
LI CHANG SU ingin mengatakan sesuatu dan merasa ini kesempatan yang baik. Pensiunan kaisar biasanya lebih berkuasa daripada kaisar sendiri. Bahkan Kaisar Mu agak konyol menurutnya. Namun dia merasakan remasan di pinggangnya sedikit lebih kencang, tanpa sadar menatap Mu Xianzhai.
Pria itu mungkin tidak ingin dia meminta sesuatu.
Tiba-tiba saja pensiunan kaisar mendengus ketika tahu jika cucu kesayangannya itu menekan istrinya. “Jangan takut. Cucuku yang nakal itu tidak akan menghukummu bahkan jika kamu meminta perceraian di masa depan,” cibirnya.
Ekspresi wajah Mu Xianzhai di balik topengnya pun berubah jelek. “Kakek!” katanya agak menekan. “Itu mustahil hingga selamanya.”
Apa-apaan itu. Apakah pensiunan kaisar masih kakeknya atau bukan? Bagaimana mengatakan hal-hal seperti itu pada istrinya.
Pensiunan kaisar menghela napas tidak berdaya. "Baiklah. Ini bukan urusanku. Nah, kamu bisa memintanya padaku lain waktu," katanya seraya menatap Li Chang Su.
"Baik, Kakek." Li Chang Su harus memikirkan apa yang diinginkannya nanti.
Kini mereka tinggal berbicara dengan Flare yang masih berada tak jauh dari mereka. Makhluk lava itu juga harus kembali ke terowongan bawah tanah untuk menjaga gerbang pintu baja. Karena Li Chang Su ada di sini, Flare segera mengatakan banyak hal tentang kaisar pertama dan apa saja yang pernah dilakukannya pada masa kejayaan.
Makhluk lava itu juga menjentikkan jarinya lagi hingga luka goresan di pipi Li Chang Su akibat Zheng Juan sebelumnya mulai sembuh perlahan. Gadis itu merasa sedikit gatal saat hal itu terjadi. Ini benar-benar ajaib.
"Gerbang pintu baja akan terbuka saat waktunya tiba. Setidaknya, sampai Yin Long memiliki wujud nyata," kata Flare.
"Lalu bagaimana dengan binatang roh bawah tanah itu? Apakah naga perak tadi menyebutkan Hei Long?" tanya Li Chang Su.
"Ya. Dia juga sama seperti Yin Long. Tanpa wujud nyata. Keduanya terkurung di dua sisi yang berbeda. Naga perak memilih untuk menjaga gelang naga dan bertahan di Negara Bingshui. Sementara Hei Long berada di pegunungan dewa. Sangat jauh dari sini." Flare tidak bisa mengatakan di mana pegunungan dewa itu berada.
Setelah cukup lama berbincang dengan mereka, tiba saatnya bagi Flare untuk kembali ke ruangan di mana gerbang pintu baja berada. Dia mulai membentuk dirinya seperti bola api yang cukup besar.
"Di masa depan, kita akan bertemu lagi ... Manusia modern ...," katanya segera lenyap begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini di pegunungan ....
__ADS_1
Dua kucing mutasi dewa menatap keberadaan Sekte Hitam yang mulai terbakar api besar. Bell menatap cukup lama sebelum akhirnya berbalik. Pegunungan dewa masih jauh. Orange selesai menjilati punggung kaki depannya dan mengeong rendah.
Tubuhnya mulai digelayuti oleh gurita mutasi.
Bell berubah menjadi manusia, telinga kucingnya yang beranting lonceng pun menimbulkan bunyi nyaring. Lalu Orange juga melakukannya hal yang sama hingga segera mengambil gurita mutasi yang menempel di lengannya.
Ada sentuhan jijik di mata Orange saat melihat binatang laut itu. "Cepatlah naik ke tingkat dewa. Jangan cuma menempel di lenganku," cibirnya.
"Huh! Jika aku bisa, sudah kulakukan dari dulu. Tapi aku masih belum mencapai tahap itu!" Gurita mutasi itu mengeluh. Kedelapan tentakelnya langsung lemas.
Orange menatap Bell untuk meminta keputusan. "Apakah kita akan pergi sekarang?" tanyanya.
"Ya. Heh Long sudah dikurung lagi. Kita harus kembali untuk menjaga pelindung aura pegunungan dewa. Jangan sampai melupakan kesalahan seperti dulu. Jika bukan karena makhluk itu melarikan diri, kamu pikir kita akan berada di terowongan bawah tanah selama bertahun-tahun?" Bell sedikit menderita selama beberapa tahun terakhir.
