
“BERMAIN?” Mu Xianzhai mengerutkan keningnya dan melepaskan topeng. Wajah tampan tanpa cela pria itu membuat Li Chang Su terkesima.
Suaminya begitu tampan. Berapa banyak gadis yang ingin menikah dengannya saat ini? Mungkin para gadis di luar sana berlomba-lomba untuk mendapatkan hati putra mahkota tapi sebenarnya ingin tahu seperti apa Mu Xianzhai tanpa topeng. Li Chang Su selalu ingin tahu bagaimana pria itu tahan dengan topeng peraknya yang selalu terpakai di setiap kesempatan. Apakah tidak ingin menunjukkan seperti apa wajahnya pada semua orang.
Mu Xianzhai yang mengetahui jika istrinya tengah memperhatikan pun langsung menyentil keningnya. “Apa yang ada di kepala kecilmu saat ini? Aku sangat tampan?” godanya seraya tersenyum.
“Hei … aku hanya sedang berpikir seperti apa reaksi orang-orang jika melihatmu tanpa topeng,” jawab Li Chang Su segera mengalihkan perhatiannya.
“Menurutmu bagaimana?”
“Mu Lizheng mungkin akan muntah darah di tempat jika mengetahui kalau kamu lebih tampan darinya dan dia adalah replika dirimu selama ini,” jawabnya lagi yang kini memuaskan Mu Xianzhai. “Xian … apa rencanamu untuk ini?” Dia kembali ke topik.
“Nah, Suami mendengarkan Istri.” Mu Xianzhai tidak tahu apa yang diinginkan Li Chang Su. Tapi dai cukup malas untuk berurusan dengan saudara keempatnya tersebut.
“Bukankah dia memiliki Rumah Bordil selama ini?”
Mu Xianzhai terdiam sebentar dan merangkulnya. “Ya. Apakah Su’er ingin memulai dengan rumah bordil?”
Dia sedikit tidak setuju jika istrinya terjun langsung ke tempat kotor semacam itu. Dia tak suka aroma pemerah pipi pada tubuh para wanita penghibur di sana dan secara alami lebih menyukai aroma tubuh istrinya yang lembut. Jadi, jika rencana yang dibuat istrinya sedikit aneh, dia tak akan menyetujui hal itu dan membuat rencana lain saja.
Melihat jika Mu Xianzhai sudah menebak, Li Chang Su pun mengangguk. Ini mungkin sedikit aneh, tapi dia sudah memperkirakan jika memulai dari rumah bordil milik Mu Lizheng pasti akan lebih bagus lagi efeknya.
__ADS_1
Mu Xianzhai menyetujui hal itu dengan persyaratan tertentu. Li Chang Su tak bisa terjun langsung ke rumah bordil dan biarkan bawahannya yang pergi untuk menjalankan misi tersebut. Mau tidak mau, Li Chang Su meminta He Ze dan kucing putih pangeran pertama untuk menjalankan tugas tersebut.
Lagi pula kedua hewan penjaga artefak itu bukan binatang mutasi tingkat dewa sehingga tidak akan ada masalah dalam wujud manusia. Hanya saja sebagian prajurit di barak militer tahu bagaimana rupa He Ze, sehingga tidak bisa muncul di depan orang-orang yang telah lama berada di militer sejak peperangan dengan binatang mutasi dilakukan.
Setelah mendiskusikan rencana, Mu Xianzhai meminta Li Chang Su untuk istirahat. Sisanya akan dibahas besok.
“Selama He Ze dan Mao Mao menjalankan misi mereka di rumah bordil, kamu akan ikut denganku ke Istana Bupati untuk mengunjungi istrinya.” Mu Xianzhai hampir melupakan poin ini dan secara alami segera mengatakannya pada Li Chang Su. “istri saudara pertama tengah hamil tua dan akan segera melahirkan sebentar lagi. Datanglah berkunjung ke sana.”
“Oh … aku hampir melupakan hal ini dan sempat ingin berkunjung ke sana beberapa hari yang lalu.” Li Chang Su terlihat malu saat melupakan masalah ini. “Apakah istri yang kamu maksud adalah Xin Wanghou?”
...----------------...
