
DIA MENUNDUKKAN kepalanya dan mendengus. Jadi bagaimana dengan itu? Ini hanya pernikahan. Tidak perlu begitu sulit untuk menerimanya. Li Chang Su mencoba menenangkan hatinya dan menatap Mu Xianzhai dengan sedikit cemberut.
Tapi sebelum Li Chang Su menjawab, Mu Xianzhai sudah memeluknya dengan erat. Tubuh gadis itu langsung kaku. Dan aroma cendana menusuk indera penciumannya. Pria itu ternyata terkekeh. Membuat Li Chang Su merinding.
"Lepaskan aku. Jangan mengira jika aku menerima takdir ini, hatiku ada untukmu?" Dia mencibir dan mendorongnya menjauh. Tapi wajahnya memerah.
Mu Xianzhai menatap gadis itu dan tersenyum selama beberapa saat. Ini lebih indah dari biasanya, tidak dingin atau penuh rencana licik. Tapi dia tetaplah raja perang yang dingin di hadapan semua orang.
Bahkan jika gadis ini menolak dalam hatinya, Mu Xianzhai memiliki banyak cara untuk mendapatkannya. Jauhkan gadis ini dari banyak pria yang mengganggu. Terutama Ye Tianli. Entah kenapa, Mu Xianzhai selalu merasakan krisis ketika melihat Ye Tianli memperhatikan Li Chang Su.
Karena tanda sepasang sayap telah pulih perlahan, Li Chang Su tidak perlu membungkusnya lagi dengan kasa lembut. Gelang naga perak itu dipakai kembali di pergelangan tangan kirinya.
Tiba-tiba saja seorang pelayan mengetuk pintu. Setelah Mu Xianzhai mengijinkan masuk, pelayan itu datang dengan informasi tentang gaun pernikahan untuk keduanya.
"Yang Mulia, Janda Permaisuri telah mengirim ini untuk hari pernikahan."
"Apa itu?" Tanya Li Chang Su.
"Ini gaun," pelayan itu menjawab dengan senyum yang tulus.
Li Chang Su terkejut. Pelayan itu sebenarnya memperlihatkan sebuah gaun merah yang khas digunakan untuk dikenakan pada hari pernikahan. Ekspresinya menjadi tidak menentu. Pernikahan ini terlalu mendadak baginya. Seperti lelucon.
Namun, dibandingkan dia, Mu Xianzhai justru tersenyum dan meminta pelayan itu keluar dulu. Pintu kembali ditutup dengan baik dan meninggalkan ruang untuk Li Chang Su serta Mu Xianzhai.
"Nenek bilang jika dia akan mengirim gaun yang pernah dipakainya di hari pernikahan. Ini adalah gaun turun temurun keluarga kekaisaran," jelas Mu Xianzhai.
Ketika menyentuh gaun merah itu, Mu Xianzhai memiliki bayangan seperti apa penampilan Li Chang Su nanti. Menyingkir gaun itu, dia meraih gadis itu dan mencium bibirnya dengan keras. Tapi kemudian dengan cepat melepaskannya. Jika tidak, dia khawatir akan kehilangan akal sehat.
"Su'er mungkin kuat. Tapi percayalah, aku akan lebih kuat untuk melindungimu," suaranya begitu magnetis, menatapnya dari balik topeng.
Tidak tahu kenapa, Li Chang Su sedikit linglung dan tanpa sadar sebenarnya bibirnya sudah lembab karena ciuman. Menatap pria tampan yang sombong ini, dia tanpa sadar ingin membatalkan pernikahan. Pria ini bahkan tanpa segan-segan untuk meremas pinggangnya sambil terkekeh. Melecehkannya.
Dia ingin menjauhkan diri dari pria ini dan mengusirnya. Bawa kembali gaun pernikahan yang konyol ini. Bisakah dia membatalkan ketulusannya untuk menerima takdir gelang naga perak.
Tapi sepertinya, Li Chang Su merasa enggan untuk pergi. Gelang naga perak memiliki pemikiran lain. Takdir tidak mungkin diubah. Jadi dia hanya bisa terdiam saja ketika Mu Xianzhai sedikit melecehkannya.
"Mu Xianzhai ...," Panggilnya.
"Ya," pria itu akhirnya melepaskan Li Chang Su dan memintanya duduk kembali untuk menikmati teh.
