
MENGGUNAKAN kata 'Raja' sangat jarang bagi Mu Xianzhai saat bicara dengan Li Chang Su. Tapi kali ini, dia menyebutkan kekuasaannya sebagai pria yang memiliki segalanya. Jika dia salah, maka istrinya benar. Apapun yang terjadi, pasti istrinya akan selalu benar.
Di dunia ini, wanita selalu yang paling benar. Maka Mu Xianzhai tidak akan berdebat panjang dengan Li Chang Su di masa depan. Karena pasti istrinya akan menjadi yang paling benar.
Tentang keluhan, Li Chang Su memiliki banyak. Tapi sifat Mu Xianzhai selalu tidak terduga.
"Kamu egois," katanya.
"Untuk Su'er, aku tak bisa mengubah sifat yang satu ini. Tapi hanya untuk Su'er, aku bisa berubah sedikit. Tapi di masa depan, jika Su'er tidak menyukai sesuatu, aku tidak akan memaksanya." Mu Xianzhai lagi-lagi membujuk. Bukankah pria pandai membujuk seorang wanita?
Dia tidak percaya jika Li Chang Su tak tergoda oleh kata-katanya. Tapi tiba-tiba saja dia meringis saat merasakan cubitan di lengannya. Ia menatap Li Chang Su dengan kebingungan.
"Rayuan buaya! Aku tidak percaya!" Pada akhirnya Li Chang Su mendengus dan pergi untuk membereskan hal lain.
"...."
Mu Xianzhai tertegun dan menyentuh lengannya yang dicubit. Ternyata istrinya masih sama seperti batu, tidak mudah dihancurkan dengan kelembutan kata-kata.
Walaupun Mu Xianzhai mengeluh, dia tidak mempermasalahkan hal ini. Setelah meminta penjaga gelap untuk membereskan semua mayat, mereka melanjutkan perjalanan. Makan siang terpaksa harus dilakukan di kereta masing-masing.
Perjalanan mereka tentu saja memiliki batas waktu. Dan harus kembali ke ibu kota sebelum pertengahan musim semi. Setidaknya di awal musim semi, mereka harus kembali agar bisa mempersiapkan banyak hal.
Lict kembali mengarahkan mereka ke arah yang cukup berbahaya. Saat dulu dia diantar oleh orang-orang berjubah hitam ke terowongan bawah tanah, jalur itulah yang dilaluinya.
Kereta terpaksa berhenti di sebuah tepi jurang yang sangat dalam. Mereka keluar kereta dan memperhatikan sekitar. Ada jembatan di depan mereka, membentang ke satu sisi yang bisa dikatakan sangat panjang.
Kereta kuda tidak bisa lewat. Inilah yang disayangkan. Panjang jembatan itu mungkin seratus meter lebih. Tentu saja dengan kondisi berangin dan salju, membuat jembatan menjadi tidak yakin untuk dilewati.
Jembatan yang terbuat dari susunan kayu itu sudah sedikit rusak termakan usia. Ketika Mu Hongzhi membersihkan salju di sekitar sisi jembatan, tanda-tanda lapuk sudah terlihat.
__ADS_1
Tidak yakin apakah ini bisa dilalui atau tidak. Li Chang Su mengerutkan kening, menggunakan mata dewanya untuk mengetahui kondisi jembatan.
"Tampaknya ini sudah sangat lama dibuat. Kondisi jembatan cukup buruk. Mungkin kita harus menyeberang satu-satu." Gadis itu menjelaskan.
"Itu tidak masalah. Lalu bagaimana dengan kereta kuda?" tanya Mu Hongzhi.
"Bisa masuk ruang artefak. Tidak perlu khawatir," jawabnya.
Mu Xianzhai juga setuju dengan ini. Untungnya ada ruang artefak sehingga kereta kuda bisa masuk. Tapi He Ze di ruang artefak mulai khawatir jika para kuda akan makan rumput segar di halaman. Atau mungkin minum kolam air terjun. Sehingga sedang membuat persiapan saat ini.
Mengenai kesibukan He Ze, gadis itu tidak tahu. Ia sedang memeriksa kondisi jembatan dan berkata akan maju lebih dulu untuk membuat tanda. Sehingga mereka bisa mengikuti jejak kakinya nanti.
Untung saja cuaca tidak terlalu buruk. Tapi angin dingin masih bertiup cukup kencang. Li Chang Su segera berpijak pada jembatan gantung itu dengan hati-hati. Lebarnya hanya kurang dari satu meter. Selain cukup berayun akibat tertiup angin, di bawahnya juga jurang yang begitu gelap.
