
PASANGAN itu menjadi canggung setelah membahas tentang anak. Terutama Li Chang Su. Walaupun Mu Xianzhai ingin memilikinya, namun tidak bisa memaksa Li Chang Su. Tubuh istrinya lebih penting saat ini. Oleh karena itu, Mu Xianzhai hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata agar hal ini tidak dibahas lagi.
Mu Peizhi mungkin memiliki beberapa pemahaman dan menganggukkan kecil. Baiklah, dia mungkin bisa menggendong keponakannya setelah menjadi kaisar nanti. Ada sedikit keheningan setelah itu dan tidak tahu harus membahas apa.
Tapi, Mu Peizhi memecahkan keheningan lagi. "Kenapa kamu tidak mau menjadi kaisar?" tanyanya pada Mu Xianzhai.
"Apakah kamu mengizikanku menjadi kaisar?" tanya balik Mu Xianzhai.
"Hei, aku tidak serakah. Aku hanya tidak ingin saudara keempat menjadi kaisar. Tujuannya tidak benar." Pria itu menggelengkan kepala. "Jika kamu menjadi kaisar, mungkin beda lagi."
"Aku lebih suka di barak militer sepanjang tahun." Mu Xianzhai berkata dengan jujur.
"Lalu, kalian berdua akan tinggal di barak militer?" tanyanya.
"Ya." Li Chang Su dan Mu Xianzhai menjawab bersamaan. Benar-benar pemahaman yang baik dan membuat Mu Peizhi cemburu sepanjang waktu.
"Aku tidak tahu jika Rongyu akan memulai lebih awal dan bahkan membingungkan putra mahkota. Ini benar-benar luar biasa," kata Li Chang Su sedikit tidak terduga. Dia dan Mu Xianzhai baru saja membahasnya semalam dan hari ini itu benar-benar dimulai.
Bahkan Mu Xianzhai sendiri merasa tidak berdaya. Dia tidak terlalu fokus pada pertarungan takhta Pangeran Kedua dan lebih mementingkan keamanan perbatasan. Meski para binatang mutasi kegelapan di Negara Bingshui ini telah berkurang, namun bukan berarti binatang mutasi kegelapan dari wilayah lain berdamai.
Gelombang binatang mutasi kegelapan pasti akan datang bergantian untuk memakan manusia. Karena itu, Mu Xianzhai selalu memastikan jika benteng perbatasan baik-baik saja.
Setelah membahas banyak hal dengan Mu Peizhi, keduanya pamit. Tak berselang lama, Xue Zi juga kembali sambil membawa beberapa wortel besar yang masih berdaun. Kelinci putih mutasi itu kotor oleh tanah karena menggali wortel entah dari mana. Li Chang Su yakin jika wortel tidak tumbuh liar begitu saja. Jika He Ze suka mencuri kacang, bisakah kelinci ini mencuri wortel.
"Cantik, untunglah kamu belum pergi. Jika tidak, aku pasti ditinggal lagi," kata Xue Zi seraya meletakkan wortel di tanah berumput halaman Istana Pangeran Kedua.
__ADS_1
"Dari mana saja kamu?" Li Chang Su ingin memegangnya, namun di larang Mu Xianzhai. Kelinci itu kotor dan penuh debu, jangan sampai tangan istrinya kotor.
"Dari bukit halaman belakang. Ada ladang wortel di sana. Jadi aku makan dan memanennya beberapa," jawabnya jujur.
"Kamu mengambil wortel dari ladang orang lain?" Li Chang Su merasa tidak berdaya. Kelinci ini mencuri wortel.
Xue Zi menjadi serba salah dan dia mungkin akan direbus menjadi sup kelinci.
Tiba-tiba saja terdengar tawa dari Mu Peizhi di belakang mereka. Li Chang Su menoleh dan bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi. Pria berjubah putih tulang itu menggelengkan kepala dan merasa jika ekspresi kelinci putih mutasi begitu menggemaskan meski semua bulu-bulunya berdiri. Mungkin takut untuk dimasak.
"Tidak apa-apa. Ladang di bukit belakang adalah milikku. Jangan khawatir jika dia menghabiskannya. Jika aku kekurangan makanan, aku akan datang padamu untuk memintanya," kata Mu Peizhi tanpa malu-malu. Dia tahu Li Chang Su adalah pemilik gelang artefak naga perak dan memiliki banyak makanan di dalamnya.
