Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Bermain Tebakan Sebelum Tidur


__ADS_3

MU HONGZHI menggelengkan kepala. Tidak ada keterangan lebih lanjut di dalam pesan tertulis yang dikirimkan oleh burung pengantar surat. Tapi Mu Yishu dan kucing putihnya sudah kembali beberapa saat yang lalu.


Tampaknya ini berkaitan dengan pesta bunga atau mungkin kaisar merindukan mereka? Entahlah, Mu Hongzhi tidak bisa memastikan pikiran pamannya itu. Mungkin saja tentang Mu Hongshan atau pensiunan kaisar. Siapa yang tahu?


Oleh karena itu, dalam waktu tujuh hari, setidaknya mereka harus berada di ibu kota. Mu Xianzhai hanya mengangguk dengan ekspresi datar dan berkata akan pergi di hari ketujuh. Mu Hongzhi awalnya ingin pergi lebih awal, tapi jika hanya sendirian, dia tidak mau. Jadi menurut saja pada keinginan sepupunya yang pintar.


Setelah Mu Hongzhi pergi, Li Chang Su dan Mu Xianzhai membicarakan ini lagi. Kaisar meminta mereka kembali lebih cepat, berarti gadis itu harus mengurus sepuluh prajurit khususnya dulu. Sayangnya ini sudah hampir malam sehingga dia akan mengurusnya besok.


Ketika malam tiba, Li Chang Su menolak untuk makan olahan ayam lagi. Dia sudah kenyang dengan semua masakan itu siang tadi. Oleh karenanya, kali ini dia ingin makan sesuatu yang tidak terlalu banyak bumbu. Cukup membuat sup ikan saja dan menanak nasi. Rasanya cukup aneh jika tidak ada nasi.


Keduanya duduk di dekat api unggun sambil menunggu makanan matang. Mu Hongzhi dan Lict menjadi pembantu gratisan.


"Sepupu Ipar, apakah di zaman modern, semua orang sudah bisa memiliki beras dan makan nasi?" tanya Mu Hongzhi.


Li Chang Su yang sedang mengaduk sup ikan pun menggelengkan kepala. Tentu saja tidak. Masih banyak rakyat yang kelaparan, jatuh miskin hingga bahkan mungkin tidak memiliki beras. Untuk makan, orang-orang seperti itu akan menjual sesuatu dan mendapatkan satu liter beras. Tapi itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga.


Orang berkata jika semakin banyak anak maka melimpah juga keberuntungannya di masa depan. Oleh sebab itu, rakyat jelata kadang menikahkan anak mereka dengan orang-orang kaya. Tidak peduli anak itu mau atau tidak yang penting demi kebutuhan makan dan minum di masa mendatang.


Jika beruntung, mereka akan bernasib baik, memiliki menantu berbakti atau mertua yang peduli. Jika tidak, maka hanya bisa sengsara, perceraian atau mungkin selingkuh. Tak jarang juga bunuh diri dan lain sebagainya. Li Chang Su menceritakannya sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya dulu, menurut cerita teman-teman seperjuangan atau dari gosip.


Saat Mu Hongzhi dan Mu Xianzhai mendengarnya, ada perasaan yang canggung muncul. Ternyata tidak berbeda jauh dengan kehidupan di zaman kuno ini. Lict juga menambahkan apa yang dikatakan oleh Li Chang Su sehingga melengkapi semua yang menjadi rasa penasaran mereka.


Di zaman kuno, beras sulit didapat oleh orang-orang miskin. Mereka menggunakan gandum kadang hanya mengolah ubi-ubian saja. Para prajurit juga sudah terbiasa dengan ransum sehingga jarang menikmati nasi. Oleh karena itu, semenjak Li Chang Su mengejutkan banyak beras dan bahan pokok lainnya untuk kebutuhan para prajurit, Mu Xianzhai merasa sangat beruntung.


Jika para prajurit makan nasi, kadang dia hanya makan bubur saja. Setidaknya, prajurit harus selalu sehat dan semangat. Tanpa mereka, apakah artinya jenderal?

__ADS_1


Tapi saat ini, Li Chang Su menanak nasi seperti tidak pernah mengalami rasa kesulitan apapun. Tapi Lict menepisnya. Bagi laki-laki itu, Senior Su adalah pemimpin yang kadang tidak makan saat anak buahnya makan. Bahkan Lict dan Li Chang Su sering berbagi makanan untuk mengganjal perut ketika terjun ke misi.