Pelayan dipanggil untuk menyimpan gaun pernikahan. Setelah pelayan itu pergi menjalankan perintah, Li Chang Su menghela napas. Tidak tahu kapan He Ze sudah pergi untuk mengambil makanan di dapur Istana Raja Perang. Dia khawatir tupai putih itu akan mencuri lagi.
Karena pernikahan ini yang semakin dekat, dia tidak memiliki pemikiran lain selain hari itu tiba.
"Bukankah badai salju baru saja reda. Lalu kenapa penarikan diadakan. Bukanlah ini akan buruk?" Tanyanya.
__ADS_1
"Apa yang Su'er ketahui?"
Mu Xianzhai tanpa sadar ingin mencubit pipi Li Chang Su yang sedikit chubby. Dia menggelengkan kepalanya dan menyesap teh.
"Su'er akan tahu ketika hari itu tiba."
"...."
Tampaknya Mu Xianzhai telah membuat sesuatu di belakang punggungnya.
Pria itu akhirnya pergi untuk melakukan sesuatu yang penting. Li Chang Su terbebas dari penampilannya. Dia menghela napas lelah dan meminum tehnya dengan rakus. Sungguh, berbicara dengan Mu Xianzhai ini lebih menakutkan daripada pembicaraan bisnis bersama Ye Tianli.
Tanpa diduga, Mu Xianzhai sebenarnya meminta dua pelayan yang sebelumnya mengikuti dia untuk didatangkan. Xuyao dan Xuxu telah berganti pakaian. Ketika melihat Li Chang Su sedang minum teh, keduanya berbinar.
"Putri, syukurlah baik-baik saja," pelayan bernama Xuxu itu berbicara dengan nada yang lembut.
Sementara Xuyao yang selalu terlihat pemberani itu memiliki pedang di punggungnya, seperti seorang yang akan terjun ke medan perang. Li Chang Su mengerutkan keningnya dan menanggapi Xuxu sebentar. Lalu pandangannya teralih ke Xuyao.
...----------------...
NOTE: Mungkin kalian ingat dengan dua pelayan yang dimasukkan ke ruang artefak dan dibuat tidur. Mereka akan lebih sering muncul dengan Li Chang Su mulai sekarang.
...----------------...
Walaupun keduanya sama-sama pelayan, tapi Xuyao ini tidak terlihat seperti pelayan. Ekspresi wajahnya sedikit dingin. Serta kulitnya terawat dengan baik. Sebelumnya, Li Chang Su tidak pernah memperhatikan penampilan seseorang begitu serius.
Merasa jika nona muda itu menatapnya penuh kecurigaan, Xuyao tertegun. Dan punggung dan berkeringat dingin. Setelah mengingat apa yang dikatakan Mu Xianzhai, dia rileks lagi.
"Putri, mulai sekarang, Xuyao akan belajar lebih banyak dan melindungi tuannya."
"....," Li Chang Su tidak tahu dari mana rasa kepercayaan itu datang.
"Tapi Raja berkata untuk mendapatkan pelatihan dari sang putri secara langsung. Jika gagal, Xuyao akan berkorban untuk kesetiaan kepada raja perang," Xuyao berlutut dan menunjukkan ekspresi yang terlihat meminta belas kasihan.
"....," Tapi kenapa Li Chang Su merasa jika ini hanyalah tipuan.
Dia mendengus.
Melihat Xuyao masih berlutut, Xuxu pun ikut berlutut dan meminta Li Chang Su untuk membiarkan keduanya menjadi pelayan pribadi. Keduanya akan mengabdi dan mematuhi aturan calon putri.
Di mana Li Chang Su memungkinkan keduanya begitu saja menjadi kepercayaan. Mereka adalah orang-orang Mu Xianzhai, dilatih dengan keras. Sejak awal, dia harus curiga jika Xuyao yang pemberani ini adalah penjaga gelap dan Xuxu merupakan kepercayaan Mu Xianzhai.
Tapi di mana kesalahan itu disembunyikan.
Setelah beberapa saat, Li Chang Su sama sekali tidak memberi jawaban. Membuat kedua pelayan yang berlutut itu berkeringat dingin lebih banyak di punggungnya. Xuxu melirik Xuyao. Matanya berkedip untuk menyiratkan pertanyaan, 'Apa sang putri curiga?'
__ADS_1
Sayangnya Xuyao menggelengkan kepala dan menunduk. Tidak tahu apa maksud Li Chang Su. Sekilas sejak pertama melihat gadis itu dipeluk raja mereka, rasanya berbeda. Dia tidak pernah memikirkan jika takdir gelang naga perak akan jatuh pada seorang gadis aneh ini.
