
PADA MUSIM SEMI, lima tahun kemudian sejak krisis binatang mutasi teratasi, negara Bingshui menjadi lebih makmur. Mu Peizhi akhirnya dinobatkan sebagai kaisar baru setelah mencapai reputasi yang sangat memuaskan Kaisar Mu.
Dengan dinobatkannya kaisar baru ini, rakyat hanya berharap jika pajak tidak terlalu memberatkan lagi.
Di barak militer ....
Suara ringkikan kuda dan teriakan para penjaga gelap terdengar cukup panik.
"Pangeran Kecil! Tolong kasihanilah bawahan ... Ayo, lepaskan, jangan ditarik seperti itu." Suara salah satu penjaga gelap terdengar memohon dan ingin menangis tanpa mengeluarkan air mata.
Kuda putih mutasi yang ekor panjangnya ditarik pun meringkik karena kesakitan. Tapi tak berani untuk menendang anak kecil yang terlihat senang itu.
"Anak manusia ini sama menjengkelkan seperti ayahnya!" teriak kuda kuda putih mutasi. "Ah, sakit!! Lepaskan! Apakah kamu ingin mencabut ekorku?!"
Anak laki-laki berusia lima tahun itu tidak peduli dengan teriakan kuda putih mutasi dan masih menarik ekor panjangnya sekuat tenaga.
Anak itu memakai pakaian brokat berwarna abu-abu, rambut putih keperakan serta kulit putihnya agak pucat. Dia juga memakai gelang naga emas yang sangat pas di pergelangan tangan kirinya. Sekilas, wajahnya memiliki beberapa poin kemiripan dengan Mu Xianzhai.
Di kejauhan, Li Chang Su melihat kegaduhan antara penjaga gelap dan kuda putih mutasi. Lalu menatap anak laki-laki itu dengan ekspresi lembut.
"Shen Shen ... Jangan membuat masalah. Jika ayahmu tahu, kamu akan dihukum lagi," kata Li Chang Su.
Anak laki-laki berusia lima tahun itu mengerucutkan bibirnya dan melepaskan ekor kuda yang dipegang erat.
Kuda putih mutasi yang sebelumnya berusaha keras untuk melepaskan ekornya dari anak itu pun kini kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh tersungkur.
"Leherku!!" teriak kuda putih mutasi saat wajahnya menyentuh tanah. Bukan hanya sakit, lehernya bahkan seperti mau patah.
Mu Shenbing yang kini telah tumbuh sebagai anak laki-laki yang sangat tampan pun segera berlari menghampiri Li Chang Su.
"Ibu!!" teriaknya.
Li Chang Su langsung memeluk putranya dan mencium pipinya dengan penuh kasih sayang. "Apakah kamu senang bermain?" tanyanya.
Anak itu mengangguk.
Lalu salah satu penjaga gelap langsung melapor pada Li Chang Su. "Putri, Pangeran Kecil bukan hanya puas bermain, tapi juga memotong semua bunga yang ditemuinya."
"Memotong bunga lagi?" Li Chang Su awalnya terkejut saat putranya selalu suka memotong bunga yang ditemuinya. Di mana pun itu.
Akhirnya, tak ada satu pun bunga yang tumbuh di sekitar barak militer. Li Chang Su khawatir jika di masa depan, putranya ini juga akan membuat halaman istana menjadi gundul.
"Bu, bunga itu tidak enak dipandang!" Mu Shenbing yang masih kecil hanya tahu jika bunga itu menjengkelkan dan dia tidak suka melihatnya.
"Anakku, tahukah kamu bahwa wanita menyukai bunga? Jika kamu memotong semua bunga, istrimu di masa depan mungkin tidak akan bahagia," jelas Li Chang Su.
__ADS_1
Mu Shenbing ini lebih pintar dari pada anak seusia kebanyakan. Topiknya tidak selalu seperti anak-anak, namun orang dewasa. Mu Xianzhai selalu mengajari putranya untuk patuh dan akan dihukum jika melakukan kesalahan.
Di beberapa tempat, sifat putranya ini mungkin akan sama seperti Mu Xianzhai.
"Bu, apakah bunga enak dimakan?" tanya Mu Shenbing polos.
"..."
Li Chang Su ingin muntah darah saat ini. Oke, tidak semua bunga bisa dimakan namun Li Chang Su tidak mau mengatakannya lagi.
Li Chang Su terbatuk kecil dan mengalihkan topik pembicaraan. "Sudahkah kamu mengunjungi paman Hong?" tanyanya.
"Paman Hong bilang jika bibi sakit pinggang dan memintaku untuk kembali lagi nanti," jawab Mu Shenbing.
Li Chang Su lagi-lagi tidak berdaya. Mu Hongzhi menikah dengan seorang wanita bangsawan dari kerabat pihak ibunya setahun lalu. Dan Li Chang Su pernah mendengar keduanya terengah-engah di dalam tenda pada siang hari bolong. Dan dia tahu apa yang keduanya lakukan.
Setelah menikah, Mu Hongzhi juga memperlihatkan sifat buasnya di tempat tidur. Semua pria itu sama saja saat menghadapi api di perut bawahnya.
Lupakan saja, sangat jarang bagi Mu Hongzhi untuk meminta istrinya tinggal di barak militer selama beberapa hari. Biarkan pria itu puas lebih dulu.