Mu Xianzhai khawatir sehingga saat istrinya cukup jauh, dia langsung mengikuti jejaknya. Lict dan Mu Hongzhi akan menyusul nanti. Jejak kaki yang ditinggalkan Li Chang Su ternyata kecil sehingga Mu Xianzhai merasa lucu di dalam hatinya.
Kaki istrinya ternyata kecil. Dan dia sangat menyukainya ketika berada di ranjang. Kaki kecilnya membuat dia merasa gemas. Sesekali, Li Chang Su akan berhenti ketika angin menerpa jembatan. Di sisi kanan dan kiri hanya dilengkapi dengan pagar tali yang agak kasar.
"Jangan lihat ke belakang. Lihat saja ke depan. Aku di belakangmu. Su'er, anggap saja di bawah sana tidak dalam." Suara Mu Xianzhai membangunkan gadis itu dari rasa takutnya.
"Aku tahu ... Tapi ini sulit. Aku akan mencoba," kata Li Chang Su memejamkan matanya sebentar dan menenangkan jantungnya yang berdegup kencang. Lalu kembali melanjutkan.
Ketika keduanya mencapai tengah jembatan, Lict dan Mu Hongzhi pun menyusul. Karena Lict masih muda di mata Mu Hongzhi, maka laki-laki itu lebih dulu. Baru beberapa langkah saja, kaki Lict sudah gemetar ketakutan.
"Oh my God! Help me! Help me!"
Lict terus berkata dengan bahasa asing yang tidak dimengerti Mu Hongzhi. Dia ingin menangis tanpa air mata dan melangkah dengan sedikit ragu.
Setiap kali jembatan berayun, ia setengah berteriak dan berjongkok sebentar. Membuat Mu Hongzhi yang ada di belakangnya memiliki tiga garis hitam di kepala.
__ADS_1
Bukankah itu terlalu berlebihan? Pikirnya.
"Cepatlah. Kenapa kamu begitu lama?" tanyanya kesal.
"Aku takut! Tentu saja." Lict membela diri.
"Apapun yang kamu katakan dalam bahasa yang tidak aku mengerti, tapi kita harus segera menyusul sepupu ipar. Jika kamu seperti ini, aku benar-benar akan menendangmu hingga ke ujung!"
"Jika menendangku bisa sampai ke ujung secara langsung, aku rela," kata Lict sungguh tidak keberatan.
"..." Tapi Mu Hongzhi tidak memiliki keyakinan tentang itu, sehingga melupakan apa yang baru saja dia katakan. Ia hanya bisa sabar menunggu Lict melangkah.
Sementara di sisi lain, Li Chang Su hampir mencapai ujung jembatan. Tiba-tiba saja angin bertiup kencang hingga membuat jembatan bergoyang cepat. Gadis itu tidak bisa berdiri kokoh dan akhirnya jatuh ke depan.
Salah satu tangannya tanpa sengaja bertumpu pada bagian kayu yang lapuk hingga lengannya terperosok. Dia terkejut dan berteriak refleks.
"Tangan kiriku!!" Gadis itu merintih kesakitan.
"Su'er!"
Mu Xianzhai terkejut dan tanpa berpikir langsung berlari menghampirinya. Tak lupa, dia mengikuti jejak kaki gadis itu agar tidak ada kecelakaan lain. Pria itu sampai dengan cepat dan membantunya untuk mengeluarkan lengan kirinya yang terjebak di lubang kayu lapuk.
Napas Li Chang Su sedikit berantakan saat pikirannya dipenuhi dengan ketinggian. Dia akui, takut ketinggian itu merupakan kelemahannya saat menjadi tentara.
Saat Mu Xianzhai membantu menarik lengan kiri, gadis itu merintih lagi. "Pelan-pelan. Ada potongan kayu yang cukup tajam menggores lenganku," katanya.
Karena gadis itu memakai gaun dengan lengan baju lebar, tentu saja membuat kulitnya mudah terluka. Mu Xianzhai mengerang dan menyingkirkan sebagian jubah Li Chang Su ke sisi lain, sehingga ia bisa menyingkirkan salju di sekitar lengan kirinya yang terperosok.
Jembatan masih bergoyang cukup kencang sehingga ada beberapa kemungkinan bisa terjadi. Angin semakin keras bertiup dan salju mulai turun cukup lebat. Di belakang, Mu Hongzhi dan Lict hampir menyusul mereka.
__ADS_1
Keduanya melihat Mu Xianzhai dan Li Chang Su berjongkok, tampak ada masalah.
"Sepupu, Sepupu Ipar, apakah di sana baik-baik saja?" teriak Mu Hongzhi.