
TANPA TERASA waktu berlalu.
Hari demi hari dan akhirnya tiba satu bulan setelah Li Chang Su dan Mu Xianzhai jatuh ke lubang pengisap jiwa.
Lict dan Mu Hongzhi tidak kembali ke barak militer, justru tinggal di pegunungan dewa. Terutama Lict yang bersikeras jika keduanya masih hidup dan akan kembali.
Wen Lao sebenarnya juga optimis karena ada kalung batu giok hijau pada Li Chang Su yang mungkin bisa menyelamatkan jiwa keduanya.
Adapun Wen Lao sendiri, semenjak dunia mulai damai, dia belum dipanggil kembali ke istana langit. Itu berarti ada sesuatu yang harus dia lakukan di dunia fana ini. Apa pun itu, dia masih menunggunya.
Siapa tahu jika waktu akan berlalu hingga satu bulan kemudian. Wen Lao mulai tidak yakin jika keduanya masih hidup saat ini. Tapi istana langit juga belum memberinya perintah untuk kembali.
"Apakah kamu mengirim surat ke ibu kota?" tanya Lict saat melihat Mu Hongzhi datang sambil menuntun kuda putih mutasi yang kini baik-baik saja.
Mu Hongzhi mengangguk. "Beri tahu orang-orang jika kita masih menyelesaikan beberapa masalah yang tertinggal."
Ini hanya alasan. Orang-orang di negaranya tidak boleh tahu jika Mu Xianzhai dan Li Chang Su belum kembali dan bahkan tidak ada jejak kembalinya mereka.
Setelah Li Chang Su dan Mu Xianzhai menghilang di lubang pengisap jiwa, semua binatang putih mutasi yang bertahan hidup pulih kembali. Bukan hanya itu, tubuh bermutasi mereka mau menurun seiring berjalannya waktu.
Menurut Wen Lao, energi spiritual yang ada pada binatang putih mutasi telah memudar karena Jin Long menarik semua kesadaran ilahi mereka sebelum jatuh ke lubang pengisap jiwa..
Adapun binatang hitam mutasi yang sepenuhnya musnah, populasi binatang menjadi sedikit.
Bahkan jika suatu hari nanti para binatang putih mutasi melahirkan keturunan, kesadaran ilahi mereka tidak ada, kemungkinan besar akan menjadi binatang semi mutasi.
Bahkan raja gurita putih mutasi pun telah kembali ke lautan dan kini hanya menyisakan sedikit kesadarannya. Gurita putih mutasi yang selalu bersama Bell dan Orange pun telah kembali menjadi gurita normal, tinggal di lautan.
Sangat disayangkan, namun gurita putih mutasi memang tidak memiliki nasib sebagai binatang semi mutasi.
Mungkin hanya Bell dan Orange yang kini masih menjadi binatang mutasi dewa. Keduanya telah dilatih oleh Wen Lao, bukan hewan biasa. Oleh karena itu, keduanya masih bisa mengambil wujud manusia.
Sama seperti elang gunung putih mutasi yang diberi kesadaran ilahi oleh Jin Long, sesekali akan datang ke pegunungan dewa—menanyakan kabar keduanya.
"Tuanku masih hidup! Aku tahu tuanku masih hidup," kata elang gunung putih mutasi yang kini berubah wujud menjadi pria berjubah dan berambut putih. Sangat tampan.
__ADS_1
Dia menghampiri Wen Lao dengan percaya diri. "Aku yakin kedua manusia itu juga masih hidup," imbuhnya.
"Aku harap begitu." Wen Lao menghela napas.
Pria tua itu menatap Lict dan Mu Hongzhi yang bersiap untuk berkeliling pegunungan. Mungkin Li Chang Su dan Mu Xianzhai akan muncul di suatu tempat. Sangat optimis.
Raja elang gunung putih mutasi—Bai, menyadari kesadaran ilahi Jin Long karena memang di tubuhnya ada sedikit kekuatan naga emas itu. Jadi dia sangat yakin bahwa Jin Long masih hidup.
Adapun di mana itu, mereka tidak tahu ....
Sampai pada suatu malam ....
Wen Lao didatangi oleh cahaya hijau yang menyilaukan. Saat itu diperkirakan tengah malam. Mu Hongzhi dan Lict sudah lama tidur lelap.
Cahaya hijau itu seukuran kepalan tangan orang dewasa, berputar-putar di sekitar Wen Lao seolah-olah memintanya untuk mengikuti.
