
DENGAN KEBERADAAN Li Chang Su, pria berjubah hitam itu waspada penuh. Segera melompat ke sisi lain dahan sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya. Pria itu memiliki bekas goresan pedang di wajah sebelah kiri. Dilihat dari penampilan, seharusnya masih di bawah usia tiga puluh.
Li Chang Su tersenyum. Sama sekali tidak panik atau khawatir dengan reaksinya. Dia hanya berada di tempat semula sambil duduk. Wajahnya yang cantik dan halus membuat pria berjubah hitam itu memikirkan hal lain.
Hah! Hanya seorang gadis. Pasti tidak tahu dari mana dirinya berasal. Belum lagi, ilmu tenaga dalam gadis itu tidak terbaca dengan baik. Tapi, dari mana mengetahui mantra yang digunakannya?
Tidak peduli apapun yang diketahui gadis itu, pria berjubah hitam sudah menyerangnya. Menebaskan pedang ke depan, bermaksud untuk menakuti. Tapi apa yang membuatnya tercengang, Li Chang Su masih tersenyum, lalu berangsur-angsur dingin.
Tanpa alasan yang pasti, pria berjubah hitam itu merasakan keringat dingin di punggungnya. Bagaimana situasi ini sepertinya dia lebih rendah dibanding Li Chang Su?
Gadis itu hanya mengangkat sebelah tangannya. Ketika mata pedang hendak menggores leher, dua jari mengapit bilahnya. Hanya dengan menggunakan jari dari tangan rampingnya.
"Tidak mungkin!" gumam pria itu bahkan lebih terkejut.
Pedang yang dipegangnya menjadi kaku dan sulit digerakan. Sedangkan gadis itu hanya bersikap santai. Ada perasaan bahaya di dalam hati pria berjubah hitam itu, mau tidak mau menggunakan ilmu tenaga dalamnya untuk menggerakkan pedang. Kemudian gunakan telapak tangan satunya lagi untuk menyerang.
Kali ini Li Chang Su bangkit dan melepaskan bilah pedang itu. Tapi tiba-tiba muncul di belakang pria berjubah, menggerakkan kaki untuk menendang.
"Huh, aku di sini." Li Chang Su terkekeh.
Sebelum pria berjubah hitam itu menoleh, tubuhnya sudah hilang keseimbangan, terpental ke sisi lain dan menghantam batang pohon. Pedangnya terlempar cukup jauh. Li Chang Su turun dan berjalan menuju pedang selangkah demi selangkah.
"Ternyata kamu mengendalikan binatang mutasi. Sekte Hitam?" Tanyanya.
Sambil berusaha untuk bangkit, pria berjubah hitam itu menatap Li Chang Su dengan tajam. "Jika kamu tahu, sebaiknya jangan membunuhku. Aku tidak datang sendiri saat ini. Mereka akan menyusul juga."
"Oh ...," gumamnya sama sekali tidak merasa takut. Li Chang Su mengambil pedang dan memeriksa bilahnya. Cukup tajam untuk membunuh orang.
"Aku tidak peduli. Tapi kamu akan berakhir di sini. Sayangnya, kamu bukan lawanku." Li Chang Su pada akhirnya maju sambil menghunuskan pedang.
__ADS_1
Pria berjubah hitam itu membelalakkan mata. Hanya beberapa sentimeter lagi ujung pedang mengenai posisi jantung, sebuah kerikil ditembak dari bayang-bayang, mengenai bilah pedang. Li Chang Su terpaksa meleset. Namun tidak kehilangan konsentrasi. Justru dia segera melompat menjauh tapi menembakkan jarum beracun ke leher pria berjubah hitam.
"Tidak—" pria berjubah hitam itu kaku sebelum akhirnya jatuh ke tanah bersalju. Tidak lagi bernapas.
Sementara pihak lain yang menembakkan kerikil akhirnya muncul. Ada tiga orang berjubah hitam dengan topeng hitam polos. Dari sosoknya, semuanya pria. Li Chang Su menyipitkan mata. Napas seni bela diri ketiganya kuat. He Ze pun telah kembali ke ruang artefak dan memberi analisis tentang tiga orang itu.
Jika tidak salah, seharusnya menjabat sebagai ketua muda di sekte terkait.
"Gadis kecil, kamu berani melawan sekte kami," kata pria bertopeng yang paling depan. Ada pedang besar tersampir di punggungnya. Seharusnya seorang ahli pedang.
Adapun dua orang lainnya di belakang, hanya mengikuti dengan patuh. Menunggu perintah.
"Dia berani mencegah jalan kami." Li Chang Su melihat ke kejauhan. Tidak terlalu jelas karena tempat di mana Mu Xianzhai dan Mu Hongzhi terhalangi oleh beberapa pepohonan. "Menggunakan serigala mutasi untuk dijadikan uji coba lalu mencegat kami .... Kalian salah target!"