Dia menunggu di salah satu pintu batu sambil menjaga Hutan Putih. Lebih tepatnya, dia menjadikannya hutan di atasnya menjadi putih agar para binatang mutasi golongan cahaya bisa berlindung.
"Ya, aku juga tidak akan dirantai oleh mereka. Ini benar-benar mengerikan." Orange sedikit merinding, masih memegang gurita mutasi.
Gurita mutasi segera menempelkan semua tentakelnya pada lengan Orange. "Kamu jangan membuangku. Bawa aku juga!" katanya agak keras.
"..." Hmm ... Aku akan membuangmu ke laut lebih dulu, pikir Orange polos. Dia pun segera menghilang bersamaan dengan gurita mutasi.
Seketika .... Pegunungan yang dipenuhi salju itu pun kembali sunyi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Li Chang Su dan yang lainnya segera meninggalkan wilayah Sekte Hitam setelah Mu Xianzhai membakar semuanya. Pensiunan kaisar dan Mu Hongshan berada di punggung kuda putih mutasi yang saat ini masih berwarna hitam. Mereka mencari tempat berteduh.
Gadis itu memakai jubah berbulu yang hangat. Uap keluar dari mulutnya saat merasa sedikit lelah. Akhirnya, mereka berteduh di bawah pohon besar agar tidak terkena hujan salju lebat.
Hidung semua orang memerah akibat dingin. Tak terkendali Li Chang Su. Para penjaga gelap pun kedinginan. Sejak awal memasuki wilayah Sekte Hitam, mereka hanya bisa menunggu di luar benteng. Sangat gugup.
__ADS_1
Sekarang mereka sudah pergi dari tempat itu, tapi masih saja memiliki ketakutan hingga gemetar. Untuk kali pertama, mereka takut jika Mu Xianzhai akan menghukum.
Para penjaga gelap tidak datang untuk menyelamatkan sang putri apalagi pensiunan kaisar. Namun bagi Li Chang Su, mereka sendiri tidak akan mampu melawannya. Sehingga sia-sia saja jika mereka semua hadir. Ketidakmampuan ini menusuk hati mereka dengan kejam.
"Kita beristirahat di sini. Biarkan para penjaga gelap mendirikan tenda. Kita lanjutkan perjalanan besok," kata Mu Xianzhai, mengambil keputusan untuk semua orang.
"Benar. Aku lapar. Sepupu Ipar, apakah ada sesuatu yang bisa kita makan dari ruang artefak?" tanya Mu Hongzhi duduk di dekat ayahnya.
"Oh, yah ... tentu saja." Li Chang Su ingin menyentuh tanda sepasang sayap hitam di pergelangan tangan kiri istrinya.
Namun tiba-tiba Mu Xianzhai menahan. Dia ingin masuk untuk memilih beberapa makanan. Kemudian, keduanya menghilang dari pandangan mereka. Pensiunan kaisar menghela napas kasar. Cucunya ini cukup berguna, pikirnya.
Lict dan Mu Hongzhi pun segera membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh.
Di ruang artefak ...
Li Chang Su pergi ke tempat di mana He Ze tertidur. Tupai putih itu masih belum sadarkan diri. Ia begitu khawatir. Namun Xue Zi berkata jika tupai itu pasti baik-baik saja. Dia akan menjaganya.
Setelah memastikan jika He Ze baik-baik saja dan hanya tertidur akibat kehabisan energi, Li Chang Su dan Mu Xianzhai pergi ke ruang serba ada untuk menemukan beberapa bahan mentah.
Pensiunan kaisar dan Mu Hongshan kekurangan cairan nutrisi selama dipenjara. Sehingga ia akan memasak beberapa makanan yang baik untuk kesehatan mereka.
Setelah memilih beberapa bahan, keduanya segera meninggalkan ruang artefak. Ketika muncul, kehangatan api unggun menyebar. Li Chang Su dan Mu Xianzhai meletakan semua bahan masakan di keranjang dan mulai bersiap untuk membuat makan malam.
"Apakah ini sudah malam lagi?" tanya Lict merasa tidak percaya.
"Ya. Padahal kita hanya satu hari di sekte Hitam. Tanpa diduga, itu benar-benar hampir gelap lagi," jawab Mu Hongzhi seraya memperhatikan langit melalui celah dedaunan yang terselimuti salju.
"Aku berpikir akan akan berada di sana selama beberapa hari. Melawan Zhen Juan mungkin bukanlah hal yang mudah. Tanpa diduga, sebenarnya bukan masalah Zhen Juan, melainkan jiwa Hei Long." Li Chang Su juga bercerita.
"Lalu bagaimana dengan nasib dua boneka yang menyerupai kami itu?" Kali ini Mu Hongshan hampir melupakan sesuatu.
__ADS_1