Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Mereka Kembali


__ADS_3

WEN LAO tidak bisa menahan perasaan senang saat melihat dua sosok yang berbaring di sisi lain gua.  Keduanya tak sadarkan diri. Entah sejak kapan, bola cahaya hijau saja tidak terlalu mengetahuinya.


Namun diperkirakan kurang dari satu minggu. Jiwa penjaga senjata artefak kalung batu giok hijau telah menjaga vitalitas keduanya agar tetap stabil.


Siapa lagi jika bukan sosok Mu Xianzhai dan Li Chang Su yang telah hilang sebulan lamanya.


Bola cahaya hijau akhirnya memasuki kalung kalung batu giok hijau setelah kesadaran ilahinya hampir habis. Setidaknya, sekarang ada Wen Lao. Dia tidak khawatir dengan keselamatan kedua manusia itu.


Wen Lao menghela napas, memeriksa keduanya. Untungnya tidak ada masalah serius. Hanya saja, Li Chang Su sebelumnya sedang mengandung. Ketika Wen Lao menyentuh perut gadis itu, ekspresinya sedikit serius.


"Janinnya masih sangat muda dan kemungkinan besar tidak akan bertahan hingga bulan depan," gumamnya.


Wen Lao segera menyuntikkan aura spiritual miliknya ke perut Li Chang Su, melindungi janin yang rentan itu. Dengan adanya energi spiritual, bayi yang dikandung Li Chang Su dipastikan bisa lahir dengan selamat.


Meskipun ... mungkin akan memiliki tubuh yang dingin.  Namun bukan racun dingin.


Sebuah gelang terpasang di pergelangan tangan kiri Li Chang Su. Warnanya kuning keemasan, membentuk naga yang melingkar dan ada cahaya emas samar di permukaannya. Kini Wen Lao yakin jika naga emas masih hidup.


Untungnya ... Untungnya langit memberkati, batin pria tua itu.


Wen Lao segera membawa keduanya kembali ke pegunungan dewa secara diam-diam. Namun baru saja tiba, sosok tupai putih muncul secara tak terduga, hampir mengagetkan pria tua itu.


"Bisakah kamu tidak muncul seperti hantu?" Wen Lao memelototinya.


"Aku hanya merasakan napas gadis itu beberapa saat lalu. Benar saja, kamu membawa mereka. Di mana kamu menemukannya?" He Ze sangat senang saat melihat Li Chang Su dan Mu Xianzhai yang berbaring di satu sisi gua.


"Di lembah tak jauh dari kaki ketiga pegunungan dewa yang hancur itu. Keduanya baik-baik saja dan biarkan bangun sendiri. Tak ada yang serius dengan mereka. Jangan khawatir," jelas Wen Lao.


"Aku tidak khawatir!"  He Ze ingin mencibir.


Sejak awal dia sudah tahu jika takdir keduanya selalu baik dan tak ada yang salah dengan hidup dan mati keduanya.


Semenjak Li Chang Su dan Mu Xianzhai menghilang di lubang pengisap jiwa, He Ze adalah yang paling tenang. Bahkan Lict membenci tupai itu sedikit karena acuh tak acuh pada masalah hilangnya dua orang itu.


Sekarang, Li Chang Su dan Mu Xianzhai kembali, He Ze jelas senang.


"Aku akhirnya bisa masuk ruang artefak gelang naga perak— tidak! Maksudku gelang naga emas. Aku rindu jagung bakar, kacang tanah rebus dan daging panggang yang harum!" He Ze akhirnya segera menghilang—memasuki ruang artefak.

__ADS_1


"..." Wen Lao yang ingin muntah darah karena mendengar alasan konyolnya.


Bisakah tupai itu mengkhawatirkan tuannya alih-alih mengingat makanan enak?


Di pagi harinya.


Aroma ayam dan ikan bakar tercium di gua bahkan hingga ke luar.


Cuaca dingin di pegunungan dewa membuat keberadaan api unggun menjadi sangat penting. Berbagai hidangan seperti sup, tumis kangkung dan beberapa roti bakar isi daging pun sudah disediakan.


Seorang gadis duduk di dekat api unggun sambil membolak-balik ayam dan ikan panggang. Pria jangkung di sampingnya sudah menyiapkan segelas susu hangat untuk gadis itu.


Dua kucing mutasi dewa menunggu ikan bakar matang. Sarapan pagi ini pasti akan sangat mewah. Begitulah pikiran keduanya.


Adapun Wen Lao, kini pergi untuk mencari buah roh di sekitar pegunungan dewa. Pria tua itu pernah menanam beberapa buah spiritual.


Aroma yang sangat menggugah selera membuat Lict dan Mu Hongzhi terbangun. Padahal di luar masih cukup gelap. Mungkin diperkirakan pukul lima pagi.