Ada jejak kekejaman di mata Li Chang Su, seperti harus darah yang kuat. Sebagai prajurit khusus wanita yang memegang rekor terbaik dari kalangan prajurit wanita lainnya, dia tidak main-main. Pedang dan pistol pernah dia pegang. Belum lagi senjata api laras panjang.
"Benarkah? Apa kamu yakin?" Gadis itu memiringkan kepalanya. Pedang milik pria berjubah hitam tadi masih di tangannya.
"Tentu saja. Kamu mungkin mengalahkannya. Tapi tidak mungkin mengalahkan kami bertiga," jawab salah satu dari mereka. Lalu tertawa geli. Hanya gadis kecil yang belum dewasa, hanya bisa jadi mainan.
Di saat ketiganya senang dan tertawa mengejek, sosok Li Chang Su sudah tidak ada di tempatnya lagi. Ketiganya tertegun. Ini tidak mungkin. Walaupun ketiganya tidak bisa membaca seberapa tinggi tingkat seni bela diri dan ilmu tenaga dalam Li Chang Su, tapi cukup yakin, seharusnya diatas master lanjutan. Atau kemampuan Li Chang Su sudah melampaui para guru kelompok di sekte mereka.
"Ke mana perginya gadis itu?" tanya pria berjubah hitam yang paling depan.
"Apakah teleportasi?" Teman di sisi kirinya bertanya.
Teleportasi? Itu tidak mungkin. Mereka tidak akan mempercayainya. Berapa usia gadis itu hingga bisa berteleportasi? Setidaknya untuk melakukan teknik itu, seorang ahli seni bela diri harus memperdalam ilmu tenaga dalamnya. Jika kurang, maka tidak mungkin.
Di Sekte Hitam sendiri, hanya ada beberapa pemimpin besar yang mampu melakukannya. Namun mereka semua telah berusia lebih dari tujuh puluh tahun. Itu tidak terlalu tua. Karena ilmu tenaga dalam mereka sudah tinggi sehingga tubuh awet muda. Semakin tinggi ilmu tenaga dalam yang diolah, maka penuaan semakin berkurang.
__ADS_1
"Ini mustahil. Apakah melarikan diri?"
Ketiganya sedang mencari keberadaan gadis itu. Takut hanya bersembunyi di sekitar tanpa berniat untuk melawan mereka. Sedangkan orang yang mereka cari sebenarnya ada di atas pohon, bersandar di salah satu batang.
Li Chang Su hanya menggelengkan kepala. Apakah kemampuannya sama sekali tidak terdeteksi? He Ze pun muncul di bahunya, mengejek mereka. Dasar manusia, bahkan tidak bisa mengetahui di mana keberadaan gadis ini. Pikirnya.
"Kemampuan mereka tidak murni karena bercampur dengan ilmu kegelapan. Sehingga akan sulit jika menemukan keberadaan auramu yang murni." He Ze menghela napas.
Li Chang Su terkekeh. Udara dingin membuat tubuhnya sedikit sejuk. Belum lagi, dia tidak memakai jubahnya saat ini. Salju juga mulai turun lagi. Setelah mengulum senyum, Li Chang Su meraih tupai putih itu. Mengelus tubuhnya yang berbulu lembut.
"Kalau begitu, kamu bantu aku," katanya.
Tupai putih itu curiga, memegang kacang rebus yang baru saja dikeluarkan dari ruang artefak. "Bantuan apa?"
Belum sempat He Ze melanjutkan ucapannya, Li Chang Su sudah melemparkannya ke arah salah satu dari ketiga pria berjubah hitam. He Ze ingin berteriak dan mengutuk Li Chang Su. Lagi-lagi melempar dirinya dengan kejam.
Di saat ketiga pria berjubah hitam sedang mencari keberadaan Li Chang Su, seekor tupai putih menghantam salah satu wajah bertopeng. He Ze yang terkejut tidak mau jatuh ke tanah bersalju sehingga menempel erat di wajah salah satu dari mereka.
"Ah!! Benda putih apa ini?!" tanya pria berjubah hitam yang kejatuhan He Ze.
Temannya yang terkejut segera melihatnya. Makhluk kecil berbulu putih dengan ekor indah, sekilas tidak terlihat seperti seekor tupai. Tapi setelah dikonfirmasi, itu memang tupai putih.
Sangat jarang ada tupai putih. Mata kedua pria berjubah hitam itu berbinar. Tiba-tiba saja, He Ze merasakan firasat buruk akan datang.
"Bos, ini tupai putih. Biar aku menangkapnya!" Salah satu dari keduanya mulai berusaha mengambil tupai putih yang menempel di wajah pria berjubah hitam yang dipanggil bos. Lebih tepat, pria yang tadi berada paling depan.
"Ck. Tidak menyangka akan mendapatkan tupai putih. Ini sangat spiritual. Kita bisa memanfaatkannya untuk dibuat obat mujarab. Setelah membersihkan bulu, kita bisa merebusnya."
"...." He Ze merasa merinding. Apakah manusia itu berani untuk merebusnya?
__ADS_1