"Saat itu aku sudah berumur dua puluhan, fisikku sudah kuat. Tapi saat aku berusia lima belas tahun dan jarang makan, tubuhku memang cukup kurus," kata Li Chang Su seraya mengingat-ingat kejadian masa lalu.


Lict pun mengangguk. "Aku sampai khawatir padamu saat itu. Secara, kamu itu perempuan."


Li Chang Su pun tertawa dan merasa konyol. "Dulu aku memang belum memiliki apa-apa. Hidup sendiri itu cukup menyedihkan," katanya lagi seraya menurunkan kelopak matanya.


Tiba-tiba sjaa Mu Xianzhai menyentuh kepalanya. "Sekarang Su'er tidak sendiri lagi. Ada kami."


Gadis itu terkejut dan menatapnya cukup lama, laku tersenyum lembut. "Ya, kamu benar ... Cukup ada kalian saja," gumamnya.


Mu Hongzhi tahu jika pembicaraan menyenangkan tadi kini menjadi sedikit suram, sehingga mengganti topik. Setelah menu makan malam siap, Li Chang Su membagikan semangkuk nasi untuk mereka. Lalu menyediakan sup ikan. Nasi yang tersisa tidak dibuang, tapi Mu Hongzhi memberikannya pada prajurit yang tdiak kebagian jatah nasi karena koki belum memasaknya lagi.


Tentu saja karena sekarang Li Chang Su memiliki ruang artefak yang menyediakan begitu banyak bahan mentah untuk masak, camilan dan lains sebagainya. Sangat lengkap sehingga Mu Xianzhai berpikir jika Li Chang Su tidak hidup bersamanya saja pasti tak akan kelaparan.


Pria itu menarik selimut agar tubuh keduanya tidak tertiup angin dingin dafi celah ke tenda. "Su'er ...," ujarnya.


"Ada apa?" Gadis itu memejamkan mata.


"Jika di masa depan Raja ini kelaparan, Su'er harus mengurusnya," bisiknya pada gadis itu sedikit khawatir jika suatu hari nanti Li Chang Su mencampakkannya. Belum lagi, dia kalah taruhan hingga semua hartanya kini menjadi milik gadis itu.


Li Chang Su berbalik dan menatap pria itu. "Jika itu terjadi, yakinlah, kamu jadi juru masak untukku." Dia sengaja menjailinya.


"Raja ini bisa masak." Mu Xianzhai mendengus dan mencium ujung hidung gadis itu karena merasa gemas. "Baiklah, tidur. Ini sudah larut malam."

__ADS_1


"Aku sudah cukup tidur tadi," jujurnya.


"Lalu apa yang akan kita lakukan saat ini?"


"Ayo main tebak-tebakan. Siapa yang kalah setiap kali menebak, maka melepaskan lapisan pakaian satu persatu." Li Chang Su memberi ide.


"Oh ..." Mu Xianzhai tersenyumlah misterius. "Siapa yang kalah di akhir permainan, bisa meminta apa saja, termasuk ... memenuhi kebutuhan suami dan istri," usulnya.


"Kamu— Mu Xianzhai, apakah tidak ada yang lain? Kamu terlalu membutuhkan cinta?"


"Raja ingin belaian istrinya. Ternyata itu menjadi kecanduan. Hidup Raja ini tidak lagi kesepian."


Li Chang Su hanya ingin memuntahkan darahnya. Pria itu terlalu jujur. Dia khawatir jika pensiunan kaisar atau Mu Hongshan mendengarkannya, mungkin akan pingsan. Mu Xianzhai ini lebih butuh cinta istri daripada keduanya di masa muda dulu.


"Apakah Su'er menyetujuinya atau tidak?" tanyanya.


"Baiklah, aku setuju," jawab gadis itu agak cemberut. Kenapa sekarang dia menyesali apa yang diinginkan tadi?


Akhirnya Li Chang Su dan Mu Xianzhai main tebak-tebakan sebelum tidur. Kadang hasilnya seri, kadang berat sebelah, bahkan Mu Xianzhai mengalah. Tapi di akhir-akhir tebakan, Mu Xianzhai menjadi unggul dengan cepat sehingga Li Chang Su merasakan krisis.


Pada akhirnya, gadis itu kalah. Mu Xianzhai terkekeh dan melihat jika istrinya saat ini hanya memakai pakaian dalam saja. Sementara dirinya hanya kehilangan beberapa lapisa baju, tapi celananya utuh.


"Nah, karena Su'er kalah, maka harus menuruti keinginanku?" Mu Xianzhai menaikkan sebelah alisnya.


"Memangnya apa yang kamu inginkan?" tanya gadis itu ragu.

__ADS_1


__ADS_2