Lict menguap. Samar-samar, dia melihat bayangan seseorang yang dikenalnya. Mungkinkah hanya mimpi karena dia terlalu merindukan pemimpin Su?


Lict mengucek kedua matanya dan bangkit, berjalan dengan setengah bangun dan tidak bangun. Dia akhirnya membelalakkan mata dengan kebingungan. Ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit.


"Kamu sudah bangun? Pergilah cuci muka. Sarapan masih menunggu satu jam lagi," kata gadis itu.


Lict tidak menanggapi. Dia ingin mencekik dirinya sendiri dan akhirnya mampu memiliki suaranya.


"Pemimpin ... Pemimpin Su??! Apakah ini kamu? Pemimpin??!!" teriak Lict,matanya mulai basah. "Ya Tuhan, apakah kamu mulai gila? Aku sebenarnya tidur sambil berjalan dan masih melihat Pemimpin Su di depan mataku sendiri. Kenapa ilusi ini begitu menyakitkan?!"


Laki-laki yang rambutnya acak-acakan itu membelai wajahnya sendiri, frustrasi. Tapi Mu Hongzhi tiba-tiba ada di sampingnya dan mencubit pinggang Lict dengan sedikit kekuatan.


"Ahhh! Sakit! Sakit! Apa yang kamu lakukan? Mungkinkah kamu dalam mimpiku juga?!" Lict menatap Mu Hongzhi, penuh dengan ekspresi menyebalkan.


Mu Hongzhi mencibir. "Siapa yang ingin masuk ke mimpimu. Aku lebih rela masuk sarang harimau daripada mengunjungi alam mimpimu yang gila."


"Jadi ini bukan mimpi?" Lict tertegun.


Dia menatap gadis yang duduk di dekat api unggun, lalu beralih ke samping gadis itu, ada seorang pria jangkung yang mirip Mu Xianzhai?

__ADS_1


"Kamu— ... Kalian, apakah kalian sungguh nyata? Aku tidak bermimpi?" tanyanya untuk memastikan.


"..." Gadis itu, Li Chang Su, segera dipenuhi oleh garis-garis hitam di kepalanya.


Mu Xianzhai yang ada di sampingnya tidak peduli sama sekali.


Untungnya Mu Hongzhi lebih bisa diandalkan. "Ini nyata. Jika tidak percaya, cuci wajahmu dulu."


"..." Lict masih belum pulih dari rasa terkejut dan senangnya.


Gadis itu akhirnya kembali. Sungguh kembali!


Dua kucing mutasi dewa hanya memutar bola matanya, mengejek di dalam hati. Manusia bodoh!


Akhirnya Lict pun pergi untuk mencari air dan mencuci wajahnya. Mu Hongzhi hanya bisa mengikuti setelah berpikir untuk membuat sepupunya menceritakan apa yang terjadi selama satu bulan terakhir.


Li Chang Su melihat kedua orang itu pun menggelengkan kepala. "Aku selalu berpikir ... Mungkin tidak akan pernah kembali," ujarnya.


"Ada Raja. Jangan berpikir untuk pergi." Mu Xianzhai jauh lebih tenang kali ini.


Keduanya terbangun sekiranya pukul tiga dini hari. Saat itu, Li Chang Su dan Mu Xianzhai pergi ke ruang artefak, saling berpelukan dan meluapkan kerinduan.


Awalnya Li Chang Su berpikir tidak akan pernah melihat pria itu lagi. Tapi siapa yang menduga jika Mu Xianzhai akan menyusulnya, mempertaruhkan nyawa dan tak peduli jika jiwanya akan terjebak di lubang pengisap jiwa selamanya.


Karena perlindungan roh senjata artefak kalung batu giok hijau, Li Chang Su dan Mu Xianzhai selamat.


Setelah melepaskan kerinduan, Li Chang Su juga memeriksa tubuhnya sendiri. Tidak ada yang salah dengan dirinya. Namun dia dan Mu Xianzhai mengkhawatirkan bayi di perutnya yang saat ini masih rentan.


Lagi pula keduanya telah lama tidak bangun. Dan masih satu bulan koma, bagaimana mungkin anak itu bertahan di perutnya bukan?


Bahkan Mu Xianzhai menghiburnya, jika anak itu tak bisa disimpan, selalu ada lagi di masa depan.


Untungnya Wen Lao memberi tahu keduanya jika anak itu baik-baik saja. Pria tua itu membantu menjaga janinnya. Hanya saja saat lahir nanti, anak itu akan memiliki tubuh yang dingin. Namun dipastikan kehidupannya masih normal seperti anak-anak lainnya.


Untuk ini saja, Li Chang Su dan Mu Xianzhai sudah bersyukur.


"Apa yang terjadi selama kami tidak ada di sini?" tanya Li Chang Su pada dua kucing mutasi dewa.

__ADS_1


__ADS_2