
PRIA ITU mengubah topik lain yang masih berhubungan dengan naga perak. Hanya berkata jika dia adalah pemilik gelang naga perak. Dan gelang itu bahkan bisa hidup dengan sendirinya. Ini tidak aneh sama sekali.
Mengetahui jika itu maksud dari perkataannya, Li Chang Su pun tidak meragukan apapun. Dia tidak tahu banyak tentang gelang naga perak. Saat ini saja hanya memakainya atas kehendak Mu Xianzhai.
Baginya, memakai gelang ini atau tidak, bukan sebuah masalah. Namun justru dengan memakai gelang naga perak, para bintang mutasi dewa golongan cahaya begitu takut.
"Mu Xianzhai, kamu sepertinya jauh lebih misterius daripada aku," katanya tidak berdaya.
Kenapa dia berpikir jika Mu Xianzhai ini semakin hari begitu aneh? Bukan hanya aneh, tapi juga cukup untuk membuatnya berpikir jika Mu Xianzhai adalah yang paling kuat di Negara Bingshui.
Apakah dia sedang memeluk paha besar ini dalam hidupnya?
Pria itu menghela napas dan duduk tak jauh darinya. Ia sedang memanggang ayam hutan musim dingin. Dan masih ada beberapa ayam hutan lainnya di bibir gua. Mu Xianzhai telah mengumpulkan cadangan makanan untuk istrinya.
"Lalu, ayam besar yang kamu panggang saat di barak militer waktu itu, apa bedanya dengan ini? Bukankah sama-sama ayam?" Li Chang Su begitu penasaran.
"Ya. Tapi jenisnya berbeda."
"...."
Jadi maksudnya, ayam hutan ini memiliki banyak jenis? Kenapa dia tidak tahu jika di dunia ini ada ayam yang lebih besar daripada saat di zaman modern? Mungkinkah itu kalkun atau sejenisnya? Tapi tidak mungkin.
Li Chang Su pernah melihat kalkun sebelumnya, dan itu berbeda dengan jenis ayam yang dipanggang Mu Xianzhai.
Ia minum susu kalengan yang telah dihangatkan di ruang artefak. Dan berbagi dengan Mu Xianzhai. Meski pria itu jarang sekali minum susu seperti anak-anak, tapi dia masih meminumnya untuk menghangatkan tubuh.
Ayam panggang di atas api unggun mulai menguning dan mengeluarkan minyak. Serta aromanya yang harum membuat penjaga gelap di luar mungkin sudah lapar.
"Apakah He Ze datang ke sini?"
"Dia sudah pergi lagi setelah memeriksa tubuhmu. Adapun yang lain, sudah kembali ke gua. Ada Orange yang masih ditinggalkan sendiri." Mu Xianzhai menjelaskan secara singkat.
"Aku hampir melupakan Orange. Tapi ... ke mana He Ze pergi untuk mencari sesuatu?"
Mu Xianzhai tidak menjawab dan hanya tersenyum penuh arti. Ya ... Ke mana lagi tupai putih itu pergi untuk mengambil sesuatu? Dia sangat kesal karena He Ze ternyata memiliki wujud manusia yang begitu halus dan tampan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Di ibu kota kekaisaran ....
Ini masih pagi, cuaca belum terlalu cerah karena mentari yang baru saja terbit terhalang awan gelap. Seorang pria serba putih berlari dan melompat dari atap ke atap bangunan kokoh.
Ia juga berdiri sebentar di atas atap restoran dan mencium aroma kacang rebus. Sayang sekali, saat mengingat pesan Mu Xianzhai, dia tidak berani turun untuk bermain sebentar.
Tentu saja, siapa lagi jika bukan He Ze yang masih mempertahankan wujud manusianya saat ini. Dia meninggalkan Lict dan yang lainnya sebentar. Ada Ye Shi di sana, sehingga ia cukup nyaman untuk pergi.
Setelah melihat orang-orang berlalu-lalang, dia melanjutkan perjalanannya. Kali ini, tujuannya adalah Istana Pangeran Pertama. Yang tentu saja ada di sisi lain ibu kota. Sebagai bupati, pangeran pertama memiliki setengah kekuasaan kaisar.
Berbeda dengan Mu Xianzhai sebagai raja perang dan memimpin di garis depan untuk melindungi negara, maka pangeran pertama ini seperti kepercayaan kaisar untuk mengatur masyarakat dan sumber keuangan negara.
Tapi meski begitu, pangeran pertama jarang memasuki istana kekaisaran. Paling juga, hanya menemui ibu selirnya yang kini menjadi selir favorit kaisar.
Tidak ada anak selir lain yang berani melawan Pangeran pertama. Walaupun sudah berusia kurang lebih tiga puluh tahun, dia masih awet muda dan dewasa. Selain itu juga, merupakan pewaris salah satu gelang naga perak.