Pada malam harinya, Mu Xianzhai kembali dari tugas. Wajahnya sedikit lelah dan mandi lebih dulu sebelum memeluk putranya yang semakin berat.
Sudah lima tahun berlalu dan putranya semakin mirip dengannya. Mu Xianzhai tampak kesal. Lagi pula, bajin*an kecil ini kadang merusak hari baiknya dengan Li Chang Su.
"Kalian berdua, ini waktunya makan malam. Bing'er, cuci tanganmu sebelum makan," kata Li Chang Su seraya menata beberapa jenis hidangan di atas meja kayu sederhana yang kokoh.
"Su'er ...," bisiknya.
"Ada apa?" Li Chang Su tampak berekspresi datar.
"Terima kasih," katanya.
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih karena sudah menemaniku hingga hari ini. Aku mulai tua di masa depan tapi istriku masih terlihat sangat muda. Aku egois karena memintamu untuk tinggal di barak militer bersamaku," ungkap Mu Xianzhai dengan tatapan lembut.
"Hei, senang memilikimu." Li Chang Su terkekeh. Dia mengecup pipi pria itu tak lama sebelum akhirnya Mu Shenbing kembali setelah mencuci tangan.
"Nah, duduk dan makan. Bing'er sudah mulai memasuki masa belajar saat ini. Setelah urusanmu selesai, mari kembali ke ibu kota dan memberikan pendidikan yang lebih baik bagi Bing'er, kata Li Chang Su.
"Ya." Mu Xianzhai juga setuju.
Keluarga tiga orang itu akhirnya duduk dan mulai makan. Mu Shenbing alergi rebung seperti Li Chang Su dan suka makan makanan laut seperti udang dan cumi-cumi.
Meskipun memiliki tubuh dingin, Mu Shenbing tidak pernah mengeluh ketidaknyamanan fisiknya dan tampaknya memiliki akar spiritual yang menjanjikan di masa depan.
__ADS_1
Ketika Li Chang Su hendak memakan udang kukus, perutnya tiba-tiba saja tidak nyaman dan dia mual.
"Su'er, apakah kamu baik-baik saja," tanya pria itu.
"Aku baik-baik saja. Hanya—" Li Chang Su kembali mual dan akhirnya pergi keluar untuk muntah. Tapi tak ada yang dimuntahkan.
Mu Xianzhai sangat khawatir dan meminta putranya untuk tetap makan, sementara dia menyusul Li Chang Su.
Namun tanpa diduga, Mu Shenbing yang awalnya menikmati makanan pun juga pergi keluar, menghampiri ayah dan ibunya.
"Ayah, sepertinya aku akan punya adik di masa depan! Ibu sedang membawa adikku di perutnya," kata anak itu polos.
"..." Mu Xianzhai tidak mempercayai kata-kata putranya.
Apakah Su'er nya hamil lagi? Jelas dia sudah berkata pada dirinya sendiri bahwa memiliki satu anak sudah cukup. Dia tidak ingin istrinya kesakitan lagi saat melahirkan.
Li Chang Su sedikit pusing dan setelah berkumur, dia menatap putra kecilnya. "Dari mana kamu tahu ibu sedang hamil?"
"Bu, jelas mataku sangat tajam. Aku bisa melihat kehidupan lain di perutmu." Mu Shenbing berkata dengan jujur.
"..." Apakah putranya ini mewarisi kemampuan mata dewanya juga? Pikirnya.
Akhirnya Li Chang Su menyentuh denyut nadi di pergelangan tangan kirinya. Ekspresinya berubah canggung.
"Su'er ... Biarkan aku memeriksanya juga," kata Mu Xianzhai.
"Tidak perlu. Aku sudah yakin satu hal."
"Bagaimana hasilnya?"
Li Chang Su akhirnya menatap Mu Xianzhai cukup lama dan akhirnya tersenyum senang. Dia menyentuh perut bawahnya.
"Sayangnya, aku hamil lagi. Siapa yang memintamu begitu rakus di tempat tidur sebelumnya hingga aku lupa mengambil pencegahan dini. Kini anak itu datang lagi, kamu harus siap menjadi ayah dua anak," jelasnya dengan anda menggoda.
"...."
Mu Xianzhai membatu di tempat dan pikiran agak kosong saat ini. Benar-benar hamil lagi?
Dia menggertakkan giginya dan mencium bibit gadis itu sedikit lebih ganas. Benar-benar tidak berdaya. Pria itu tidak peduli jika putranya masih menonton dan hanya ingin menyalurkan betapa cintanya dia pada wanita ini.
Faktanya, Mu Shenbing sudah melarikan diri saat ini.
Setelah berciuman, Mu Xianzhai memeluknya dengan erat.
"Su'er ... Terima kasih sudah hadir dan menjadi bagian dari hidup raja," bisiknya.
__ADS_1
Li Chang Su hanya tersenyum dan membalas pelukannya. Dia juga sangat bahagia. Akhirnya, dia bisa bersama dengan pria ini lagi setelah menjalani perjalanan menyakitkan di kehidupan sebelumnya. Setelah ini, dia harus menjalani kehidupan yang damai bersama keluarga kecilnya.
...TAMAT...