Mendengar hal itu, Li Chang Su sedikit lega. Tapi tidak dengan Mu Xianzhai. Menurut pria itu, binatang apapun pasti hanya akan membuatnya dirugikan di mana-mana. Takut Mu Xianzhai akan merebus kelinci putih mutasi itu menjadi sup, Li Chang Su segera meminta Xue Zi untuk kembali ke ruang artefak. Setelah itu, dia berpamitan dengan Mu Peizhi dan mengajak suaminya pulang.
Di dalam kereta, Mu Xianzhai segera memeluk istrinya dengan erat. Adapun kereta yang membawa Li Chang Su sebelumnya, biarkan Xuxu dan Xuyao yang mengambil alih. Mengingat jika hari sudah lewat untuk makan siang, Mu Xianzhai mengajak istrinya untuk berkencan.
"Tidak." Mu Xianzhai menjawab dengan nada pendek.
"Aku ingin makan bakpao isi daging, mi umur panjang, sup ayam, bakso dan iga sapi bakar," kata Li Chang Su segera menyebutkan semua makanan kesukaannya.
Mu Xianzhai tiba-tiba saja terkekeh dan menyentuh hidung gadis itu yang kini berada di pelukannya. Dia merasa gemas dengan nada bicara Li Chang Su saat ini. Lihatlah sekarang, dirinya bukan lagi pria kesepian yang akan makan di luar hanya ditemani oleh sepupunya yang bodoh. Kini punya istri di pelukan dan senang rasanya memanjakan istri di mana pun.
Pemandangan ini, Mu Xianzhai selalu ingin merasakannya sepanjang tahun hingga mereka memiliki anak dan cucu. Dia memeluk Li Chang Su dalam suasana hati yang baik.
"Kita pergi ke menara bangsawan ibu kota," kata Mu Xianzhai pada kusir.
__ADS_1
Kusir itu segera mengiyakan.
Li Chang Su mengerutkan kening. "Apakah di sana ada semua makanan yang aku inginkan?" tanyanya.
"Tentu saja. Di sana lengkap karena beberapa koki dipekerjakan untuk melayani tamu bangsawan, khususnya keluarga kekaisaran. Su'er bisa memesan apapun di sana. Jangan khawatirkan yang, suamimu ini kaya," jawab Mu Xianzhai dengan percaya diri.
"Sombong!" ejek gadis itu bercanda.
Ketika mereka tiba di sana, Mu Xianzhai mulai membuka kotak untuk dua orang. Pelayan tidak berani lalai saat melihat raja perang datang sendiri bersama istrinya untuk makan siang. Oleh karena itu, pelayan langsung memilihkan kotak yang sedikit lebih jauh dari kebisingan pelanggan lain.
Li Chang Su tidak peduli. Dia cukup lapar saat ini namun ingin memesan banyak makanan. Jika tidak habis, biarkan Xue Zi atau He Ze yang memakannya.
Tak berapa lama, pesanan yang mereka tunggu tiba. Yang dikatakan Mu Xianzhai benar, semua makanan yang dia pesan benar-benar tersedia. Mu Xianzhai hanya memesan sedikit saja karena dia tidak terlalu lapar. Tapi melihat antusias istrinya yang makan bakpao daging, nafsu makannya meningkat.
Li Chang Su menghabiskan bakpao daging dengan singkat dan kini beralih untuk makan bakso lebih dulu.
"Pelan-pelan ... Tidak ada yang akan merebut makananmu," kata Mu Xianzhai seraya menyodorkan air minum untuknya.
"Ini enak." Gadis itu berkata dengan mulut penuh. "Harga makan di sini pasti mahal kan?"
"Jangan hiraukan uang. Makan," kata pria itu mendesak.
"..." Li Chang Su sudah tahu jawabannya. Dia benar-benar akan kehilangan banyak koin perak hari ini.
Setelah makan semangkuk bakso, gadis itu beralih untuk makan iga sapi bakar. Rasanya enak meski beberapa rempah hilang. Mungkin di zaman ini, tidak banyak rempah-rempah yang mereka ketahui sehingga belum tahu cara mengolahnya. Bahkan beberapa buah saja dianggap beracun bagi mereka, padahal pengolahannya saja yang kurang tepat.
__ADS_1
Mu Xianzhai menyaksikan istrinya makan banyak pun langsung lega. Dengan banyak makan seperti ini, dia bisa 'memakan' istrinya di rumah nanti. Tidak perlu khawatir dengan stamina dan kelelahan?
Sayangnya, Li Chang Su belum tahu, tapi bulu kuduknya meremang lebih dulu. "Kenapa aku merasa jika perasaanku tidak enak?" gumamnya.