
LI CHANG SU tahu jika Mu Xianzhai mulai manja dengannya. Tapi dia tidak menolak dan menemaninya tidur. Pria itu butuh tidur yang cukup. Lagi pula Mu Xianzhai selalu tidur nyenyak saat berada di samping istrinya, seperti obat alami.
Pria itu memeluknya dan memejamkan mata. Kelopak matanya begitu berat hingga ia meminta Li Chang Su untuk tidak pergi setelah ini. Dia pasti akan terbangun jika merasa seseorang yang dipeluknya tidak ada.
"Aku di sini. Kamu bisa tidur," kata gadis itu.
"Mm ..." Mu Xianzhai menjawab kecil dan mulai menenangkan pikirannya.
Akhirnya setelah Mu Xianzhai memiliki napas tenang, Li Chang Su mengeluarkan sesuatu dari ruang artefak. Buku novel yang pernah dibacanya sewaktu berada di zaman modern. Walaupun dia jarang sekali menghabiskan waktu dengan segala sesuatu yang tidak penting, tapi membaca menjadi rutinitas lain.
Hanya saja membaca sambil tidur memang tidak baik untuk mata. Tapi untuk kali ini saja, dia membaca novel hampir dua jam lamanya hingga tertidur.
Ketika hari sudah sore, Mu Xianzhai terbangun dan merasa lengan kirinya kebas karena menjadi bantal bagi kepala Li Chang Su. Ia mengumpulkan kesadarannya dan bangkit dengan hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu.
Di luar tenda, para prajurit dan jenderal saling mengobrol. Salju ringan kembali turun. Saat Mu Xianzhai keluar tenda kelinci putih mutasi sedang bermain salju. Kuda putih mutasi akhirnya bisa makan rumput segar yang dikumpulkan oleh Mu Hongzhi.
"Sepupu," ujar Mu Hongzhi seraya tersenyum dan melambaikan tangannya.
Mu Xianzhai mengerutkan kening. "Apakah Mu Peizhi masih di barak?"
"Ya. Dia ada di tenda lain."
Mu Xianzhai tidak berbicara banyak dan pergi menuju tenda yang ditunjuk sepupunya. Ternyata, Ye Shi dan Ye Tianli juga belum pergi. Dia pikir keduanya sudah pergi sejak pertarungan berakhir. Mu Xianzhai mendengus dan mengambil duduk di sisi lain saat mereka menyapanya.
"Nah, di mana Putri Xian?" tanya Ye Shi.
"Tidur."
"Dia masih tidur, apakah tanda-tanda kehamilan?" Ye Shi menebak, ekspresinya agak masam di balik topeng berbentuk kepala rubahnya.
Mu Xianzhai mencibir. "Tidak, dia tertidur setelah membaca buku."
"..." Kenapa aku merasa senang? Pikir Ye Shi dengan suasana hati yang cukup lega.
"Apa kalian sudah menyisir lokasi sekitar?" Mu Xianzhai mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Sudah. Tidak ada binatang mutasi di sekitar benteng. Makhluk-makhluk itu sudah pergi. Aku tidak tahu ke mana mereka." Ye Tianli menggelengkan kepala.
Mu Xianzhai mengerutkan kening dan berpikir beberapa kemungkinan. "Sepertinya ada di terowongan bawah tanah."
"Lalu apa rencana kita sekarang? Apakah benar-benar santai selama beberapa tahun?" Ye Shi berharap benar-benar bisa santai sehingga pekerjaannya sebagai bos pembunuh bayaran kembali berjalan.
"Ya," jawab Mu Xianzhai.
"Oh, aku hampir lupa sesuatu." Ye Shi mengeluarkan sebuah gulungan kertas ukuran sedang dan memberikannya pada Mu Xianzhai. "Seseorang mengirim permintaan lagi pada organisasiku untuk membunuhmu."
Mu Xianzhai mencibir dan membuka gulungan kertas. Ada beberapa patah kata yang tertulis. Semuanya tentang perintah untuk membunuh Mu Xianzhai. Lalu dia terkekeh dan meremas surat itu, menjadikannya abu dalam sekejap.
Ye Shi ingin mengatakan sesuatu sebelum surat itu hancur. Tapi kini sudah terlambat.
"..." Sebenarnya membunuhmu itu bisa membuatku kaya raya, pikir Ye Shi.
"Aku diberi harga seratus ribu tael emas?" Senyum pria itu sedikit lebih mengerikan dan membuat mereka yang berada di tenda merinding.
Mu Peizhi mengusap belakang lehernya dan memperhatikan sekitar. Dia seperti merasakan hawa dingin tiba-tiba datang. Apakah hantu itu benar-benar ada?
