
LI CHANG SU tidak mau ambil pusing dengan komentar orang lain. Dia hanya menatap Mu Xianzhai yang memperhatikannya sejak awal. Di matanya, gadis lain ditangkap pohon yang menghalangi pemandangan. Pria itu mengangguk ringan saat melihat wajah polos Li Chang Su.
Akhirnya, gadis itu fokus lagi pada lukisannya.
Mu Peizhi yang duduk di posisi kedua dekat Mu Xianzhai pun langsung terkekeh. "Saudara Ketiga, apakah dia akan membuat lukisan yang indah?"
"Aku tidak tahu." Mu Xianzhai hanya membenarkan posisi topengnya.
"Aku berspekulasi jika dia bisa melukis. Mungkin akan mengejutkan semua orang."
"Bagaimana kamu tahu?" Kali ini Mu Xianzhai menatapnya.
"Tentu saja karena aku bisa melihat betapa percaya dirinya dia. Lihatlah, ia cuek dan tampak bosan."
"..." Mu Xianzhai menyipitkan matanya di balik topeng dan memperhatikan Li Chang Su lagi. Apa yang dikatakan Mu Peizhi memang benar. Gadis itu terlihat tidak bersemangat atau mungkin ... tanpa kesulitan?
Waktu terus berjalan. Beberapa gadis bangsawan sudah hampir menyelesaikan lukisan mereka. Sedangkan Li Chang Su baru setengah jalan. Gadis itu tidak memperhatikan yang lain dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Awalnya hanyalah gambar kasar yang tidak tahu seperti apa bentuknya. Namun ketika Li Chang Su memoleskan warna lain pada beberapa objek kasar, ada samar-samar bentuk yang cukup jelas.
Orang-orang sepertinya mulai berseru jika Li Chang Su sedang membuat sebuah pemandangan ibu kota dari jalanan terkenal yang menghubungkan pasar malam. Cat air berbagai warna langsung diaplikasikan sehingga menciptakan efek yang terkesan lembap dan hidup. Benar-benar seperti lukisan dari tangan seorang profesional.
Mulai dari pohon, bangunan kiri dan kanan seperti kedai, penjual pinggir jalan serta beberapa orang yang tercipta secara alami, menambah kesan klasik. Lalu ada jalanan dan beberapa lampion menyala. Dengan efek langit sore berwarna jingga serta cahaya kuning keemasan di ufuk barat, sungguh melengkapi suasana jalan ibu kota di bagian pasar malam.
Li Chang Su melukis pemandangan warga ibu kota yang sibuk di pasar malam. Orang-orang yang melihatnya pun kini tahu dan mengerti alasam kenapa Li Chang Su hanya membuat garis kasar sebelumnya. Ternyata menentukan beberapa titik dan objek apa yang akan digambar.
Hanya saja para tamu tidak mengerti bagaimana Li Chang Su bisa melukis orang-orang di dalamnya. Seperti gambar orang sungguhan yang disajikan dalam bentuk lukisan cat air.
Bahkan Rongyu yang ada di belakangnya tertegun. Meski dia berada di belakang, tapi tubuhnya cukup tinggi sehingga ia bisa sedikit melihat lukisan gadis itu. Ia yakin jika lukisannya terlihat cukup bagus.
__ADS_1
"Bagaimana bisa dia melakukannya? Mungkinkah dia berlatih di barak militer selama ini?" gumamnya kesal.
Saat waktu melukis sudah habis, para gadis bangsawan yang berpartisipasi langsung meletakkan kuas. Semuanya dilarang untuk memegang kuas meski lukisan belum selesai. Li Chang Su juga meletakkan kuas dengan santai dan memperhatikan lukisannya sendiri. Setidaknya lumayan. Cat air di zaman ini memiliki tekstur yang berbeda dengan cat air dari zaman modern. Sehingga ia membutuhkan sedikit teknik.
"Kaisar ini percaya jika para peserta sudah yakin dengan lukisannya. Nah, biarkan para pangeran dan putra bangsawan menilai lukisan. Keputusan akhir akan ditentukan oleh Kaisar ini dan juga Permaisuri." Kaisar Mu segera mengangguk seraya menyesap tehnya.
Permaisuri merasa tidak nyaman. Dia memperhatikan Li Chang Su hampir sepanjang waktu sehingga melahirkan beberapa dugaan jika gadis itu cukup mampu. Kali ini orang-orang tampaknya terbius oleh lukisan yang dibuat Li Chang Su.
Wanita berjubah kuning itu akhirnya hanya bisa mengiyakan apa yang dikatakan Kaisar Mu.