Pria tua itu tak berkata apa-apa dan meminta dua kucing mutasi dewa menjaga gua. Kemudian dia mengikuti bola cahaya hijau tersebut.
"Ke mana cahaya kesadaran ilahi ini akan membawa ku?" gumam Wen Lao bingung.
Meski Wen Lao ragu, dia masih turun ke lembah. Lagi pula dia adalah orang istana langit, bahaya dunia fana bukan ancamannya.
Kesadaran ilahi drai bola cahaya hijau itu sepertinya cukup akrab?
Kenapa ada napas dari senjata artefak kalung batu giok hijau sebelumnya?
Wen Lao memikirkan ini dan mau tidak mau terkejut.
"Mungkinkah kamu jiwa senjata artefak kalung batu giok hijau?" tanyanya.
"Kamu akhirnya menyadarinya," ujar suara anak kecil dari bola cahaya hijau tersebut.
"Kamu bisa berbicara, kenapa tidak mengatakan sesuatu sejak awal?" Wen Lao mendengus, namun hatinya melahirkan harapan.
"Kesadaran ilahi ku hanya tinggal sedikit. Aku tak bisa membentuk tubuhku lagi saat ini semenjak melindungi manusia itu. Mau tidak mau, aku hanya bisa mengambil wujud ini. Sulit untuk menghubungimu di pegunungan dewa jadi aku terpaksa melepaskan diri dari kalung batu giok hijau itu," jelas bola cahaya hijau itu penuh keluhan.
__ADS_1
Wen Lao tidak pernah melihat wujud asli dari jiwa penjaga senjata artefak kalung batu giok hijau. Namun didengar dari suaranya, seharusnya masih anak-anak berusia kurang lebih tujuh tahun.
"Mereka masih hidup? Di mana mereka?" tanya Wen Lao.
"Ikut denganku." Suara dari bola cahaya hijau tidak menjawab pertanyaannya, namun memintanya mengikuti.
Ketika dia melindungi Li Chang Su dan Mu Xianzhai di lubang pengisap jiwa, kesadaran ilahinya tidak cukup untuk membawanya keluar. Jadi jiwa penjaga kalung batu giok hijau hanya bisa mengorbankan semua energi kultivasinya selama ratusan ribu tahun dan kehilangan banyak manfaat.
Saat ini dirinya hanya sepotong jiwa yang tidak lengkap. Butuh waktu lama lagi untuk mengambil wujudnya seperti di lubang pengisap jiwa.
Wen Lao mendengarkan ceritanya dengan serius. Merasa bersimpati dan juga mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan mereka.
Awalnya Wen Lao merasa bersalah karena hampir saja menjadi egois. Sekarang, dia mungkin bisa mengganti kerugian mereka sedikit demi sedikit. Setidaknya selama dia masih berada di pegunungan dewa.
Jalan menuju lembah sangat curam dan hampir tidak ada pijakan yang kokoh. Wen Lao menggunakan ilmu peringan tubuh untuk turun perlahan, mengikuti bola cahaya hijau.
Tanpa diduga, Wen Lao harus melewati jalan yang kiri dan kanannya merupakan batu besar. Agak sempit tapi dia masih bisa melewatinya.
Karena sudah lewat tengah malam, suasana di lembah sangat gelap. Untungnya bola cahaya hijau menjadi penerangan alami di sekitar Wen Lao.
"Kenapa begitu jauh? Apakah kamu menyembunyikan mereka di tempat yang sulit didatangi?" Dia bertanya dengan curiga.
"Aku hanya bisa membawa keduanya keluar secara acak. Saat benar-benar keluar, aku di sini. Jadi apa lagi yang bisa aku kendalikan? Setidaknya di sini aman tanpa ada binatang buas." Suara anak kecil dari bola cahaya hijau tampak tidak puas.
Wen Lao tidak mengatakan apa-apa lagi dan mengikutinya menyeberang sungai dan naik lagi ke sebuah batu yang sangat besar.
Pada akhirnya, bola cahaya hijau itu berhenti di sebuah gua yang tampaknya tak pernah terjamah makhluk apapun.
Dilihat dari struktur gua, seharusnya merupakan gua yang terbentuk alami oleh kikisan air di masa lalu.
Hawanya lembap dan Wen Lao pun menyingkirkan tanaman merambat menghalangi pintu gua.
Akhirnya, dia terfokus pada suatu tempat di gua tersebut.
"Ini—" Wen Lao membelalakkan mata.
__ADS_1