...NOTE: Wanghou berarti permaisuri raja. Dalam novel ini, istri pangeran pertama, Mu Yishu sang bupati bisa dikatakan sebagai raja daerah di ibu kota yang dipilih oleh kaisar. Jangan samakan dengan sistem pemerintahan zaman modern kayak sekarang karena ini berbeda....
...----------------...
“Berapa usia anak mereka saat ini?”
“Kira-kira lima tahunan,” jawab pria itu seraya menyipitkan matanya. Kenyataannya, dia sama sekali tidak pernah menghitung berapa usia anak saudara pertamanya saat ini. Terakhir kali melihatnya, mungkin beberapa bulan sebelumnya.
Keduanya hanya bisa menyudahi percakapan. Di saat Mu Xianzhai membersihkan diri, Li Chang Su sudah memasuki ruang artefak gelang naga perak dan membicarakan hal alin dengan He Ze. Tentu saja rencananya untuk membiarkan He Ze pergi ke rumah bordil dengan Mao Mao si kucing putih itu, jelas bukan hal baik.
__ADS_1
He Ze mau-mau saja jika dai pergi ke rumah bordil untuk membuat masalah, tapi tidak mau bersama Mao Mao. Li Chang Su tidak tahu kenapa selalu merasa jika He Ze memusuhi Mao Mao di mana-mana, padahal menurutnya, kucing putih itu begitu menggemaskan.
Semenjak kelinci putih mutasi ikut dengan Lict, ia merasa telah kehilangan salah satu peliharaannya yang berharga
Di ruang artefak, perdebatan Li Chang Su dengan He Ze belum berakhir. Tupai putih itu mengubah penampilannya menjadi pria serba putih yang tampan dan ekspresinya jelas cemberut. Dia berbaring di rumput hijau yang lembut di bawah pohon rindang. Cahaya matahari di ruang artefak seperti asli sehingga Li Chang Su mengira jika saat ini masih siang di dunia luar.
“Kenapa kamu selalu jengkel setiap kali aku menyebut kucing putih itu? Bukankah kalian sama-sama penjaga gelang naga perak?” tanyanya.
“Dia hanya menyebalkan di mana-mana.” He Ze tak mau mengatakan yang sesungguhnya. Persahabatan dia dengan Mao Mao sudah terjalin lama sekali sehingga tahu sifat dan sikap pihak lain di masa lalu.
“Apakah karena Mao Mao sering memanggilmu ‘Kacang’ sehingga itu membuatmu kesal?” tebak Li Chang Su seraya memasukkan beberapa mi instan ke keranjang dan bermaksud untuk menjadikannya hadiah ke Istana Bupati besok. Belum lagi dia juga menyiapkan hal lain.
“Itu bukan kesal lagi tapi menjatuhkan harga diriku sebagai penjaga gelang naga perak sejati!” Akhirnya He Ze menjawab dengan jujur.
“...” Baik. Sepertinya Mao Mao begitu tak beruntung lain kali. Li Chang Su khawatir jika kucing putih itu hanya akan menjadi umpan suatu hari nanti.
Sementara Mu Xianzhai yang baru saja selesai mandi mengetahui jika istrinya tidak ada di kamar dan tidak keluar juga. Wajahnya sedikit tidak bersahabat dan segera memanggil Li Chang Su untuk keluar. Dia hanya tahu jika gadis itu pasti pergi ke ruang artefak dengan tubuh utuh. Awalnya Mu Xianzhai selalu khawatir dengan kebiasaan istrinya yang sering menyelinap ke ruang artefak. Dia takut jika semua itu hanyalah kebohongan dan istrinya tidak akan pernah kembali lagi di masa depan.
“Su’er!” panggilnya yang ke sekian kali. Dia mengenakan jubah mandi tebal dan rambut hitam panjangnya tergerai, menitikkan sisa air. Dia baru saja selesai keramas. Dengan segera, Mu Xianzhai menggunakan tenaga dalamnya untuk mengeringkan rambut.
Li Chang Su yang tengah mengobrol dengan He Ze pun langsung terkejut. Dia segera meninggalkan ruang artefak dan muncul tak jauh dari keberadaan Mu Xianzhai.
__ADS_1
“Xian … apakah kamu memanggilku?” Li Chang Su muncul seraya memegang keranjang berisi berbagai jenis mi instan.