Ketika Xuyao dan Xuxu diperintahkan untuk menjaga Li Chang Su di penginapan, itu tidak terlalu serius. Tapi setelah melihat kehebatan pedang dan pertarungannya, Xuyao tahu jika dirinya merasa pahit. Tak heran jika Xuxu begitu sukarela ingin mengikutinya.
Kali ini, apakah Li Chang Su mencurigai identitas keduanya.
"Tahukah kalian apa artinya dari mengikuti dan belajar dariku?"
Suara Li Chang Su terdengar. Membuat kedua pelayan yang berlutut itu hampir goyah. Gadis ini lebih mengerikan daripada raja mereka. Atau keduanya mungkin cocok satu sama lain?
"Putri ...," Xuyao bingung. Apa maksudnya ini?
"Belajar dariku ... Bisa saja. Tapi, tidak peduli bagaimana Mu Xianzhai mengajar kalian, latihan ku lebih kejam. Apakah kamu sanggup?" Li Chang Su sengaja merendahkan.
Hal utama bagi seorang prajurit adalah mental. Tanpa mental, fisik tidak lagi menjadi jaminan. Karena itu, jika seseorang ingin mengikutinya, pasti harus memiliki mental yang kuat.
Xuyao menundukkan kepala dan menggertakkan gigi. Nona muda itu sengaja menggodanya. Tapi nada bicaranya tidak main-main. Xuxu sedikit lebih mengerti sekarang dan telah memutuskan.
Sebelumnya, Mu Xianzhai telah menghukum keduanya dan berkata untuk mengikuti perintah Li Chang Su kapan dan di mana saja. Bahkan jika keduanya harus mati, itu pasti akan menjadi milik Istana Raja Perang.
"Putri ... Xuyao akan mengikutinya."
"Kamu yakin?" Li Chang Su tersenyum aneh.
"Untuk menjadi kuat dan melindungi sang putri, Xuyao berani melakukan apa saja."
Kali ini Li Chang Su tertawa dan mengangguk kecil. Mengambil kue teratai yang terlihat sangat menggoda. Mengigit kue itu dengan perasaan bahagia, dia tahu jika Xuyao ataupun Xuxu benar-benar bukan pelayan biasa.
Keduanya bangun setelah Li Chang Su memerintahkan. Dan akhirnya menghela napas lega karena berhasil menjadi bagian dari calon putri mereka. Xuxu bahkan tersenyum lebih banyak hari ini dan berjanji akan mentraktir Xuyao makanan yang enak.
Namun di mana mereka memiliki hari untuk makan dan bersantai? Ketika Xuyao melihat Li Chang Su tersenyum, hatinya sudah melahirkan krisis. Semoga saja, sang putri tidak akan sekejam tuan mereka sebelumnya, Mu Xianzhai.
"Jangan memanggilku dengan sebutan putri, aku tidak suka," Li Chang Su cemberut.
"Tapi ... Tapi raja berkata jika kita harus memanggil kata 'Putri'. Jika tidak, kami akan dikirim ke tempat hukuman prajurit."
"...."
Apakah Mu Xianzhai sekejam itu pada bawahannya sendiri.
Dia terdiam sejenak sebelum membiarkan keduanya pergi. Tapi sebelum mereka menutup pintu, suara Li Chang Su terdengar lagi. Kali ini hampir mengekspos keduanya.
"Aku selalu berpikir jika kalian adalah penjaga gelap. Tapi tampaknya aku salah. Semoga saja begitu ...."
Mendengar ini, Xuyao adalah satu-satunya yang menegang di sana dibandingkan Xuxu sendiri. Xuyao tidak mengatakan apapun dan dengan sopan menutup pintu. Berjalan menuju ruang belajar Mu Xianzhai, keduanya memiliki pikiran masing-masing. Tapi Xuxu memang sedikit polos dalam ekspresi.
__ADS_1
Dan jika Li Chang Su ada di sini, pasti akan mencurigai identitas Xuyao atau Xuxu. Karena pelayan yang lewat saja membungkukkan badan padanya. Mungkin hanya Ku Xianzhai yang tahu dan mampu membiarkan kedua pelayan ini mengikuti arahan Li Chang Su.
"Xuyao ... Apakah menurutmu, sang putri akan tahu siapa kita?"