Istrinya yang saat ini sedang mengandung anak ketiga, lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Saat gempa musim dingin tahunan terjadi, istrinya berada di ruang artefak gelang naga perak demi keselamatan anak di perutnya.
Ketika He Ze tiba di halaman belakang Istana Pangeran Pertama, para penjaga gelap tidak menyadarinya. Istana Bupati begitu luas dan strategis. Tak berbeda jauh dengan Istana Raja Perang.
Tapi He Ze hanya menggerakkan jari telunjuk kanannya sedikit, membuat pelayan itu tidak bisa berteriak atau mengucapkan sesuatu.
"Panggil tuanmu ke sini. Ada sesuatu yang ingin aku diskusikan dengannya." He Ze berkata dengan ringan.
Pelayan itu akhirnya bisa mendapatkan kembali suaranya. "Maaf, siapa Anda?"
"Katakan saja, He Ze."
"Ka-kalau begitu, mohon menunggu." Pelayan itu langsung pergi untuk memberi tahu masalah ini.
Di ruang belajar bupati, seorang pria berjubah merah dengan pola ular piton emas sedang sibuk menulis. Dia menggoreskan kuasnya dengan lihai dan mengisi gulungan laporan dengan benar.
Suasana di ruang belajar begitu sunyi dan damai. Bahkan penjaga gelap tidak mau mengganggunya. Barulah saat mendengarnya ketukan di pintu, pria yang memiliki perawakan seperti Mu Xianzhai pun mengerutkan kening.
Alisnya yang seperti pedang dan rahang tegasnya menambah kesan berbeda. Dia menghela napas.
"Bukankah aku sudah berkata untuk tidak ada yang menggangu?" Suaranya setenang air.
__ADS_1
"Yang Mulia, ini mendesak. Seseorang bernama He Ze ingin datang dan menemui Yang Mulia." lapor gadis pelayan tadi sedikit takut.
Tangan yang memegang kuas sedikit kaku. Dia memikirkan ini sejenak sebelum akhirnya menyimpan kuas. "Seperti apa penampilannya?"
"Berjubah putih, rambut putih dan ... tampan. Dia seperti salju"
"...." Pangeran Pertama—Mu Yishu segera bangkit dan membuka pintu. Lalu menatap gadis pelayan yang sedikit ketakutan. "Pimpin jalan."
Gadis pelayan itu terkejut dan linglung sejenak. Lalu memimpin jalan. Di depan, seorang wanita berusia dua puluhan sudah berdiri seraya mengelus perut buncitnya. Dia tengah hamil tujuh bulan.
Ada kucing putih tengah nyaman di bahu wanita itu, membuat Mu Yishu berwajah gelap. Dia menghampiri istrinya dengan senyum penuh kasih sayang dan berjongkok sebentar untuk mencium perutnya.
"Ini pasti anak perempuan," tebaknya.
Wanita bergaun lembut itu memerah. "Ini pasti. Dia tidak menendang keras. Pasti bayi perempuan."
Mu Yishu terkekeh dan mencubit leher belakang kucing putih itu. "Dasar kucing nakal. Istriku sedang mengandung, tapi kamu menambah beban beratnya. Apakah kamu ingin puasa makan ikan?"
"...."
Kucing putih salju itu mengeong rendah. Ini bukan salahnya. Tapi bahu wanita itu sangat hangat. Tapi setelah memikirkan jatah ikan, dia mengalah.
"Baiklah, baiklah ... Aku tahu. Kamu memang pemilik yang kejam!" Kucing putih itu hanya pasrah. "Aku merasakan kehadiran teman lama, jadi datang ke sini. Tapi istrimu bersikeras ingin ikut."
Wanita bergaun lembut itu terkekeh dan mengambil alih kucing putih yang dicubit Mu Yishu. "Jangan salahkan Mao Mao ...!"
"...." Mu Yishu hanya bisa mengalah. Jika tidak, istrinya akan minta tidur terpisah malam ini. "Lalu di mana si kembar?"
"Mereka bermain di rumah ibuku. Kamu bisa menjemputnya nanti sore."
"Mmm ..." Pria itu hanya mengangguk kecil dan berjalan lebih dulu. Istrinya menyusul perlahan.
Di luar, He Ze bisa menunggu dengan tenang. Dia sama sekali tidak masuk atau berniat untuk menerobos. Ketika pelayan yang tadi datang membawa orang, ia menaikkan sebelah alisnya.
Baik Mu Yishu ataupun He Ze saling memandang. Belum sempat pria di dalam bicara, bayangan putih langsung melayang dari belakang dan berpegangan erat di jubah He Ze.
"Kacang Kecil! Ternyata itu benar-benar kamu!! Oh, Kacang Kecil, aku sangat merindukanmu!"
__ADS_1