Satu persatu, para peserta langsung membawa lukisannya lalu ditunjukkan pada para pangeran dan putra bangsawan. Mereka menjelaskan tema apa yang diambilnya serta suasana apa yang ada dalam lukisan tersebut.
Tapi ketika giliran Li Chang Su tiba, tak ada penjelasan apapun. Dia hanya berkata jika itu hanyalah lukisan bertema pemandangan ibu kota. Lalu dia hanya memberi beberapa penjelasan tambahan tentang pemandangan ibu kota bagian mana yang diambilnya.
Lukisan pasar malam dengan langit jingga sangatlah menawan. Ye Tianli bahkan sampai berdiri dan menawar lukisan gadis itu.
"Putri Xian, bagaimana jika lukisan tersebut dilelang saja? Tuan Muda ini yakin jika lukisannya bisa dibeli oleh para pencinta lukisan dari negara lain dengan harga tinggi," jelasnya.
"Serangan binatang mutasi telah memakan banyak kerugian baik secara fisik ataupun material. Bagaimana bisa orang-orang menawar dengan harga tinggi di saat kondisi sudah seperti sekarang?" tanyanya pada pria berpakaian merah itu.
Ye Tianli terkekeh. "Tidak apa-apa. Kalau begitu aku akan membeli lukisanmu saja. Aku tidak khawatir jatuh miskin. Sumber keuangan negara bahkan berasal dari tanganku. Nah, Putri Xian, bagaimana?"
"..." Kenapa kamu begitu sombong? Pikir gadis itu.
"..." Semua orang percaya jika Ye Tianli memang mampu.
"..." Ye Shi yang duduk di sampingnya ingin menyemburkan teh yang tengah diminumnya.
__ADS_1
"..." Adapun Kaisar Mu, rasanya ingin mengelus dirinya sendiri. Ye Tianli terlalu jujur.
Melihat bahwa tatapan orang-orang begitu aneh, Ye Tianli menaikkan sebelah alisnya. "Ada apa? Kalian tidak percaya jika Tuan Muda ini mampu melakukannya?"
Mereka menggelengkan kepala dan langsung diam-diam percaya. Semua orang hampir tahu jika Ye Tianli itu kaya, banyak emas dan perak serta memiliki beberapa sumber keuangan. Pria berpakaian serba merah itu mendengus dan membuka kipas lipatnya, mengipasi diri sendiri.
Tak berapa lama, Mu Xianzhai segera berwajah gelap dan menatap Ye Tianli dengan tajam. "Lukisan itu tidak diperjualbelikan. Istri Raja ini tidak miskin. Warisan Raja ini bahkan sudah ada di tangannya."
"..." Li Chang Su bahkan ingin muntah darah ketika mendengar sikap arogan Mu Xianzhai.
Ye Tianli tampaknya tidak takut dengan pria itu dan berkata lagi. "Jadi bagaimana dengan itu? Kamu akan tahu apa artinya menjadi kaya."
"Raja ini tahu. Dan artinya sangat membosankan," cibir Mu Xianzhai.
"..." Aku tidak pernah merasa bosan setelah menghitung uang di ruang penyimpanan harta.
Kedua pria itu terlihat adu mulut yang cukup panjang. Hingga membuat Mu Hongzhi dan Lict memiliki tiga garis hitam di kepalanya. Ye Tianli dan Mu Xianzhai benar-benar tidak cocok untuk berada dalam perahu yang sama.
Kaisar Mu melihat perdebatan itu langsung merasa jengkel. Akhirnya Kaisar Mu meminta keduanya untuk diam.
"Daripada berdebat tentang lukisan itu, lebih baik biarkan Kaisar ini yang menyimpannya. Ini lebih adil."
"Tidak mungkin!!" Ye Tianli dan Mu Xianzhai menolak bersamaan.
"..." Kaisar Mu terkejut dengan penolakan keduanya dan mengira jika seorang kaisar tidak ada di mata mereka.
Li Chang Su juga tidak mau acara ini tertunda gara-gara dirinya sehingga menyerahkan lukisan pada Mu Yishu saja. Tentu pria itu langsung menerimanya dengan baik hingga membuat Ye Tianli dan Mu Xianzhai berhenti berdebat. Mu Xianzhai merasa tidak menyangka jika Li Chang Su akan memihak pada Mu Yishu.
__ADS_1
Gadis itu segera mengambil duduk di samping Mu Xianzhai setelah mendapatkan penilaian. Pria itu segera merangkulnya dan tersenyum bangga. Ia tidak tahu jika istrinya pandai melukis hingga berpikir jika jiwa He Ze ada di dalam gadis itu.
"Su'er ... Sejak kapan kamu pandai melukis? Kenapa aku tidak pernah melihatmu melakukannya di rumah?" bisiknya.