"Keluarga Rong dan putra mahkota," cibir Mu Xianzhai menyimpan kilatan dingin di matanya.
"Yah, memang tidak mengherankan. Hari ini Rongyu terluka cukup parah. Jenderal Rong cukup tertekan dan sudah pergi sejak tadi. Tampaknya ini mungkin disalahkan pada istrimu," ucap Ye Tianli.
"Apa maksudmu? Sejak awal, Su'er ada bersamaku." Mu Xianzhai kebingungan.
"Kamu juga tahu bahwa Rongyu membenci istrimu. Sekarang putra mahkota memanjakannya dengan baik karena kecantikannya. Yakinlah, dia akan mengadu."
"Jika dia memiliki keberanian, biarkan saja datang," katanya.
"Kamu tidak takut dia akan membalas dendam?" Ye Tianli menaikkan sebelah alisnya.
"Istriku bukan gadis yang lemah," jawabnya.
"Memang benar. Aku khawatir jika Rongyu akan memiliki akhir yang buruk setelah kalian tiba di ibu kota. Lagi pula, tampaknya putra mahkota mulai memiliki niatan untuk mendekati Li Chang Su." Ye Tianli adalah ahli informasi. Dia tahu apa yang dipikirkan pihak lain hanya dengan menatapnya saja. Tapi tidak semua orang mampu dia lihat, Li Chang Su adalah salah satunya.
__ADS_1
"Dia ingin mendekati Li Chang Su? Apakah matahari terbit dari barat?" Mu Xianzhai tidak tinggal lama dan segera meninggalkan tenda tersebut.
"..." Ketiganya hanya bisa melihat kepergiannya dengan kagum. Sama sekali tidak khawatir Li Chang Su akan pindah ke lain hati. Mu Xianzhai itu benar-benar percaya diri dengan ketampanannya.
Ye Shi dan Ye Tianli saling melirik. Jika putra mahkota saja yang hampir memiliki ketampanan mirip Mu Xianzhai begitu diremehkan, apalagi keduanya ini tampan di atas rata-rata. Jadi Mu Xianzhai juga tidak akan melirik keduanya.
Mu Peizhi berdeham dan menatap keduanya dengan curiga. "Kalian jangan sekali-kali untuk melakukan hal yang sama," katanya seraya memberi peringatan.
"..." Kami tidak akan melakukannya, pikir keduanya dengan penuh senyum palsu.
Sementara itu ...
Mu Xianzhai kembali ke tendanya dengan ekspresi yang kurang bahagia. Saat dia masuk, Li Chang Su terlihat sudah mandi dan berganti pakaian. Rambutnya basah. Serta aroma sabun dan sampo menjadi satu di udara.
Pria itu menghampiri istrinya dan ingin memberi pelukan, namun Li Chang Su segera mengerutkan kening dan menatapnya dengan ketidaksukaan.
"Huh, mandi dulu sana," katanya.
"..." Mu Xianzhai memperhatikan dirinya yang masih belum mandi dan membersihkan diri.
Saat Li Chang Su pergi untuk duduk dan mengikat rambutnya yang baru saja dikeringkan dengan tenaga dalam. Tiba-tiba saja Mu Xianzhai memeluknya dengan erat hingga gadis itu hampir memekik karena terkejut.
Li Chang Su memukul tangan pria itu yang melingkar di pinggangnya. "Apa yang kamu lakukan? Lepaskan!"
"Su'er juga kotor lagi, bagaimana jika kita mandi bersama?" bisiknya.
Ekspresi Li Chang Su segera berubah dan tubuhnya merinding. Dia yakin jika kata 'mandi bersama' itu sudah bukan lagi hal yang dibenarkan. Pria itu tidak akan menjadi jujur saat mandi bersama. Oleh karena itu, Li Chang Su segera menolaknya.
Namun Mu Xianzhai tidak akan melepaskannya begitu saja dan segera membuat tubuh istrinya kotor lagi. Hingga akhirnya Li Chang Su tidak tahan dengan keusilannya dan membawa pria itu ke ruang artefak. Keduanya mandi bersama ... tapi tidak saling jujur. Tubuh keduanya tidak jujur bahkan jika itu terhalang oleh tirai kamar mandi ...
Saat keluar dari ruang artefak, Mu Xianzhai memiliki ekspresi yang segar, namun Li Chang Su ingin memuntahkan darah lamanya. Semakin hari, trik Mu Xianzhai untuk menyentuhnya semakin licik dan berbahaya.
Tak berapa lama kemudian, Mu Hongzhi pun masuk tenda. "Sepupu, Sepupu Ipar, kita mendapatkan surat dari ibu kota jika kaisar meminta kita kembali dalam waktu satu minggu."
"Apakah ada masalah mendesak?" tanya Li Chang Su.
__ADS_1