihat lintah seperti yang dikatakannya.
"Benar-benar tidak ada?" Mu Xianzhai maish belum yakin.
"Nak, jika ada, tubuhku pasti sudah kurus kering karena kehilangan banyak darah."
He Ze menghela napas dan meyakinkannya.
Mu Xianzhai mencibir, "Darah di tubuhnya tidak jarang. Hanya sedikit. Lintah mutasi itu tidak akan berani mengisap darah mu karena terlalu kurus."
"....."
He Ze merasakan panah menusuk jantungnya. Itu sangat kejam. Bahkan jika dia hanya makhluk kecil yang tidak memiliki banyak darah, tapi setetes darahnya adalah obat. Tidak tahukah itu? Dia bukan tupai putih biasa, tapi tupai roh artefak.
Di ruang artefak, kelinci mutasi benar-benar ingin tertawa untuk kesengsaraannya. Betapa baiknya itu jika ada yang mengejek tupai sialan yang merendahkannya di mana-mana.
"Jadi kamu memanggil leluhur ini hanya untuk bertanya itu saja?" He Ze merasa bahwa dia telah menyia-nyiakan banyak waktu untuk berkata omong kosong. Kacang rebusnya masih menunggu untuk di makan.
"Aku ingin kamu pergi dengan Mu Hongzhi dan mencari tahu sesuatu. Lalu kembali dan laporkan," Mu Xianzhai memiliki nada memerintah.
He Ze menjerit dan memeluk ekor berbulunya yang lembut. Lalu menatap Mu Xianzhai sambil menunjuknya, "Kamu keturunan tidak berbakti pada leluhur. Aku ini leluhur roh artefak. Berani sekali kamu memerintahkanku aku untuk tugas kecil seperti itu!!"
Suaranya sangat nyaring dan menggemaskan. Tapi Li Chang Su sangat ingin menyumpalnya dengan banyak kacang. Dia mendengus dan melemparkan He Ze ke luar jendela. Lagi-lagi, tupai itu tenggelam dalam tumpukan salju yang dingin.
Makhluk berbulu itu ingin protes karena Li Chang Su bahkan lebih berani untuk melemparkannya ke luar. Tapi sebelum berbicara banyak, Li Chang Su sudah dulu membuatnya takut.
"Ekor mu sangat cantik hingga aku tidak sabar untuk memotongnya dan menjadikannya gantungan kunci. Jika kamu belum pergi dan mengomel di sini seperti ibu-ibu cerewet, percaya atau tidak, ekormu hilang. Karena kamu roh artefak, ekormu pasti akan tumbuh lagi bukan?"
Li Chang Su terus berkata sambil menatap He Ze yang menggigil di luar melalui kemampuan mata dewa nya. Tupai itu pun menyerah dan melarikan diri dengan cepat.
Manusia itu menggertak. Sungguh tidak beruntung memiliki tuan yang kejam.
Setelah He Ze pergi, Mu Xianzhai tidak bisa menahan diri lagi dan tertawa rendah. Gadisnya sangat luar biasa.
"Su'er, bisakah aku juga menggertaknya di masa depan?"
__ADS_1